Barangkali tidak ada kata yang hari ini lebih menegangkan bagi seorang lulusan perguruan tinggi selain kata bekerja. Begitu wisuda selesai, kata itu berubah menjadi semacam gerbang pengadilan. Pertanyaan pertama yang datang bukan lagi, “Apa yang sedang kamu pikirkan?” atau “Apa yang ingin kamu ciptakan?”, melainkan, “Sudah bekerja?”
Kata bekerja akhirnya kehilangan keluasan maknanya. Ia direduksi menjadi satu hal saja: memperoleh gaji.
Andrea Komlosy, sejarawan dari Universitas Wina, mengingatkan bahwa penyempitan itu sesungguhnya sangat baru dalam sejarah manusia. “Say the word ‘work,’ and most people think of some form of gainful employment. Yet this limited definition has never corresponded to the historical experience of most people.” Ketika orang mendengar kata kerja, mereka segera membayangkan pekerjaan bergaji. Padahal, demikian Komlosy, pengalaman sejarah umat manusia tidak pernah sesempit itu. Kerja selalu hadir dalam banyak bentuk: kerja bergaji dan tidak bergaji, kerja rumah tangga, kerja komunal, kerja sukarela, kerja perawatan, hingga kerja sosial yang menopang kehidupan bersama.
Ironisnya, masyarakat kapitalis justru mewariskan definisi yang paling sempit tentang bekerja. Seolah-olah seseorang baru layak disebut pekerja jika setiap akhir bulan menerima slip gaji.
Padahal seorang pegawai dapat bekerja di kantor karena ada ibu yang sejak subuh memasak, mencuci, membersihkan rumah, dan merawat anak-anak tanpa pernah menerima upah. Aktivis dapat mengorganisasi masyarakat karena ada sukarelawan yang mengorbankan waktu dan tenaga tanpa kontrak kerja. Sebuah kota dapat tetap hidup karena ribuan bentuk kerja yang tidak pernah masuk ke dalam statistik pendapatan nasional.
Komlosy bahkan menunjukkan bahwa sejarah kapitalisme berdiri di atas perjumpaan kerja bergaji dan kerja tak bergaji. Yang satu tampak di laporan ekonomi, yang lain tersembunyi di baliknya. Yang satu dihitung sebagai produktivitas, yang lain dianggap sebagai pengorbanan pribadi. Padahal keduanya saling menopang.
Di sinilah universitas menghadapi paradoksnya.
Setiap tahun ia meluluskan ribuan sarjana yang kemudian memasuki pasar kerja yang semakin sempit. Data BPS menunjukkan bahwa tingkat pengangguran lulusan universitas masih berada di kisaran lima persen pada 2023–2025, mencerminkan bahwa transisi dari pendidikan tinggi ke dunia kerja semakin sulit bagi banyak lulusan.
Tetapi mungkin persoalannya bukan semata-mata karena pekerjaan berkurang. Bisa jadi karena definisi tentang pekerjaan telah dipersempit.
Universitas terlalu lama mendidik mahasiswa untuk mencari pekerjaan, bukan untuk memahami kerja sebagai cara merawat kehidupan bersama. Akibatnya, ketika pekerjaan bergaji tidak tersedia, mereka merasa tidak lagi berguna. Padahal kemampuan berpikir, mengorganisasi masyarakat, mendidik anak-anak, menghidupkan gerakan warga, merawat lingkungan, hingga mendampingi komunitas, semuanya adalah kerja. Tidak selalu menghasilkan upah, tetapi selalu menghasilkan kehidupan.
Barangkali sudah waktunya kita memperluas kembali makna bekerja.
Bukan untuk menghapus pentingnya pekerjaan bergaji, melainkan untuk mengembalikannya ke tempat yang proporsional. Sebab setiap pekerjaan bergaji sesungguhnya berdiri di atas jejaring kerja yang tidak bergaji. Ketika masyarakat mulai menyadari hubungan itu, penghormatan terhadap kerja-kerja yang selama ini tersembunyi akan tumbuh kembali. Dari penghormatan lahirlah solidaritas. Dari solidaritas lahirlah kesediaan berbagi.
Dan mungkin, pada akhirnya, bekerja bukan pertama-tama soal memperoleh penghasilan, melainkan soal mengambil bagian dalam menjaga kehidupan orang lain. Sebab sebuah masyarakat tidak runtuh ketika pekerjaan bergaji berkurang. Ia runtuh ketika manusia berhenti menghargai kerja yang membuat kehidupan tetap mungkin.

