Ngelmu Rasa, Oksigen Bagi Jiwa

Embun masih saja menetes di ujung daun jati ketika suara gamelan itu mulai mengalun, bagai air hujan pertama yang jatuh di atas tanah liat Pantura—tanah yang retak, merekah, haus oleh kemarau panjang. Aku ingat, bukan dengan kepala yang penuh hafalan, melainkan dengan seluruh pori-pori tubuhku yang masih ingusan; tangan Mbah Karsi yang keriput namun selalu hangat menggamit telapakku menuju ruang tamu beralaskan semen dengan meja hitam kusam di tengahnya.

Di sana, sebuah radio kayu bermerek Jepang telah menyala, menyemburkan suara para satria dan prajurit, suara para putri dan dayang, berdengung kencang seperti tawon ndas. Siang itu, untuk pertama kalinya, aku diceburkan ke dalam samudra Kethoprak. Nenekku itu menuang kopi hitam pekat dari ceret yang penyok di sana-sini, menyuil singkong rebus yang masih mengepulkan uap hangat, lalu berbisik di sela kepulan itu, “Le, dhungokna. Iki ora mek hiburan. Iki ngelmu.”

Kalimat itu, yang dulu hanya kudengar sebagai gumaman, kini menjelma menjadi kunci seluruh bangunan hidupku. Ngelmu. Lebih lengkapnya: ngelmu rasa. Ilmu tentang merasa. Ilmu yang tak diajarkan di bangku sekolah mana pun, tak termaktub dalam buku pelajaran, tak diuji dalam ujian akhir. Ilmu yang hanya bisa diturunkan melalui radio kayu dan pangkuan nenek keriput di bawah langit Pati yang bertabur bintang.

Mbah Karsi bukan hanya membukakan telingaku pada siaran radio semata. Ada malam-malam yang agung, malam-malam yang kini kukenang sebagai katedral tak beratap namun penuh cahaya. Malam-malam di mana simbah membebatkan jaritnya yang lusuh ke tubuh kerempengku, memasukkan sebongkah singkong rebus ke dalam tas jinjing keranjang yang warnanya sudah tak jelas lagi antara cokelat dan abu-abu, lalu membawaku ke suara gamelan bertalu-talu. Kami melintasi jalan desa penuh bebatuan, mengarungi sawah-sawah yang menguapkan aroma tanah basah, menuju sebuah lapangan desa atau balai dusun yang, oleh sihir panggung bambu dan lampu petromaks atau neon bertenaga genset, mendadak berubah menjadi semesta.

Sebuah panggung bambu berdiri di sana, sederhana, beratap terpal yang kadang bocor jika hujan tiba-tiba turun, dihiasi janur kuning yang mulai layu di ujung-ujungnya. Lampu petromaks atau neon—yang cahayanya berayun-ayun dimakan angin malam—menjadi matahari bagi dunia kecil itu.

Di situlah simbah duduk. Menyilangkan kakinya yang mulai rapuh. Menarikku ke pangkuannya. Aroma pinang sirih dan minyak kayu putih menguar dari balik kebayanya yang sudah pudar, warnanya mungkin dulu ungu, atau mungkin krem, entahlah. Tangannya yang keriput—tangan yang mengolah kacang dan aneka polong untuk dijual di pasar, telah membesarkan anak-anak dan kemudian cucu-cucunya—kini bertugas sebagai bantalku. “Delok’en sing apik, Le” bisiknya setia di setiap awal adegan.

Tapi seringkali, seringkali sekali, mataku yang bocah kalah oleh kantuk. Di tengah gemuruh gamelan yang membangunkan roh-roh leluhur, di tengah pekik pemberontakan Ario Penangsang atau senda gurau intermezo para dagelan yang membuat seisi lapangan terbahak, aku tertidur. Tidur yang paling damai, paling aman, paling lengkap. Tertidur di pangkuan yang tak pernah sekalipun mengeluh pegal. Tertidur dengan telinga yang tetap menangkap sayup-sayup dialog, yang—entah bagaimana caranya—menyusup ke dalam mimpi-mimpiku dan menetap di sana selamanya, menjadi bagian dari DNA ingatanku.

Dan saat terbangun, seringkali pentas sudah usai. Para pemain sudah berganti pakaian, gamelan sudah dibungkus kain mori, dan petromaks alias strongking sudah padam. Aku dalam gendongan Mbah Karsi, dalam perjalanan pulang menembus malam yang kian dingin, melintasi jalan desa penuh kerikil besar. Aku pura-pura tetap tidur. Pura-pura. Karena tak ada tempat yang lebih aman di dunia ini selain dalam rengkuhan itu. Tak ada kendaraan yang lebih mewah dari gendongan hangat yang membelah malam.

