Demokrasi Kecoa: Tak Bersenjata, namun Berbahaya

Pengantar Redaksi

Tanggal 23 Juli 2026, kanal https://thewire.in/rights/cockroach-democracy-unarmed-and-dangerous, menerbitkan artikel Arundhoti Roy, seorang novelis, esais, dan aktivis politik asal India, berjudul  “cockroach-democracy-unarmed-and-dangerous.” Dalam artikel tersebut, Arundhati Roy menggambarkan lahirnya Cockroach Janata Party sebagai ledakan perlawanan anak muda India terhadap pengangguran, kebocoran soal ujian, ketidakadilan hukum, dan memburuknya tata pemerintahan. Berawal dari penghinaan Ketua Mahkamah Agung yang menyebut pemuda pengangguran sebagai “kecoa”, gerakan digital itu berkembang menjadi aksi besar menuju Parlemen. Bagi Roy, keberanian, humor, serta solidaritas lintas agama, kasta, dan kelas dalam demonstrasi tersebut memperlihatkan kemungkinan hadirnya India yang lebih demokratis dan setara.

Roy menilai gerakan itu belum tentu langsung menghasilkan perubahan politik karena belum ditopang organisasi dan kekuatan oposisi yang solid. Namun, kemunculannya menjadi tanda bahwa ketakutan masyarakat mulai retak di tengah represi negara, pelemahan lembaga demokrasi, krisis kewarganegaraan, ketimpangan ekonomi, dan kerusakan lingkungan. Energi anak muda tersebut perlu dijaga melalui aksi damai, disiplin menghadapi provokasi, solidaritas sosial, serta kerja politik jangka panjang agar tidak berhenti sebagai kemarahan sesaat.

Berikut ini adalah terjemah bebas dan ringkasan redaksi dari artikel Roy. Foto dan capiton berasal dari artikel tersebut. Selamat menikmati.

Dapatkah seluruh rakyat terus-menerus diperdaya? Dapatkah sebuah negeri berpenduduk satu setengah miliar jiwa diseret seperti mayat untuk selamanya? Tidak. “Kecoa-kecoa” telah keluar dan bergerak.

Petugas keamanan menahan seorang demonstran dalam pawai menuju Parlemen pada 20 Juli. Foto: PTI.

Ketika “Kecoa” Menjadi Nama Perlawanan

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, menjadi orang India kembali terasa menggembirakan. Ketika harapan hampir habis, muncul generasi muda yang mengubah penghinaan menjadi bahasa perlawanan. Ketua Mahkamah Agung India, Surya Kant, menyebut sejumlah pemuda pengangguran sebagai “kecoa”. Abhijeet Dipke, mahasiswa yang tinggal di Boston, menjawab melalui Instagram, “Bagaimana jika semua kecoa berkumpul?” Jutaan orang merespons. Dari sana lahir Cockroach Janata Party, Partai Rakyat Kecoa.

Tuntutan pertama mereka adalah pengunduran diri Menteri Pendidikan Dharmendra Pradhan. Kebocoran soal ujian publik terjadi berulang kali; partai-partai oposisi memperkirakan sedikitnya 152 kasus sejak 2014. Jutaan anak muda belajar bertahun-tahun, sementara sebagian orang tua menjual tanah atau rumah untuk membiayai pendidikan dan ujian. Ini adalah bentuk pemerasan legal yang menghancurkan masa depan. Setelah kebocoran terbaru soal NEET, dua belas pelajar yang remuk oleh tekanan dilaporkan meninggal karena bunuh diri.

Potret aktivis Sonam Wangchuk, salinan Konstitusi India, dan Ramcharitmanas dipajang di Jantar Mantar dalam demonstrasi yang masih berlangsung, New Delhi, Selasa, 21 Juli 2026. Foto: PTI/Salman Ali.

Dari Dunia Maya ke Jantar Mantar

Kemarahan daring segera menjelma gerakan di jalan. Dipke kembali dari Boston pada 6 Juni dan langsung menuju Jantar Mantar. Sonam Wangchuk, aktivis dan pembaru pendidikan dari Ladakh, bergabung dalam mogok makan tanpa batas waktu. Enam mahasiswa All India Students Association ikut berpuasa. Ketika kondisi mereka memburuk, anak-anak muda yang semula memenuhi internet datang secara nyata. Mereka mengumumkan pawai menuju Parlemen pada 20 Juli. Dua hari sebelumnya, polisi mengambil Wangchuk dari panggung dan menahannya di rumah sakit, tetapi ia tetap berpuasa.

