Ada satu adegan di dalam kereta malam menuju Yogyakarta, Oktober 1939, yang tidak pernah tercatat dalam satu buku sejarah pun secara lengkap, tapi begitu terkenal dalam ingatan kolektif keraton.
Seorang sultan, tubuhnya sudah melemah, tangannya menggenggam sebilah keris bernama Kyai Ageng Jaka Piturun, dan menyerahkannya kepada putranya yang baru pulang dari Leiden. Itu bukan sekadar seremoni. Itu adalah momen perpindahan nasib sebuah kerajaan.
Sultan yang menyerahkan keris itu adalah Hamengkubuwana VIII, penguasa ke-8 Ngayogyakarta Hadiningrat yang memerintah selama 18 tahun penuh gejolak, 1921–1939. Dan ia tidak sempat pulang ke kota yang dicintainya. Ia wafat di atas rel, antara Wates dan Kroya, di dalam kereta yang membawanya pulang bersama sang putra.
Artikel ini mengajak Anda menyelami siapa sebenarnya Hamengkubuwana VIII: sultan yang mewarisi kemewahan dari ayahnya, sultan yang berani membuang lambang Belanda dari keraton, sultan yang menjadi pelindung diam-diam kebangkitan bangsa, dan sultan yang wafat dengan cara yang tidak pernah terbayangkan oleh siapapun.
I. Putra Keduapuluh Tiga: Dari Bayangan Menjadi Sultan
Gusti Raden Mas (GRM) Sujadi lahir pada 3 Maret 1880 di Keraton Yogyakarta. Ia adalah putra ke-23 dari Sri Sultan Hamengkubuwana VII, sultan yang dikenal dengan julukan Sultan Sugih karena kekayaan keratonnya yang berlimpah dari era liberalisme ekonomi Belanda. Ibunya adalah Gusti Kanjeng Ratu Hemas, permaisuri kedua sang sultan.
Menjadi putra ke-23 dalam sistem keraton bukan berarti ia berada di barisan depan antrean takhta. Justru sebaliknya. Jalan menuju singgasana bagi GRM Sujadi adalah jalan yang berliku, penuh drama, dan tidak terduga.
FAKTA HISTORIS
Sultan Hamengkubuwana VII (1877–1921) dikenal sebagai ‘Sultan Sugih’ karena kekayaan keraton yang berlimpah dari sistem sewa tanah liberal Belanda sejak 1870. Pemasukan dari jalur kereta NIS (Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij) dan sewa perkebunan tebu menjadikan kas kesultanan amat gemuk, warisan inilah yang kemudian dimanfaatkan Hamengkubuwana VIII untuk mendanai modernisasi pendidikan dan kebudayaan.
Sebelum GRM Sujadi, takhta sudah berpindah-pindah bayangan pewaris. Putra mahkota yang semula dipilih meninggal lebih dahulu. Kesultanan kehilangan calon pengganti. Pada akhirnya, Sri Sultan Hamengkubuwana VII menaikkan GRM Sujadi ke posisi putra mahkota, ia kemudian bergelar Gusti Pangeran Haryo (GPH) Puruboyo.
Seperti sang ayah, GPH Puruboyo mendapat kesempatan mengenyam pendidikan di Belanda,menjadikannya Sultan Yogyakarta pertama yang berpendidikan Eropa sebelum naik takhta. Pengalaman ini kelak membentuk wataknya sebagai pemimpin yang paham cara kerja pikiran kolonial dari dalam.
“Ia adalah sultan pertama Yogyakarta yang pernah belajar di Belanda sebelum memegang tongkat kekuasaan. Dan ia tidak lupa pelajaran itu.”
Pada awal 1920, Hamengkubuwana VII yang telah berusia 81 tahun mengutarakan niatnya untuk ‘lereh keprabon’, turun takhta dan menjalani hidup sebagai pertapa di Pesanggrahan Ambarukmo. Momen ini memicu gerakan cepat dari Residen Belanda, Jonquière, yang langsung mengusulkan kepada Gubernur Jenderal van Limburg Stirum agar pergantian takhta dipercepat.
