Perang antara Iran melawan poros Amerika Serikat–Israel masih belum jelas kapan akan berakhir. Akan tetapi, kalau kita mau menetapkan siapakah yang paling bertanggung jawab atas perang yang sangat berdampak terhadap kehidupan global dan kemanusiaan ini? Maka jawabannya sebetulnya sudah cukup jelas dan terang, yakni Amerika Serikat dan Israel.
Mengapa? Karena merekalah yang memulai agresi, menyerang Iran di tengah perundingan—saat serangan dilakukan pada tanggal 28 Februari, perundingan antara Iran dan AS-Israel soal nuklir, memang masih berlangsung di Oman. Dalam pola yang sama, yaitu kekuatan militer didahulukan, diplomasi dikesampingkan, lalu dunia diminta menerima kekacauan sebagai sesuatu yang lumrah. Bahkan lebih parahnya para pejabat pemerintah AS, seperti Secretary of War, Pete Hegseth, menggunakan ayat-ayat injil untuk membenarkan agresi AS-Israel terhadap Iran.
Padahal, dari jantung tradisi Kristen sendiri, sikap semacam itu justru telah ditolak secara terang-terangan, oleh Paus Leo XIV, yang menegaskan bahwa Yesus adalah Raja Damai yang tidak bisa digunakan siapa pun untuk membenarkan perang. Ia bahkan menyatakan bahwa Tuhan tidak mendengar doa orang-orang yang tangannya penuh darah. Artinya jelas: menjadikan kitab suci sebagai alat legitimasi kekerasan bukan hanya cacat secara politik, tetapi juga menyimpang secara moral dan spiritual.
Persoalan berikutnya lagi, di media sosial Indonesia, saya malah sering menemui kelompok dan orang-orang yang berpandangan sebaliknya. Mereka yang merasa dirinya paling suci, paling benar, paling sesuai dengan sunnah, dan paling tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Mereka yang kerap dijuluki sebagai wahaboy—sebuah istilah yang memang terkesan sinis, tetapi lahir dari kenyataan sosial yang tak terbantahkan.
Mengapa disebut demikian? Karena pembelaan mereka terhadap Arab Saudi dan corak keberagamaan Wahabi sering kali kebangetan. Sementara Arab Saudi sendiri, ironisnya, secara politik, selama ini cenderung lebih dekat dengan Amerika Serikat. Dalam banyak persoalan geopolitik, termasuk soal Iran, boleh dikata kecil kemungkinannya—kalau bukan tidak mungkin sama sekali—Saudi akan berdiri di pihak Iran.
Akibatnya, para wahaboy ini pun ikut membawa logika yang sama ke ruang publik kita: Iran tidak dilihat sebagai negara dan bangsa yang tengah membela diri dari agresi imperialis, melainkan pertama-tama sebagai “Syiah”, sebagai “musuh akidah”, sebagai pihak yang lebih pantas dicurigai ketimbang dibela.
Saya ingat sekali, dulu saya sering memutar murottal Syeikh Mishary Alafasy untuk acara pengajian, maupun pada malam hari untuk diperdengarkan ke keluarga saya. Akan tetapi, dengan sikap beliau yang mendukung serangan AS-Israel ke Iran ini, rasanya seperti ada sesuatu yang runtuh secara moral. Sosok yang selama ini suaranya begitu akrab di telinga umat, yang melantunkan ayat-ayat suci dengan merdu, justru tampak berdiri di sisi yang membenarkan darah sesama Muslim tertumpah.
Bagi saya, sikap semacam ini sangat sulit diterima akal sehat dan nurani. Sebab seburuk apa pun perbedaan mazhab, tidak ada satu pun alasan keagamaan yang dapat membenarkan pembelaan terhadap agresi yang merenggut nyawa manusia. Dalam bahasa yang keras: itu serupa kanibal yang memakan darah dan daging saudaranya sendiri. Sebab yang sedang dibom bukan sekadar identitas mazhab, melainkan manusia, keluarga, anak-anak, dan masa depan sebuah bangsa.
Di sinilah kita melihat satu ironi yang sangat pahit: sebagian umat Islam hari ini tampak lebih mudah marah kepada sesama Muslim yang berbeda mazhab daripada kepada kekuatan kapitalisme global dan imperialisme yang nyata-nyata menumpahkan darah, merusak negeri-negeri Muslim, dan menormalisasi kekerasan atas nama stabilitas dunia—kasarannya ke mana suara para Wahaboy ini, saat Trump joget-joget setelah ratusan rakyat Iran kehilangan nyawa?