Sejak dini hari, orang tiba di Delhi dengan kereta, bus, pesawat, dan metro. Puluhan ribu orang mengalir ke Jantar Mantar. Satu generasi yang menyaksikan masa depannya dipadamkan hendak merebut kembali martabat sebagai rakyat, sebagai sebuah negeri, dan sebagai warga negara demokratis. Keberanian serta humor mereka mengusir rasa takut. Pengunduran diri seorang menteri segera tampak kecil dibanding kebusukan tata pemerintahan dari atas hingga bawah.

Pemerintah dan aparat keliru menghitung besarnya gelombang itu. Jalan, bus, dan stasiun metro diblokade; jaringan internet berusaha dikacaukan. Generasi yang tumbuh bersama internet menjawab dengan meme dan video. Di tengah massa, perempuan muda merasa aman, walaupun sebagian mengaku diraba polisi. Muslim, Hindu, Kristen, Sikh, Buddha, serta warga dari berbagai kasta dan kelas saling membantu dan melindungi. Mereka memperlihatkan India yang mungkin terwujud, sebuah negeri yang berdiri melampaui batas agama, kasta, kelas, etnis, dan gender.

Aparat mengelas barikade, membawa truk berisi batu dan kendaraan yang telah dirusak, serta mengerahkan orang-orang berpakaian sipil dengan pentungan. Rapid Action Force melepas tanda nama dari seragam. Polisi mengayunkan lathi dan menembakkan gas air mata. Namun barisan tetap bergerak menuju Parlemen, bahkan ketika senapan AK-47 diarahkan kepada mahasiswa yang tidak bersenjata. Pawai itu menanggalkan sarung tangan beludru yang menutupi tangan besi kekuasaan.

Para demonstran menutup wajah setelah polisi menembakkan gas air mata di dekat Parliament House, bundaran Windsor Place, Hotel Le Méridien, New Delhi, Senin, 20 Juli 2026. Foto: PTI/Atul Yadav.

Ketika Ketakutan Berbalik Arah

Saat para demonstran mendekat, Perdana Menteri dibawa ke tempat aman. Anggota Parlemen dicegah meninggalkan gedung Samvidhan Sansad. Polisi merobohkan panggung utama, tetapi malam harinya massa merebutnya kembali. Ketika polisi mundur, para “kecoa” memberi tepuk tangan berdiri, sindiran getir kepada aparat yang telah memukul anak-anak.

Sebuah demonstrasi besar tidak otomatis menghasilkan perubahan politik, tetapi menyebutnya ledakan sesaat juga keliru. Media segera dipenuhi desas-desus tentang dana asing dan persekongkolan CIA. Sebagai seorang andolanjeevi, ejekan Narendra Modi bagi orang yang hidup di dalam Gerakan, saya mula-mula waspada. Saya khawatir gelombang ini mengulang gerakan antikorupsi Anna Hazare pada 2011, yang akhirnya membuka jalan bagi tiga masa pemerintahan sebuah partai yang merusak lembaga negara, menghapus jarak antara partai dan pemerintah, serta mempermalukan India di dunia internasional.

Kecurigaan saya surut ketika media arus utama justru memusuhi Partai Rakyat Kecoa. Dipke berasal dari komunitas Dalit, tetapi identitas itu tidak menjadi pusat gerakan. Titik paling menentukan adalah ucapannya, “Seandainya nama saya Khalid, atau saya seorang Muslim, saya pasti sudah dipenjara.” Hukum tidak bekerja sama bagi semua orang; perlakuan ditentukan agama, kasta, kelas, etnis, dan gender.

Nama “Khalid” mengingatkan saya kepada Umar Khalid, Sharjeel Imam, dan banyak orang lain yang hampir enam tahun dipenjara tanpa persidangan. Umar justru menyerukan aksi tanpa kekerasan ketika Delhi diguncang pembakaran, pembunuhan, dan perusakan masjid pada 2020. Permohonan jaminannya ditolak berulang kali. Keberanian Dipke menyebut ketimpangan ini penting ketika politikus oposisi pun menghindari kata “Muslim” dan memilih istilah samar “komunitas minoritas”.

