Ketika Gaza luluh lantak dibombardir tentara Israel, lanjut Iran, sebelumnya Irak, Venezuela, dan Libya dilecehkan oleh militer Amerika, kenapa para pakar memilih diam dalam singgasananya? Kenapa kampus-kampus ternama di Amerika seperti Harvard, Yale, Princeton, Ithaca, Colombia cenderung senyap tanpa kata?
Di Ambang Senjakala Nalar dan Akal Budi
Kita sedang berdiri di sebuah padang sunyi yang dipenuhi oleh bangkai-bangkai kata yang menggunung setiap hari di pelupuk mata. Di ufuk sejarah, matahari kebenaran tidak lagi terbit; ia telah padam dan digantikan oleh proyektor digital yang memantulkan siluet-siluet dusta ke atas langit peradaban. Inilah Kiamat Kepakaran, sebuah era di mana otoritas pengetahuan tidak lagi bersemayam di kampus-kampus, di perpustakaan atau di dalam mihrab perenungan para sufi, melainkan telah dipreteli oleh kebisingan algoritma dan dikontrol oleh tangan-tangan besi yang mengenakan sarung tangan sutra kebijakan internasional berjubah Post Truth.
Secara Ontologis, hari ini kepakaran telah mati karena ia kehilangan “Ada”-nya dalam kejujuran. Kita menyaksikan sebuah fenomena Rigor Mortis intelektual, di mana para ahli tidak lagi berfungsi sebagai kompas moral, melainkan sebagai stempel legitimasi bagi kebrutalan global. Vanitas vanitatum et omnia vanitas—segala sesuatu adalah kesia-siaan, terutama ketika ilmu pengetahuan telah berlutut di bawah kaki singgasana modal.
Hegemoni dan Kelumpuhan Kedaulatan: Kasus Iran di Meja Bedah
Mari kita lakukan otopsi pada wajah kedaulatan dunia hari ini. Kasus ketegangan antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran bukan sekadar isu geopolitik; ini adalah panggung teatrikal Demokrasi Palsu. Di sini, kedaulatan sebuah negara merdeka diperlakukan seperti barang antik yang bisa ditawar atau dihancurkan jika ia berani menolak untuk menjadi sekrup dalam mesin hegemoni Barat.
Pelecehan terhadap kedaulatan Iran adalah bentuk Barbarisme Berjas Rapi. Ketika sanksi ekonomi digunakan sebagai senjata pemusnah massal yang mencekik rakyat sipil, atas nama “Hak Asasi Manusia”, kita sedang menyaksikan oksimoron yang paling menjijikkan dalam sejarah modern. Antonio Gramsci dalam teori hegemoninya telah memperingatkan bahwa penguasa tidak hanya memimpin melalui kekerasan fisik, tapi melalui penciptaan “kesadaran palsu” yang membuat ketidakadilan tampak sebagai sebuah kewajaran.
Alkisah, seorang diplomat dari negeri adidaya datang ke Iran membawa sebuah kotak yang bertuliskan “Kemerdekaan”. Saat rakyat membukanya, ternyata isinya hanyalah rantai emas dan sebuah buku panduan tentang cara menyerahkan ladang minyak tanpa perlu merasa keberatan. Ketika rakyat bertanya, “Di mana kemerdekaannya?”, sang diplomat menjawab, “Kalian merdeka untuk memilih mana dari rantai ini yang paling pas di leher kalian.”
Oligarki Media: Pabrik Simulakra dan Kematian Kepakaran
Secara Struktural, Kiamat Kepakaran dipercepat oleh Oligarki Media. Media massa kini bukan lagi pilar keempat demokrasi, melainkan laboratorium kimia yang meracik virus kebohongan. Mengacu pada pemikiran Jean Baudrillard, kita hidup dalam dunia Simulakra, di mana citra tentang Iran sebagai “ancaman global” jauh lebih nyata daripada fakta bahwa kedaulatannya sedang dirampas secara brutal.
