Seorang petani mungkin tidak pernah membaca buku tentang filsafat pengetahuan. Ia mungkin tidak pernah mengikuti kuliah tentang epistemologi. Ia juga mungkin tidak pernah menggunakan istilah seperti knowledge system, artificial intelligence, big data, atau digital transformation. Tetapi setiap kali ia menentukan kapan harus menanam, memilih benih, membaca perubahan cuaca, memperkirakan kebutuhan air, mengenali penyakit tanaman, atau memutuskan kapan harus panen, sesungguhnya ia sedang menggunakan pengetahuan.
Pengetahuan itu tidak selalu tertulis. Ia mungkin berasal dari apa yang diajarkan orang tua, diperoleh dari pengalaman gagal panen, atau ditemukan setelah bertahun-tahun mengamati tanah. Pengetahuan ini juga bisa berasal dari percakapan dengan sesama petani, bahkan kadang-kadang hanya berupa tanda kecil yang sulit dijelaskan dengan bahasa ilmiah seperti perubahan warna tanah, arah angin, perilaku serangga, keadaan air, atau perubahan tertentu pada tanaman. Pengetahuan seperti itu telah menjadi bagian yang utuh dari kehidupan.
Tetapi zaman sedang berubah dan pertanian kini memasuki dunia yang berbeda. Keputusan bertani semakin banyak dibantu oleh data, aplikasi, sensor, satelit, drone, algoritma, dan kecerdasan buatan. Pemerintah Indonesia sendiri menempatkan Internet of Things, drone dan citra satelit, AI, aplikasi digital, big data, serta pertanian presisi sebagai bagian dari transformasi digital pertanian.
Semua itu tentu membuka kemungkinan baru. Namun, di balik kemajuan tersebut terdapat sebuah pertanyaan yang jarang dibicarakan, yaitu apa yang terjadi ketika petani tidak lagi menjadi penguasa utama atas pengetahuannya sendiri?
Pertanyaan ini bukanlah tentang apakah teknologi itu baik atau buruk, karena teknologi jelas dapat membantu pertanian. Persoalannya jauh lebih mendalam: ketika sumber pengetahuan tentang pertanian berpindah dari pengalaman manusia ke sistem teknologi, apakah posisi petani juga ikut berubah? Dari sinilah kita perlu mulai membaca masa depan pertanian.
Pengetahuan yang Lahir dari Kehidupan
Petani sebenarnya adalah manusia yang hidup di dalam pengetahuan. Ia tidak sekadar bekerja dengan tanah, melainkan membaca tanah. Ia tidak sekadar menunggu hujan, melainkan membaca tanda-tanda musim. Ia tidak sekadar menanam benih, melainkan memahami karakter benih melalui pengalaman. Ia tidak sekadar melihat tanaman, melainkan mengenali perubahan yang terjadi pada tanaman tersebut.
Dalam kehidupan petani, pengetahuan tidak berdiri terpisah dari tindakan. Mengetahui dan melakukan merupakan satu kesatuan. Itulah yang membuat pengetahuan petani berbeda dengan pengetahuan yang hanya tersimpan dalam buku, karena pengetahuan petani melekat langsung pada kehidupan.
Seorang petani mungkin tidak mampu menjelaskan secara ilmiah mengapa tanah tertentu lebih cocok untuk tanaman tertentu, tetapi ia mengetahui hal itu karena bertahun-tahun berhadapan dengan tanah. Seorang petani mungkin tidak dapat menghitung probabilitas turunnya hujan secara matematis, tetapi ia dapat membaca perubahan alam berdasarkan pengalaman panjangnya.
Pengetahuan seperti itu tidak muncul dalam satu hari. Ia terbentuk dari proses yang panjang: mengalami, mengingat, mencoba, gagal, memperbaiki, dan mewariskan. Kehidupan merupakan sumber pengetahuan, dan manusia mengetahui karena ia mengalami kehidupan itu sendiri. Oleh karena itu, ketika kita berbicara tentang pertanian, kita sebenarnya sedang berbicara tentang sebuah sistem pengetahuan yang hidup. Persoalannya, sistem pengetahuan tersebut kini sedang berhadapan dengan sistem pengetahuan baru yang tumbuh sangat cepat.
