Membaca Kota Yogyakarta (Seri IV): Nama Kampung adalah Dokumen Sejarah

Tanyakan kepada warga Yogyakarta di mana mereka tinggal. Mereka akan menjawab: Kauman. Prawirotaman. Ketanggungan. Suronatan. Nagan. Siliran. Bugisan. Dhaengan. Mergangsan.

Lalu tanyakan satu pertanyaan lagi: apa artinya nama kampung itu?

Hampir dipastikan mereka tidak tahu. Atau tahu sebagian, yang sudah menjadi cerita yang disampaikan turun-temurun dalam versi yang sudah kehilangan konteks aslinya.

Ini adalah Seri IV dari ‘Membaca Kota Yogyakarta’. Kali ini kita tidak berjalan di sepanjang satu jalan. Kita melompat dari satu kampung ke kampung lain dan di setiap kampung, kita membaca satu kata. Karena di Yogyakarta, setiap nama kampung adalah satu kata dalam kalimat besar yang sedang diucapkan oleh kota ini sejak tahun 1755.

Kota ini adalah ensiklopedia. Dan setiap gang adalah lembar halamannya.

Di Yogyakarta, nama kampung bukan sekadar alamat. Ia adalah surat keputusan sultan, denah sosial masyarakat keraton, dan epitaf dari sebuah peradaban yang sudah berubah, tapi namanya masih hidup di papan jalan yang kita lewati setiap hari tanpa pernah membacanya.

PERTAMA: MEMAHAMI SISTEMNYA, YOGYAKARTA ADALAH KOTA YANG DIRENCANAKAN

Sebelum membaca nama per nama, kita perlu memahami bahwa Yogyakarta bukan kota yang tumbuh secara organik. Ia dirancang. Oleh satu orang. Dalam satu kurun waktu. Sultan Hamengku Buwono I, setelah Perjanjian Giyanti 1755 memberinya separuh Mataram, membangun Yogyakarta dari nol, termasuk menentukan siapa tinggal di mana.

Hasilnya adalah sebuah sistem tata kota yang berbasis fungsi sosial: setiap kelompok masyarakat ditempatkan di lokasi tertentu berdasarkan perannya dalam ekosistem keraton. Abdi dalem keagamaan di dekat masjid. Abdi dalem prajurit di lingkar luar keraton. Abdi dalem dengan keahlian teknis di area yang sesuai fungsinya. Komunitas etnis pendatang di kawasan yang ditunjuk.

Dan nama kampung mencerminkan persis siapa yang pernah tinggal di sana. Ini bukan puisi, bukan mitos ini adalah dokumen administrasi yang ditulis dalam bahasa nama tempat.

KONSEP KUNCI

Dalam ilmu bahasa, studi tentang nama-nama tempat dan asal-usulnya disebut TOPONIMI (dari bahasa Yunani: topos = tempat, onoma = nama). Di Yogyakarta, penelitian toponimi dilakukan antara lain oleh Nur Aini Sulistyowati dan Heri Priyatmoko dalam buku ‘Toponim Kota Yogyakarta’ (2007), yang menjadi referensi akademik utama tentang nama-nama kampung di kota ini. Pembagian utama: Jeron Beteng (di dalam benteng keraton) dan Jobo Beteng (di luar benteng keraton).

KEDUA: JERON BETENG, KAMPUNG-KAMPUNG YANG MELAYANI KERATON DARI DALAM

Mari masuk ke dalam benteng. Di dalam kompleks keraton, ada sejumlah kampung kecil yang masing-masing dihuni oleh satu kelompok abdi dalem dengan tugas spesifik. Nama kampungnya adalah nama jabatan mereka.

KAUMAN: KOTA KECIL PARA PENEGAK AGAMA

Kampung Kauman: Tanah anggaduh milik Sultan yang justru melahirkan gerakan pembaruan Islam Muhammadiyah pada 1912. (Sumber Foto: Facebook Mohammad Basyir)

Nama ini terdengar familiar. Kauman ada di hampir setiap kota besar di Jawa, Yogyakarta, Solo, Semarang, Demak. Tapi tidak banyak yang tahu dari mana kata itu berasal.

