Bagaimana Jika Harlah PMII Dimaknai Ketum PB PMII Pertama: Novel “Dari Hari ke Hari” sebagai Lensa

Ada yang menarik di acara diskusi yang diselenggarakan TV9. Acara dalam rangka harlah PMII ke-66 tersebut mengambil topik bagaimana memotret PMII dari optic novel  Dari Hari ke Hari, karya salah satu pendiri, sekaligus ketum pertama PB PMII, yakni Alm Sahabat Mahbub Djunaidi. Saya diberi kehormatan menjadi salah satu pemantik diskusi tersebut. Berikut ini adalah catatan saya dalam diskusi tersebut.

Menggunakan sebuah novel sebagai lensa, optic, atau perspektif tentu saja terlebih dahulu harus memahami subtansi novel tersebut. Setelah memahami  subtansi novel, dengan melihat latar, setting, konteks ruang-waktu, actor, alur, pesan-pesan halus yang diselipkan, gaya bahasa, dan lainnya, barulah kita sedikit bisa menangkap anatomi dan arsitektur optic tersembunyi dalam novel Dari Hari ke Hari. Optik inilah yang kita pergunakan untuk memaknai harlah PMII.

Berkenalan dengan Dari Hari ke Hari

Dari Hari ke Hari merupakan sebuah novel bercerita tentang seorang anak laki-laki sekitar usia 11–13 tahun yang ikut ayahnya mengungsi dari Jakarta ke Solo pada masa Revolusi Kemerdekaan 1945–1949/50. Cerita bergerak dari sudut pandang anak, sehingga peristiwa besar seperti agresi Belanda, suasana republik muda, laskar rakyat, dan kegentingan perang tampil dengan tatapan polos, jenaka, dan kadang menyentil. Peristiwa, yang dalam korpus resmi negara disebut revolusi tersebut, tidak dilihat dalam  kaca mata resmi, formal, dan arus utama. Latar keluarga tokoh dalam novel juga kuat dengan warna keislaman dan NU.

Memahami Dari Hari ke Hari karya Mahbub Djunaidi, kita seperti diajak masuk ke sebuah lorong sejarah yang datar, tidak meluap-luap heroistik. Akan tetapi justru karena itu cara baca novel ini terhadap peristiwa sejarah bangsa terasa lebih tajam. Novel ini pertama kali terbit pada 1975, dan mendapat penghargaan dari Dewan Kesenian Jakarta. Oleh penulisnya, Sahabat Mahbub, novel tersebut dipandang dekat dengan pengalaman masa kecilnya. Namun, novel itu bukan roman sejarah yang tampil heroik. Novel tersebut justru bergerak dari pengalaman sehari-hari, dari pengungsian, dari keluarga, dari kecemasan kecil yang pelan-pelan membuka wajah besar sebuah bangsa yang sedang lahir. Di situlah kekuatan Sahabat Mahbub, melihat revolusi dari denyut hidup yang biasa,  dan tidak membangun sejarah dari mimbar yang tinggi.  

Novel ini berkisah tentang masa revolusi, terutama sekitar 1945–1949/50, ketika sebuah keluarga harus bergerak, mengungsi, menyesuaikan diri dengan keadaan yang tidak stabil. Dalam sejumlah ulasan, disebut bahwa latar utamanya bergerak dari Jakarta menuju Solo, dengan suasana republik yang masih muda, goyah, dan belum selesai dengan dirinya sendiri. Sahabat Mahbub memakai sudut pandang anak.  Dengan sudut pandang itu, perang tidak tampil sebagai peta strategi para jenderal, pengerahan alutsista canggih, atau mobilisasi pasukan. Perang dilihat dari sisi kebingungan, perpindahan, ketakutan, dan rasa ingin tahu seorang bocah yang menyaksikan dunia orang dewasa tampak rumit, kadang lucu, kadang tidak masuk akal. Bahkan ada pembacaan yang menarik. Republik itu sendiri masih seperti bocah, sama muda dan sama gamangnya dengan tokoh yang melihatnya.

Lima Pelajaran

Forum Pelatihan Kader Lanjut (PKL): ruang kaderisasi formal tempat gagasan, tradisi, dan nalar kritis diasah secara sistematis (Sumber Foto: Koleksi Pribadi)

Dari sini, pelajaran pertama yang bisa dipetik untuk PMII, karena itu menjadi lensa untuk merefleksikan harlahnya, adalah bahwa sejarah harus juga dibaca dari bawah. Bukan hanya dari elite. Bukan hanya dari pidato resmi. Bukan hanya dari versi yang sudah dipoles oleh kekuasaan. Bukan dari produksi buku-buku resmi. Sahabat Mahbub menunjukkan bahwa sebuah bangsa sesungguhnya tampak paling jujur ketika dilihat dari mata orang kecil seperti anak-anak, keluarga, kampung, pengungsi, orang yang tidak punya akses pada panggung, tetapi justru memikul akibat dari semua keputusan besar.

Lensa tersebut pelajaran penting bagi kader PMII. Sebab organisasi kader akan kehilangan nuraninya jika terlalu lama membaca sejarah bangsa dan living-reality hanya dari pusat kuasa, dan lupa bahwa kehidupan nyata rakyat sering kali jauh lebih rumit daripada rumus-rumus politik yang terdengar meyakinkan di ruang-ruang diskusi. Pengungsian, perpindahan kota, rasa takut, lapar, keluarga, sekolah, dan suasana kampung menjadi bagian dari sejarah. Jadi, bangsa dibangun bukan hanya di medan tempur, tetapi juga di rumah-rumah biasa.