GPH Puruboyo yang saat itu masih di Eropa mendapat telegram mendesak: pulang. Tidak ada tawar-menawar. Dan pada 8 Februari 1921, Hari Selasa Kliwon hari yang dianggap keramat dalam penanggalan Jawa, GPH Puruboyo resmi dinobatkan sebagai Sri Sultan Hamengkubuwana VIII, penguasa ke-8 Ngayogyakarta Hadiningrat.
II. Keberanian Simbolis: Menyapu Bersih Lambang Belanda
Salah satu tindakan pertama dan paling berani Hamengkubuwana VIII setelah naik takhta adalah membuang lambang heraldika Belanda dari kesultanan. Sebelum 1921, lambang resmi Kesultanan Yogyakarta masih mengadopsi gaya lambang Kerajaan Belanda, sebuah warisan visual kolonialisme yang dipaksakan melalui kontrak-kontrak politik.
Hamengkubuwana VIII menolak warisan itu. Ia mengajukan perubahan heraldika yang sepenuhnya berbasis lokal: mengangkat cita rasa Jawa, melepaskan diri dari bayang-bayang lambang asing.
TITIK BALIK
Pada tahun 1921, tepat saat naik takhta, Hamengkubuwana VIII mengajukan perubahan total heraldika kesultanan. Lambang baru dirancang dengan identitas Jawa: perisai berwarna merah dengan aksara Jawa Ha-Bha emas, angka Jawa 8 di bagian bawah, dan penyokong sepasang sayap emas berdaun delapan. Lambang ini bukan sekadar desain, ia adalah pernyataan politik tanpa kata-kata: Yogyakarta bukan milik Belanda.
Gestur ini mungkin tampak kecil bagi pengamat modern. Tapi dalam konteks 1921, di mana Kesultanan Yogyakarta secara resmi terikat kontrak politik dengan Pemerintah Hindia Belanda dan seluruh kebijakan penting harus atas persetujuan Residen, membuat lambang sendiri yang tidak menyertakan elemen Belanda adalah sebuah perlawanan yang sangat halus namun nyaring.
Inilah karakteristik utama Hamengkubuwana VIII: ia tidak berteriak-teriak melawan kolonial. Ia melawannya dengan cara yang paling elegan, lewat budaya, simbol, dan pendidikan.
III. Sultan Pelindung Kebangkitan: Dari Muhammadiyah hingga Taman Siswa
Sejarah sering mencatat nama-nama besar gerakan nasional: Soekarno, Hatta, Ki Hajar Dewantara. Yang jarang disebutkan adalah siapa yang memberi ruang bagi mereka untuk tumbuh. Salah satu jawaban itu ada di Yogyakarta, di tangan seorang sultan.
A. Muhammadiyah dan Keraton:
Persekutuan yang Tersembunyi

KH Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah pada 18 November 1912. Yang tidak banyak diketahui adalah betapa eratnya hubungan organisasi ini dengan keraton. Ahmad Dahlan adalah abdi dalem keraton golongan pengulon, seorang ulama birokrat yang berada dalam sistem kesultanan. Ia mendapat dukungan biaya untuk haji keduanya langsung dari kas Keraton Yogyakarta di era Hamengkubuwana VII.
Ketika Muhammadiyah tumbuh dan Ahmad Dahlan mulai dimusuhi kelompok tradisional, bahkan sempat dituduh sebagai ‘Kiai Kafir’, Hamengkubuwana VIII menjadi salah satu figur politik puncak yang menyatakan dukungannya. Ini bukan sesuatu yang mudah: mendukung organisasi yang dianggap membawa pembaruan (tajdid) di tengah masyarakat yang sangat konservatif dalam hal keagamaan memerlukan keberanian posisi.
