Saya baru pulang dari rumah sakit setelah general check-up ketika sebuah peristiwa kecil menahan saya lebih lama daripada hasil pemeriksaan medis itu sendiri. Saya memesan ojek online, tetapi salah memasukkan alamat. Seharusnya saya pulang ke rumah, tetapi saya pesan ke kampus. saya mau ubah rute perjalanan, tukang ojol bilang, biar begitu saja, nanti bapak saya antar ke rumah bapak. Sesampainya di rumah, saya memberi ongkos lebih kepada pengemudi. Bukan karena kasihan, melainkan karena saya merasa wajar: kesalahan alamat itu membuat perjalanan menjadi lebih jauh. Tetapi ia menolak. “Jangan, Pak. Segini saja seperti yang tertera di aplikasi.” Saya memaksa. Ia tetap menolak. Saya memaksa lagi, hampir seperti orang yang sedang ingin menebus rasa bersalahnya sendiri, barulah ia menerima.
Di rumah, saya terpekur. Ada sesuatu yang ganjil sekaligus indah dari penolakan itu. Ia pasti membutuhkan uang lebih. Siapa yang tidak membutuhkan uang lebih hari-hari ini? Harga beras naik, bensin naik, biaya sekolah naik, kebutuhan hidup seperti tak pernah belajar menahan diri. Uang itu pun bukan hasil pemerasan. Saya memberikannya dengan sukarela. Bahkan ada alasan moralnya: ia telah menempuh jarak lebih jauh karena kekeliruan saya. Tetapi ia menolak. Seakan-akan ia ingin berkata: kerja saya cukup dibayar sesuai hak saya; lebih dari itu, saya tak ingin mengambil yang bukan ukuran saya.
Di situ saya melihat wajah lain dari rakyat kecil: wajah yang sering tak masuk berita, tak duduk di seminar, tak memakai istilah integritas, tak menulis kode etik, tetapi menjalankannya diam-diam di jalan raya. Ia tidak berpidato tentang kejujuran. Ia hanya menolak uang lebih. Sederhana. Tapi kadang kesederhanaan adalah bentuk moral yang paling sukar ditiru oleh mereka yang terlalu lama hidup di ruang berpendingin.
Sebab di tempat lain, pada lapisan masyarakat yang oleh Erich Fromm (pensitesis psikoanalisis Freud, kritik sosial Marx, dan humanisme etis) dapat disebut sebagai masyarakat sakit, gejalanya justru terbalik. Fromm melihat masyarakat sakit bukan semata masyarakat yang dipenuhi orang gila, melainkan masyarakat yang membuat manusia kehilangan kewarasannya secara sosial: manusia diukur dari kuasa, kepemilikan, posisi, gengsi, dan kemampuan menguasai orang lain. Dalam masyarakat seperti itu, orang tidak lagi bertanya, “Apakah ini adil?” Ia bertanya, “Apakah ini menguntungkan saya?” Ia tidak bertanya, “Apakah jabatan ini amanah?” Ia bertanya, “Ruang mana yang bisa saya rebut?”
Maka jabatan berubah menjadi alat patgulipat. Kekuasaan berubah menjadi permainan anak-anak yang berebut mainan, tetapi dengan akibat yang lebih kotor. Ada yang menjilat ke atas dan menekan ke bawah. Ada yang memberi ruang kepada orang-orang yang dianggap “atas”, meskipun ruang itu tak dipakai untuk kerja yang sungguh-sungguh. Ada yang mengisi ruang bukan dengan fungsi, tetapi dengan simbol kekuasaan: kursi, meja, fasilitas, akses, dan hak istimewa. Kezaliman dilarang keras bila dilakukan orang lain, tetapi menjadi boleh ketika dilakukan dirinya sendiri.
Di sana, moral menjadi selektif. Aturan menjadi alat untuk memukul lawan, bukan untuk menahan diri. Agama dijadikan penutup, semacam cover yang rapi untuk menyembunyikan kebusukan. Orang bisa rajin menyebut Tuhan, tetapi tangannya sibuk merampas hak orang. Orang bisa bicara tentang rakyat, tetapi programnya justru merusak rakyat. Orang bisa menyebut pembangunan, tetapi yang dibangun adalah jalan menuju kerusakan ekologis. Hutan masyarakat bukan hanya diserobot, tetapi digunduli. Tanah bukan hanya diambil, tetapi dilucuti dari ingatan orang-orang yang hidup bersamanya.
Dan semua itu sering dilakukan dengan jargon yang terdengar indah: kesejahteraan, kemajuan, investasi, pertumbuhan, pelayanan, reformasi, bahkan keberkahan. Kata-kata menjadi parfum bagi bangkai. Kita diminta percaya bahwa perusakan adalah pembangunan, bahwa penindasan adalah ketertiban, bahwa kerakusan adalah visi besar, bahwa rakyat kecil harus bersabar demi masa depan yang entah masa depan siapa.
Lalu saya teringat pengemudi ojek itu. Ia yang mungkin tak pernah membaca Fromm. Ia yang mungkin tak pernah menulis makalah tentang etika publik. Ia yang mungkin pulang ke rumah dengan tubuh lelah dan penghasilan pas-pasan. Tetapi ia tahu batas. Ia tahu ukuran. Ia tahu bahwa tidak semua yang bisa diterima harus diambil.
Barangkali bangsa ini tidak kekurangan orang pintar. Yang kurang adalah orang yang tahu kapan harus berhenti mengambil. Barangkali negeri ini tidak kekurangan program. Yang kurang adalah rasa malu. Sebab kezaliman tidak selalu berdiri dengan pedang terhunus. Kadang ia berdiri dengan map rapi, proposal resmi, kalimat religius, dan senyum yang terlatih.
Di jalan tadi, seorang tukang ojek mengajari saya sesuatu yang sederhana: kejujuran tidak selalu datang dari mimbar. Kadang ia datang dari motor yang berhenti di depan rumah, dari seseorang yang menolak uang lebih, dan dari rasa malu yang justru masih hidup di hati wong cilik (rakyat kecil) –sementara di tempat lain, mereka yang besar sibuk menegakkan kezaliman sambil menyebutnya amanah.
Mungkin karena itu Idul Adha tidak boleh berhenti sebagai pesta penyembelihan hewan kurban, tetapi harus kembali dibaca sebagai peristiwa keberanian Ibrahim: seorang nabi yang menentang Namrud, menolak berhala kekuasaan, dan rela dibakar bukan karena ingin mengganti satu kezaliman dengan kezaliman lain, melainkan karena ia ingin membebaskan manusia dari ketundukan kepada tiran. Ibrahim berdiri melawan api agar sejarah tidak diwariskan kepada para penguasa yang merasa berhak menyembelih siapa saja atas nama Tuhan. Dan jauh setelah bara Namrud padam, di Pertempuran Karbala, anak cucu ruhani Ibrahim–Husain bin Ali–justru dibantai oleh kekuasaan yang memakai bahasa agama untuk menutup kekejamannya. Maka dari Ibrahim sampai Husain, dari api sampai darah, kita belajar bahwa iman bukan izin untuk melakukan kezaliman dan penindasan; iman adalah keberanian untuk menghentikan penzaliman dan penindasan, bahkan ketika tubuh sendiri harus menjadi korban.
Selamat hari Idul Adha…..

