beberapa hari lalu saya mendapatkan data bahwa embrio Oryzias celebensis atau orang Makassar menyebutnya ikan Binisi, mengalami kelainan bentuk jantungnya karena diekspos dengan ekstrak daun siri. Lalu saya berpikir apakah bentuk itu bisa dimodelkan sehingga kita bisa mengasesmen bahan pencemar dari bentuknya.
Tentu dibutuhkan suatu alat, saya berpikir bahwa alat itu adalah matematika. Pikiran saya selanjutnya tertuju pada Stewart, Ian. 1995. Nature’s Numbers: Discovering Order and Pattern in the Universe. New York: Basic Books.
Tapi setelah itu pikiran saya lari kamana-mana. Saya biarkan ia liar, karena beberapa hari lalu terlalu fokus ke tema mahasiswa S3 “Climate Warming Amplifies the Developmental Toxicity of Environmentally Aged Polypropylene Microplastics in Celebes Medaka (Oryzias celebensis) Embryos”.
Matematika tidak hanya berbicara tentang angka. Angka hanyalah jejak yang ditinggalkannya di papan tulis. Jauh di belakang angka, matematika berbicara tentang bentuk: bagaimana sesuatu tersusun, bagaimana bagian-bagiannya berhubungan, dan bagaimana suatu keteraturan ditemukan di tengah kekacauan.
Sebuah lingkaran adalah bentuk. Persamaan juga bentuk. Demikian pula jaringan, distribusi, pertumbuhan, dan keruntuhan. Kenyataan ternyata tidak hanya terdiri atas benda-benda, tetapi juga hubungan di antara benda-benda itu.
Masyarakat pun demikian.
Masyarakat bukan sekadar kumpulan manusia yang dicatat dalam sensus, dicetak pada kartu penduduk, atau dihitung menjelang pemilihan umum. Masyarakat adalah bentuk hubungan. Ia hidup ketika manusia saling mengenal, mempercayai, menolong, dan bersama-sama menjaga sesuatu yang mereka anggap berharga.
Karena itu, seribu orang yang saling terhubung berbeda dari seribu orang yang berdiri sendiri-sendiri. Jumlahnya sama, tetapi daya sosialnya tidak sama. Yang satu adalah masyarakat; yang lain mungkin hanya kerumunan.
Dalam keterhubungan, lahir sesuatu yang tak sepenuhnya dapat dihitung: keberanian. Seseorang mungkin takut ketika berdiri sendiri. Namun, ketika mengetahui bahwa orang lain merasakan ketidakadilan yang sama, ketakutannya berubah. Bukan karena ancaman telah hilang, melainkan karena kesendiriannya telah berakhir.
Kekuasaan memahami matematika ini.
Penguasa yang ingin mempertahankan dominasi tidak selalu harus menangkap setiap orang. Cara itu terlalu kasar dan mudah dikenali. Kekuasaan modern bekerja lebih tenang: ia mengubah bentuk masyarakat.
Hubungan horizontal dilemahkan, sementara ketergantungan vertikal diperkuat. Ketergantungan ini diikat dengan yang namanya uang.
Manusia dipisahkan berdasarkan agama, mazhab, suku, partai, profesi, daerah, dan kelas ekonomi. Perbedaan yang sebenarnya dapat menjadi kekayaan dipoles menjadi ancaman. Batas identitas ditebalkan, luka lama dipanggil kembali, dan kecurigaan dipelihara. Setiap kelompok dibuat percaya bahwa kelompok lain sedang mengambil sesuatu yang seharusnya menjadi miliknya.
Lalu orang-orang bertengkar.
Yang miskin menyalahkan yang sama-sama miskin. Mereka yang kehilangan pekerjaan memusuhi orang yang sedang mencari pekerjaan. Kelompok agama mencurigai mazhab lain. Para pekerja berebut tempat yang semakin sempit, tetapi lupa bertanya siapa yang menyempitkannya.
Energi sosial akhirnya bergerak secara horizontal: rakyat melawan rakyat dan tetangga mencurigai tetangga. Kemarahan tidak lagi bergerak ke atas untuk memeriksa kekuasaan, distribusi sumber daya, dan ketidakadilan. Mereka yang menanggung masalah struktural yang sama justru saling memperlakukan sebagai musuh.
