Manifesto Dekonstruksi Kosmologi Mataram Islam, Desakralisasi Ruang Publik, dan Kiamat Kebudayaan di Jantung Jawa
Gerebeg adalah saat di mana Manunggaling Kawula-Gusti mengejawantah dalam riuh keringat keringat rakyat. Tanpanya, Kraton hanyalah sebuah simulacra—salinan estetik yang kehilangan elan vital ruhaninya.
Ketika bunyi Gamelan Sekaten tidak lagi bertalu membelah keheningan alun-alun, dan barisan gunungan hasil bumi gagal melintasi Sitihinggil, sebuah peradaban sebenarnya sedang melisankan riwayat kematiannya sendiri. Tradisi Gerebeg—baik Mulud, Besar, maupun Syawal—bukanlah sekadar parade kostum prajurit kraton (bregodo) yang dipelihara demi memuaskan dahaga eksotisme para pelancong borjuis. Ia adalah sebuah ritus kosmologis, sebuah momen sakral di mana makrokosmos (alam semesta) dan mikrokosmos (manusia dan rajanya) melakukan perkawinan magis demi menjaga kesetimbangan jagat.
Bayangkan sebuah subjek sejarah di mana Kraton berdiri tegak secara arsitektural, namun kehilangan getaran ritus besarnya. Sebuah Kraton tanpa tradisi Gerebeg adalah seumpama tubuh yang kehilangan detak jantungnya; ia menjadi museum batu yang dingin, sunyi, gersang, dan terasing dari denyut spiritual kawulanya. Ini bukanlah sekadar penundaan jadwal seremonial akibat kendala teknis atau kebijakan birokratis modern yang picik. Ini adalah sebuah katastrofe epistemologis, sejenis kiamat kebudayaan berskala mikro yang menandai runtuhnya poros mistis yang selama berabad-abad mengunci kesadaran eksistensial manusia Jawa.
Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dan tradisi Gerebeg Yogyakarta menjadi latar utama refleksi kebudayaan dalam tulisan ini.
Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani dalam kitab Sirr al-Asrar pernah menegaskan bahwa segala bentuk ritus lahiriah tanpa diiringi oleh getaran rahasia batiniah adalah cangkang yang mati. Ketika Kraton menghentikan deru Gerebeg, mereka sedang menelanjangi diri dari pakaian spiritualnya, menyisakan sebuah tontonan feodal yang kehilangan kesaktian ruhaninya di hadapan kepungan zaman yang kian profan.
Filsafat Kosmologi Mataram: Pudarnya Poros Imajiner
Secara filosofis, eksistensi Kraton Mataram Islam dibangun di atas fondasi kosmologi yang rigid dan mutlak. Kraton adalah pusat dunia (axis mundi), sebuah titik nol tempat bertemunya energi Langit (Tuhan), Bumi (Raja), dan Air (Samudra Selatan). Konsep Sangkan Paraning Dumadi—asal dan tujuan penciptaan—mengejawantah secara spasial dalam tata ruang kota, di mana Tugu Pal Putih, Kraton, dan Panggung Krapyak berada dalam satu garis lurus yang kita kenal sebagai Poros Imajiner.
Gerebeg adalah momentum di mana axis mundi tersebut memancarkan energinya ke luar dinding selasar. Melalui gunungan yang disusun megah dari hasil bumi, Sultan membagikan berkah—sebuah manifestasi material dari legitimasi spiritualnya sebagai Khalifatullah (wakil Tuhan di bumi) sekaligus Panatagama.
Ketika Gerebeg ditiadakan, poros imajiner ini mengalami penyumbatan magis yang mengerikan. Aliran transendental dari utara ke selatan terputus, menyisakan ruang yang terfragmentasi.
Filsuf Prancis, Jean Baudrillard melihat fenomena semacam ini sebagai titik di mana sebuah institusi suci memasuki era simulacra. Tanpa Gerebeg yang otentik, Kraton bermutasi menjadi salinan dari dirinya sendiri yang kehilangan makna aslinya. Kraton hanya menjadi sekadar komoditas visual, cangkang estetis tanpa isi spiritual, sebuah representasi teatrikal yang kehilangan elan vital-nya sebagai penguasa kosmos.