Ketika Agama Kehilangan Kompas Moral
Kalau kita jujur, persoalan utamanya bukan soal Sunni versus Syiah, atau Saudi versus Iran semata. Persoalan utamanya adalah hilangnya kompas moral dalam beragama. Agama yang seharusnya menjadi jalan untuk membela yang lemah, melindungi yang tertindas, dan menegakkan keadilan, justru dibelokkan menjadi alat untuk menghakimi, mengucilkan, bahkan membenarkan ketidakpedulian terhadap penindasan manusia atas manusia.
Dalam logika keberagamaan semacam ini, pertanyaan yang muncul bukan lagi: “Siapa yang dizalimi?” melainkan “Mazhabnya apa?” Bukan lagi: “Siapa yang menjadi korban?” melainkan “Apakah akidahnya lurus?” Seolah-olah darah manusia baru layak dibela kalau terlebih dahulu lolos skrining akidah.
Ini adalah bentuk keberagamaan yang sangat berbahaya. Sebab ketika agama kehilangan rasa kemanusiaan, ia akan sangat mudah berubah menjadi alat kebencian. Akibatnya, adalah muncul orang-orang yang rajin mengutip ayat, tekun menukil hadis, fasih berbicara tentang tauhid, tetapi tetap tumpul terhadap jeritan manusia yang dibom, diusir, dipermalukan, dan dihancurkan hidupnya.
Kalau sudah begitu, yang tersisa bukan lagi Islam sebagai rahmat, atau rahmatan lil ‘alamin, melainkan Islam sebagai identitas kelompok belaka. Bukan Islam yang membebaskan, tetapi Islam yang dipakai untuk menentukan siapa yang “murni” dan siapa yang “layak dicurigai”.
Masalahnya Bukan Sekadar Syiah
Kita memang harus jujur mengakui bahwa dalam sejarah Islam, relasi Sunni dan Syiah memang tidak sederhana. Ada luka sejarah, ada pertentangan politik, ada pula perbedaan teologis yang nyata. Sebagian kalangan Syiah juga memang memiliki pandangan yang bermasalah terhadap figur-figur yang sangat dihormati oleh mayoritas Sunni, termasuk sebagian sahabat dan Sayyidah Aisyah. Fakta tersebut tidak usah ditutup-tutupi.
Tetapi, dari sini kita harus tegas membedakan antara kritik teologis dan dehumanisasi politik.
Seseorang boleh saja tidak sepakat dengan doktrin Syiah. Seseorang boleh saja mengkritik keras aspek-aspek tertentu dari tradisi Syiah—biasanya para wahaboy nyerang nikah mut’ahnya, padahal sudah ratusan rakyat Iran dibunuh imperialis AS dan Israel. Namun semua itu tidak otomatis membenarkan sikap dingin terhadap penderitaan manusia yang sedang menjadi korban agresi. Menolak satu mazhab tidak pernah memberi izin moral untuk menormalisasi bombardir, penjajahan, atau imperialisme.
Di titik ini, sebagian wahaboy tampak gagal total membaca skala prioritas moral dalam Islam. Mereka begitu sibuk mengutuk Syiah, sampai-sampai lupa bahwa di hadapan kezaliman global, yang pertama-tama dituntut dari seorang Muslim adalah keberpihakan kepada mereka yang tertindas.
Kalau ada negeri Muslim diserang, rakyat sipil terbunuh, anak-anak hancur masa depannya, lalu reaksi pertama kita justru adalah, “Tapi mereka Syiah”, maka yang bermasalah bukan cuma wawasan politik kita, tetapi juga nurani keislaman kita.
Islam Nabi Bukan Islam Kebencian
Kalau kita kembali kepada ajaran Nabi Muhammad saw., sulit sekali menemukan pembenaran bagi keberagamaan yang kehilangan belas kasih seperti ini. Nabi tidak diutus untuk membangun umat yang rajin mengkafirkan sesama dan mencari musuh internal sambil menutup mata terhadap penindasan yang nyata.
Nabi datang membawa tauhid, benar. Tetapi tauhid dalam Islam bukan sekadar slogan metafisik belaka. Tauhid juga punya konsekuensi moral dan sosial, yaitu menolak kezaliman, menegakkan keadilan, dan membela mereka yang dilemahkan dan dizalimi.
