Ditulis Januari 2017
Direvisi 01 Mei 2026
Batu itu tidak bisa berbohong.
Manusia bisa. Babad bisa. Silsilah yang ditulis oleh tangan pemenang juga bisa. Tapi batu, batu putih yang dipahat tanpa perekat semen, yang bertahan empat abad lebih di atas bukit kapur Arosbaya Bangkalan, batu itu hanya bisa jujur. Dan batu di Makam Aer Mata Ibu berkata: ada seorang perempuan di sini. Ia bukan raja. Tapi kekuasaan para raja lahir dari tangannya yang terlipat dalam doa.

Namanya Syarifah Ambami. Putri Panembahan Ronggo, keturunan kelima Sunan Giri dari Gresik. Istri Adipati Cakraningrat I, penguasa Madura yang dilantik Sultan Agung dari Mataram pada 1624. Gelarnya: Ratu Ibu. Bukan karena kuasa yang ia miliki, tapi karena kuasa yang ia topang dari keheningan.
TITIK BALIK
Cakraningrat I lebih banyak bermukim di Mataram mendampingi Sultan Agung. Maka Sarifah Ambami yang menjalankan fungsi kekuasaan di Keraton Sampang, bukan sebagai pengganti tapi sebagai fondasi yang tidak terlihat.
I. ARKEOLOG DI DEPAN GAPURA
Seorang arkeolog tidak datang ke Makam Aer Mata Ibu untuk mendengar cerita dari juru kunci. Ia datang dengan alat ukur, kamera, dan satu pertanyaan: apa yang bisa dibaca dari benda fisik yang ada di sini?
Yang pertama ia catat: lokasi. Kompleks ini berdiri di atas perbukitan kapur pada ketinggian 19,35 mdpl, di Desa Buduran, Kecamatan Arosbaya, sekitar 30 kilometer di utara Kota Bangkalan. Pilihan lokasi di atas bukit bukan kebetulan. Dalam tradisi arkeologi Nusantara, pemilihan bukit sebagai tempat pemakaman adalah jejak yang sangat tua, ia berakar pada tradisi megalitik punden berundak, di mana tempat yang tinggi dianggap dekat dengan dunia roh leluhur.
Pola ini terus hidup. Ia diserap oleh peradaban Hindu-Buddha yang mewujudkannya dalam bentuk candi berundak, dari Dieng, Gedongsongo, hingga Borobudur. Dan ketika Islam datang, pola itu tidak mati. Ia beradaptasi. Makam-makam bangsawan Islam di Jawa dan Madura pun dibangun di ketinggian, berundak, bertangga. Makam Aer Mata Ibu adalah salah satu puncak dari silsilah panjang tradisi ini.
“Makam di atas bukit adalah bahasa arkeologis yang sangat tua, bahasa yang tidak perlu diterjemahkan karena ia diucapkan ulang oleh setiap peradaban yang datang.”
II. TIGA PINTU, TIGA LAPIS WAKTU

Untuk mencapai makam utama, peziarah dan arkeolog, harus melewati 46 anak tangga dan tiga halaman yang masing-masing dipisahkan oleh gapura. Tiga pintu. Tiga lapis. Dalam bahasa arkeologi, ini adalah susunan kosmologis yang tidak asing.
Halaman pertama: ruang terluar, tempat masyarakat umum dan peziarah. Di sini terdapat bangunan yang menyimpan artefak masa Wangsa Cakraningrat. Halaman kedua: ruang peralihan, terdapat gerbang menuju masjid kompleks di sisi barat. Halaman ketiga: ruang paling suci, tempat cungkup utama, makam Kanjeng Ratu Ibu Syarifah Ambami.
Struktur tiga lapis ini bukan sekadar tata letak. Ini adalah konsep kosmologi yang diwarisi dari tradisi punden berundak megalitik, dimatangkan oleh pengaruh Hindu-Buddha, lalu diislamkan tanpa menghapus bentuknya. Arkeolog menyebutnya akulturasi. Masyarakat Madura menyebutnya: tempat yang layak untuk perempuan yang doanya menggerakkan langit.
