Panggung Krapyak, Keraton, dan Tugu
Pada 18 September 2023, di Riyadh, Arab Saudi, sidang ke-45 Komite Warisan Dunia UNESCO resmi menetapkan Sumbu Filosofi Yogyakarta sebagai Warisan Budaya Dunia. Namanya yang dicatatkan dalam dokumen UNESCO: The Cosmological Axis of Yogyakarta and its Historic Landmarks. Diterima penuh, tanpa sanggahan satu pun dari negara-negara anggota.
Berita itu disambut suka cita. Sebuah pencapaian bergengsi. Sebuah pengakuan internasional.
Tapi pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya: sumbu apakah ini sebenarnya? Mengapa disebut ‘filosofi’? Siapa yang merancangnya? Dan yang paling penting siapa yang pernah berusaha menghancurkannya, dan bagaimana caranya?
Mari kita membaca bukan dari brosur perjalanan wisata, bukan dari papan informasi yang setengah lengkap, tapi dari benda-bendanya sendiri. Dari sejarahnya yang tersimpan dalam batu bata, dalam nama-nama kampung, dalam bentuk sebuah tugu yang sudah berubah wujud, dan dalam nyala lampu yang tidak pernah padam selama lebih dari dua abad.
Yogyakarta bukan sekadar kota. Ia adalah sebuah argumen kosmologis yang dibangun dari batu bata, jalan, dan pohon-pohon, sebuah manifesto tentang dari mana manusia berasal dan ke mana ia akan kembali.
OBJEK PERTAMA: PANGGUNG KRAPYAK, RAHIM DI TEPI SELATAN KOTA

Di pinggiran selatan Kota Yogyakarta, tidak jauh dari permukiman yang kini padat, berdiri sebuah bangunan persegi berwarna putih kekuningan. Tingginya sepuluh meter, lebarnya 17,6 x 15 meter. Dindingnya batu bata merah yang sudah dilapisi semen. Dua lantai, lantai bawah terbagi empat ruangan yang dihubungkan lorong, lantai atas berupa teras terbuka berpagar di keempat sisinya. Pada setiap sisi dinding terdapat satu pintu dan dua jendela.
Ribuan orang melintas di sekitarnya setiap hari. Kebanyakan yang singgah adalah peziarah yang hendak ke pesantren-pesantren di sekitar sana. Bangunan itu dikenal sebagai Panggung Krapyak. Dan hampir tidak ada yang tahu persis apa yang sedang ia wakili dalam tata ruang kota ini.
FAKTA TERVERIFIKASI
Panggung Krapyak dibangun sekitar tahun 1760 oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I, sebagai pos berburu sekaligus daerah pertahanan dari binatang buas. Nama ‘Krapyak’ menurut kepercayaan masyarakat Keraton merujuk pada tempat roh-roh suci yang atas perkenan Allah dihembuskan ke dalam calon bayi yang berada dalam kandungan ibu. Bangunan ini ditetapkan sebagai cagar budaya melalui Permen Budpar RI No. PM.89/PW.007/MKP/2011. (Sumber: BPCB DIY; penelitianpariwisata.id; kratonkec.jogjakota.go.id)
Ada kisah berdarah yang melekat pada nama tempat ini jauh sebelum Hamengku Buwono I mendirikan bangunan tersebut. Prabu Hanyokrowati, putra Panembahan Senopati pendiri Mataram Islam juga sangat gemar berburu di hutan Krapyak. Dan kegemarannya itu, pada akhirnya, menjadi penyebab kematiannya. Ia wafat di sini pada tahun 1610, dan kemudian diberi gelar Panembahan Seda Krapyak, yang bermakna: raja yang wafat di Krapyak. Ia disemayamkan di Kotagede.
Jadi ketika Hamengku Buwono I kemudian mendirikan bangunan Panggung Krapyak di lokasi yang sama, ia tidak sekadar membangun pos berburu. Ia sedang mengaktifkan kembali sebuah situs yang sudah memiliki muatan historis dan spiritual berlapis-lapis. Sebuah tempat yang sudah dua kali memakan nyawa raja.
Dalam skema sumbu filosofi, Panggung Krapyak adalah titik paling selatan dari tiga titik utama: Panggung Krapyak — Keraton — Tugu. Ia merupakan penanda awal dari konsep Sangkan Paraning Dumadi: dari mana manusia berasal dan ke mana ia kembali.