Islam Nabi bukan Islam yang memulai segala sesuatu dari kecurigaan. Bukan Islam yang setiap saat sibuk menuding bid’ah, sesat, syirik, atau menyimpang. Bukan pula Islam yang mengukur derajat kesalehan hanya dari simbol, jargon, dan afiliasi mazhab.
Islam Nabi adalah Islam yang menautkan ibadah dengan akhlak, tauhid dengan keadilan, dan kesalehan dengan keberpihakan etis. Dalam Islam Nabi, orang yang lemah tidak ditanya dulu mazhabnya sebelum ditolong. Orang yang dizalimi tidak diperiksa dulu pandangan teologinya sebelum dibela. Sebab yang pertama-tama dilihat adalah kezalimannya, bukan identitas sektariannya.
Di sinilah letak jurang besar antara Islam sebagai jalan kenabian dan Islam sebagai identitas ideologis.
Ketika Mazhab Menjadi Berhala Baru
Salah satu penyakit besar umat Islam hari ini adalah kecenderungan menjadikan mazhab, kelompok, atau afiliasi sebagai semacam “berhala baru”. Bukan berhala dalam bentuk patung, tentu saja, melainkan berhala dalam arti sesuatu yang terlalu dicintai, terlalu dibela, dan terlalu dibenarkan sampai mengalahkan akal sehat serta nurani.
Ketika seseorang sudah terlanjur fanatik kepada kelompok tertentu, ia akan sulit melihat kebenaran di luar kubunya. Ia akan lebih mudah memaafkan kezaliman yang dilakukan oleh “kawan” daripada mengakui kebaikan yang dilakukan oleh “lawan”. Ia akan lebih cepat menuduh sesama Muslim sebagai ancaman akidah daripada melihat kekuatan-kekuatan imperialis sebagai ancaman nyata terhadap kehidupan umat manusia.
Dalam kondisi seperti ini, mazhab tidak lagi berfungsi sebagai jalan memahami agama, tetapi berubah menjadi identitas konflik. Dan ketika agama telah berubah menjadi identitas konflik, maka kemanusiaan hampir selalu menjadi korban pertamanya.
Belajar Menjadi Muslim yang Waras
Karena itu, kita perlu mengembalikan Islam kepada porosnya yang paling dasar, yaitu tauhid, keadilan, kasih sayang, amanah, dan keberpihakan kepada yang tertindas. Kita boleh punya mazhab. Kita boleh punya kecondongan teologis. Kita boleh mengkritik kelompok lain. Tetapi semua itu tidak boleh sampai merusak kompas moral kita.
Muslim yang waras bukan Muslim yang kehilangan kemampuan membedakan mana musuh teologis dan mana penindas nyata. Muslim yang waras adalah Muslim yang mampu tetap kritis terhadap Syiah, misalnya, tetapi pada saat yang sama tidak kehilangan kejujuran moral untuk mengatakan bahwa agresi Amerika Serikat dan Israel tetaplah agresi, siapa pun korbannya.
Dan karena itu, tindakan agresi terhadap bangsa lain tidak bisa dibenarkan dan sangat bertentangan dengan kemanusiaan serta keadilan.
Kalau ada orang yang lebih sibuk memeriksa kemurnian akidah Iran daripada mengecam bom-bom yang dijatuhkan ke atas manusia, maka ada yang rusak dalam cara beragamanya. Sebab Islam yang dibawa oleh Rasulullah saw. bukanlah Islam yang mengajarkan kita untuk terlebih dahulu melihat perbedaan mazhab sebelum membela yang dizalimi.
Penutup
Pada akhirnya, pertanyaan yang paling penting bukanlah: apakah Iran Sunni atau Syiah? Bukan pula: apakah Saudi lebih “salafi” atau tidak? Pertanyaan yang paling penting adalah: di pihak manakah Islam Nabi Muhammad saw. berdiri ketika kezaliman sedang berlangsung?
Kalau jawaban kita masih berputar-putar di sekitar mazhab, identitas, dan fanatisme kelompok, maka besar kemungkinan kita sedang menjauh dari ruh Islam itu sendiri.
Islam yang paling dekat dengan Nabi Muhammad saw. bukanlah Islam yang paling keras menghakimi mazhab lain, melainkan Islam yang paling tegas menolak kezaliman dan paling setia membela mereka yang tertindas.
Dan jika hari ini sebagian orang justru lebih marah kepada Syiah daripada kepada imperialisme yang nyata-nyata membunuh manusia, maka mungkin yang perlu mereka periksa bukan sekadar lawan mazhabnya, melainkan terlebih dahulu hati dan nurani keberagamaannya sendiri.