Ketika itu, tentu saja, aku belum paham esensi dari kesusastraan panggung. Bagiku, Kethoprak hanyalah hilir mudik orang yang didandani ala penganten, berperang di panggung bambu, dengan dialog yang kadang lucu. Tapi embahku, dengan kesabaran seorang sufi yang tak pernah menulis kitab, mengajariku mencintai setiap jengkal adegan sebagaimana ia mengajariku mencintai hidup. Bahwa tidur di pangkuannya di tengah pertunjukan bukanlah kehilangan tontonan, melainkan justru menjadi bagian dari tontonan itu sendiri. Bahwa kehadiran dan kebersamaan dalam merayakan tradisi adalah kehangatan, dan itulah inti dari seni. Kethoprak bukan saja tentang memahami jalan cerita, melainkan tentang menempatkan diri dalam takdir. “Kethoprak iku ngajari kowe ngguyu sakjerone tangisan, lan nangis sakjerone lawakan,” katanya, dalam bahasa Jawa dialek pesisir Muria, yang lembut bak butiran debu melayang di sela sinar lampu strongking.

Kethoprak mengajarimu tertawa di dalam tangisan, dan menangis di dalam lawakan. Di kemudian hari, aku paham bahwa inilah inti dari segala seni, inti dari segala hidup: bahwa dualitas bukan untuk dipertentangkan, melainkan untuk dirayakan dalam satu napas yang sama.

Bertahun-tahun kemudian, di panggung reyot SMA, aku berdiri. Memerankan Prabu Minak Jinggo, raja Blambangan yang durjana, yang dua istrinya tak mampu memenuhi bejana nafsunya yang meluber jagat—sebuah alegori tentang manusia yang melihat dunia hanya dari satu sudut, dari keakuan yang membabi buta. Dadaku membusung oleh kain bludru hitam berhias manik-manik pinjaman. Tanganku gemetar, bukan karena takut, melainkan karena ada sesuatu yang mengalir liar dalam diri bocah ingusan itu: amarah, angkara, dan kesumat yang asing, yang selama ini disembunyikan oleh tata krama. Aku menjadi buas, menjadi raksasa, menjadi segala sesuatu yang selama ini kusimpan rapat di balik senyum sopan.

Sungguh, di atas pentas itulah pertama kalinya aku belajar bahwa setiap manusia menyimpan Minak Jinggo dalam dirinya: sebuah ketamakan yang ingin menguasai, sebuah angkara yang ingin menaklukkan, sebuah mata tunggal yang menolak melihat kebenaran dari arah lain.

Di puncak lakon Damar Wulan, aku ditaklukkan. Bukan oleh pedang, bukan oleh keris, bukan oleh panah—melainkan oleh senjata paling ajaib dan paling rahasia milikku sendiri: godo wesi kuning. Senjata pamungkas itu dihantamkan ke tubuhku, dan aku rubuh. Rubuh sebagai raja angkara, rubuh sebagai keserakahan, rubuh sebagai mata tunggal yang menolak melihat kenyataan.

Belakangan, setelah aku dewasa dan mulai gemar membaca, aku baru mengerti apa sebenarnya godo wesi kuning itu. Wesi kuning, dalam kosmologi Jawa, adalah logam langka dan sakral, diyakini sebagai meteorit yang jatuh dari langit, paduan antara elemen bumi dan elemen langit. Ia bukan senjata biasa. Ia adalah manifestasi dari kehendak semesta, dari keseimbangan kosmis yang turun ke bumi untuk menundukkan angkara yang terlalu membumi, terlalu duniawi, terlalu lumpur.

Minak Jinggo adalah manusia yang telas, habis, dalam nafsunya sendiri. Ia adalah representasi dari kekuasaan yang melupakan langit, yang hanya memandang bumi sebagai objek taklukan. Maka ia harus ditaklukkan oleh wesi kuning—oleh sesuatu yang berasal dari langit, oleh kekuatan transenden yang datang dari luar dirinya.

Bukankah itu filsafat yang dalam? Bahwa setiap keangkuhan manusia pada akhirnya akan ditundukkan oleh sesuatu yang lebih besar dari dirinya. Bahwa setiap mata yang menolak melihat, pada akhirnya akan dibutakan oleh cahaya yang lebih terang.

