Bukan Sekadar “In Trouble”, Tapi “Deep Trouble”

Saya sedang di Manila, 03-05 Des. Di markas besar ADB. Di acara 11th ADB International Education and Skills Forum. Bersama saya ada tim dari ADB Indonesia, Bappenas, Kemendikdasmen dan Kemendiktisaintek. Hadir pula Dirjen Risbang, Pak Fauzan Adziman. Beliau didapuk sebagai pembicara di sesi plenary “Big bold ideas for the future education” dan panelis di sesi regional “Southeast Asia”.

Pesertanya beragam. Dari tetangga dekat, hingga yang jauh seperti Pakistan, Mongolia, sampai kepulauan Solomon.

Temanya menarik. “Applying a Fresh Lens to Unlock the Power of Human Capital”.

ADB, lembaga keuangan yang mempromosikan pembangunan sosial dan ekonomi yang berkelanjutan. Inklusif, dan tangguh di seluruh Asia dan Pasifik. Juga berupaya memberantas kemiskinan ekstrem di wilayah tersebut.

Mereka sadar. Uang saja tidak cukup. Infrastruktur fisik saja tidak cukup.

Jalan tol dan jembatan tidak akan membuat negara otomatis maju. Tidak, kalau manusianya tidak siap. Maka forum ini bicara soal skills. Soal future jobs. Soal tantangan dan disrupsi sistem pendidikan.

Tapi, di tengah diskusi soal Digital Transformation dan Green Skills, saya mendapatkan insight menarik dari satu sesi. Moderator bertanya sederhana, model kepemimpinan apa yang efektif untuk tantangan sekompleks ini?

Salah satu panelis lantas bercerita tentang seorang mantan Menteri Pendidikan Peru. Saat itu, kondisi pendidikan Peru hancur. Hasil tes PISA mereka jeblok. Ada di papan bawah dunia. Memalukan.

Biasanya, kalau dihadapkan data seburuk itu, jurus “ngeles”nya sudah standar. Menyalahkan pemerintahan sebelumnya. Menyalahkan kurikulum warisan. Atau menyalahkan kondisi geografis yang sulit.

Tapi menteri yang satu ini beda. Di depan publik, dia tidak mencari alibi. Dia justru melempar kalimat menggugah.

“We’re not in trouble. We’re in deep trouble.” Kita tidak sedang dalam masalah. Kita sedang dalam masalah besar.

Pengakuan ini mahal. Pengakuan ini adalah titik nol perubahan. Dari sinilah saya mencatat tiga resep kepemimpinan.

Pertama, Ownership of the Problems. Menteri itu mengambil alih beban. Dia tidak melempar kesalahan ke guru yang kurang kompeten. Tidak menyalahkan murid yang malas. Dia bilang, ini tanggung jawab saya.

Dia mengakui bahwa sistemnya sakit. Mengakui sakit itu setengah dari kesembuhan. Selama pemimpin masih merasa “baik-baik saja” padahal datanya merah, selama itu pula kita jalan di tempat.

Kedua, Evidence-Based Plan and Action. Dia pakai data. Dia melakukan benchmarking. Dia membentuk Advisory Panel yang isinya para ahli. Dia menyusun daftar Do and Don’t yang ketat.

Fokusnya satu. Outcome. Hasil nyata dalam waktu singkat. Bukan sekadar serapan anggaran yang penting habis.

Ketiga, Setting Ambitious but Realistic Goals. Dia tahu masalahnya dalam (deep trouble). Maka targetnya tidak boleh receh. Targetnya harus ambisius.

Kalau targetnya biasa-biasa saja, birokrasinya akan bekerja dengan speed normal. Padahal ini kondisi darurat. Target ambisius itu memaksa mesin birokrasi bekerja berkali kali lipat lebih keras.

Tapi ingat kuncinya. Realistic. Ambisius tapi ngawur itu bunuh diri. Ambisius tapi terukur itu strategi.

Kita sering terjebak di zona nyaman. Merasa sudah hebat. Merasa baik-baik saja. Termasuk saat menangani bencana alam.

Kita sedang berduka. Saudara-saudara kita sedang menderita di Aceh dan Sumatera. Banjir Bandang. Ini ujian nyata bagi tesis kepemimpinan tadi.

Mudah sekali bagi kita untuk menyalahkan curah hujan. Menyalahkan cuaca ekstrem. Menyalahkan takdir. Itu zona nyaman kita. Menganggap ini trouble biasa. Rutinitas periodik.

Tapi apakah ada yang punya nyali untuk berdiri tegap dan berkata jujur, “Tata kelola lingkungan kita hancur. Kita sedang in deep trouble.”?

​Di Manila ini, kita sibuk bicara tentang Future Skills dan Human Capital. Tapi kita lupa satu hal mendasar.

​Apa gunanya menyiapkan skill masa depan jika tempat hidupnya kita rusak hari ini?

​Tanpa kejujuran untuk membenahi lingkungan secara radikal, kita tidak sedang mewariskan masa depan. Kita sedang mewariskan bencana. Dan itu bukan sekadar trouble. Itu pengkhianatan terhadap generasi mendatang.

AMH

Tentang Penulis:

Prof. Agus Muhamad Hatta, S.T., M.Si., Ph.D. adalah Wakil Rektor 4, ITS Surabaya, yang Bertanggung Jawab atas Bidang Riset, Inovasi, Kerja Sama, dan Kealumnian.

Artikel ini dimuat atas izin penulisnya.

Prof. Agus Muhamad Hatta, S.T., M.Si., Ph.D
Prof. Agus Muhamad Hatta, S.T., M.Si., Ph.D
Wakil Rektor Bidang Inovasi, Kerja Sama, dan Kealumnian ITS untuk 2024-2029.

Related Articles

Artikel baru