Seratus tahun berlalu, Asrul Sani tidak menjadi fosil di dalam tanah; ia telah menjelma menjadi semen transendental yang menjaga rumah bahasa kita agar tidak runtuh digerus disrupsi zaman.
“Ketika panggung peradaban hari ini dipenuhi seragam kepalsuan, seratus tahun Asrul Sani berbisik lewat tawa Naga Bonar: ‘Apa kata dunia’ jika republik yang lahir dari air mata rakyat kecil, kini digadaikan pada kedangkalan citra?”
Mari kita bayangkan sebuah ironi yang getir di masa depan: sebuah peradaban siber yang dihuni oleh miliaran manusia yang terus berbicara, namun kehilangan kemampuan untuk berkata-kata. Hari ini, di era ketika kecerdasan buatan mereduksi bahasa menjadi deretan probabilitas statistik dan media sosial merayakan kedangkalan berpikir sebagai sebuah pencapaian, kita menyaksikan lahirnya manusia modern yang mengalami obesitas informasi tetapi malnutrisi eksistensial. Kita fasih meniru, tetapi gagap mencipta. Kita terjebak dalam apa yang ditakutkan oleh para filsuf kontemporer sebagai “kiamat intuisi”—sebuah kondisi di mana manusia menjadi asing bagi kemanusiaannya sendiri karena otomatismu hidup yang mekanis.
Di tengah lanskap kebudayaan yang kusam dan mengalami disorientasi radikal inilah, kebutuhan untuk Menghidupkan Kembali Asrul Sani menjadi sebuah manifesto filosofis yang darurat. Asrul Sani—sang sutradara, penyair, esais, dan salah satu arsitek utama Surat Kepercayaan Gelanggang 1950—bukanlah fosil sejarah yang layak disimpan dalam lemari kaca arkais. Ia adalah sebuah konsep, sebuah kategori pemikiran, sebuah kompas kebudayaan yang dinamis.
Menghidupkan kembali Asrul Sani tidak berarti kita meratapi masa lalu secara romantis-nostalgis, melainkan menyalakan kembali api humanisme universal yang pernah ia tancapkan di jantung peradaban Indonesia. Ia adalah antithesis mutlak bagi kedangkalan zaman digital.
Gelanggang Kesadaran: Humanisme Universal sebagai Tameng Eksistensial
Secara epistemologis, sumbangan terbesar Asrul Sani bersama Angkatan ’45 adalah perumusan identitas manusia Indonesia yang merdeka secara ontologis. Melalui Surat Kepercayaan Gelanggang, Asrul dan kawan-kawannya memproklamasikan sebuah kalimat yang menggetarkan kesadaran kolonial:
“Kami adalah ahli waris yang sah dari kebudayaan dunia dan kebudayaan ini kami teruskan dengan jalan kami sendiri.”
Ini adalah sebuah pernyataan filsafat yang amat radikal. Asrul Sani menolak kompleksitas inferioritas (inferiority complex) di hadapan Barat, sekaligus mengutuk chauvinisme lokal yang sempit. Bagi Asrul, menjadi Indonesia tidak berarti mengurung diri dalam sangkar tradisi yang lapuk dan menolak dunia luar, tidak pula berarti menjadi beo yang meniru modernitas Barat secara membabi buta.
Asrul Sani meletakkan manusia Indonesia sebagai subjek yang setara di panggung dunia. Pemikiran ini adalah tameng eksistensial yang sangat kita butuhkan hari ini. Ketika globalisasi dan algoritma global mencoba menyeragamkan selera, pikiran, dan gaya hidup kita menjadi satu massa seragam yang pasif, Asrul berbisik melintasi waktu agar kita tetap teguh menjadi “pencipta”, bukan sekadar “konsumen” kebudayaan. Kebudayaan dunia adalah milik kita untuk diolah, dikritik, dan ditafsirkan ulang dengan jalan kita sendiri—jalan yang merdeka.
Seni sebagai Cermin Retak Masyarakat: Membedah Manusia Lewat Kata dan Gambar
Asrul Sani adalah seorang seniman poliglot yang bergerak lincah di antara batas-batas medium: dari bait puisi, esai kebudayaan, hingga naskah dan penyutradaraan film (Lewat Djam Malam, Apa Jang Kau Cari, Palupi?). Baginya, seni tidak pernah menjadi menara gading yang steril dari denyut penderitaan sosial, tidak pula menjadi alat propaganda politik yang vulgar dan dangkal. Seni adalah sebuah cermin retak yang diletakkan di hadapan masyarakat agar mereka berani melihat borok-borok moralnya sendiri.