Inilah matematika politik divide et impera: pecahlah masyarakat menjadi bagian-bagian kecil, lalu berkuasalah di atas pecahan-pecahan itu. Java Orlog memberi pelajaran kuat tentang itu.
Dahulu, penjajah membagi wilayah dan mengadu kerajaan. Kini, kekuasaan dapat membagi persepsi. Ia tidak perlu membangun tembok di antara manusia. Cukup hadirkan layar yang membuat setiap kelompok melihat kenyataan yang berbeda.
Algoritma mengerjakan sisanya. Ia mengenali apa yang kita sukai, siapa yang kita benci, dan hal apa yang segera menyalakan kemarahan. Kita merasa sedang memilih informasi, padahal informasi juga sedang memilih kita. Kita dimasukkan ke kamar gema yang hanya memantulkan suara sendiri. Di sana, keyakinan tidak lagi diuji; ia hanya dipuji.
Matematika dapat digunakan untuk membaca keretakan itu. Polarisasi, ketimpangan ekonomi, pemusatan media, segregasi sosial, penurunan kepercayaan publik, dan penyebaran kebencian dapat diukur. Dari data tersebut, fragmentasi bahkan dapat diperkirakan sebelum berubah menjadi konflik terbuka.
Tetapi di sinilah persoalan moral dimulai.
Pengetahuan itu dapat digunakan untuk mencegah perpecahan. Negara dapat mengetahui kelompok mana yang merasa tersisih dan ketimpangan apa yang sedang berubah menjadi kemarahan. Kebijakan kemudian diarahkan untuk memulihkan keadilan.
Namun, pengetahuan yang sama dapat dipakai untuk tujuan sebaliknya. Penguasa dapat mengetahui kelompok mana yang mulai bersatu, siapa yang menjadi penghubung mereka, serta gagasan apa yang mempertemukan mereka. Hubungan itu kemudian diputus. Tokohnya didiskreditkan, kelompoknya dicurigai, dan percakapan publik dialihkan.
Kekuasaan semacam itu tidak hanya memadamkan perlawanan. Ia meramalkan kemungkinan lahirnya solidaritas, lalu menggagalkannya sebelum sempat tumbuh. Masyarakat diperlakukan sebagai laboratorium: kecemasan menjadi data, kemarahan menjadi variabel, dan identitas menjadi tombol yang dapat ditekan.
Masalahnya bukan pada matematika, melainkan pada tangan yang menggunakannya. Data dapat membebaskan masyarakat dari kebutaan, tetapi juga dapat membuat penindasan lebih tepat sasaran. Pertanyaannya bukan lagi seberapa canggih model yang dibangun, melainkan: untuk siapa model itu bekerja?
Manusia bukan sekadar titik dalam jaringan. Ia mempunyai ingatan, cinta, luka, doa, dan keberanian yang kadang muncul tanpa dapat diramalkan. Satu tindakan kemanusiaan dapat menyambungkan hubungan yang bertahun-tahun diputus oleh kebencian.
Jika kekuasaan bekerja dengan memisahkan, perubahan sosial harus dimulai dengan mempertemukan. Bukan menghapus perbedaan, tetapi membangun jembatan di antara perbedaan itu. Sebab, bangsa tidak menjadi kuat hanya karena memiliki jutaan penduduk. Ia kuat ketika manusia di dalamnya masih mampu merasakan luka orang lain sebagai lukanya sendiri.
Penguasa yang menindas memiliki matematika politik: pisahkan manusia agar mudah dihitung dan dikendalikan. Namun, rakyat juga mempunyai matematika kemanusiaan: hubungkan kembali yang diputus dan kembalikan wajah manusia yang telah direduksi menjadi angka.
Sebab, manusia yang tercerai memang mudah dikuasai. Tetapi ketika pecahan-pecahan itu menemukan kembali bentuk kebersamaannya, lahirlah sesuatu yang selalu ditakuti kekuasaan: solidaritas.