Para demonstran berbaris menuju Parlemen untuk menuntut pengunduran diri Menteri Pendidikan India Dharmendra Pradhan. Foto: PTI/Atul Yadav.

Gerakan Tanpa Mesin Politik

Melihat massa terus membesar, saya bersyukur mayoritas peserta bukan Muslim, Sikh, Kristen, Adivasi, atau warga Kashmir. Jika salah satu kelompok itu mendominasi, mereka mungkin telah dihancurkan, ditembak, dipenjara, atau dibutakan. Mayoritas Hindu memberi perlindungan relatif, sekaligus menunjukkan betapa menyedihkannya keadaan India. Perlindungan itu tetap rapuh ketika ribuan pasukan paramiliter didatangkan dari negara-negara bagian lain.

Gerakan ini berbeda dari mobilisasi Anna Hazare. Pada 2011, ratusan stasiun televisi korporasi memberikan liputan tanpa henti, sementara RSS mengambil alih momentum dan BJP bersiap memetik keuntungan elektoral. Partai Rakyat Kecoa bertumpu pada dirinya sendiri dan internet. Tidak ada partai oposisi terorganisasi yang siap meneruskan kemarahan menjadi kerja politik. Energi spontan dapat menyusut apabila kaum dewasa dan partai oposisi terus berebut posisi. Negara memiliki kemampuan untuk menunggu; rakyat tidak memiliki kemewahan waktu yang sama.

Perlawanan ini bukan pengulangan pemberontakan anak muda di Bangladesh, Nepal, atau Sri Lanka. India terlalu luas untuk mengikuti pola yang sama. Gerakan ini juga berbeda dari mobilisasi Jayaprakash Narayan yang menjatuhkan Indira Gandhi pada 1977. Partai Rakyat Kecoa merupakan hasil khas zamannya: anak-anak muda yang rentan berhadapan dengan pemerintahan yang bengis dan pendendam. Pembalasan terhadap mereka yang dianggap sebagai penggerak utama hampir pasti sedang dirancang.

Pertanyaan terbesarnya adalah bagaimana kemarahan moral dapat menjadi organisasi politik tanpa kehilangan keterbukaan, keberagaman, dan humor. Pawai telah menunjukkan solidaritas lintas identitas serta keberanian melawan ketakutan. Untuk mengubah tata pemerintahan, solidaritas itu memerlukan kerja jangka panjang, dukungan sosial yang luas, dan kekuatan oposisi yang mampu melampaui perselisihan sempit.

Amit Bhatnagar, pemimpin protes terhadap proyek penghubung Sungai Ken–Betwa dan proyek pembangunan lain, dalam aksi di Distrik Chhatarpur, Madhya Pradesh, Minggu, 19 Juli 2026. Foto: PTI.

Kemarahan dari Berbagai Penjuru

Pemberontakan “kecoa” berlangsung ketika protes lain bergerak di seluruh India. Masyarakat Adivasi di Madhya Pradesh menolak proyek penghubung Sungai Ken–Betwa. Warga Uttarakhand menentang penebangan pohon. Gerakan lingkungan memprotes perusakan Kepulauan Nicobar Besar. Manipur bergolak, pekerjaan menghilang, harga naik, dan kemarahan menumpuk. Permainan BJP–RSS yang memakai nama Tuhan semakin tersingkap. Skandal Kuil Ram di Ayodhya menyerupai naskah film buruk: guru agama dan politikus membangun hotel, menimbun tanah, serta menggemukkan diri dari iman kaum miskin.

Dapatkah energi ini menarik India keluar dari lubang? Sejarah gerakan rakyat tidak memberi alasan mudah untuk optimistis. Pada 1960-an dan 1970-an, berbagai gerakan, termasuk pemberontakan Naxalite, menuntut redistribusi kekayaan dan tanah kepada penggarap. Mereka dihancurkan. Pada 1980-an dan 1990-an, Narmada Bachao Andolan dan kelompok Maois melawan penggusuran petani serta masyarakat adat. Tuntutannya telah menyusut: bukan memperoleh kekayaan baru, tetapi mempertahankan apa yang masih dimiliki kaum miskin. Mereka pun dihancurkan.