Para “pakar” yang muncul di layar kaca hanyalah wayang yang talinya ditarik oleh para taipan media. Mereka memberikan analisis yang telah difilter oleh kepentingan finansial. Tom Nichols dalam The Death of Expertise mencatat bahwa dalam demokrasi modern, pendapat seorang ahli yang jujur sering kali ditenggelamkan oleh suara massa yang diproduksi secara artifisial.
Dalam kajian ekonomi politik, narasi perang adalah industri yang sangat menguntungkan. Bom yang jatuh di tanah asing adalah deviden bagi kompleks industri militer. Inilah Eskatologi Pengetahuan: ketika ilmu kedokteran, teknologi, dan strategi digunakan bukan untuk menyembuhkan dunia, melainkan untuk mengukur efisiensi pemusnahan.
Di tengah kiamat nalar ini, kita harus memanggil kembali ruh filsafat Timur. Ar-Razi dan Ibnu Sina tidak hanya mewariskan resep obat, tapi resep integritas. Ilmu pengetahuan dalam tradisi Timur adalah ibadah, bukan sekadar komoditas.
Ronggowarsito mengingatkan kita tentang pentingnya “Mandat Langit”. Kekuasaan yang tidak berbasis pada keadilan adalah kekuasaan yang sedang menunggu waktu untuk menjadi debu. Jika Amerika dan sekutunya merasa bisa mengatur takdir bangsa lain dengan kekuatan militer, mereka lupa pada hukum Causa Prima—bahwa ada kekuatan di atas kekuatan yang tidak bisa dideteksi oleh radar tercanggih sekalipun.
“Urip iku mung mampir ngombe,” namun jika air yang kau minum adalah darah ketidakadilan dan nanah keserakahan, maka dahagamu tidak akan pernah terhapuskan oleh samudera mana pun.
Mari kita dengar suara-suara jernih dari meja otopsi sejarah:
- Bertrand Russell: “Masalah utama dunia adalah bahwa orang-orang bodoh sangat yakin, sementara orang-orang cerdas penuh dengan keraguan.” Kiamat kepakaran terjadi ketika keraguan orang cerdas dibeli oleh kepastian gaji dari para oligarki.
- Amartya Sen — Peraih Nobel Ekonomi: Beliau menekankan bahwa kemiskinan dan kelaparan sering kali bukan karena kurangnya makanan, tapi karena kegagalan sistem demokrasi dalam mendistribusikan keadilan. Sanksi ekonomi terhadap Iran adalah bentuk kegagalan sistemik yang disengaja.
- Albert Camus: “Satu-satunya cara untuk menghadapi dunia yang tidak bebas adalah dengan menjadi sangat bebas sehingga keberadaanmu adalah bentuk pemberontakan.” Menulis kebenaran tentang ketidakadilan di Timur Tengah adalah bentuk pemberontakan epistemik.
Sosiologi Perlawanan: Resureksi Kedaulatan
Secara Sosiologis, Kiamat Kepakaran melahirkan masyarakat yang terasing dari kenyataan. Namun, di dalam kegelapan itu, muncul benih-benih perlawanan. Rakyat Iran yang bertahan di bawah sanksi adalah bukti bahwa Marwah Kemanusiaan tidak bisa dibeli dengan dolar. Mereka menunjukkan Ketahanan Epistemik yang tidak dimiliki oleh bangsa-bangsa yang hanya membebek pada narasi global.
Kita membutuhkan Literasi Budaya yang Radikal. Literasi yang mampu membedah mana berita yang ditulis dengan tinta dan mana yang ditulis dengan darah kepentingan. Kita harus berani mengatakan bahwa penyerangan terhadap kedaulatan sebuah negara, baik melalui senjata maupun melalui manipulasi hukum internasional, adalah tindakan barbar yang menghina derajat manusia sebagai makhluk berpikir.
Kiamat Kepakaran adalah sebuah fase, bukan akhir cerita. Ia adalah proses penyaringan alam semesta untuk membedakan antara pakar yang menjadi pelayan kekuasaan dan pakar yang menjadi pelayan kebenaran.