FAKTA TERVERIFIKASI

Nama Kauman berasal dari Pa-Kaum-an. ‘Kaum’ berasal dari kata Arab Qaaimuddin, penegak agama Islam. Jadi Kauman = tempat tinggal para penegak agama. Sultan Hamengku Buwono I mendirikan Masjid Gedhe pada 1773 dan menempatkan Kyai Penghulu Faqih Ibrahim Diponingrat sebagai penghulu pertama Keraton Yogyakarta. Para ulama, ketib (khatib), dan modin ditempatkan di kawasan barat masjid. Mereka tidak memiliki hak milik atas tanah, hanya hak pakai (anggaduh). Kampung Kauman juga menjadi tempat lahir dan berkembangnya ajaran Muhammadiyah oleh K.H. Ahmad Dahlan. (Sumber: kel-kauman.blitarkab.go.id; kompas.com; wawasansejarah.com)

Perhatikan konsekuensi sistem ini. Para ulama yang menempati Kauman tidak memiliki tanah yang mereka tinggali. Tanah itu milik sultan, diberikan dengan status anggaduh, hak pakai yang bisa dicabut sewaktu-waktu. Artinya, independensi keagamaan para ulama itu secara struktural dibatasi oleh ketergantungan mereka pada lahan keraton.

Dalam konteks inilah gerakan Muhammadiyah yang lahir di Kauman pada 1912 menjadi sangat signifikan. K.H. Ahmad Dahlan mendirikan organisasi yang di antara tujuannya memperjuangkan kemerdekaan pemikiran keagamaan dari ikatan tradisi feodal keraton. Ia lahir dan besar di kampung yang secara struktural menempatkan ulama sebagai pegawai sultan. Dan dari sanalah ia justru mendirikan gerakan pembaruan Islam yang dampaknya melampaui tembok keraton, melampaui Jawa, bahkan melampaui abad.

Muhammadiyah lahir dari dalam kandang, dari kampung para ulama keraton yang tidak memiliki tanahnya sendiri. Ahmad Dahlan menggunakan nama yang diberikan Nabi untuk mendirikan gerakan yang akhirnya menjadi organisasi Islam terbesar kedua di Indonesia. Ironi yang produktif.

SILIRAN, NAMBURAN, PATEHAN, NAGAN: EMPAT KAMPUNG, SATU ORKESTRA

Kampung Namburan: Salah satu instrumen “orkestra” rumah tangga istana yang merekam jejak abdi dalem penabuh gamelan. (Sumber Foto: Facebook Mohammad Basyir)

Di dalam dan sekitar Jeron Beteng, ada serangkaian kampung yang namanya masing-masing adalah jabatan atau fungsi spesifik dalam tata kehidupan keraton. Bila dibaca bersama-sama, mereka menggambarkan satu sistem rumah tangga kerajaan yang sangat terperinci.

FAKTA TERVERIFIKASI

Siliran: tempat tinggal abdi dalem Silir yang bertugas menyalakan lampu penerangan keraton. Namburan: tempat tinggal abdi dalem yang bertugas membunyikan gamelan keraton. Patehan: tempat tinggal abdi dalem pembuat teh untuk keluarga sultan. Nagan: terdapat dua versi, (1) tempat abdi dalem yang memelihara ular (naga = ula gedhe, ular besar) berdasarkan Kitab Katrangan Côndrasangkala; (2) tempat abdi dalem penabuh gamelan (niyaga/nayaga). Mantrigawen: tempat tinggal abdi dalem kepala pegawai (mantri). (Sumber: yogyes.com; mojok.co; BPCB DIY)

Bayangkan ini: satu keraton besar, dan di sekitarnya ada kampung-kampung kecil yang masing-masing menyuplai satu fungsi spesifik. Yang satu menyuplai cahaya, Siliran. Yang satu menyuplai musik, Namburan. Yang satu menyuplai teh Patehan. Yang satu menjaga makhluk-makhluk simbolis atau menyuplai musik juga dalam versi lain, Nagan.

Ini adalah sistem spesialisasi kerja yang sangat canggih. Dan nama-nama kampungnya adalah catatan resmi dari sistem itu, sebuah direktori jabatan yang ditulis dalam bentuk nama jalan.

Hari ini, kampung-kampung itu sudah lama tidak lagi dihuni oleh abdi dalem dengan fungsi aslinya. Warganya adalah masyarakat umum. Tapi namanya masih ada, Siliran, Namburan, Patehan, tertera di papan jalan yang setiap hari dilewati orang yang tidak tahu bahwa mereka sedang membaca sebuah catatan arsip keraton abad ke-18.

SURONATAN: KAMPUNG PARA ULAMA DI LUAR TEMBOK

Di luar Jeron Beteng, ada kampung bernama Suronatan letaknya di kawasan Ngampilan, berdekatan dengan Notoprajan. Nama ini lebih jarang dibicarakan dibanding Kauman, tapi maknanya tidak kalah dalam.