“Pernikahan Ahmad Dahlan dengan salah satu putri keraton menjadi simbol: Sultan merestui berdirinya Muhammadiyah.”
Sumber-sumber menyebutkan bahwa pernikahan Ahmad Dahlan dengan Raden Ajeng Soetidjah Windyaningrum, yang didasari permintaan keraton adalah tanda restu sultan atas eksistensi Muhammadiyah. Simbiosis ini berlanjut: Muhammadiyah tumbuh, dan Yogyakarta menjadi kandangnya yang subur.
FAKTA
Muhammadiyah berdiri 18 November 1912 dan resmi berbadan hukum 22 Agustus 1914, namun izin awalnya hanya berlaku di Yogyakarta. Pemerintah kolonial Belanda sangat waspada terhadap aktivitas Muhammadiyah. Tanpa perlindungan tidak langsung dari Keraton Yogyakarta, sangat mungkin organisasi ini tertekan lebih awal. Hamengkubuwana VIII adalah penopang diam-diam di balik bertahannya Muhammadiyah di Yogyakarta.
B. Taman Siswa, Kongres Perempuan, dan Iklim Kebangkitan

Masa pemerintahan Hamengkubuwana VIII adalah masa di mana benih-benih kebangkitan nasional bertumbuh subur di Yogyakarta. Ini bukan kebetulan. Iklim yang toleran, didukung kekayaan keraton dan kebijakan terbuka sultan, menciptakan ruang yang kondusif.
Taman Siswa berdiri 3 Juli 1922, setahun setelah Hamengkubuwana VIII naik takhta. Ki Hajar Dewantara mendirikannya dengan filosofi ‘ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani’, sebuah konsep pendidikan berbasis nilai Jawa yang sekaligus merupakan perlawanan terhadap sistem pendidikan kolonial.
Kongres Perempuan Indonesia pertama pada 1929 juga berlangsung di Yogyakarta, di bawah naungan kota yang dijaga sultan ini. Ini adalah kongres yang menyatukan puluhan organisasi perempuan dari seluruh Nusantara, langkah awal yang kemudian melahirkan gerakan emansipasi nasional.
TITIK BALIK
Yogyakarta di bawah Hamengkubuwana VIII menjadi ‘kota inkubator kebangkitan’: Muhammadiyah (1912, mekar 1920-an), Taman Siswa (1922), Organisasi Politik Katholik Jawi (1923), dan Kongres Perempuan Pertama (1929) semuanya tumbuh atau dipentaskan di sini. Sultan tidak mensponsori langsung semua ini, tapi ia memberi iklim, ruang, dan ‘tidak menghalangi.’ Dalam konteks kolonial, itu sudah sangat banyak.
IV. Sultan Pendidikan: Anak-Anak Keraton Belajar di Leiden
Jika ada satu warisan yang paling terasa jangka panjangnya dari Hamengkubuwana VIII, maka itu adalah kebijakan pendidikannya. Ia tidak hanya membiayai sekolah-sekolah kesultanan, ia memutus tradisi menutup anak-anak keraton di dalam tembok istana.
Ia mewajibkan putra-putrinya menempuh pendidikan formal setinggi mungkin, bahkan hingga ke Belanda. Lebih mengejutkan lagi: ia menitipkan anak-anaknya pada keluarga Belanda sejak usia sangat muda, agar mereka mengenal dunia luar dari dekat.
FAKTA
Gusti Raden Mas Dorojatun (kelak Sultan Hamengkubuwana IX) dititipkan pada keluarga Mulder, seorang Belanda yang menjabat kepala sekolah Neutrale Hollands Javaanse Jongens School, sejak usia 4 tahun. Ia dipanggil ‘Henkie’ oleh keluarga angkatnya. Ini adalah keputusan revolusioner: seorang calon sultan dibesarkan bersama orang Belanda untuk memahami pola pikir kolonial dari dalam. Kelak, bekal ini sangat berguna ketika HB IX bernegosiasi keras dengan Gubernur Lucien Adam soal isi kontrak politik.