Secara simbolis, Panggung Krapyak digambarkan sebagai yoni, lambang rahim, sumber kelahiran. Di sekelilingnya tumbuh pohon-pohon asem. Tidak jauh dari sana ada kampung bernama Mijen berasal dari kata wiji, yang berarti benih. Nama-nama ini bukan kebetulan. Dalam tradisi perancangan keraton Jawa, setiap elemen tata ruang nama kampung, jenis pohon, arah jalan, dipilih dengan kesengajaan penuh.
Dari Panggung Krapyak ke utara, seseorang berjalan melalui Jalan Parangtritis, melewati kampung-kampung, menyeberangi batas kota yang makin padat, hingga akhirnya tiba di Keraton. Perjalanan dari rahim menuju kehidupan. Dari titik awal menuju pusat.
Sultan Hamengku Buwono I memelihara rusa dalam area tertutup di Krapyak, dan para penafsir tradisi keraton memaknainya sebagai simbol Allah yang menahan jiwa-jiwa manusia di Lauh Mahfudz sebelum waktunya tiba untuk mereka turun ke dunia.
OBJEK KEDUA: KERATON, TITIK TENGAH YANG MENYIMPAN API ABADI

Keraton Yogyakarta bukan sekadar istana. Siapapun yang pernah belajar tentang tata kota Jawa tahu ini. Tapi mengatahui secara konseptual adalah satu hal, membacanya sebagai arkeolog detektif adalah hal yang berbeda sama sekali.
Dalam skema Sangkan Paraning Dumadi, Keraton berada tepat di titik tengah. Ia bukan awal, bukan akhir. Ia adalah kehidupan itu sendiri, manusia yang sudah dewasa, mapan, mengemban tanggung jawab, menanggung ujian. Keraton bukan puncak perjalanan; ia adalah lintasan.
Dan di dalam Keraton, ada satu objek yang jarang sekali disebut dalam narasi wisata, tapi sangat sentral dalam sistem filosofi ini: sebuah lampu.
FAKTA TERVERIFIKASI
Di Gedhong Prabayeksa dalam kompleks Keraton Yogyakarta, terdapat Lampu Kyai Wiji yang tidak pernah padam sejak zaman Sultan Hamengku Buwana I, raja pertama Kasultanan Yogyakarta yang memerintah sejak 1755. Lampu ini melambangkan keabadian: ujung dari filosofi Paraning Dumadi, yaitu kehidupan langgeng di alam akhirat setelah kematian. (Sumber: BPCB DIY; Liputan6; Jogja TV)
Lebih dari dua ratus enam puluh tahun. Sebuah lampu menyala tanpa putus sejak abad ke-18. Bukan sekadar lampu dalam pengertian harfiah tentu saja, ini adalah simbol, sebuah pernyataan teologis yang dinyatakan dalam bentuk cahaya: bahwa ada sesuatu yang tidak akan pernah padam, bahwa perjalanan manusia memiliki ujung yang bukan kegelapan.
Keraton juga berada di persilangan dua sumbu yang berbeda. Sumbu filosofi yang nyata, Panggung Krapyak di selatan, Tugu di utara, adalah sumbu horizontal-vertikal yang dapat dilihat, diukur, dan dilewati. Tapi ada juga sumbu imajiner: Gunung Merapi di utara, Keraton, dan Laut Selatan di selatan. Sumbu ini bukan jalan sungguhan; ia adalah konsepsi kosmologis. Merapi melambangkan laki-laki, Laut Selatan melambangkan perempuan. Keraton berada di tengah, menjadi penghubung dan penyeimbang.
Inilah yang dimaksud UNESCO ketika menamai situs ini ‘Cosmological Axis’, poros kosmologis. Bukan sekadar jalan lurus dari satu titik ke titik lain. Tapi sebuah sistem makna yang mengintegrasikan kosmologi, teologi, ekologi, dan tata kota dalam satu rancangan tunggal yang menyatu.
Dan ini semua dirancang oleh satu orang, Pangeran Mangkubumi, yang kemudian menjadi Sultan Hamengku Buwono I, seorang pangeran yang kalah dalam perang saudara keluarga Mataram, lalu mendirikan kerajaannya sendiri melalui Perjanjian Giyanti 1755, dan menuangkan seluruh visi kosmologisnya ke dalam tata ruang kota yang ia bangun dari nol.
Keraton bukan istana raja. Ia adalah model alam semesta yang diperkecil, jagad cilik yang mencerminkan jagad gedhe. Dan di pusatnya menyala lampu yang tidak pernah padam sejak abad ke-18.