Memasuki 2000-an, cakrawala tuntutan menyempit lagi. Rakyat diminta bersyukur atas National Rural Employment Guarantee Act, hak atas tiga bulan pekerjaan dengan upah minimum. Pemerintahan sekarang menyingkirkan jaminan itu dan menggantinya dengan bantuan pangan pada batas bertahan hidup—karung bahan pokok bergambar wajah Modi yang dilemparkan seperti sedekah, dengan harapan dibalas rasa terima kasih dan suara. Ketika ekonomi goyah, bahkan bantuan minimal itu terancam.

Sejarah ini menunjukkan penyusutan ambisi: dari redistribusi kekayaan, mempertahankan tanah, memperoleh pekerjaan sementara, hingga bertahan hidup dari jatah pangan. Kekuatan Partai Rakyat Kecoa terletak pada kemampuannya mengembalikan martabat ke jantung politik. Kebocoran ujian dan pengangguran terhubung dengan kerusakan lembaga, ketimpangan ekonomi, perampasan lingkungan, serta pengabaian hak warga.

Warga menata dokumen mereka dalam sidang Special Intensive Revision (SIR) atas daftar pemilih di Nadia, Benggala Barat. Foto: PTI.

Hak Memilih, Kewarganegaraan, dan Masa Depan

Pada 2026, perjuangan rakyat menyusut sampai pada hak paling dasar: hak memilih dan pengakuan sebagai warga negara. Citizenship Amendment Act dan National Register of Citizens mengingatkan pada Undang-Undang Nuremberg 1935, ketika status warga ditentukan oleh dokumen keturunan. Protes CAA–NRC mereda setelah demonstran dibunuh dan aktivis dipenjarakan, tetapi tekanan publik sempat memperlambat penerapannya. Kini mekanisme itu kembali sebagai Special Intensive Revision atau SIR atas daftar pemilih. Bahkan paspor disebut tidak memadai sebagai bukti kewarganegaraan. Jutaan orang mencari dokumen warisan keluarga dan bertanya apakah mereka sah, memiliki hak, atau kelak dimasukkan ke pusat penahanan bagi “warga yang diragukan”.

Mengapa rezim yang makin tidak populer tetap percaya diri dan menolak konsesi? Mesin pemilu telah dikuasai. Komisi Pemilihan tidak lagi netral, daftar pemilih menghapus jutaan warga nyata sambil memuat nama hantu, birokrasi dan polisi kehilangan kemandirian, pengadilan menunda atau menutup mata, pers tunduk, dan batas daerah pemilihan disusun untuk menguntungkan BJP. Partai penguasa memiliki kekayaan luar biasa serta dukungan para industrialis terkaya. Ia merasa dapat membeli apa pun dan siapa pun.

Namun dapatkah permainan ini berlangsung selamanya? Dapatkah semua orang terus diperdaya? Dapatkah negeri berpenduduk satu setengah miliar jiwa diseret seperti mayat tanpa akhir? Tidak. Para petani kembali bergerak menuju Delhi untuk menolak kesepakatan dagang India–Amerika Serikat yang mereka anggap sebagai surat kematian bagi pertanian. Perbatasan kota ditutup, tetapi itu mungkin tidak menghentikan mereka. Kita dapat belajar dari petani dan para “kecoa” tentang cara menjadi sedikit berbahaya bagi kekuasaan yang tidak mau mendengar.

Anak muda telah memberikan hadiah berupa keberanian. Tanggung jawab kita adalah membuat keberanian itu berarti. Rezim tidak akan mudah pergi dan tidak akan menerima penghinaan di jalan ibu kota. Darah mungkin tertumpah. Kemarahan kaum muda dapat memberi alasan kepada polisi untuk menembak. Kekuasaan akan berusaha memecah kita; kita harus mencegahnya. Jika seorang perdana menteri telah melarikan diri secara fisik dari hadapan demonstran, mungkin tidak lama lagi ia harus melarikan diri secara politik. Masa depan gerakan bergantung pada kemampuan menjaga keberanian tetap tidak bersenjata, disiplin menghadapi provokasi, dan mengubah satu hari yang mengguncang Delhi menjadi kerja demokrasi yang panjang.

Related Articles

Artikel baru