Kematian, Kelenyapan Ego, dan Keabadian Goresan
Kematian acap kali hadir sebagai pengingat yang dingin, sebuah jeda mendadak di tengah keriuhan duniawi. Ketika kabar duka itu bertiup—Sabtu, 1 Agustus 2026 jam 06.00 WIB—dunia seni rupa Indonesia tidak sekadar kehilangan seorang empu pelukis, melainkan dipaksa untuk berdiri di hadapan cermin eksistensial yang paling purba: keheningan.
Kepergian Sang Maestro, Nasirun, menorehkan luka tak tampak pada kanvas waktu, memanggil kita untuk menyelami makna kematian tidak sebagai titik akhir yang menakutkan, melainkan sebagai bentuk tertinggi dari karya seni itu sendiri.
Dalam diskursus filsafat, kematian sering kali diperlakukan sebagai teka-teki eksistensial. Martin Heidegger menyebut manusia sebagai Sein-zum-Tode (ada-menuju-kematian), di mana kesadaran akan batas waktu justru memberi makna pada setiap tindakan hidup. Namun, pada diri seorang Nasirun, garis batas itu melampaui sekadar kesadaran eksistensial barat; ia berkelindan rapat dengan kosmologi Timur dan kedalaman tasawuf.
Kelenyapan Ego dan Konsep Fana
Kepergian fisik jasad yang lapuk oleh waktu adalah perwujudan nyata dari fana—kelenyapan ego individu di hadapan Yang Mahakuasa. Dalam tradisi melukisnya, Nasirun tidak pernah menempatkan dirinya sebagai “pencipta tunggal” yang adidaya, melainkan sebagai perantara (Medium) antara ketidaktampakan gaib dan realitas visual. Goresan-goresan warna, narasi wayang, serta lekukan spiritual pada kanvas-kanvasnya adalah bentuk peluruhan subjektivitas.
“Melukis bagi seorang spiritualis bukanlah upaya memamerkan keakuan, melainkan cara perlahan untuk meniadakan diri di hadapan Sang Mahakarya.”
Ketika raga mengembuskan napas terakhir, proses fana menemukan kesempurnaannya. Kematian fisik melucuti seluruh atribut keduniaan—popularitas, gelar maestro, hingga kepemilikan materi. Yang tersisa adalah ruang kosong yang suci, tempat di mana ego pelukis sepenuhnya lebur, menyatukan rasa takut dan rindu ke dalam pangkuan Keabadian.
Karya sebagai Baqa dan Zikir Keheningan
Jika jasad mengalami fana, maka ke mana garis dan warna itu pergi? Di sinilah paradoks keabadian (baqa) bekerja. Kematian tidak memiliki daya untuk menghapus jejak-jejak perenungan yang telah terpatri pada kanvas.
Setiap tumpukan cat, keliatan garis, dan sublimasi budaya yang ditinggalkan Nasirun kini bertransformasi. Mereka bukan lagi sekadar benda seni (art objects) yang bernilai ekonomis, melainkan zikir yang membeku dalam keheningan. Karya-karyanya menjadi doa yang terus bergema tanpa perlu diucapkan oleh lidah yang telah kaku.
- Transformasi Ruang: Kanvas yang dulu menjadi arena dialektika kini bertukar peran menjadi monumen perenungan bagi siapa saja yang memandangnya.
- Transendensi Waktu: Melalui karya, sang pelukis terus ‘berbicara’ melompati batasan generasi, menjadikan kematian fisik sekadar ambang pintu (liminality) menuju keabadian ide dan rasa.
Mengabadikan dalam Keheningan
Mengenang Nasirun dalam kerangka filsafat kematian adalah mengajak diri kita untuk belajar dari keheningan itu sendiri. Dunia modern sering kali bising oleh ego yang berteriak menuntut keabadian semu melalui media dan pengakuan sekejap. Nasirun menempuh jalan sebaliknya: ia mengukir keabadian justru melalui kerendahan hati, pengabdian budaya, dan kepasrahan total.
Kepergiannya pada pagi ini menyisakan pesan mendalam bahwa kematian bukanlah kekalahan dari Sang Waktu. Kematian adalah pementasan terakhir di mana sang seniman menyerahkan kembali kuasnya kepada Sang Pemilik Jiwa, meninggalkan dunia fana ini dalam keadaan lebih kaya, lebih indah, dan lebih bijaksana.
Selamat jalan, Sang Maestro. Goresan doamu kini telah abadi dalam zikir keheningan alam semesta.
Gus Nas Jogja, 1 Agustus 2026