OBJEK KETIGA: TUGU, MONUMEN YANG DIKHIANATI DUA KALI

Tugu Yogyakarta adalah bangunan yang paling sering difoto di kota ini. Setiap wisatawan yang tiba di Yogyakarta hampir pasti mampir atau setidaknya melihatnya dari dalam taksi. Ikon kota yang sudah menjadi latar belakang jutaan foto selfie.
Tapi tugu yang berdiri hari ini bukanlah tugu yang dimaksud oleh Sultan Hamengku Buwono I. Yang ada hari ini adalah penggantinya sebuah pengganti yang, menurut banyak sumber, dirancang untuk mengkhianati makna aslinya.
FAKTA TERVERIFIKASI

Tugu Golong Gilig dibangun tahun 1755/1756 oleh Sultan Hamengku Buwono I. Bentuknya: silinder (gilig) dengan puncak bulat seperti bola (golong), tinggi 25 meter, berfungsi sebagai tetenger (penanda) kota dan titik pandang saat sultan bermeditasi. Pada 10 Juni 1867, gempa bumi merobohkan tugu hingga patah menjadi tiga bagian. Selama beberapa tahun tugu terbengkalai. Pada 1889, dibangun ulang oleh pemerintah Belanda di bawah J.W.S. van Brussel (Opzichter van Waterstaat/Kepala Dinas Pekerjaan Umum) dengan pengawasan Patih Danurejo V. Bentuk baru: persegi, puncak kerucut runcing, tinggi hanya 15 meter. Diresmikan Sultan Hamengku Buwono VII, 3 Oktober 1889, dan sejak saat itu disebut De Witte Paal atau Tugu Pal Putih. (Sumber: BPCB DIY; Kompasiana; kratonjogja.id)
Perhatikan baik-baik apa yang berubah. Semula: silinder dengan puncak bulat. Bentuk itu dalam bahasa filosofi Jawa adalah Golong-Gilig, golong artinya bulat/menyatu, gilig artinya silinder/tegak lurus. Bersama-sama, dua bentuk itu melambangkan Manunggaling Kawula Gusti: persatuan rakyat-raja, manusia-Pencipta. Tingginya 25 meter menjulang, mendominasi cakrawala kota yang saat itu masih rendah.
Setelah 1889: persegi. Puncak runcing. Tinggi dipangkas menjadi 15 meter, 10 meter lebih pendek. Bentuk bulat yang menjadi inti makna persatuan itu sudah tidak ada. Yang tersisa adalah monumen bergaya Eropa yang elegan tapi kosong dari filosofi aslinya.
Dan perhatikan siapa yang membangunnya: J.W.S. van Brussel, pejabat Dinas Pengairan Belanda. Bukan arsitek keraton. Bukan juru bangunan yang dididik dalam tradisi Jawa. Pada setiap sisi tugu yang baru itu terukir prasasti yang salah satunya dengan jelas menyebut nama Van Brussel dan Patih Danurejo V sebagai yang bertanggung jawab atas renovasi.
Belanda tidak perlu meledakkan tugu untuk menghancurkan maknanya. Cukup dengan membangunnya kembali dalam bentuk yang berbeda, persegi menggantikan bulat, kerucut runcing menggantikan bola, dan simbolisme persatuan itu pun lenyap tanpa satu pun warga yang sempat menyadarinya.
Tapi serangan terhadap sumbu filosofi tidak berhenti di situ. Belanda juga membangun jalur kereta api yang secara fisik memotong sumbu filosofi. Bukan kebetulan, ini adalah strategi. Sebagaimana yang dinyatakan oleh para peneliti: orientasi kota pelan-pelan diarahkan bukan lagi menuju kosmologi Jawa, tetapi menuju rasionalitas administrasi modern. Ruang kota yang tadinya sarat makna spiritual dipersempit menjadi ruang ekonomi, transportasi, dan birokrasi.
Dan dalam peta-peta resmi yang dikeluarkan Belanda, peta 1833, 1902, dan 1925, bangunan-bangunan Belanda tampak paling menonjol, sementara Tugu Golong Gilig dan Panggung Krapyak nyaris tidak dianggap penting. Politik kartografi: menghapus dari peta berarti menghapus dari kesadaran.
BONUS: NAMA JALAN YANG MERUPAKAN AYAT-AYAT TERSEMBUNYI

Sumbu filosofi bukan hanya tentang tiga bangunan. Ia juga tentang nama-nama jalan yang membentangkan maknanya meter demi meter dari Tugu ke selatan menuju Keraton.