Jika demokrasi telah menjadi bangkai di atas meja peradaban, maka tugas kita bukanlah menjahitnya kembali dengan retorika lama, melainkan melahirkan sebuah tatanan baru yang menghargai keberagaman kedaulatan. Iran, Gaza, dan setiap jengkal tanah yang tertindas adalah laboratorium di mana nurani kita sedang diuji.
“Jangan tanya untuk siapa lonceng kematian ini berdentang; ia berdentang untuk kepakaran yang telah menjual ruhnya pada iblis keserakahan.”
Patologi Struktural: Demokrasi sebagai Topeng Barbarisme
Secara Struktural, apa yang kita saksikan dalam konfrontasi Amerika-Israel terhadap Iran adalah sebuah Skizofrenia Politik. Di satu sisi, panggung dunia disuguhi pidato-pidato puitis tentang kebebasan dan kedaulatan individu, namun di sisi lain, struktur hukum internasional telah bermutasi menjadi instrumen penindasan yang legal. Inilah yang disebut Demokrasi Palsu: sebuah sistem yang hanya mengakui hak hidup bagi mereka yang bersedia menjadi satelit bagi kepentingan hegemoni.
Pelecehan terhadap kedaulatan Iran adalah sebuah Involusi Peradaban. Ketika pakar-pakar hukum internasional di Washington atau Tel Aviv merumuskan pembenaran atas serangan siber, pembunuhan ilmuwan, hingga embargo obat-obatan, mereka sedang melakukan Eutanasia terhadap Etika. Mereka tidak lagi bekerja sebagai ilmuwan, melainkan sebagai teknokrat maut yang mengabdi pada akumulasi kuasa.
Alkisah, di sebuah ruang sidang PBB, seorang hakim bertanya pada seekor serigala yang sedang memangsa seekor domba, “Mengapa kau melanggar hak asasi domba itu?”
Serigala itu menjawab sembari menyeka darah di mulutnya, “Aku tidak memangsanya. Aku sedang melakukan intervensi kemanusiaan untuk membebaskan dagingnya dari kutu-kutu yang menghambat pertumbuhan ekonomi hutan ini.”
Hegemoni Global dan Hilangnya “Wajah” Levinas
Secara Eksistensial, kiamat kepakaran ditandai dengan hilangnya kemampuan kita untuk melihat “Wajah Liyan” (The Other) dalam pengertian Emmanuel Levinas. Dalam narasi hegemoni global, rakyat Iran atau Palestina bukan lagi manusia yang memiliki air mata dan impian; mereka telah direduksi menjadi “target militer” atau “kolateral statistik”.
Jean-Paul Sartre pernah menulis bahwa “Neraka adalah orang lain”, namun dalam konteks hegemoni hari ini, neraka adalah ketika hakmu untuk merdeka dianggap sebagai ancaman bagi kenyamanan sang penindas. Penyerangan terhadap Iran adalah pelecehan terhadap Marwah sebuah bangsa yang menolak untuk kehilangan identitas kulturnya di bawah seragam globalisme yang hambar.
George Soros dan para arsitek Open Society mungkin bicara tentang masyarakat terbuka, namun dalam prakteknya, masyarakat tersebut hanya terbuka bagi aliran modal, bukan bagi keberagaman ideologi yang menentang sentralitas Barat. Inilah Totalitarianisme Berwajah Ramah.
Kita membutuhkan sebuah Resureksi Epistemik. Jika para pakar telah menjual jiwanya, maka rakyat harus menjadi pakar bagi nasibnya sendiri. Literasi budaya adalah satu-satunya senjata untuk membedah kebohongan yang dibungkus dengan data statistik. Kita harus kembali pada kearifan Ronggowarsito; bahwa sekuat apa pun pedang kekuasaan, ia akan tumpul jika berhadapan dengan ketulusan doa dan ketajaman nurani penjaga bumi.
Dalam kiamat kepakaran ini, suara-suara dari Timur—dari puisi-puisi Rumi hingga ketegasan filosofis Ar-Razi—harus menjadi kompas baru. Kita tidak bisa lagi berharap pada mercusuar yang apinya telah dipadamkan oleh minyak keserakahan.