FAKTA TERVERIFIKASI

Suronatan adalah tempat bermukim abdi dalem yang bertugas sebagai ulama keraton, berbeda dari Kauman yang lebih spesifik untuk ulama masjid. ‘Suro’ dalam konteks ini merujuk pada ulama atau orang yang dianggap suci. Kampung ini berkaitan erat dengan sejarah Kampung Kauman dan kawasan Ngampilan secara keseluruhan. Nama Ngampilan sendiri berasal dari abdi dalem Ampilan, para dayang yang bertugas membawa alat-alat kebesaran kerajaan dalam upacara adat sultan. (Sumber: ngampilankec.jogjakota.go.id; dodotiro.com)

Satu kecamatan, dua kampung ulama: Kauman (ulama masjid) dan Suronatan (ulama keraton). Dua institusi keagamaan dengan orientasi yang sedikit berbeda, ditempatkan berdampingan, sebuah arsitektur sosial yang mencerminkan cara sultan mengelola otoritas keagamaan: terpusat, terbagi menurut fungsi, dan semuanya berada dalam jarak yang terjangkau dari keraton.

KETIGA: JOBO BETENG, PETA MILITER YANG TERTULIS DALAM NAMA KAMPUNG

Kampung Bugisan: Monumen spasial bagi prajurit etnis Bugis Sulawesi yang bertransformasi menjadi warga lokal. (Sumber Foto: Facebook Mohammad Basyir)

Keluar dari benteng keraton, kita memasuki sistem pertahanan yang berbeda bukan tembok dan menara, tapi sebuah cincin permukiman prajurit yang mengelilingi keraton dari luar. Masing-masing kampung adalah markas dari satu kesatuan prajurit tertentu.

FAKTA TERVERIFIKASI

Kampung-kampung prajurit di Jobo Beteng antara lain: Ketanggungan (dari Prajurit Ketanggung pasukan dengan tanggung jawab pengawasan), Suronggaman (dari Prajurit Surogama), Bugisan (dari Prajurit Bugis prajurit dari etnis Bugis Sulawesi), Dhaengan (dari Prajurit Dhaeng berasal dari Pura Mangkunegaran Surakarta, awalnya bertugas mengawal GKR Bendara, putri HB I yang kembali dari Surakarta, lalu memutuskan menetap), Wirobrajan (dari Wirobrajaning Nata prajurit keberanian raja), Patangpuluhan (dari kesatuan prajurit Patangpuluh), Surokarsan (dari Prajurit Surokarso). (Sumber: kratonjogja.id; sonobudoyo.jogjaprov.go.id)

Yang paling menarik dari daftar ini adalah Bugisan dan Dhaengan, dua kampung yang namanya mencerminkan identitas etnis, bukan sekadar nama kesatuan.

Bugisan: prajurit dari etnis Bugis. Orang Bugis dikenal sebagai pelaut dan pejuang tangguh dari Sulawesi, hadir di Yogyakarta sebagai bagian dari kesatuan prajurit keraton. Mereka tidak hanya singgah; mereka menetap, mendirikan kampung, dan nama mereka terpatri dalam peta kota hingga hari ini.

Dhaengan: lebih dramatis lagi. Prajurit Dhaeng berasal dari Mangkunegaran Surakarta, musuh politik yang sudah menjadi sekutu setelah berbagai pergolakan. Mereka dikirim untuk mengawal seorang putri sultan yang kembali dari perceraiannya di Solo. Dan ketika tugasnya selesai, mereka memutuskan: kami tidak pulang. Kami tinggal di sini. Dan mereka mendirikan kampung Dhaengan.

Yogyakarta menyimpan satu kampung yang namanya adalah kenangan dari sebuah rombongan pengawal yang terlanjur jatuh cinta pada kota ini dan memilih untuk tidak pulang. Dhaengan nama yang terdengar biasa, sebenarnya adalah monumen kesetiaan yang tidak direncanakan.

KEEMPAT: KOTA PARA PENGRAJIN, NAMA KAMPUNG SEBAGAI DIREKTORI PROFESI

Kawasan Wisata Dagen: Dahulu kampungnya para undhagi (tukang kayu), kini menjadi ruang urban yang padat bernuansa wisata. (Sumber Foto: Facebook Mohammad Basyir)

Di luar prajurit dan ulama, ada lapisan ketiga dari peta sosial Yogyakarta: para pengrajin dan pekerja teknis yang keahliannya dibutuhkan keraton. Nama kampung mereka adalah nama profesi mereka.