Dari Tugu ke selatan, jalannya bernama Margatama, jalan menuju keutamaan. Lalu Maliabara (Malioboro) menurut tafsir keraton, bermakna penggunaan ‘obor’ penerang, yaitu ajaran para wali. Ke selatan lagi, Margamulya jalan menuju kemuliaan. Dan sebelum Keraton, ada Jalan Pangurakan, dari kata ‘ngurak’, artinya mengusir nafsu-nafsu yang buruk.
FAKTA TERVERIFIKASI
Penamaan jalan-jalan di sumbu filosofi dan pemilihan vegetasi di sepanjang jalan tersebut memiliki makna filosofis yang disengaja. Ini termasuk: nama-nama kampung di sepanjang sumbu (Pingit di barat berarti ‘menyimpan’, Gondolayu di timur berarti ‘bau mayat’, menandakan agar manusia meninggalkan hal-hal yang membusuk sebelum menuju Sang Pencipta). (Sumber: kratonjogja.id; BPCB DIY)
Di sisi utara Tugu, ada dua kampung yang mengapitnya: Pingit di barat artinya menyimpan, merahasiakan, dan Gondolayu di timur artinya bau mayat. Filosofinya: ketika seseorang hendak memulai perjalanan menuju Sang Pencipta, yang pertama perlu dilakukan adalah melepaskan segala yang busuk dan mati dalam dirinya.
Sebuah kota yang bahkan nama-nama kampungnya adalah instruksi spiritual. Sebuah tata ruang yang bukan sekadar fungsional, tapi teologis.
Dan semua ini kini menjadi Warisan Budaya Dunia UNESCO. Sebuah pengakuan yang, kalau kita jujur, seharusnya membuat kita malu: bahwa sebuah badan internasional dari luar negeri harus datang dan berkata “ini luar biasa” sebelum kita sendiri benar-benar meluangkan waktu untuk memahaminya.
PENUTUP: KOTA INI ADALAH BUKU, SUDAHKAH KITA MEMBACANYA?
Tiga bangunan. Tiga kilometer jalan. Ratusan tahun sejarah. Dan sebuah sistem makna yang begitu canggih sehingga diakui sebagai salah satu pencapaian kosmologis terbesar dalam sejarah tata kota di dunia.
Tapi Panggung Krapyak kini terjepit di antara permukiman padat dan jalan raya yang hiruk pikuk. Tugu kini berdiri dalam wujud kolonialnya pengganti yang dipasang Belanda untuk melemahkan semangat persatuan, dan jutaan orang berfoto di depannya tanpa tahu bahwa yang mereka abadikan adalah monumen sabotase, bukan monumen asli. Rel kereta api yang dulu secara sengaja dipotongkan melintasi sumbu sakral itu sampai hari ini masih ada.
Dan Keraton, dengan Lampu Kyai Wiji yang tidak pernah padam sejak abad ke-18 masih menyala diam-diam di Gedhong Prabayeksa, tanpa banyak orang tahu bahwa nyalanya adalah pernyataan teologis tertua yang masih aktif di kota ini.
Yogyakarta adalah buku yang paling tebal yang pernah ditulis di atas bumi dan batu. Setiap halamannya adalah jalan, setiap kalimatnya adalah kampung, setiap titiknya adalah prasasti. Pertanyaannya bukan apakah buku ini layak dibaca. Pertanyaannya adalah: kapan kita akan mulai membacanya dengan sungguh-sungguh?
Seri III menyusul.
Daftar Pustaka
- UNESCO World Heritage Centre, The Cosmological Axis of Yogyakarta and its Historic Landmarks.
- Kraton Yogyakarta Official Website.
- Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X (eks BPCB DIY).
- Pemerintah Kota Yogyakarta, Kemantren Kraton.
- Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Cagar Budaya.
- Penelitian Pariwisata Indonesia.
- Liputan6, Sejarah Lampu Kyai Wiji Keraton Yogyakarta.
- Jogja TV.
- Kompasiana, Sejarah Tugu Yogyakarta dan Golong Gilig.
- M. C. Ricklefs. A History of Modern Indonesia Since c. 1200. Stanford University Press.
- Denys Lombard. Nusa Jawa: Silang Budaya. Gramedia.
- Revianto Budi Santosa. Omah: Membaca Makna Rumah Jawa. Ombak.
- Niels Mulder. Mistisisme Jawa: Ideologi di Indonesia. LKiS.
- Koentjaraningrat. Kebudayaan Jawa. Balai Pustaka.
EMBAS (M. Basyir Zubair)
Yogyakarta, 28052026
Sumber Artikel: Facebook Mohammad Basyir

