Benar: Dari Puisi ke Kesadaran Kelas Buruh Indonesia

Setiap Hari Buruh, ada satu puisi yang selalu saya ingat.

BENAR
Karya: Andi Munadjat

benar kami hanya rakyat jelata
tapi negeri inipun kami punya
hak kami tak bisa kau rampas
benar kami hanya buruh biasa
tapi kami pun punya harga diri
tanpa kami ….
pabrik adalah rumah-rumah hantu
mesin adalah rongsokan tak berguna
dan modal hanya sejumlah angka
sebab uang bukanlah babi yang
bisa beranak

(Sumber: Volume II, Nyanyian Akar Rumput, Album Lagu Perjuangan Demokratik, Sanggar Satu Bumi)

Puisi ini pertama kali saya temukan dalam majalah terbitan BPMF Pijar Fakultas Filsafat UGM. Kalau tidak salah, terbitan tahun 1996, yang di cover-nya berjudul atau bertema “Reformasi atau Revolusi”.

Dua tahun sebelum akhir kekuasaan Orde Baru, Pijar, pers kampus Filsafat UGM, sudah menyuarakan frasa ini.

Bertahun-tahun setelah itu, puisi Andi Munadjat ini selalu saya ingat pada saat Hari Buruh. Kalau tidak salah, pernah saya bacakan saat demonstrasi mahasiswa dan rakyat pada Hari Buruh.

Ketika menjadi bagian dari kelas buruh, selepas mahasiswa, puisi ini memang selalu saya kenang. Sayangnya, tidak saya catat atau simpan dokumentasi majalahnya.

Sehingga pada tahun ini, ketika saya mencoba mencarinya lewat salah satu mesin pencari online, saya tidak menemukan puisi ini secara lengkap.

Baru kemudian, setelah saya bertanya kepada salah seorang senior Filsafat UGM, seniman dan pegiat kebudayaan, ternyata beliau masih memiliki dokumentasi utuh teks puisi tersebut.

Melalui foto dokumentasi puisi tersebut dari beliaulah tulisan ini saya buat.

Kata-kata yang membuat bulu roma saya berdiri sesungguhnya adalah:
“Benar kami hanya buruh biasa… tanpa kami pabrik adalah rumah-rumah hantu, mesin adalah rongsokan tak berguna, modal hanya sejumlah angka, sebab uang bukanlah babi yang bisa beranak.”

Kesadaran inilah yang seharusnya dimiliki oleh mayoritas kaum buruh Indonesia. Bahwa tanpa mereka, sistem yang menuhankan modal alias kapitalisme tidak berjalan. Kaum buruhlah yang menggerakkan kapitalisme, dan mereka pulalah yang mampu menghentikan serta mengubah sistem penindasan manusia atas manusia ini menjadi sistem yang menghargai manusia dan berkeadilan sosial, atau sosialisme.

Persoalannya kemudian, pada masa sekarang, hal tersebut sangat sulit untuk menjadi kenyataan. Mengapa demikian? Penindasan manusia atas manusia sepertinya sudah diterima begitu saja tanpa perlawanan dari kaum tertindas.

Perlawanan untuk meminta kenaikan upah atau penghidupan yang layak untuk kaum buruh akan berhenti begitu saja jika konsesi antara pemimpin buruh, pemodal (kelas borjuis), dan pemerintah terjadi, walaupun konsesi tersebut sama sekali tidak menguntungkan buruh.

Masalahnya bukan hanya sekadar alienasi belaka, akan tetapi bagaimana kemudian hasil kerja kaum buruh dirampas oleh pemilik modal (borjuis) melalui mekanisme nilai lebih. Sederhananya, seorang buruh yang menghasilkan produk seharga ratusan ribu atau jutaan rupiah per hari, dalam kenyataannya hanya menerima upah beberapa juta setiap bulannya.

Belum lagi uang lembur, waktu rekreasi keluarga yang hilang karena jam kerja yang panjang, dan lain-lain. Indonesia masih menerapkan jam kerja minimal 40 jam kerja per minggu untuk pekerja tetap. Kadang, bahkan beberapa perusahaan menerapkan 45 jam, dan kaum buruh di sana tak bisa berbuat apa-apa karena kekuasaan dan uang tidak memihak mereka.

Hari ini, pada tanggal 1 Mei 2026 ini, sekali lagi saya menyerukan supaya para buruh sadar bahwa merekalah yang menggerakkan sistem kapitalisme, dan kaum pemilik modal serta pemerintah yang pro-pemodal lah yang mengambil keuntungan darinya, bukan mereka (kaum buruh).

Jangan hanya mau terilusi dengan seorang presiden yang fasih menyanyikan lagu Internasionale, akan tetapi masih membiarkan sistem penindasan manusia atas manusia berjalan begitu saja, dan malah ikut mengambil keuntungan dari sistem itu.

Jadi, jika memang benar mereka—kaum buruh—mau sejahtera, maka sistemnya harus diubah menjadi sistem yang digerakkan oleh buruh dan menguntungkan secara lahir batin, entah apa namanya. Yang jelas, itulah esensi dari sistem itu.

Siapa yang akan mengubahnya?

Ya jelas kaum buruh sejati lah yang harus mengubahnya, bukan individu-individu yang mengatasnamakan diri sebagai perwakilan kaum buruh, tetapi ketika mereka mendapat uang dan kekuasaan, tidak ada sama sekali yang dialirkannya ke kaum buruh, atau dengan kata lain tidak memberi keuntungan dan manfaat yang berarti bagi hidup kaum buruh dan rakyat tertindas secara keseluruhan.

Selamat Hari Buruh!

Harsa Permata
Harsa Permata
Alumni Filsafat UGM, Dosen di berbagai universitas di Yogyakarta.

Related Articles

Artikel baru