Ketika Pengetahuan Datang dari Luar
Modernisasi pertanian telah membawa banyak perubahan signifikan. Pengetahuan tentang benih datang dari lembaga penelitian, pengetahuan tentang pupuk datang dari industri, dan pengetahuan tentang hama datang dari laboratorium. Selain itu, pengetahuan tentang cuaca datang dari sistem meteorologi, pengetahuan tentang pasar datang dari sistem informasi, dan kini pengetahuan tentang keputusan bertani juga semakin banyak datang melalui aplikasi digital.
Perubahan itu tentu memiliki banyak manfaat. Tidak ada alasan untuk menolak ilmu pengetahuan maupun teknologi, bahkan petani sangat membutuhkan keduanya. Tetapi kita perlu membedakan dengan cermat antara menambah pengetahuan dan menggantikan pengetahuan.
Menambah pengetahuan berarti petani memperoleh kemampuan baru tanpa kehilangan pengetahuan yang telah dimilikinya. Sebaliknya, menggantikan pengetahuan berarti pengetahuan lama dianggap tidak lagi diperlukan karena keputusan dapat dibuat oleh sistem lain. Perbedaan ini sangatlah penting.
Jika teknologi membantu petani mengetahui kadar air tanah, memprediksi serangan hama, atau memberikan informasi tentang harga pasar, itu semua adalah bentuk tambahan pengetahuan. Tetapi jika pada akhirnya petani tidak lagi percaya kepada pengalamannya sendiri dan hanya percaya kepada apa yang dikatakan aplikasi, persoalannya menjadi sangat berbeda. Di sinilah teknologi dapat mengubah bukan hanya cara petani bekerja, tetapi juga cara petani mengetahui.
Dari Petani yang Mengetahui Menjadi Petani yang Mengikuti
Bayangkan sebuah keadaan sederhana di mana seorang petani telah bertahun-tahun menanam padi. Ia mengetahui bahwa tanah di bagian tertentu sawahnya tidak sama dengan bagian lain, bahwa setelah hujan panjang air harus segera dibuang, dan bahwa jenis benih tertentu lebih cocok untuk lahannya. Kemudian datanglah sebuah aplikasi yang memberikan rekomendasi berdasarkan data dari berbagai sumber, lalu petani diminta untuk mengikuti rekomendasi tersebut.
Pada awalnya mungkin tidak ada masalah. Namun perlahan muncul perubahan di mana petani tidak lagi bertanya, “Apa yang saya ketahui dari sawah ini?”, melainkan mulai bertanya, “Apa yang dikatakan aplikasi?” Perubahan kalimat tersebut tampaknya kecil, tetapi sesungguhnya menunjukkan pergeseran yang sangat besar.
Pusat pengetahuan telah bergeser secara drastis. Sebelumnya, petani adalah subyek yang membaca sawah, namun sekarang sawah dibaca oleh sistem, dan petani tinggal menerima hasil pembacaannya saja. Jika hal ini terjadi terus-menerus, petani dapat kehilangan sesuatu yang jauh lebih penting daripada sekadar keterampilan, yaitu kehilangan kepercayaan terhadap pengetahuannya sendiri.
Inilah risiko nyata yang perlu kita pikirkan ketika membicarakan digitalisasi pertanian. FAO mencatat bahwa teknologi digital dapat membantu meningkatkan produktivitas, efisiensi, ketahanan, dan keberlanjutan pertanian. Namun, akses terhadap teknologi tersebut masih terbatas, terutama bagi produsen skala kecil, dan keberhasilannya dipengaruhi oleh infrastruktur, keterampilan, biaya, serta kebijakan yang mendukung. Artinya, persoalannya bukan sekadar apakah teknologi itu tersedia, melainkan siapa yang mampu memahami, menggunakan, dan mengendalikan teknologi tersebut.
Ketika Algoritma Menjadi Guru Baru
Perubahan yang lebih besar muncul ketika kecerdasan buatan (artificial intelligence atau AI) masuk ke sektor pertanian. AI dapat mengolah data dalam jumlah yang sangat besar untuk membantu mengenali penyakit tanaman, membaca citra, menganalisis cuaca, memperkirakan hasil, dan memberikan rekomendasi. FAO pada tahun 2025 bahkan menyelenggarakan dialog global pertamanya mengenai AI dalam sistem pertanian dan pangan, dengan salah satu gagasan utama bahwa teknologi saja tidak menghasilkan transformasi; transformasi harus berangkat dari kenyataan kehidupan petani dan komunitas pedesaan.