Dorojatun kemudian dikirim ke Belanda dan belajar di Universitas Leiden, perguruan tinggi bergengsi yang melahirkan banyak orientalis dan sarjana yang justru kemudian mendukung kemerdekaan Indonesia. Di Leiden, Dorojatun berkenalan dengan pemikiran liberal Eropa, ilmu hukum, dan dinamika politik internasional.
Pilihan Hamengkubuwana VIII untuk menyekolahkan anaknya sejauh itu, dan pada waktu yang bersamaan ia juga mendanai sekolah-sekolah kesultanan di Yogyakarta, menunjukkan visi yang jauh melampaui peran seorang raja vassal yang sekadar patuh kepada Belanda.
“Ia tidak sekadar menyekolahkan anaknya ke Belanda. Ia sedang mencetak pemimpin masa depan yang paham cara berpikir penjajahnya.”
V. Masa Keemasan Budaya: Keraton Sebagai Pusat Peradaban

A. Arsitektur: Merawat Rumah Leluhur
Hamengkubuwana VIII memanfaatkan kekayaan kesultanan untuk melakukan rehabilitasi besar-besaran pada kompleks keraton. Bangsal Pagelaran di sisi selatan alun-alun utara dipugar. Tratag Siti Hinggil diperkuat. Gerbang Danapratapa diperbarui. Masjid Gedhe mendapat perhatian serius.
Bentuk fisik Keraton Yogyakarta yang kita lihat hari ini, dalam banyak bagiannya, adalah hasil sentuhan tangan Hamengkubuwana VIII. Ia merawat warisan sebagai tanggung jawab, bukan sekadar simbol kekuasaan.
B. Wayang Wong: Tiga Hari Tiga Malam di Halaman Keraton
Jika ada satu bidang yang menjadi simbol kemewahan budaya masa Hamengkubuwana VIII, itu adalah wayang wong. Di era inilah seni pertunjukan Jawa yang menggabungkan tari, drama, musik gamelan, dan sastra mencapai puncaknya.
Pementasan wayang orang di keraton pada masa ini bisa berlangsung tiga hari tiga malam tanpa henti. Lebih dari 20 lakon dikembangkan. Ratusan penari, pengrawit, dan pengisi cerita terlibat dalam setiap pagelaran besar. Ini bukan sekadar hiburan, ini adalah pernyataan keagungan peradaban.
FAKTA BUDAYA
Masa Hamengkubuwana VIII disebut para sejarawan seni sebagai ‘zaman keemasan wayang wong gaya Yogyakarta.’ Menurut Soedarsono dalam Wayang Wong: The State Ritual Dance Drama in the Court of Yogyakarta, pertunjukan wayang orang di keraton bukan sekadar seni hiburan, ia adalah ritual kenegaraan dan klaim legitimasi atas warisan Mataram Islam. Di bawah HB VIII, setiap pagelaran besar bisa memakan waktu lebih dari tiga hari dengan mengembangkan lebih dari 20 lakon.
C. Revolusi Tari: Membuang Kampuh, Memakai Jamang
Hamengkubuwana VIII juga melakukan terobosan dalam tari klasik. Dalam repertoar Tari Bedaya yang sakral, ia melakukan perubahan busana yang cukup radikal untuk zamannya: meninggalkan kampuh dan paes ageng, menggantinya dengan jamang, bulu-bulu, baju tanpa lengan, dan kain seredan.
Sejumlah tarian baru lahir pada masa ini: Beksan Srimpi Layu-Layu, Beksan Gathutkaca-Suteja, Bedaya Gandrung Manis, Bedaya Kuwung-Kuwung. Dan yang lebih penting: pembakuan pakem tari klasik gaya Yogyakarta dimulai pada era ini, fondasi bagi Yogyakarta sebagai ‘kota tari’ yang kita kenal sekarang.