Dalam perspektif estetika eksistensialisme, karya-karya Asrul Sani selalu mengulik ketegangan antara moralitas individu dan tekanan struktur sosial. Perhatikan kutipan tajam dari salah satu esainya mengenai tanggung jawab seniman:
“Seniman tidak bertugas untuk menyenangkan hati penonton, melainkan untuk mengguncang batin mereka. Seni yang baik adalah seni yang melahirkan kegelisahan, karena dari kegelisahan itulah kesadaran baru dimulai.”
Ketika kita melihat lanskap industri hiburan kita hari ini yang dipenuhi oleh tontonan banal yang membius kesadaran massal demi metrik kapitalistik, pemikiran Asrul terasa seperti tamparan yang membangunkan. Menghidupkan kembali Asrul Sani berarti mengembalikan marwah seni dan sastra kita sebagai instrumen dekonstruksi sosial, sebuah medium yang memaksa kita untuk mempertanyakan kembali keadilan, kemanusiaan, dan arah pergerakan bangsa ini.
Menolak Involusi Bahasa: Mengembalikan Magis Kata di Era Disrupsi
Sebagai seorang sastrawan yang piawai, Asrul Sani memperlakukan bahasa dengan penuh takzim. Ia memahami bahwa bahasa bukanlah sekadar alat komunikasi mekanis atau sekumpulan kosakata fungsional, melainkan “rumah bagi ada” (the home of being), sebagaimana dinyatakan oleh filsuf Martin Heidegger. Di tangan Asrul, bahasa Indonesia menjelma menjadi instrumen yang elastis, tajam, sekaligus sublim untuk menangkap nuansa batin manusia yang paling rumit.
Hari ini, kita menyaksikan terjadinya involusi bahasa secara masif. Bahasa kita mengalami pendangkalan di ruang-ruang digital; ia direduksi menjadi jargon-jargon politik yang memecah belah, teks-teks clickbait yang manipulatif, atau komunikasi instan yang miskin kedalaman rasa. Kita kehilangan kemampuan untuk merenungkan kata.
Asrul Sani, melalui puisi-puisinya yang meditatif seperti Surat dari Ibu, memperlihatkan bagaimana kata harus dirawat agar tetap memiliki daya magis dan kedalaman filosofis:
“Pergilah ke dunia luas, anakku sayang / selagi angin masih buritan / dan matahari pagi menyinar daun-daunan / dalam rimba dan padang hijau.”
Kutipan ini bukan sekadar lirik romantis, melainkan sebuah seruan ontologis untuk menjelajahi realitas secara langsung dengan seluruh indra dan intuisi manusiawi kita. Menghidupkan kembali Asrul Sani adalah sebuah gerakan radikal untuk merebut kembali bahasa kita dari kedangkalan otomatisasi. Ini adalah upaya merawat kata agar tetap menjadi wadah bagi pikiran-pikiran besar, bukan sekadar sampah digital yang menguap ditiup waktu.
Menghidupkan kembali Asrul Sani bukanlah sebuah laku nekromansi kultural untuk memuja masa lalu secara buta. Asrul Sani adalah kapsul waktu kebudayaan yang sengaja dikirim dari masa lalu untuk menyelamatkan kita di masa depan. Pemikirannya tentang humanisme universal, tanggung jawab etis seniman, dan kesucian bahasa adalah jangkar-jangkar yang menjaga agar bahtera peradaban Indonesia tidak karam dihantam badai disrupsi teknologi dan pragmatisme zaman.
Selama kita masih berani membaca Surat Kepercayaan Gelanggang dengan dada membusung, selama kita masih menolak menjadi beo di hadapan kemajuan asing, dan selama kita masih menggunakan sastra serta seni untuk membasuh luka-luka kemanusiaan kita, maka pada saat itulah Asrul Sani kembali hidup di dalam diri kita. Ia tidak lagi bersemayam di dalam kubur sejarah; ia telah menjelma menjadi api kesadaran yang menuntun bangsa ini berjalan tegak, merdeka, dan abadi di dalam kata menembus abad-abad yang akan datang.