Di sinilah Fathonah (kecerdasan spiritual) kebudayaan diuji; kegagalan mempertahankan ritus ini adalah bukti ketidakmampuan membaca tanda-tanda zaman yang sedang berusaha mendegradasi sakralitas menjadi sekadar industri pariwisata yang murah.
Dialektika Tasawuf: Kegagalan Manunggaling Kawula-Gusti
Dalam lanskap mistisisme Jawa (Kejawen) yang berakar pada Tasawuf Islam Nusantara, Gerebeg adalah visualisasi paling radikal dari doktrin Manunggaling Kawula-Gusti. Prosesi “ngrayah” atau berebut gunungan oleh ribuan rakyat bukan sekadar tindakan anarkis-kelaparan; ia adalah sebuah ritus komunikasi batiniah yang profund, sebuah momen di mana sekat-sekat kelas sosial diledakkan oleh kerinduan akan berkah Ilahi.
Al-Ghazali dalam konsep Hubb (Cinta Ilahi) dalam kitab Ihya Ulumuddin membedah bahwa relasi antara pemimpin dan yang dipimpin harus didasarkan pada limpahan kasih sayang yang mencerminkan sifat rahim Tuhan. Dalam tradisi Gerebeg, raja memposisikan dirinya sebagai perantara (wasilah) mengalirnya rezeki Ilahi kepada kawula.
Ibnu Arabi melalui konsep Insan Kamil (Manusia Sempurna) memandang bahwa seorang penguasa sejati harus mampu merefleksikan asma-asma Allah—terutama Ar-Rahman (Maha Pengasih) dan Ar-Razaq (Maha Pemberi Rezeki)—ke dalam realitas sosial yang nyata.
Ketika tradisi Gerebeg absen, dialektika Manunggaling Kawula-Gusti ini mengalami patahan yang fatal. Hubungan antara Kraton dan rakyat mengalami desakralisasi secara brutal. Rakyat tidak lagi melihat Kraton sebagai payung ruhani tempat mereka mengadukan nasib batiniah, melainkan hanya sebagai institusi feudal masa lalu yang tidak lagi memiliki relevansi eksistensial dengan realitas kemiskinan dan keterasingan hidup modern mereka. Sifat Siddik (kejujuran komitmen) dan Amanah (akuntabilitas kosmik) dari penguasa runtuh ketika ia menutup pintu berkah bagi kawulanya.
Desakralisasi Ruang Publik: Ketika Alun-Alun Menjadi Sekadar Lapangan
Absennya Gerebeg berdampak langsung pada dekonstruksi makna ruang publik secara radikal. Alun-Alun Utara, yang secara kosmologis merupakan simbol dari keluasan hati sang raja dan medan pertemuan mistis antara rakyat dan penguasa, seketika kehilangan aura magisnya (the aura ala Walter ala Walter Benjamin). Tanpa derap langkah prajurit bregodo, tanpa kibaran bendera pusaka yang wingit, dan tanpa keharuan bau kemenyan yang berkelindan dengan keringat ribuan manusia, alun-alun terdegradasi menjadi sekadar sebidang lapangan tanah biasa yang gersang dan sekuler.
Penghilangan atau penghentian ritus publik ini mencerminkan bekerjanya rasionalitas instrumental ala Madzab Frankfurt seperti Max Horkheimer dan Theodor Adorno. Demi alasan efisiensi, ketertiban modern, atau ketakutan akan kerumunan massal, modernitas sekuler cenderung menyingkirkan hal-hal yang dianggap “irasional” atau “mitologis”.
Namun, penyingkiran mitos ini melahirkan alienasi baru yang mengerikan bagi jiwa manusia Jawa. Rakyat kehilangan ruang katarsis komunalnya. Ruang publik yang dulunya penuh dengan muatan sakral-spiritual kini disulap total menjadi ruang komersial yang dingin, kering, dan teralienasi dari nilai-nilai transendental.