Mataku berkaca-kaca. Bukan karena memerankan kematian. Tapi karena dalam adegan itu aku merasakan keakuanku sendiri, keangkuhanku sendiri, mata tunggalku sendiri yang seringkali menolak melihat kebenaran dari sudut yang lain. Ketika gamelan menyentuh telingaku, ketika lampu neon menyilaukanku, aku bisa merasakan petuah Mbah Karsi. Aku mendengar bisiknya di setiap dialog yang kubawakan: “Iki ora mek hiburan, Le. Iki ngelmu.” Seakan-akan di setiap pertunjukan kethoprak yang kutonton atau kumainkan, pesannya selalu hadir sebagai pengingat; bahwa kethoprak tak boleh berhenti sebagai tontonan, tapi juga harus membawa tuntunan.

Aku adalah anak Pati. Tumbuh di kabupaten yang menjadi hamparan legenda dan tutur, tempat kisah-kisah menjadi udara yang kami hirup sejak lahir. Saridin, si Syekh Jangkung yang pongah lagi sakti, yang konon bisa bertapa di atas laut menaiki sepasang buah kelapa dan memadamkan berbagai pemberontakan, adalah salah satu wangsa Kethoprak kami. Kisahnya adalah kisah tentang pemberontakan terhadap kemapanan sosial-politik yang beku, tentang spiritualitas yang lahir dari lumpur sawah dan air sumur, bukan dari mimbar-mimbar tinggi. Dari mulut ke mulut, dari panggung ke panggung, dari generasi ke generasi, kisahnya dihidupkan, diolah, dibumbui, hingga menjadi bukan sekadar legenda melainkan cermin identitas. Ada pula Baron Sekeber, yang namanya kontroversial melampaui batas kebangsaan, lakon-lakonnya menjadi primadona yang ditunggu-tunggu seperti hujan di musim ketiga. Dan aku, bocah Pati yang dulu hanya mendengarkan radio bersama Mbah Karsi, yang dulu tertidur di pangkuannya di bawah langit penuh bintang, hampir tak percaya betapa agungnya warisan yang mengalir dalam darahku.

Hingga kini, Kethoprak di Pati tidak mati. Ia menggeliat, bernapas, dan berdetak. Namun jangan tanya soal dukungan negara. Di sini, di pesisir Muria yang jauh dari panggung keraton dan status keistimewaan seperti Yogyakarta, para seniman Kethoprak bertahan dengan cara yang nyaris ajaib. Mereka bukan sekadar seniman. Mereka adalah para pertapa sunyi, para darwis senyap, yang menyulap peluh menjadi emas, menyulap debon bambu menjadi istana, dan menyulap lapar menjadi tepuk tangan. Mereka hidup dari cinta yang tak pernah tersalurkan dalam bentuk anggaran, dari pengakuan yang tak pernah sampai dalam bentuk sertifikat, dari panggung-panggung—kini didominasi besi baja ringan—yang berdiri hanya semalam sebelum dibongkar kembali. Mereka adalah bukti paling hidup bahwa seni tidak membutuhkan izin untuk bernapas.

Lalu, mengapa mereka tetap hidup? Mengapa Kethoprak di Pati—sebagaimana dikabarkan oleh temanku yang seorang pedagang mremo (pedagang sirkuler yang beredar dari event ke event) yang rajin mengirimi peta termutakhir jumlah grup Kethoprak yang sedang mentas, di desa mana saja, disertai jumlah penonton yang duduk lesehan di bawah bulan—tetap subur makmur bagai padi di sawah yang tak pernah berhenti panen? Tercatat, pada suatu malam tanggal dua puluh dua April tahun ini, ada delapan panggung Kethoprak menyala di penjuru pesisir Pati. Delapan! Jumlah itu melampaui Kudus yang industri, Jepara yang ukiran, Rembang yang garam, Blora yang jati, Grobogan yang kerbau, dan Demak yang wali. Delapan panggung adalah delapan bintang yang menyatakan bahwa Kethoprak tidak sedang sekarat. Ia sedang berjaga. Ia sedang mengumandangkan azan keindahannya sendiri.

Rahasianya terletak pada dua jantung yang memompa darah ke seluruh tubuh produk kebudayaan ini.