Memorabilia Gelanggang: Nyala Spontanitas, Pencurian Buku, dan Ritual Ciliwung
Menghidupkan kembali Asrul Sani tidak akan pernah lengkap tanpa mengurai jalinan persahabatan eksistensialnya dengan Chairil Anwar. Hubungan keduanya bukan sekadar perjumpaan dua orang seniman, melainkan tabrakan dua meteor kreativitas yang membakar langit kebudayaan Indonesia pasca-kolonial. Di tengah kemiskinan material zaman revolusi, mereka berdua mendemonstrasikan sebuah sikap hidup yang radikal: bahwa rasa lapar tubuh bisa ditoleransi, tetapi rasa lapar akan ilmu dan gagasan adalah sebuah kondisi darurat yang menghalalkan segala cara.
Sejarah sastra kita mencatat sebuah memorabilia yang getir sekaligus jenaka di kawasan Pecenongan. Di sana, di sebuah toko buku kecil yang dijaga ketat, Asrul Sani dan Chairil Anwar kerap melancarkan aksi “gerilya kebudayaan” yang tidak lazim: mencuri buku. Dengan mantelnya yang lusuh dan matanya yang liar berbinar, Chairil akan mengalihkan perhatian penjaga toko melalui obrolan filsafat yang menggebu-gebu atau kepulan asap rokoknya yang provokatif. Sementara itu, Asrul Sani dengan tenang dan taktis menyelinapkan karya-karya André Gide, Nietzsche, juga Bible, atau sajak-sajak rujukan dunia ke balik bajunya.
Aksi pencurian ini bukanlah kriminalitas banal didorong syahwat materi; itu adalah sebuah tindakan subversif dari dua jiwa yang dahaga. Mereka mencuri buku karena menyadari bahwa untuk menjadi “ahli waris yang sah dari kebudayaan dunia,” mereka harus melahap isi dunia itu terlebih dahulu, peduli setan dengan kemiskinan yang mengurung mereka. Buku-buku curian itulah yang kemudian mereka bedah di kamar-kamar sewaan yang sempit, menjadi bahan bakar lahirnya Surat Kepercayaan Gelanggang.
Kedekatan emosional dan intelektual yang pekat itu memuncak dalam ritual liris di pinggiran Sungai Ciliwung. Di bawah temaram lampu minyak dan gemercik air sungai yang keruh oleh sejarah, Asrul dan Chairil kerap duduk berhadapan, melakukan ritual berbalas puisi secara spontan. Di tepi Ciliwung, kata-kata tidak lagi sekadar ditulis, melainkan dilemparkan seperti belati, ditangkap sebagai perisai, dan dilarungkan bersama arus air.
Ketika Chairil berteriak dengan liriknya yang menyalak:
“Aku ini binatang jalang / Dari kumpulannya yang terbuang”
Asrul Sani menyambut gelombang destruktif itu dengan lirisitasnya yang dingin, dalam, dan penuh perenungan, sebuah jawaban eksistensial bahwa manusia jalang itu pada akhirnya harus memiliki arah pulang yang bermartabat. Di sungai itu, Ciliwung bertransformasi dari sekadar aliran air domestik menjadi saksi bisu pembaptisan estetika modernisme Indonesia.
Memorabilia ini melempar kritik tajam ke wajah generasi kita hari ini. Ketika anak-anak muda zaman digital memiliki akses tak terbatas pada jutaan e-book dan jurnal ilmiah di ujung jari mereka namun menggunakannya hanya untuk mengunyah konten-konten banal yang instan, Asrul dan Chairil menampar kita dari masa lalu. Mereka, yang harus bertaruh harga diri dan keselamatan hanya untuk membaca selembar pemikiran dunia di Pecenongan, telah berhasil melahirkan sebuah republik kesadaran. Menghidupkan kembali Asrul Sani adalah menghidupkan kembali kegilaan puitis itu—sebuah kegelisahan intelektual yang menolak tunduk pada keterbatasan ruang, waktu, dan kemiskinan materi.
Kapsul Waktu Kebudayaan Menuju Masa Depan
Pada akhirnya, menghidupkan kembali Asrul Sani bukanlah sebuah laku nekromansi kultural untuk memuja masa lalu secara buta. Asrul Sani—bersama bayang-bayang Chairil Anwar yang selalu lekat di sisinya—adalah kapsul waktu kebudayaan yang sengaja dikirim dari masa lalu untuk menyelamatkan kita di masa depan. Pemikirannya tentang humanisme universal, keberanian gerilya intelektual di Pecenongan, dan kesucian bahasa yang ditempa di aliran Ciliwung adalah jangkar-jangkar yang menjaga agar bahtera peradaban Indonesia tidak karam dihantam badai disrupsi teknologi dan pragmatisme zaman.