FAKTA TERVERIFIKASI

Gemblakan: dari kata gemblak, tukang kuningan, abdi dalem yang memasang ornamen kuningan pada perabotan kerajaan (gagang pintu, lemari, alat musik, paku kayu). Mergangsan: dari mergansa, berarti kalang atau tukang kayu, abdi dalem yang membuat gawang-gawang dan pintu masuk bangunan. Gowongan: dari gowong, ahli bangunan dari kayu. Dagen: dari undhagi, tukang kayu dengan spesialisasi lebih luas. Gerjen: dari gerji, tukang jahit keraton. Keparakan: dari keparak, pelayan yang bertugas mendampingi penguasa dan keluarganya. (Sumber: mojok.co; dodotiro.com)

Baca deretan nama itu dan bayangkan seperti apa kota Yogyakarta pada abad ke-18: setiap profesi punya kampungnya sendiri. Ingin mencari tukang kuningan? Pergi ke Gemblakan. Butuh tukang kayu bangunan? Gowongan. Butuh tukang jahit untuk pakaian kerajaan? Gerjen.

Ini adalah sistem zonasi profesi yang jauh lebih canggih dari yang kita bayangkan untuk sebuah kota abad ke-18. Dan semua informasi itu tersimpan, gratis, terbuka, tidak memerlukan arsip atau museum, dalam nama-nama kampung yang kita lewati setiap hari di Google Maps tanpa pernah bertanya artinya.

KELIMA: PRAWIRODIRJAN, KETIKA NAMA KAMPUNG ADALAH NAMA ORANG

Ada kategori lain dalam toponimi Yogyakarta: kampung yang namanya berasal bukan dari fungsi kolektif, tapi dari nama seorang tokoh yang pernah tinggal atau memiliki kekuasaan di sana. Prawirodirjan adalah contoh yang paling representatif.

FAKTA TERVERIFIKASI

Nama Kampung Prawirodirjan berasal dari nama Ndalem Prawirodirja, kediaman KRT (Kanjeng Raden Tumenggung) Prawirodirja, yang merupakan suami dari BRAy (Bendara Raden Ayu) Maduretno, putri Sultan Hamengku Buwono IV. KRT Prawirodirja menjabat sebagai Bupati Nayaka Keparak Tengen, jabatan tinggi dalam birokrasi keraton. Ndalem (kediaman) Prawirodirja terletak di Jalan Ireda, dan kini telah menjadi gedung SMA Santa Maria Yogyakarta. Letaknya di kawasan penyangga Sumbu Filosofi. (Sumber: harianjogja.com; BPCB DIY)

Sebuah rumah bangsawan keraton kini menjadi sekolah Katolik. Sebuah nama menantu sultan, kini menjadi nama kelurahan yang dipadati warung soto dan toko batik. Sebuah jabatan birokrasi kerajaan abad ke-19, kini menjadi alamat di Google Maps yang diketik oleh pengemudi ojol setiap harinya.

Begitulah waktu bekerja di Yogyakarta: tidak menghapus nama, tapi mengubah konteksnya. KRT Prawirodirja sudah lama terlupakan. Tapi namanya diringkas menjadi ‘Prawirodirjan’ masih ada di papan jalan. Berkeliaran di antara penumpang ojol dan wisatawan yang tidak tahu siapa dia.

KEENAM: JAGALAN, NAMA YANG PALING JUJUR

Kalurahan Jagalan: Kejujuran sejarah kota yang tetap mengabadikan ruang bagi para penjagal hewan keraton hingga hari ini. (Sumber Foto: Facebook Mohammad Basyir)

Di antara semua nama kampung di Yogyakarta, ada satu yang paling terus terang, paling tidak berusaha menyembunyikan apa yang pernah terjadi di sana: Jagalan.

FAKTA TERVERIFIKASI

Jagalan berasal dari kata ‘jagal’, penjagal, tukang sembelih hewan. Kampung Jagalan adalah tempat tinggal abdi dalem yang bertugas menyembelih hewan untuk kebutuhan keraton dan upacara adat. Nama ini ditemukan di beberapa kawasan: ada Jagalan di dekat Pakualaman, ada Jagalan Beji di dekat Prawirodirjan. Dalam konteks Pakualaman, BPNB mencatat Jagalan sebagai salah satu nama kampung di wilayah Kadipaten Pakualaman. (Sumber: kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpnbyogyakarta; harianjogja.com)

Di kota-kota Eropa, nama-nama jalan seperti ‘Butcher Street’ atau ‘Slaughterhouse Lane’ sudah lama diganti dengan nama-nama yang lebih nyaman didengar. Di Yogyakarta, Jagalan masih ada masih tertera di papan jalan, masih diucapkan oleh warganya tanpa merasa perlu meminta maaf.