Pertama, sedekah bumi. Di desa-desa, memperingati ulang tahun desa bukanlah sekadar ritual formal memotong tumpeng dan mendengarkan pidato lurah. Ia adalah peristiwa kosmis: saat langit dan bumi disatukan kembali oleh doa, saat yang profan dan yang sakral berbaur dalam satu tarikan napas kolektif. Dan di puncak ritual itu, Kethoprak berdiri bukan sekadar tontonan; ia adalah altar! Ia adalah tempat di mana warga desa menjejakkan kembali akar mereka ke tanah, mengingat kembali dari mana mereka berasal. Desa-desa itu berlomba-lomba untuk menteaterkan sejarah mereka sendiri. Ada kerinduan yang begitu purba untuk melihat asal-usul desa, legenda setempat, atau kisah babad tanah mereka, dihidupkan kembali oleh para pemain yang berubah menjadi medium roh leluhur.

Mementaskan Kethoprak semalam suntuk, atau bahkan lebih—dua malam berturut-turut—adalah prestise. Desa yang mampu menanggap Kethoprak yang bagus, yang terkenal, yang lakonnya moncer, akan dipandang naik kelas, dipandang sebagai desa yang “beres”: yang menjaga pusakanya, yang tahu bagaimana merawat ingatan. Di sinilah Kethoprak menjadi mahkota identitas, menjadi cincin pusaka yang dikenakan oleh komunitas untuk menyatakan kepada desa tetangga: “Kamilah pewaris sah kisah ini!”

Kedua, tanggapan hajatan. Orang-orang berpunya—para petani tambak yang panenannya berlimpah, para pedagang pasar yang berhasil menyulap kiosnya menjadi kolam rupiah—ketika menikahkan anak atau menyunatkan putranya, akan membikin pesta. Dan pesta, di tanah Pati, belum sah sebelum ada tontonan. Di sinilah terjadi duel abadi antara Kethoprak dan Dangdut. Dangdut, sang penggoda riang dengan goyangan dan dentuman yang membius tubuh, adalah suka-cita instan yang menyembur dari sound system berdaya raksasa. Ia adalah pesaing terberat.

Tapi Kethoprak, dengan kelenturannya yang magis, punya market tersendiri. Ada segmen jiwa-jiwa yang tidak bisa dipuaskan oleh sekadar goyang. Jiwa-jiwa ini haus akan narasi, akan refleksi, akan wejangan berbalut dagelan, akan tangisan yang sublim. Di antara para penonton itu, selalu ada sosok-sosok yang memboncengkan cucunya dengan sepeda tua, yang membawa kacang atau singkong rebus dalam tas kresek, atau yang membiarkan sang cucu tertidur di pangkuan di tengah alunan gamelan. Mereka diam-diam sedang menanam benih peradaban, sebagaimana Mbah Karsi menanamnya dalam diriku.

Saudaraku dari dunia mremo yang selalu berkirim kabar itu, yang perannya seperti kartografer pertempuran seni, adalah saksi dan pencatat perang bisik ini. Pesan-pesannya membentuk demografi hidup Kethoprak: di pesisir, di Juwana, di Jaken, di Wedarijaksa, di Tayu, di Margoyoso, di Dukuhseti, para grup itu berpindah seperti musafir cahaya. Delapan panggung dalam satu malam adalah kemenangan telak atas kematian yang dikira telah menjemput. Selama tradisi sedekah bumi adalah urat nadi yang tak putus, dan selama kas desa masih mengucur—karena bagaimanapun, ritual komunal butuh dana—Kethoprak tidak akan pernah mati. Ia terus dihidupi oleh desa-desa yang ingin menubuhkan sejarahnya sendiri, yang ingin melihat babad tanahnya diperagakan, yang ingin mendengar leluhurnya berbicara lagi melalui mulut para pemain.

Ada satu refleksi yang sering menyayat hatiku di tengah malam: bahwa seni ini bertahan justru karena ia dipinggirkan dari pusat. Ia tidak dimanjakan oleh dana keistimewaan. Ia dipaksa bertarung di gelanggang pasar dan kebutuhan paling dasar manusia: kebutuhan untuk berkisah dan dikisahkan. Jika ia mati, desa akan kehilangan cara bercerita tentang dirinya sendiri. Jika ia tumbang, maka sejarah satu dusun, satu dukuh, akan lenyap begitu saja tanpa ada yang menyebut-nyebutnya di atas panggung. Kethoprak adalah kitab suci rakyat jelata, mantra keramat bagi mereka yang tak pandai membaca, tetapi punya samudra rasa yang harus dituangkan. Ia menyampaikan moral, spiritualitas, dan filsafat lewat kisah-kisah yang dipergelarkan.