“Kebenaran mungkin bisa dikalahkan, tapi ia tidak pernah bisa dihancurkan,” bisik sejarah di tengah bisingnya ledakan bom.
Eskatologi Pakar: Menuju Pengadilan Nurani
Secara Eksistensial, kiamat kepakaran mencapai puncaknya ketika para ilmuwan dan analis kehilangan kemampuan untuk merasa bersalah. Dalam laboratorium hegemoni, mereka telah mereduksi kedaulatan Iran atau penderitaan di Gaza menjadi sekadar variabel dalam simulasi perang. Mereka adalah penganut Strukturalisme Buta yang melihat dunia sebagai mesin, bukan sebagai organisme yang bernapas.
Namun, di balik kegelapan ini, terdapat sebuah Dialektika Harapan. Kiamat ini sebenarnya adalah proses pembersihan. Kepakaran yang palsu akan runtuh oleh beban kebohongannya sendiri, sementara kepakaran yang sejati—yang berakar pada integritas—akan muncul sebagai satu-satunya penyembuh bagi dunia yang sedang meriang.
Di dalam tumpukan mayat-mayat warga sipil yang tak berdosa di Gaza dan Iran, muncul bayangan Nelson Mandela dan Bunda Teresa sedang berdiskusi dengan mayat-mayat para perawat yang berserakan terjebak serangan rudal dan genosida Zionis Israel. Mereka tidak bicara tentang senjata nuklir atau sanksi ekonomi, melainkan tentang bagaimana menjaga Marwah manusia agar tetap tegak di hadapan badai.
Kiamat kepakaran adalah lonceng peringatan bagi kita semua. Jangan biarkan nalar kita disita oleh oligarki media. Jangan biarkan nurani kita dibeli oleh taipan global. Jika Amerika dan Israel menggunakan teknologi untuk menindas, maka kita harus menggunakan literasi budaya untuk memerdekakan.
“Setya budya pangekese dur angkara.” Kesetiaan pada kebenaran dan budi pekerti adalah penghancur segala kebatilan.
Demokrasi mungkin sedang sekarat di meja bedah para oligarki, namun Kedaulatan Nurani adalah matahari yang tak akan pernah bisa mereka padamkan, bahkan dengan gerhana informasi yang paling pekat sekalipun.
Memisahkan Emas Kebenaran dari Timah Kebohongan
Melanjutkan pembedahan ini, kita harus masuk ke dalam Laboratorium Alkimia Politik. Jika Ar-Razi menggunakan api untuk memurnikan logam, maka kita harus menggunakan Literasi Budaya sebagai tungku pembakaran untuk memurnikan nalar dari jelaga propaganda.
Secara Struktural, agresi terhadap Iran atau pelecehan kedaulatan di belahan dunia mana pun adalah “logam kotor” yang dilapisi emas kata-kata seperti freedom dan human rights. Tugas kita adalah melakukan proses Kalsinasi Intelektual: membakar lapisan palsu itu hingga yang tersisa hanyalah substansi murni dari niat busuk hegemoni global.
George Soros dan para arsitek oligarki media adalah para alkemis kegelapan. Mereka tidak mengubah timah menjadi emas, melainkan mengubah kebenaran menjadi simulakra yang beracun. Mereka menciptakan “obat” yang sebenarnya adalah candu digital agar rakyat tetap terbius sementara kedaulatan mereka dipreteli satu per satu.
Marwah di Balik Sanksi
Secara Antropologis, manusia adalah makhluk yang mencari makna, bukan sekadar statistik ekonomi. Kiamat Kepakaran gagal total ketika ia berhadapan dengan bangsa yang memiliki Ingatan Kultural yang panjang. Iran, dengan warisan Persia dan Islamnya, atau masyarakat Nusantara dengan kearifan Ronggowarsito-nya, memiliki “antibodi” terhadap virus dekonstruksi Barat.
Sanksi ekonomi dan ancaman militer Amerika-Israel adalah bentuk Pelecehan Eksistensial. Namun, secara paradoks, penindasan ini justru memperkuat Marwah Kemanusiaan. Semakin ditekan, semakin muncul “Emas Murni” dari ketabahan sebuah bangsa. Inilah yang gagal dipahami oleh para “pakar” di Washington; mereka mengerti angka, tapi mereka buta terhadap Metafisika Perlawanan.