Pernyataan tersebut sangat penting untuk dicatat. AI dapat menjadi alat yang sangat kuat, tetapi kekuatan itu sekaligus menimbulkan pertanyaan mendasar mengenai siapa yang menentukan apa yang dianggap benar oleh AI. AI bekerja berdasarkan data yang tersedia. Jika data yang digunakan tidak lengkap atau tidak mewakili kondisi petani kecil, maka hasilnya dapat lebih berpihak pada pertanian bersumber daya besar. Jika konteks lokal tidak masuk ke dalam data, AI mungkin memberikan jawaban yang secara statistik masuk akal tetapi secara realitas kehidupan tidak sesuai.
Penelitian mengenai sistem informasi petani menunjukkan bahwa informasi digital sering kali menghadapi persoalan kepercayaan, bahasa, literasi digital, relevansi terhadap kebutuhan petani, serta kesesuaiannya dengan pengetahuan dan kondisi sosial-ekonomi pengguna. Maka, kita perlu berhati-hati terhadap kecenderungan baru yang menjadikan algoritma sebagai guru baru bagi petani. Jika pola di mana petani bertanya, algoritma menjawab, lalu petani mengikuti ini menjadi dominan, maka pertanian tidak hanya mengalami digitalisasi alat, melainkan digitalisasi pengetahuan yang membawa kita pada persoalan kekuasaan.
Siapa yang Membuat Pengetahuan?
Setiap pengetahuan memiliki sejarahnya sendiri. Ada orang yang menghasilkannya, pengalaman yang melahirkannya, kepentingan yang menyertainya, institusi yang mengembangkannya, serta teknologi yang digunakan untuk menyebarkannya. Karena itu, pengetahuan tidak pernah sepenuhnya netral.
Pengetahuan petani lahir dari kehidupan petani itu sendiri. Pengetahuan ilmiah lahir dari riset dan penelitian. Pengetahuan perusahaan lahir dari kebutuhan produksi dan pasar. Pengetahuan pemerintah lahir dari kebutuhan pengelolaan dan kebijakan. Sementara itu, pengetahuan digital lahir dari data, sistem, algoritma, dan orang-orang yang merancangnya. Pertanyaannya kemudian, pengetahuan siapakah yang menjadi dasar utama dalam keputusan pertanian?
Selama ini kita sering menganggap bahwa semakin ilmiah sebuah pengetahuan, semakin tinggi pula kedudukannya. Cara berpikir seperti itu membuat pengetahuan lokal dengan mudah ditempatkan di bawah pengetahuan ilmiah. Padahal keduanya tidak harus selalu dipertentangkan, karena pengetahuan ilmiah dapat menjelaskan sesuatu dengan cara tertentu, sementara pengetahuan petani dapat memahami sesuatu melalui pengalaman. Keduanya sebenarnya dapat saling memperkaya.
Persoalan baru muncul ketika salah satunya merasa memiliki hak untuk menggantikan yang lain. Pertanian masa depan seharusnya tidak memilih antara ilmu pengetahuan dan pengetahuan lokal, melainkan harus mampu membangun perjumpaan pengetahuan yang harmonis.
Pengetahuan Lokal Bukan Pengetahuan Lama
Istilah “pengetahuan lokal” sering kali membawa kesan keliru seolah-olah yang dimaksud adalah sesuatu yang kuno dan berasal dari masa lalu, sementara teknologi digital dipandang sebagai pengetahuan masa depan. Cara pandang seperti itu terlalu sederhana. Pengetahuan lokal sebenarnya bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan pengetahuan yang terus-menerus digunakan masyarakat untuk menghadapi tantangan kehidupan.
Oleh karena itu, pengetahuan lokal bersifat dinamis dan dapat berubah. Petani dapat menggunakan pengalaman orang tua sekaligus memanfaatkan informasi cuaca digital. Petani dapat mempertahankan pengetahuan tentang tanah sekaligus menggunakan sensor kelembapan. Petani dapat menjaga benih lokal sekaligus memanfaatkan teknologi pemuliaan modern, serta melakukan musyawarah komunitas sekaligus menggunakan grup digital.
Dengan demikian, pengetahuan lokal tidak harus berakhir di museum, melainkan dapat menjadi pengetahuan yang hidup. Di sinilah letak pentingnya Alam Pikiran Indonesia: kita tidak perlu membangun pertentangan antara unsur lama dan baru, melainkan membangun kemampuan untuk mempertemukan pengalaman dengan pengetahuan baru. Pertanyaan yang seharusnya diajukan bukanlah apakah pengetahuan lokal harus digantikan oleh teknologi, melainkan bagaimana teknologi dapat membantu pengetahuan lokal tersebut untuk terus berkembang.