Integrasi Sifat Nubuat dalam Kepemimpinan Tradisional yang Terancam
Krisis hilangnya tradisi Gerebeg pada dasarnya adalah krisis artikulasi nilai-nilai profetik di era disrupsi. Upacara besar seperti Gerebeg sejatinya merupakan manifestasi lahiriah dari empat pilar nubuat yang diterjemahkan ke dalam tata kelola kebudayaan Jawa yang adiluhung:
1. Siddik atau Autentisitas Sejarah: Gerebeg adalah pembuktian kejujuran eksistensial Kraton. Tanpa ritual ini, komitmen Kraton untuk menjaga mandat spiritual dari para leluhur dan Wali Songo patut dipertanyakan integritasnya. Kraton kehilangan sifat siddik-nya dan terjebak dalam kepalsuan modernitas.
2. Amanah atau Akuntabilitas Kosmik: Menjaga kelangsungan Gerebeg adalah amanah kosmik untuk merawat bumi dan mensyukuri hasil pertanian. Menghentikannya berarti memutus siklus syukur komunal atas berkah alam, sebuah bentuk pengkhianatan terhadap mandat bumi.
3. Tabligh atau Syiar Tauhid Budaya: Tradisi Sekaten dan Gerebeg Mulud adalah media tabligh atau penyampaian dakwah Islam yang paling puitis dan radikal dari para Wali Songo. Kehilangan ritus ini berarti menutup saluran komunikasi kultural Islam-Jawa yang inklusif dan revolusioner.
4. Fathonah atau Kecerdasan Kebudayaan: Keputusan untuk mempertahankan ritus di tengah gempuran zaman adalah bentuk fathonah atau kebijaksanaan taktis. Tanpa kecerdasan ini, Kraton akan mudah terombang-ambing, hanyut, dan tenggelam dalam arus sekularisasi global yang mematikan intuisi ruhani.
Menjadi “Kraton yang Berjalan” di Akhir Zaman
Secara eskatologis, hilangnya tradisi-tradisi besar di jantung kebudayaan adalah pertanda bahwa dunia sedang meluncur deras menuju disorientasi akhir zaman. Ketika pusat-pusat spiritual tradisional mulai mengosongkan diri dari ritus sakralnya, maka manusia tidak boleh ikut larut dalam kepunahan kebudayaan tersebut. Kita wajib merenungkan kembali wasiat radikal dari para Khulafaur Rasyidin tentang bagaimana menjaga api kebenaran di tengah runtuhnya sistem dunia.
Ali bin Abi Thalib, sang gerbang Fathonah, menyatakan dengan kedalaman filsafat yang menggetarkan: “Aku melihat Tuhan pada kehancuran tekad-tekadku.” Ketika institusi fisik mulai gagal menjalankan mandat ruhaninya, di situlah batin manusia harus mengambil alih posisi tersebut. Kita tidak boleh membiarkan Kraton berubah fungsi sekadar menjadi latar belakang swafoto estetik di media sosial atau sekadar cagar budaya yang mati suri.
Jika langit Mataram Islam mulai kehilangan gema takbir tabligh kebudayaannya, dan bumi pertiwi tidak lagi dipestakan dalam gunungan syukur, maka itu adalah tanda bahwa kita harus melakukan pemberontakan spiritual dari dalam dada kita sendiri.
Bara api dari nilai-nilai esensial Gerebeg—yaitu keadilan distributif, solidaritas komunal, dan kepasrahan total di hadapan Ilahi—harus tetap dinyalakan. Jika Kraton fisik suatu saat nanti benar-benar kehilangan atau meninggalkan tradisinya, maka pastikan batinmu telah bertransformasi menjadi “Kraton yang berjalan”. Sebuah entitas merdeka yang senantiasa membagikan gunungan berkah kebenaran, menegakkan keadilan, dan memancarkan energi langit di tengah-tengah masyarakat yang sedang dahaga akan keteduhan ruhani yang sejati.
Ketika bumi tidak lagi dipestakan dalam gunungan syukur, itu adalah tanda kiamat kebudayaan berskala mikro; sebuah peringatan bahwa manusia sedang berjalan menuju alienasi jiwa yang absolut.