TITIK BALIK SENI
Sebelum era Hamengkubuwana VIII, seni tari keraton adalah domain eksklusif yang tertutup. Putra Sultan Hamengkubuwana VII, GPH Tejokusumo dan BPH Suryodiningrat, mendirikan Kridha Beksa Wirama pada 1918, perkumpulan tari pertama yang terbuka untuk masyarakat umum. HB VIII melanjutkan dan memperkuat tradisi ini: tari Yogyakarta mulai ‘keluar tembok’ dan menjadi milik rakyat.
VI. Penghargaan Internasional: Sultan Jawa di Panggung Dunia
Hamengkubuwana VIII adalah salah satu penguasa lokal di Hindia Belanda yang paling banyak menerima penghargaan internasional di era kolonial. Daftar tanda kehormatan yang diterimanya mencerminkan posisi Kesultanan Yogyakarta sebagai entitas yang diperhitungkan di dunia diplomasi Eropa:
Grand Cross of the Order of Orange-Nassau dari Belanda (1937), Commander of the Order of the Netherlands Lion (1925), Grand Cross of the Order of the Wendish Crown dari Mecklenburg, Grand Cross of the Royal Order of Cambodia, Grand Cross of the Order of the Black Star of Benin dari Prancis, Knight Commander of the Most Noble Order of Thailand (1929), Grand Officer of the Order of Leopold II dari Belgia, Commander 1st Class of the Order of Vasa dari Swedia, serta Grand Officer of the Order of the Million Elephants and White Parasol dari Luang Prabang (Laos).
DEBAT ILMIAH
Penghargaan internasional yang berlimpah ini memunculkan pertanyaan kritis: apakah ini cerminan kebesaran sultan, atau alat kolonial untuk menjaga loyalitas penguasa lokal? Sejarawan berbeda pandangan. Satu sisi melihat penghargaan ini sebagai pengakuan internasional tulus atas peran diplomatik kesultanan. Sisi lain menganggapnya sebagai mekanisme co-optation kolonial: memberi bintang agar raja-raja Jawa merasa ‘terhormat’ dan tidak memberontak. Seperti biasa dalam sejarah kolonial, kebenarannya ada di antara dua posisi ini.
VII. Misteri Kematian: Antara Wates dan Kroya
22 Oktober 1939. Ini adalah salah satu tanggal yang paling dramatis dalam sejarah Kesultanan Yogyakarta modern.
Hamengkubuwana VIII berangkat ke Batavia (Jakarta) untuk menjemput putranya, GRM Dorojatun, yang baru kembali dari Belanda. Di Hotel des Indes Batavia, keduanya bertemu. Sultan, dengan tangannya yang mulai melemah, menyematkan keris Kyai Ageng Jaka Piturun di tubuh Dorojatun, keris yang secara tradisional hanya diserahkan kepada orang yang diinginkan menjadi penerus takhta. Itu adalah isyarat yang tak perlu diucapkan dengan kata-kata.
Setelah tiga hari agenda di Batavia, termasuk menghadiri makan malam di Istana Gubernur Jenderal, rombongan kerajaan kembali ke Yogyakarta dengan kereta Eendaagsche Express.
“Keris itu sudah berpindah tangan. Takhta sudah dipilihkan. Dan Sultan tahu ia tidak akan sempat pulang.”
BATAS KLAIM — ADA DUA VERSI
Versi 1 (populer): Sultan wafat di atas kereta api di daerah Wates, Kulon Progo, dalam perjalanan pulang dari Batavia. Versi 2 (beberapa sumber primer): Sultan jatuh sakit di dalam kereta di wilayah Kroya, kemudian dibawa dan dirawat di Rumah Sakit Onder de Bogen (kini Panti Rapih, Yogyakarta), dan menghembuskan nafas terakhir di sana pada 22 Oktober 1939. Kedua versi ini belum sepenuhnya direkonsiliasi dalam sumber akademis. Yang pasti: ia tidak sempat kembali ke keraton yang dicintainya sebagai sultan yang masih hidup.