Ketika Data Mengalahkan Pengalaman
Data memiliki kekuatan yang luar biasa karena mampu menunjukkan pola yang tidak dapat dilihat oleh manusia, membandingkan banyak keadaan sekaligus, serta mempercepat proses pengambilan keputusan. Tetapi di sisi lain, data juga memiliki keterbatasan mendasar. Data hanya dapat menunjukkan apa yang berhasil direkam oleh sistem, sehingga apa yang tidak terekam berisiko menghilang dari perhatian.
Di sinilah pengalaman empiris petani menjadi sangat krusial. Seorang petani mungkin mengetahui sesuatu yang tidak pernah masuk ke dalam database sistem, seperti perilaku khusus suatu bagian lahan setelah hujan tertentu, perubahan kecil pada tanaman yang belum terbaca sebagai pola statistik, atau pertimbangan sosial-ekonomi komunitas yang membuat suatu keputusan teknis tidak bisa diterapkan di lahannya.
Pengetahuan semacam itu sangat sulit untuk diterjemahkan sepenuhnya ke dalam bentuk angka-angka. Oleh karena itu, bahaya terbesar bukanlah pada datanya itu sendiri, melainkan ketika kita menganggap sesuatu yang tidak menjadi data sebagai sesuatu yang tidak memiliki nilai pengetahuan. Jika hal itu terjadi, kehidupan akan dipaksa untuk menyesuaikan diri dengan apa yang dapat diukur saja, padahal tidak semua hal yang penting di dunia ini dapat diukur.
Data dan Kekuasaan Baru
Persoalan pengetahuan pada akhirnya akan selalu bertemu dengan persoalan kekuasaan. Ketika data menjadi semakin penting, pihak-pihak yang menguasai data akan memperoleh kemampuan yang semakin besar untuk mengendalikan keadaan pertanian. Mereka dapat memetakan pola produksi, perilaku pasar, kebutuhan input, risiko, hingga memprediksi keputusan petani itu sendiri.
Pertanyaan kritis yang harus diajukan adalah: apakah petani juga dapat menggunakan data tersebut untuk kepentingan mereka sendiri? Jangan sampai terjadi kondisi di mana petani hanya dijadikan sumber data tetapi tidak menjadi pemilik manfaat dari data tersebut. Petani didata, lahannya didata, produksinya didata, dan perilakunya didata, tetapi keputusan akhir berdasarkan data itu justru dibuat oleh pihak lain.
Dalam keadaan seperti itu, petani justru akan semakin jauh dari kendali atas kehidupannya sendiri. UNCTAD dalam Digital Economy Report 2024 menunjukkan bahwa digitalisasi bukan sekadar persoalan pertumbuhan ekonomi, melainkan juga persoalan ketimpangan, akses, dan distribusi manfaat. Negara-negara berkembang sering kali menanggung sebagian dampak dan biaya digitalisasi sementara manfaat bernilai tingginya tidak terdistribusi secara seimbang.
Dalam konteks pertanian, kita perlu mempertanyakan secara kritis siapa yang mengumpulkan, menyimpan, dan mengolah data petani, siapa yang memperoleh keuntungan, serta apakah petani memiliki suara dalam menentukan bagaimana data tentang dirinya digunakan.
Pengetahuan dan Ketimpangan Baru
Ketimpangan pertanian selama ini sering kali dibicarakan dalam konteks kepemilikan tanah, modal, akses pasar, dan teknologi fisik. Namun di masa depan, bentuk ketimpangan baru yang akan muncul adalah ketimpangan pengetahuan digital. Petani yang memiliki pendidikan lebih baik, akses internet yang memadai, perangkat digital, kemampuan membaca data, serta jaringan informasi yang luas akan memiliki posisi tawar yang jauh berbeda dari petani yang tidak memilikinya.
Oleh karena itu, digitalisasi tidak secara otomatis menghapus ketimpangan, bahkan ia berpotensi menciptakan bentuk-bentuk ketimpangan sosial yang baru. Sebuah kajian tahun 2024 mengenai adopsi teknologi pertanian digital menunjukkan bahwa kondisi ekonomi, infrastruktur teknologi, pengetahuan teknis, usia petani, organisasi, kepercayaan terhadap teknologi, serta persoalan keamanan dan privasi merupakan faktor penentu yang sangat penting.