FAKTA ARKEOLOGIS
Kompleks Pasarean Aermata diikutsertakan dalam lomba dan pameran Seni Arsitektur Peninggalan Purbakala se-Asia mewakili Indonesia pada tahun 1975. Ini bukan situs biasa, ini situs kelas regional.
III. BATU OLET DAN SULURAN GUNUNG

Di dalam cungkup utama, arkeolog berhenti lama. Makam Syarifah Ambami ditandai dengan gunungan dari batu putih, disebut batu olet oleh masyarakat setempat. Batu ini diambil dari pegunungan di sekitar makam. Sifatnya ulet, sangat keras. Pilihan material ini bukan estetika semata; ini adalah pernyataan: perempuan ini akan dikenang dengan sesuatu yang tidak mudah hancur.
Pada dinding utara cungkup, arah yang dalam tradisi Islam dan pra-Islam Nusantara sama-sama dianggap paling sakral, karena makam Islam berorientasi utara-selatan dan posisi utara selalu lebih tinggi, terukir suluran indah yang menggambarkan gunung dan hutan. Relief ini terbuat dari batu putih mirip pualam. Tidak ada perekat semen. Semuanya tersusun dengan presisi yang membuat arsitek modern geleng kepala.
Ukiran gunung dan hutan itu bukan ornamen kosong. Dalam ikonografi Hindu-Buddha, gunung adalah pusat kosmis, Meru, tempat para dewa bersemayam. Ketika Islam masuk, simbol gunung tidak dihapus, ia dipertahankan sebagai representasi keagungan spiritual yang bisa diterima oleh semua lapisan. Di dinding makam seorang perempuan Muslim keturunan Walisongo, suluran gunung dan hutan bercerita tentang betapa dalamnya akar peradaban Nusantara itu tertanam.
“Ukiran gunung di dinding makam Islam bukan anomali. Ia adalah bukti bahwa Nusantara tidak pernah memeluk satu peradaban dengan membuang yang lain.”
IV. YANG TIDAK HADIR: CAKRANINGRAT I
Ada satu fakta yang sering luput dari perhatian peziarah biasa, tapi langsung ditangkap oleh arkeolog: Cakraningrat I tidak dimakamkan di sini. Ia dimakamkan di Imogiri Yogyakarta, kompleks pemakaman raja-raja Mataram.
Ini bukan detail kecil. Ini bicara tentang identitas dan loyalitas kekuasaan. Sebagai adipati bawahan Mataram, Cakraningrat I diletakkan secara simbolis di bawah payung kekuasaan Sultan Agung bahkan dalam kematiannya. Sementara istrinya Syarifah Ambami, memilih Madura. Atau lebih tepatnya, Madura yang memilihnya.
Dari perspektif arkeologi kekuasaan, makam Aer Mata Ibu adalah monumen bagi Madura yang otonom secara spiritual, meskipun tunduk secara politik. Di sinilah keturunan Sunan Giri dikuburkan. Di sinilah tujuh generasi adipati Cakraningrat bersemayam. Di sinilah pusat memori kolektif Wangsa Cakraningrat berpusat, bukan di Mataram, bukan di Imogiri, tapi di bukit kapur Arosbaya.
BATAS KLAIM
Narasi tentang pertapaan Syarifah Ambami, pertemuannya dengan Nabi Khidir, dan kemarahannya Cakraningrat I bersumber dari tradisi lisan yang disampaikan juru kunci makam dan rekaman dalam Babad Madura. Sumber-sumber ini tidak bisa diverifikasi secara dokumen tertulis primer, namun memiliki nilai sebagai sejarah lisan (oral history) yang mencerminkan konstruksi memori kolektif masyarakat Madura.