Alkisah, seorang pakar militer Barat mengamati sebuah peta Iran melalui satelit tercanggih. Ia berkata, “Kita sudah memutus jalur logistik mereka, mereka pasti menyerah.”
Ar-Razi, yang muncul sebagai bayangan di layar monitor itu, berbisik: “Kau memutus jalur rotinya, tapi kau lupa bahwa mereka makan dari butir-butir doa yang tidak bisa kau deteksi dengan radiasi inframerahmu.”
Menjahit Kembali Kedaulatan yang Terkoyak
Sebagai penutup dari dialektika panjang ini, kita harus menyadari bahwa Kiamat Kepakaran adalah sebuah undangan untuk kembali menjadi manusia yang utuh. Kita tidak butuh “pakar” yang mendikte nasib kita; kita butuh Nurani yang memandu langkah kita.
Kedaulatan Iran, Keadilan di Palestina, dan Martabat di Nusantara adalah satu tarikan napas. Kita sedang berada dalam sebuah Perang Epistemik global. Senjatanya bukan lagi peluru, melainkan Diksi dan Kesadaran.
“Amor Fati,” kata Nietzsche—cintailah takdirmu. Tapi takdir kita bukanlah menjadi budak hegemoni, melainkan menjadi saksi yang berani meneriakkan kebenaran di tengah pasar kebohongan yang bising.
Catatan Kaki
- Simulakra Geopolitik: Sebuah kondisi di mana narasi tentang ancaman keamanan nasional digunakan untuk menutupi agresi ekonomi dan pencurian sumber daya.
- Kiamat Kepakaran (The Death of Expertise): Istilah untuk menggambarkan runtuhnya kepercayaan publik terhadap pengetahuan formal akibat politisasi sains dan dominasi opini massa.
- Plutokrasi Informasi: Kekuasaan yang dijalankan oleh segelintir orang kaya yang menguasai jalur distribusi informasi, sehingga mampu mengarahkan pandangan dunia masyarakat global.
- Resureksi Epistemik: Kebangkitan kembali kesadaran untuk mencari kebenaran di luar kerangka pikir yang didiktekan oleh hegemoni Barat.
- Skizofrenia Politik: Kontradiksi antara norma-norma demokrasi yang dipromosikan secara verbal dengan tindakan agresi militer dan ekonomi yang dilakukan secara nyata.
- Eutanasia Etika: Proses penghilangan pertimbangan moral secara sistematis dalam pengambilan kebijakan publik demi efisiensi politik dan militer.
- Intervensi Kemanusiaan (Humanitarian Intervention): Istilah yang sering kali mengalami peyorasi menjadi tameng bagi agresi militer terhadap kedaulatan negara lain.
- Involusi Peradaban: Kemunduran nilai-nilai kemanusiaan di tengah kemajuan teknologi dan persenjataan.
- Strukturalisme Buta: Kecenderungan para ahli untuk hanya melihat struktur kekuasaan dan teknis tanpa memedulikan aspek kemanusiaan dan etika di dalamnya.
- Gerhana Informasi: Upaya sistematis untuk menutupi kebenaran melalui penyebaran berita bohong atau pengalihan isu secara masif di media sosial.
- Dialektika Harapan: Proses di mana krisis besar justru melahirkan kesadaran baru yang lebih kuat dan jernih bagi masyarakat.
- Kalsinasi Intelektual: Proses pembersihan pikiran dari bias dan propaganda melalui analisis kritis yang mendalam dan tajam.
- Antibodi Kultural: Daya tahan sebuah masyarakat terhadap pengaruh asing yang merusak, yang bersumber dari tradisi, agama, dan sejarah lokal yang kuat.
- Metafisika Perlawanan: Kekuatan batin dan spiritual yang muncul dari keyakinan akan kebenaran, yang sering kali melampaui perhitungan materi dan kekuatan militer.