Artinya, memberikan aplikasi kepada petani tidak sama dengan membuat petani menjadi digital. Memberikan smartphone tidak sama dengan memberikan pengetahuan. Memberikan data tidak sama dengan memberikan kemampuan mengambil keputusan, dan memberikan AI tidak serta-merta membuat petani menjadi cerdas. Di sinilah kita harus mengubah cara berpikir bahwa transformasi digital pertanian wajib dimulai dari penguatan manusia, bukan sekadar penambahan teknologi.
Petani Harus Tetap Menjadi Subyek
Pada akhirnya, seluruh perdebatan ini bermuara pada satu konsep utama: subyek. Menempatkan petani sebagai subyek berarti petani memiliki kemampuan penuh untuk mengetahui, mempertimbangkan, memilih, dan menentukan langkahnya sendiri. Teknologi boleh membantu, ilmu pengetahuan boleh memperkaya, AI boleh memberikan rekomendasi, dan data boleh memperluas pandangan, tetapi keputusan tentang kehidupan tidak boleh sepenuhnya dicabut dari tangan manusia.
Petani tentu tidak harus mengetahui segalanya, karena tidak ada manusia yang mampu mengetahui semua hal. Tetapi petani wajib memiliki kapasitas untuk memahami teknologi yang digunakan, mempertanyakan setiap rekomendasi yang diberikan, membandingkannya dengan pengalaman empiris, serta mengambil keputusan yang selaras dengan konteks kehidupannya.
Dengan kata lain, petani masa depan bukanlah petani yang menolak teknologi, melainkan petani yang mampu menggunakan teknologi tersebut tanpa kehilangan jati dirinya sebagai manusia yang mengetahui.
Dari Transfer Pengetahuan ke Pertukaran Pengetahuan
Selama ini pembangunan pertanian terlalu banyak menggunakan paradigma “transfer pengetahuan”, di mana pengetahuan dianggap berada pada satu pihak (seperti penyuluh, peneliti, atau pemerintah) yang kemudian dipindahkan kepada petani yang diposisikan pasif sebagai penerima. Cara berpikir semacam ini menempatkan petani hanya sebagai obyek pelaksanaan kebijakan.
Masa depan pertanian membutuhkan paradigma yang sama sekali berbeda, yaitu pertukaran pengetahuan (knowledge exchange). Peneliti memiliki ilmu, petani memiliki pengalaman, teknologi memiliki kapasitas komputasi, komunitas memiliki kearifan sosial, dan data memiliki informasi pola. Semua elemen ini harus bertemu dalam satu ruang pembelajaran bersama.
Dalam model kolaboratif ini, tidak ada satu jenis pengetahuan pun yang berdiri paling unggul sendirian. Teknologi dapat belajar dari pengalaman lapangan petani, petani dapat memanfaatkan kecanggihan teknologi, ilmu pengetahuan menyerap praktik lokal, dan kebijakan publik berakar dari kehidupan nyata. Dengan demikian, pertanian bertransformasi menjadi ruang perjumpaan pengetahuan yang setara.
Generasi Muda dan Pengetahuan Baru
Generasi muda memegang posisi yang sangat strategis dalam arus perubahan ini karena mereka memiliki kedekatan alami dengan teknologi digital, internet, media sosial, dan berbagai platform modern. Namun, mereka juga dihadapkan pada tantangan besar. Jika generasi muda datang ke desa semata-mata membawa teknologi tanpa kepekaan sosial, mereka berisiko mengulangi kesalahan lama dengan menganggap pengetahuan tradisional harus disingkirkan.
Oleh karena itu, generasi muda tidak boleh hanya diposisikan sebagai agen pembawa teknologi ke desa, melainkan harus menjadi pembelajar yang rendah hati di tengah desa. Mereka perlu belajar dari petani senior mengenai karakter tanah, siklus musim, pemilihan benih, dinamika hubungan sosial, hingga cara menghadapi kegagalan. Setelah itu, pengalaman empiris tersebut baru dipertemukan dengan kemampuan digital yang mereka miliki.
Di sinilah makna regenerasi pertanian yang sebenarnya dapat diwujudkan. Regenerasi bukan sekadar mengganti usia fisik petani tua dengan petani muda, melainkan upaya mempertemukan kearifan pengalaman generasi lama dengan ketangkasan penguasaan teknologi dari generasi baru.