V. DOA YANG MENGERAS MENJADI BATU
Dalam babad Madura, sebagaimana dituturkan oleh juru kunci makam kepada para peneliti, Syarifah Ambami bertapa di Desa Buduran. Dalam pertapaannya, ia memohon agar tujuh keturunannya menjadi pemimpin di Madura. Ia bertemu, dalam tapanya, dengan sosok yang ia yakini sebagai Nabi Khidir, pertanda doanya dikabulkan.
Ketika Cakraningrat I pulang dari Mataram dan mendengar cerita ini, ia marah. Mengapa hanya tujuh? Mengapa tidak selamanya? Maka Syarifah Ambami kembali bertapa, kali ini dengan tangis yang lebih dalam, memohon agar permintaan suaminya pun dikabulkan. Dan ia tidak pernah berhenti. Ia meninggal di tempat itu, di atas tanah yang kini menjadi makamnya.
Arkeolog membaca cerita ini bukan sebagai legenda semata. Ia membacanya sebagai kunci untuk memahami mengapa situs ini dibangun. Makam bukan hanya tempat mengubur jasad. Makam adalah pernyataan tentang siapa orang itu dan mengapa ia penting bagi yang hidup. Syarifah Ambami dibangunkan kompleks makam megah bukan karena ia adalah ratu yang berkuasa, tapi karena ia adalah sumber legitimasi spiritual dari seluruh dinasti Cakraningrat.
“Tujuh keturunan menjadi adipati. Dinasti berlangsung dari abad ke-17 hingga ke-19. Apakah itu kebetulan? Atau itu yang disebut doa yang menjadi kenyataan?”
VI. TUJUH GENERASI, SATU MAKAM

Di kompleks Pasarean Aermata, tersimpan makam tujuh keturunan Cakraningrat yang menjabat sebagai adipati Madura Barat, Sampang dan Bangkalan. Nama-namanya tercatat dalam sejarah: Panembahan Cakraningrat II (Raden Undakan), Panembahan Cakraadiningrat V (Raden Sidomukti), Panembahan Cakraadiningrat VI (Raden Tumenggung Mangkudiningrat), hingga Sultan Cakraadiningrat I (Raden Abdurahman, 1780–1815).
Tiga cungkup utama berukuran 40 x 20 meter berdiri di sana. Semuanya dari batu putih. Semuanya diukir. Dan dari semua makam yang ada, yang paling tinggi, paling utara, paling sakral adalah makam Syarifah Ambami.
Dalam tata ruang makam Islam Nusantara, hierarki spasial berbicara langsung. Semakin tinggi posisi makam secara fisik, semakin tinggi kedudukannya dalam memori kolektif. Arkeolog melihat ini dan mengangguk pelan: masyarakat Madura tidak lupa siapa yang meletakkan fondasi.
FAKTA
Kompleks makam berdiri di atas perbukitan kapur dengan luas sekitar 8.000 meter persegi. Seluruh struktur dibangun dari batu putih lokal, yang disebut batu olet tanpa perekat semen. Usia bangunan diperkirakan sejak abad ke-15 hingga ke-16, menjadikannya salah satu kompleks makam Islam tertua di Madura.
VII. MATA AIR DI BAWAH BUKIT
Di bawah bukit tempat makam berdiri, ada mata air. Ia tidak pernah kering bahkan di musim kemarau panjang sekalipun. Masyarakat menyebutnya air mata Ratu Ibu, air yang lahir dari tangis perempuan yang tidak berhenti berdoa.
Arkeolog mencatat fenomena ini dengan hati-hati. Sumber air alami di sekitar situs sakral bukan hal asing dalam arkeologi religius Nusantara. Dari Sendang di kompleks candi Jawa Tengah hingga mata air di lereng gunung berapi yang dikramatkan, air selalu menjadi elemen penting dalam lanskap sakral. Kehadiran mata air di kaki Bukit Arosbaya kemungkinan besar adalah salah satu alasan awal mengapa lokasi ini dipilih sebagai tempat pertapaan, dan kemudian sebagai makam.