GRM Dorojatun yang belum sempat menyelesaikan studinya di Leiden mendadak harus menghadapi kenyataan: ia adalah sultan. Namun proses penobatan tidak berlangsung cepat. Selama empat bulan (November 1939 – Februari 1940), Dorojatun bernegosiasi keras dengan Gubernur Lucien Adam mengenai isi kontrak politik, dan dalam hampir semua poin ia berhasil mempertahankan posisi kesultanan. Inilah buah dari pendidikan yang ditanamkan Hamengkubuwana VIII.
Hamengkubuwana IX resmi dinobatkan pada 18 Maret 1940. Sang ayah telah menyiapkan segalanya.
VIII. Warisan yang Tidak Tertulis di Buku Teks
Hamengkubuwana VIII tidak termasuk sultan yang namanya paling sering disebut-sebut dalam buku pelajaran. Ia bukan pahlawan dengan kisah pertempuran heroik. Ia bukan revolusioner yang berpidato di alun-alun.
Tapi itulah yang membuatnya berbeda.
Ia adalah sultan yang bekerja di dalam sistem kolonial sambil diam-diam merusak fondasi sistem itu dari dalam. Ia mendukung Muhammadiyah ketika banyak yang ragu. Ia memberi ruang bagi Taman Siswa. Ia membiarkan Kongres Perempuan tumbuh. Ia mendidik putranya agar kelak bisa bernegosiasi setara dengan orang Eropa. Ia membuang lambang Belanda dari simbol kesultanannya. Dan ia memastikan bahwa pewaris tahtanya sudah siap, bahkan sebelum ia sendiri wafat.
“Hamengkubuwana VIII tidak memimpin dengan pedang. Ia memimpin dengan benih, dan benih itu tumbuh menjadi pohon bernama merdeka.”
Ia dimakamkan di Astana Saptarengga, Pajimatan Imogiri, bersama para pendahulunya. Komplek makam yang sama yang menjadi persemayaman terakhir para Sultan Mataram sejak abad ke-17.
Di sana, di Imogiri, ia beristirahat. Tapi di Yogyakarta yang kita kenal hari ini, dengan tradisi tarinya, semangat pendidikannya, lambang keratonnya, dan identitas Islamnya yang modern, Hamengkubuwana VIII masih hadir, diam-diam, di setiap sudut.
Bibliografi dan Rujukan Utama
Sumber Akademis & Primer:
- Soedarsono. Wayang Wong: The State Ritual Dance Drama in the Court of Yogyakarta. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1984.
- Salam, Junus. K.H. Ahmad Dahlan: Amal dan Perjuangannya. Yogyakarta: 2009.
- Ricklefs, M.C. A History of Modern Indonesia Since c.1200. Stanford: Stanford University Press, edisi-edisi berbagai tahun.
- Sri Sultan: Hari-Hari Hamengku Buwono IX. Jakarta: 1988. [Buku biografi HB IX, berisi informasi tentang masa kecil di era HB VIII].
- Burhani, Ahmad Najib. Muhammadiyah Jawa. Yogyakarta, berbagai edisi.
- Situs Resmi Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. kratonjogja.id — halaman Sri Sultan Hamengku Buwono VIII dan VII. Diakses 2026.
- Museum Ullen Sentalu, Yogyakarta. Kajian: ‘Sultan Hamengkubuwana VIII: Raja Jawa Visioner dari Awal Abad XX.’ ullensentalu.com, 2023.
- Media, Kompas Cyber. ‘Biografi Sri Sultan Hamengkubuwono VIII.’ Kompas.com, 20 Desember 2022.
- Wibowo, A.S. (1981), dikutip dalam Dosenpendidikan.co.id, ‘Wayang Orang Adalah.’ 2023.
Yogyakarta, 05 Mei 2026
Sumber Artikel: Facebook Mohammad Basyir