Menuju Ekologi Pengetahuan Pertanian
Untuk merumuskan masa depan sektor ini, kita mungkin membutuhkan kerangka baru yang disebut sebagai ekologi pengetahuan pertanian. Konsep ekologi menyiratkan bahwa berbagai unsur hidup dalam suatu jaring relasi yang saling memengaruhi. Demikian pula halnya dengan pengetahuan pertanian yang tidak boleh berdiri secara terisolasi.
Pengetahuan petani senantiasa terhubung dengan sains, teknologi, kebijakan publik, pengalaman komunitas, data pasar, dan ekosistem alam. Jika salah satu unsur mendominasi secara mutlak, keseimbangan sistem akan rusak. Jika teknologi mendominasi, manusia akan kehilangan ruang ekspresi; jika pengetahuan lokal menutup diri, peluang pembaruan akan tertutup; jika sains mengabaikan konteks lokal, solusi akan menjadi tidak relevan; dan jika pasar mendominasi, seluruh pengetahuan hanya akan diarahkan demi akumulasi keuntungan semata.
Oleh karena itu, yang kita perlukan bukanlah mencari satu bentuk pengetahuan yang paling superior, melainkan merajut hubungan yang sehat dan dialogis di antara berbagai ragam pengetahuan tersebut. Dalam ekologi semacam itu, petani tidak diposisikan sebagai obyek, melainkan sebagai salah satu pusat gravitasi dari pengetahuan itu sendiri.
Penutup: Jangan Sampai Petani Kehilangan Dirinya
Pertanian di masa depan dipastikan akan berjalan semakin digital, dengan pemanfaatan AI yang meluas, volume data yang masif, sensor yang semakin rapat, dan mesin-mesin cerdas yang mendampingi pekerjaan manusia. Semua kemajuan ini tentu tidak perlu ditakuti secara berlebihan.
Hal yang patut dikhawatirkan justru ketika manusia berhenti bersikap kritis dan bertanya. Bahaya mengintai manakala petani menerima setiap rekomendasi tanpa pemahaman yang utuh, ketika teknologi selalu dianggap mutlak benar, ketika data dipandang lebih superior daripada pengalaman hidup, ketika hal-hal yang tak terukur dianggap tak bernilai, dan ketika kearifan lokal direduksi sekadar sebagai peninggalan masa lalu. Pada titik itulah pertanian menjadi semakin canggih, namun petaninya justru semakin teralienasi dan kehilangan dirinya.
Oleh sebab itu, pertanyaan paling mendasar tentang masa depan pertanian bukan seberapa canggih teknologi yang dapat diadopsi oleh petani, melainkan seberapa kuat petani dapat tetap bertahan sebagai manusia yang memiliki pengetahuan. Petani tidak harus menolak kecerdasan buatan, data, aplikasi, maupun ilmu pengetahuan modern, tetapi mereka harus tetap memegang kendali untuk mengatakan: “saya memahami, saya mempertimbangkan, dan saya menentukan.”
Sebab aktivitas bertani pada hakikatnya bukan sekadar menjalankan instruksi mekanis. Bertani adalah sebuah proses membaca kehidupan yang luas, dan membaca kehidupan tidak pernah bisa sepenuhnya diserahkan kepada mesin.
Mungkin inilah tantangan terbesar dalam menghadapi arus perubahan zaman. Bukan sekadar bagaimana membuat petani tampil lebih modern atau digital, melainkan bagaimana memastikan bahwa di tengah terjangan kemajuan teknologi yang luar biasa, petani tidak kehilangan substansi pengetahuan yang justru menjadikan mereka seorang petani sejati.
Ketika seorang petani kehilangan tanahnya, ia kehilangan ruang berpijak fisik. Ketika ia kehilangan modal, ia kehilangan daya ekonominya. Namun, ketika seorang petani kehilangan pengetahuannya, ia kehilangan sesuatu yang jauh lebih mendasar, yakni kemampuan berdaulat untuk menentukan jalan kehidupannya sendiri. Oleh karena itu, percakapan mengenai pengetahuan petani pada akhirnya adalah percakapan fundamental tentang kedaulatan martabat kemanusiaan itu sendiri.
*)Penulis adalah alumni Filsafat UGM, Dosen Fakultas Pertanian Universitas Janabadra

