Narasi besar dunia saat ini tengah mengalami guncangan hebat. Selama puluhan tahun, publik Barat dikondisikan untuk melihat dunia melalui kacamata “Benturan Peradaban” (Clash of Civilizations), di mana Islam diposisikan sebagai ancaman eksistensial terhadap nilai-nilai Kristen-Barat. Namun, sebuah retakan besar muncul saat figur publik seperti Tucker Carlson mulai mengungkap fakta teologis yang selama ini disembunyikan rapat-rapat oleh mesin propaganda Zionis.
Guncangan Teologis: Fakta yang Mengejutkan Publik Barat
Salah satu momen paling viral belakangan ini adalah terungkapnya fakta bahwa umat Islam sangat menghormati Yesus (Nabi Isa AS). Bagi publik Barat yang terpapar propaganda puluhan tahun, fakta ini sangat mengejutkan. Dalam teologi Islam, Nabi Isa bukan hanya sekadar tokoh sejarah, melainkan nabi tingkat tinggi (Ulul Azmi) yang menempati posisi terhormat.
Islam memuliakan Siti Maryam (Bunda Maria) hingga namanya diabadikan sebagai salah satu nama surat dalam Al-Qur’an. Muslim pun meyakini kembalinya Isa Al-Masih di akhir zaman untuk melawan kezaliman. Sebaliknya, secara teologis, tradisi Yahudi Talmud justru memandang Isa dengan sangat negatif. Dalam tradisi Yahudi, Isa adalah kriminal, ahli bid’ah (blasphemer), kafir, sama sekali bukan Nabi, dan ibunya (Mary) adalah seorang pelacur!
Karena teologi yang demikian sehingga wajar kalau tentara Israel menghinakan Patung Jesus di Libanon, mengancurkan kepalanya, memutus kakinya. Bahkan Kristen di Iran lebih menempati posisi yang lebih terhormat daripada di Israhell.
Namun, melalui strategi narasi yang sangat rapi, kenyataan ini dibalikkan: Islam dikriminalisasi, sementara aliansi “Yudeo-Kristen” dibangun di atas fondasi teologis yang sebenarnya rapuh.
“Israelism” sebagai Agama Sipil di Amerika Serikat
Tucker Carlson menyinggung fenomena yang disebut sebagai Israelism. Ini bukan sekadar dukungan politik, melainkan telah menjadi civil religion (agama sipil) di Amerika Serikat. Dalam struktur ini, kepentingan Israel ditempatkan di atas kepentingan nasional AS sendiri.
Lobby Yahudi seperti AIPAC mengendalikan narasi di pemerintahan dan media, memastikan bahwa setiap kritik terhadap kebijakan Israel segera dibungkam dengan label “antisemit”. Tucker Carlson, yang dulunya merupakan bagian dari lingkaran propagandis, kini menjadi saksi kunci bagaimana rezim di Washington dikendalikan oleh kepentingan asing yang menggunakan narasi keagamaan untuk membenarkan agresi.
Strategi Multi-Level Hasbara: Dari Global hingga Lokal
Strategi adu domba atau Hasbara bekerja secara simultan di berbagai level dengan target yang berbeda-beda:
Level Global: Strategi ini menyasar publik Kristen di Barat agar mendukung zionisme dan genosida di Timur Tengah. Tujuannya adalah menciptakan musuh bersama bernama “Islam Radikal”. Namun, strategi ini mulai kacau saat tentara Israel di lapangan secara terang-terangan merusak simbol-simbol Kristen di Lebanon dan Yerusalem, membuktikan bahwa mereka sebenarnya tidak menghormati sosok Yesus.
Level Negara Muslim: Hasbara mengeksploitasi luka sektarian antara Sunni dan Syiah. Tujuannya agar kekuatan Muslim habis untuk berperang di dalam, sehingga mereka kehilangan fokus pada isu sentral penjajahan Palestina.
Level Lokal (Indonesia): Di kalangan Aswaja Indonesia, strateginya adalah narasi “Moderasi vs Radikalisme”. Jika di AS kritikus Israel disebut antisemit, di Indonesia, mereka yang vokal membela Palestina atau Lebanon sering kali dipojokkan dengan stigma “Radikal”. Ketakutan akan stigma inilah yang membuat sebagian besar elit dan massa cenderung diam terhadap genosida yang terjadi.
Jeratan Epstein dan Kontrol Elit Global
Siapa sebenarnya pengatur ritme adu domba ini? Mereka adalah jaringan global yang tidak hanya menguasai modal, tetapi juga metode kontrol manusia. Strategi yang dijalankan melalui jaringan seperti Jeffrey Epstein menjadi alat untuk menjerat elit pemerintahan, media, hingga tokoh agama dunia.
Melalui jebakan skandal dan blackmail, para elit dipaksa untuk mengikuti agenda Zionis. Mereka yang mencoba melawan atau mengungkap kebenaran akan menghadapi pembunuhan karakter secara sistematis di media arus utama yang juga mereka kuasai.
Menuju Runtuhnya Monopoli Narasi
Dunia hari ini sedang menyaksikan keruntuhan monopoli informasi. Ketika strategi adu domba mulai terbongkar, potensi pertemuan antara dunia Islam dan Kristen yang jujur menjadi ancaman terbesar bagi Zionisme. Genosida di Gaza dan Lebanon telah menjadi katalisator yang mengungkap wajah asli dari “Israelism”.
Kesadaran baru ini menuntut kita untuk tidak hanya waspada terhadap informasi yang bersifat otomatis (automatic endorsement), tetapi juga berani melihat melampaui sekat-sekat sektarian yang sengaja diciptakan untuk menjaga agar api konflik tetap menyala demi kepentingan hegemonik global.
Disclaimer:
Tulisan ini bukan untuk memusuhi pemeluk Yahudi yang baik-baik, karena Yahudi juga agama yang di dalamnya banyak yang baik yaang tdk setuju pada zionisme Israell. Fokus disini adalah yahudi zionis, yang menjadi aktor genosida, dan adu domba global.[]
*Gus Abdul Alim (Wakil Ketua PWNU Jawa Tengah 2018 – 2023 )