Tapi masyarakat memilih untuk membaca mata air itu sebagai air mata. Dan dalam pilihan pembacaan itulah, ada kebenaran yang lebih dalam dari sekadar geologi: bahwa ada perempuan di sini yang mencintai terlalu dalam untuk berhenti.
Epilog: Apa yang Batu Tidak Bisa Katakan
Arkeolog bisa membaca batu. Ia bisa mendating bahan bangunan, menganalisis ikonografi ukiran, memetakan hierarki ruang, mengidentifikasi pengaruh budaya yang melapisi satu sama lain seperti halaman buku yang tidak pernah disobek.
Tapi ada satu hal yang tidak bisa dilakukan arkeolog: ia tidak bisa membaca tangis.
Syarifah Ambami menangis di atas bukit itu. Doanya bukan untuk dirinya sendiri, pertama untuk keturunannya, lalu untuk keinginan suaminya. Tidak ada yang tersisa untuk ia minta bagi dirinya sendiri. Dan mungkin justru karena itu, batu-batu itu diukir begitu indah. Batu menangis dengan cara yang berbeda dari manusia: ia tidak luruh, ia mengeras. Ia menjadi monumen.
Ketika kamu naik 46 anak tangga itu, ketika kamu melewati tiga gapura itu, ketika kamu berdiri di depan cungkup putih yang menghadap utara itu, kamu tidak hanya berziarah ke makam seorang ratu. Kamu berdiri di atas lapisan sejarah yang sangat panjang: dari megalitik yang memuja nenek moyang di bukit, dari Hindu-Buddha yang mengukir gunung di dinding, dari Islam yang datang membawa nama-nama baru tapi tidak menghapus bentuk-bentuk lama.
Dan di tengah semua lapisan itu: seorang perempuan. Dengan doa yang lebih keras dari batu.
Daftar Pustaka & Referensi
- Beritajatim.id. “Aer Mata Ibu, Jejak Emas Kerajaan Bangkalan dan Penanda Sejarah Toleransi di Madura.” beritajatim.id, 3 Juli 2024.
- Detik Jatim. “Makam Air Mata Ibu Wisata Religi Legendaris di Bangkalan.” detik.com, November 2025.
- Gerbang Pulau Madura. “Astana Aermata Rato Ebhu Syarifah Ambami Buduran – Arosbaya.” pulaumadura.com, 2024.
- Kompas.com / Kemdikbud RI. “Akulturasi dan Perkembangan Budaya Islam Seni Bangunan.” kompas.com, 21 April 2020.
- Liputan6.com. “Fungsi Punden Berundak: Warisan Budaya Megalitikum yang Masih Bertahan.” liputan6.com, Desember 2024.
- Lontarmadura.com. “Ratu Ibu, Tangis Panjang Seorang Ibu Sampai Wafat.” lontarmadura.com, 2017. [Berdasarkan penuturan juru kunci makam dan rekaman Babad Madura].
- Madureh.com. “Sejarah Makam Airmata Ratu Ibu (Aermata Ebu) Arosbaya Bangkalan.” madureh.com, Oktober 2019.
- MaduraPost. “Kisah Sarifah Ambami: Di Balik Keindahan Arsitektur Makam Airmata Ebu di Bangkalan.” madurapost.net, 19 Juli 2024.
- NativeIndonesia.com. “Wisata Sejarah dan Religi, Makam Aermata Ebhu / Pasarean Ratu Ibu Syarifah Ambami di Bangkalan.” nativeindonesia.com, 2024.
- Tirto.id. “Contoh Akulturasi Budaya Masyarakat Nusantara dengan Ajaran Islam.” tirto.id, 2023.
Yogyakarta, 01Mei 2026 | M. Basyir Zubair (Embas)
Sumber Artikel: Facebook Mohammad Basyir