Dan bukankah ini ajaib? Di sebuah zaman di mana segala sesuatu diukur dari efisiensi dan keuntungan, Kethoprak di Pati bertahan justru karena ia tidak efisien, justru karena ia tidak mengikuti logika pasar, justru karena ia adalah pemborosan yang sakral. Orang-orang berduit membakar uang mereka untuk menanggap Kethoprak demi sebuah hajatan, bukan untuk mendapat keuntungan materiil, melainkan untuk mendapat manfaat simbolis: pengakuan, prestise, keberkahan. Desa-desa menghabiskan kas mereka untuk semalam pertunjukan, bukan untuk infrastruktur, melainkan untuk merajut kembali jaring-jaring makna yang mulai robek. Inilah yang oleh para antropolog disebut ekonomi ritual: sebuah sistem di mana uang dan sumber daya dibelanjakan bukan demi akumulasi kapital, melainkan demi reproduksi identitas. Dan Kethoprak adalah kendaraan paling setia untuk itu.

Dan di titik inilah jiwaku berbunga-bunga sekaligus trenyuh tiada kira. Almarhumah Mbah Karsi, pencipta memoriku yang paling mula, kini telah menjadi penghuni makam yang teduh oleh pohon kamboja. Radio kayu itu pun entah telah menjadi apa—mungkin sudah menjelma kayu bahkan mungkin sudah menjadi abu. Jarit lusuhnya yang dulu membebat tubuhku yang kedinginan di depan panggung Kethoprak, mungkin sudah menjadi kain pel, mungkin berubah fungsi jadi keset darurat. Tapi, pelajaran ngelmu rasa dari beliau tetap hidup. Bahwa menjadi manusia harus punya rasa peka, harus bisa membaca jaman dengan kelenturan batin seorang pemain Kethoprak. Hidup, baginya, adalah panggung panjang. Kadang kita menjadi Damar Wulan yang baik hati, seringkali kita menjadi Minak Jinggo yang tamak dan oleh karenanya harus ditundukkan melalui godo wesi kuning—simbol kekuatan langit yang datang menyadarkan. Dan bukankah itu harapan terindah? Bahwa setiap kali kita menjadi Minak Jinggo dalam hidup kita sendiri, semesta akan mengirimkan godo wesi kuning-nya sendiri: sebuah pukulan pencerah, sebuah tumbukan yang bukan untuk menghancurkan, melainkan untuk mengembalikan keseimbangan.

Selama kas desa ada, selama sedekah bumi masih menyalakan semangat di lapangan desa, dan selama masih ada orang kaya yang merasa hajatannya kurang afdol tanpa panggung yang menyala, maka Kethoprak tidak akan mati. Ia akan terus menggelora di pesisir Muria, menyuarakan kisah-kisah yang lebih tua dari Republik dan lebih abadi dari rencana pembangunan apa pun. Ia tidak butuh dana keistimewaan, karena ia adalah keistimewaan itu sendiri. Ia adalah oksigen bagi jiwa-jiwa yang mencari kemana pulang, dan udara segar bagi para nenek yang ingin mewariskan ngelmu rasa kepada cucunya melalui cara sederhana: hadir, menonton, dan membiarkan mereka tertidur dalam damai.

Terima kasih, Pati. Terima kasih telah menjadi hamparan panggung tanpa batas, tempat grup-grup Kethoprak beraksi setiap malam, mengalahkan hingar-bingar kota-kota yang jauh lebih terpelajar di Jawa. Terima kasih, Mbah Karsi, telah membawaku ke panggung-panggung itu, membiarkanku tertidur di pangkuanmu, menanamkan benih yang kini tumbuh menjadi hutan apresiasi. Aku hanyut dalam kebanggaan yang perih, dalam cinta yang ngilu.

Saat kuakhiri tulisan ini, aku mendengar sayup-sayup suara dari masa kecilku: derit radio, seruput kopi nenekku, derap langkah tua melintasi jalan desa, dan dialog Minak Jinggo saat limbung oleh hantaman godo wesi kuning. Aku terisak. Bukan karena sedih. Tapi karena seni tradisional ini telah menyelamatkanku dari ketidakpekaan sebagai manusia.

Rupa-rupanya, aku sangat kangen embah. Dan Kethoprak, adalah obat rindu yang tak terbantah. *

Akuat Supriyanto
Akuat Supriyanto
Pengajar FEB UNPAD, Trainer perhitungan dampak inovasi sosial, esais dan anggota Socio FC Porto.

Related Articles

Artikel baru