Ada kejujuran yang tidak disengaja dalam kelangsungan nama itu. Bahwa sebuah kota kerajaan membutuhkan tukang jagal. Bahwa tukang jagal adalah profesi yang diakui, punya kampungnya sendiri, punya tempat dalam struktur sosial yang terencana. Jagalan bukan nama yang memalukan, ia adalah nama yang menjelaskan cara kerja sebuah peradaban.

PENUTUP: KOTA INI SEDANG BERBICARA DALAM BAHASA NAMA

Kita sudah membaca sepuluh lebih nama kampung. Tapi daftar ini masih jauh dari lengkap. Di Yogyakarta ada puluhan nama kampung lain yang masing-masing menyimpan satu kalimat dalam narasi besar kota ini: Keparakan (pelayan pribadi sultan), Ngampilan (pembawa alat kebesaran raja), Margoyasan (jalan buatan, pemberian Pakualam), Dagen (tukang kayu), Gerjen (tukang jahit), Gemblakan (tukang kuningan).

Setiap nama adalah dokumen. Setiap kampung adalah arsip. Dan berbeda dari arsip yang tersimpan di lemari berkunci dalam gedung-gedung pemerintahan, arsip ini terbuka untuk siapapun, tertera di papan jalan, di aplikasi peta, di kartu tanda penduduk.

Masalahnya bukan ketidaktersediaan. Masalahnya adalah ketidakpedulian. Kita berjalan setiap hari melewati nama-nama yang adalah warisan intelektual dan sosial dari sebuah peradaban yang membangun kotanya dengan sangat cermat dan penuh kesengajaan dan kita tidak bertanya apa artinya.

Yogyakarta adalah ensiklopedia yang tidak pernah ditutup. Halamannya ada di setiap sudut jalan. Penulisnya adalah Sultan Hamengku Buwono I dan para penerusnya. Dan pembacanya adalah kita, kalau kita mau.

Di kota ini, bahkan para tukang teh, tukang lampu, tukang jagal, dan prajurit dari Sulawesi yang memutuskan tidak pulang, semuanya diabadikan dalam nama. Tidak ada yang benar-benar terlupakan selama nama kampungnya masih ada di papan jalan. Yang terlupakan hanyalah kita yang tidak pernah bertanya artinya.

Seri V menyusul: membaca Kotagede, kota emas, nisan-nisan kuno, dan makam para raja pertama Mataram.

Daftar Pustaka

Sumber Akademik Utama

  1. Sulistyowati, Nur Aini & Priyatmoko, Heri. Toponim Kota Yogyakarta. Yogyakarta: Balai Bahasa Yogyakarta, 2007.
  2. Priyatmoko, Heri. Menyusuri Jejak Keistimewaan Yogyakarta. Yogyakarta: Ombak, berbagai edisi.
  3. Lombard, Denys. Nusa Jawa: Silang Budaya Jilid II dan III. Jakarta: Gramedia, 2005.
  4. Carey, Peter. Kuasa Ramalan: Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa 1785–1855. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2011.
  5. Ricklefs, M.C. Sejarah Indonesia Modern 1200–2008. Jakarta: Serambi, 2008.
  6. Darban, Ahmad Adaby. Sejarah Kauman: Menguak Identitas Kampung Muhammadiyah. Yogyakarta: Tarawang Press.
  7. Muljana, Slamet. Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara. Yogyakarta: LKiS.

Sumber Institusional

  1. Kraton Yogyakarta
  2. Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta
  3. Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X DIY-Jateng
  4. Museum Sonobudoyo
  5. Pemkot Yogyakarta Kecamatan Ngampilan

Sumber Pendukung

  1. Darban, Ahmad Adaby. Sejarah Kauman dan Muhammadiyah.
  2. Soeratman, Darsiti. Kehidupan Dunia Keraton Surakarta 1830–1939. Yogyakarta: Tamansiswa.
  3. Brongtodiningrat, K.R.T. Sejarah Nasional Ngayogyakarta Hadiningrat.

EMBAS (M. Basyir Zubair)
Kotagede, Yogyakarta, 30052026.

Sumber Artikel: Facebook Mohammad Basyir

Mohammad Basyir Zubair
Mohammad Basyir Zubair
Pengamat Arkeologi & Penulis Populer-Akademik | Kotagede, Yogyakarta

Related Articles

Artikel baru