Selama kita masih berani membaca Surat Kepercayaan Gelanggang dengan dada membusung, selama kita masih menolak menjadi beo di hadapan kemajuan asing, dan selama kita masih memiliki kegilaan untuk mencintai ilmu melebihi kenyamanan materi, maka pada saat itulah Asrul Sani kembali hidup di dalam diri kita. Ia tidak lagi bersemayam di dalam kubur sejarah; ia telah menjelma menjadi api kesadaran yang menuntun bangsa ini berjalan tegak, merdeka, dan abadi di dalam kata menembus abad-abad yang akan datang.
Teater Kebangsaan Naga Bonar: Satir, Parodi, dan Gugatan Martabat Rakyat Kecil
Menghidupkan kembali Asrul Sani juga berarti merayakan kecerdasannya dalam membaca psikologi massa melalui medium sinema. Manifestasi puncak dari dekonstruksi kultural Asrul Sani lahir ketika ia mengarsitekturi skenario film Naga Bonar (1987). Di tangan Asrul, heroisme perjuangan kemerdekaan yang selama ini selalu digambarkan secara sakral, kaku, dan elitis oleh narasi resmi negara, didekonstruksi secara radikal menjadi sebuah komedi satir yang amat manusiawi.
Asrul Sani melahirkan tokoh Naga Bonar bukan sebagai jenderal lulusan akademi militer yang parlente, melainkan seorang copet purnawirawan dari lubuk kemiskinan Medan yang mengangkat dirinya sendiri menjadi jenderal karena panggilan zaman. Melalui dialog-dialog parodik yang melegenda, Asrul menyentil kemapanan lewat humor yang menggigit:
“Apa kata dunia?!”
Kalimat pendek yang kerap diteriakkan Naga Bonar itu bukan sekadar banyolan selingan, melainkan sebuah gugatan eksistensial. Melalui Naga Bonar, Asrul Sani sedang bertanya kepada kita: Akan menjadi apa bangsa ini di mata dunia jika kemerdekaan yang ditebus dengan darah rakyat kecil justru dikhianati oleh keserakahan para elite pasca-revolusi?
Naga Bonar adalah antitesis dari feodalisme baru. Skenario ciptaan Asrul ini memperlihatkan bahwa patriotisme sejati tidak bersemayam pada seragam dinas yang penuh bintang atau pangkat mentereng, melainkan pada ketulusan batin rakyat jelata untuk membela tanah airnya, bahkan dengan cara-cara yang absurd sekalipun. Adegan ikonik ketika Naga Bonar memijat emaknya di tengah rapat strategi militer adalah sebuah proklamasi filosofis yang subtil dari Asrul Sani: bahwa di atas segala urusan kekuasaan, politik, dan negara, ada nilai kemanusiaan, bakti, dan keintiman kultural yang tidak boleh dikorbankan.
Karya Naga Bonar melemparkan kritik yang sangat realistis bagi kita hari ini. Di era modern ketika panggung politik dan kebudayaan kita dipenuhi oleh para “aktor” formal yang fasih bersandiwara menggunakan jargon patriotisme demi citra dan metrik popularitas digital, Naga Bonar hadir sebagai cermin yang menelanjangi kepalsuan itu. Menghidupkan kembali Asrul Sani adalah menghidupkan kembali keberanian untuk menertawakan keangkuhan kekuasaan, meruntuhkan menara gading elitisme, dan mengembalikan hakikat kebangsaan kita kepada pemilik sahnya: rakyat kecil yang jujur dan apa adanya.
Apa kata Dunia …
Catatan:
Akhir tahun 80-an saya mendapat kehormatan untuk Wawancara Eksklusif dengan Asrul Sani di kediamannya selama 9 jam non-stop untuk Majalah Prisma dan Majalah Sastra Horison. Dengan mengenakan celana pendek dan kemeja lengan pendek, Asrul Sani begitu bersemangat menjawab semua pertanyaan tentang proses kreatif, karya-karya monumentalnya, pemikiran tentang Surat Kepercayaan Gelanggang, persahabatannya dengan Chairil Anwar dan JE. Tatengkeng, juga seputar Jenderal Naga Bonar. Ditemani sang istri, Mutiara Sani, serta teh dan camilan, waktu 9 jam terasa begitu singkat. Seingat saya, tape recorder kecil yang saya bawa, telah menghabiskan 5 cassette durasi 90 menit.