Pelajaran kedua ialah tentang humor. Sahabat Mahbub tidak menulis dengan amarah yang meledak-ledak. Dia mengolah tragedi dengan ironi, sindiran, dan kelakar. Novel ini dalam banyak ulasan disebut mengandung humor yang kental. Tetapi humor di tangan Sahabat Mahbub bukan alat pelarian. Humor justru alat pembongkaran. Dengan humor, Sahabat Mahbub memperlihatkan betapa dunia politik bisa terasa ganjil. Betapa orang dewasa yang mengurus negeri sering tampak membingungkan. Betapa kekacauan sejarah kadang justru lebih mudah dibaca melalui ironi ketimbang melalui slogan yang terlalu serius.

Untuk PMII, pembacaan tersebut menjadi pelajaran yang sangat berharga.  Menjadi kritis tidak harus selalu berarti menjadi kasar, orasi yang penuh caci maki.  Menjadi tajam tidak harus kehilangan kejernihan. Bahkan sebaliknya, ketajaman justru lahri dari kejernihan data, fakta, dan logika argumentasi. Sahabat Mahbub seakan mengajarkan bahwa watak intelektual yang matang adalah watak yang mampu mengkritik tanpa mabuk kemarahan, mampu menyindir tanpa kehilangan etika publik.

Pelajaran ketiga ialah tentang hubungan antara Islam, tradisi, dan kebangsaan. Dalam pembacaan atas novel ini, muncul latar keluarga religius, suasana lingkungan NU, serta kehadiran unsur-unsur perjuangan rakyat yang bertaut dengan basis keagamaan. Ini penting, sebab Mahbub tidak meletakkan agama sebagai ornamen. Agama hadir sebagai bagian dari watak sosial. Agama hidup di rumah, di bahasa, di cara memandang keadaan. Dengan demikian, Dari Hari ke Hari memberi isyarat bahwa menjadi muslim yang taat sama sekali tidak berarti menjauh dari realitas bangsa. Justru sebaliknya, tradisi keislaman yang sehat membuat seseorang punya kepekaan yang lebih kuat terhadap sejarah, terhadap penderitaan, terhadap ketidakadilan, dan terhadap harga sebuah kemerdekaan. Di sini kita melihat sesuatu yang juga penting bagi organ keislaman seperti PMII dan lainnya, keislaman dan kebangsaan bukan dua kutub yang harus dipertentangkan. Keduanya merupakan dua hal yang harus dijaga sekaligus. Maklum novel ini ditulis tahun 75, di mana agama, terutama Islam, seringkali dikontradiksikan dengan nasionalisme oleh para agen propaganda. Sekarang, tentu tidak lagi, kecuali oleh buzzerRP.

Pelajaran keempat  adalah bahwa sastra dapat menjadi salah satu ruang atau bentuk kaderisasi kesadaran. Sahabat Mahbub merupakan tokoh inspiratif PMII, konsolidator organisasi, pemimpin yang desisif, sekaligus juga penulis. Sahabat Mahbub berjuang lewat pena. Perjuangan ini mengisi ruang kosong dalam perjuangan. Banyak organisasi mahasiswa sering kali sibuk berdebat soal struktur, tetapi lupa merekam working-reality menjadi narasi. Sibuk membuat agenda seremoni, tetapi lupa menuliskan tafsir atas zamannya. Dari Hari ke Hari menunjukkan bahwa menulis adalah kerja pergerakan juga. Menulis berarti merawat ingatan. Menulis berarti mencegah sejarah direbut sepenuhnya oleh versi resmi. Menulis berarti membela manusia dari amnesia kolektif.

Dalam konteks PMII, bentuk perjuangan ini merupakan inspirasi besar.  Kader jangan hanya pandai berforum, pidato lisan, orasi di jalanan, tetapi kader juga harus mampu merekam zamannya, mengolah pengalaman menjadi gagasan, dan menjadikan tulisan sebagai medan perjuangan. Sahabat Mahbub memberi contoh bahwa organisasi yang kuat memerlukan kader yang bisa membaca, berpikir, dan menulis dengan daya hidup.

Pelajaran kelima,  novel ini juga memperlihatkan peran Hizbullah, Sabilillah, serta lingkungan keluarga religius dalam suasana perjuangan. Lingkungan ini jelas mengacu ke ekosistem kebudayaan NU. Pelajaran ini penting karena menunjukkan bahwa Islam, ulama, dan rakyat tidak berada di pinggir sejarah republik. Bahkan, dalam dada mereka, selalu muncul kegelisahan tokoh sang anak NU tentang penjajahan, perjanjian-perjanjian politik, dan kelemahan para pemimpin, sekaligus  menunjukkan nasionalisme para kyai bukanlah kosong, namun cinta tanah air tersebut hadir bersama pertanyaan kritis.

Wajah kolektif kader PMII: dari beragam latar, dipertemukan oleh tradisi, nilai, dan semangat pergerakan (Sumber Foto: Koleksi Pribadi)

Ilham Pergerakan

Lalu, ilham atau inspirasi apa yang paling penting dari novel ini bagi PMII hari ini? Mungkin jawabannya begini. Dari Hari ke Hari mengajarkan bahwa perjuangan tidak selalu datang dalam bentuk yang megah, yang membutuhkan dana besar, yang gebyar, memilki news-value tinggi, atau dihadiri sekian tamu penting.   Perjuangan juga sering hadir dalam bentuk ketabahan kecil seorang kader. Dalam kemampuan bertahan. Dalam istiqomah mewiridkan yasin-tahlil di secretariat PMII. Dalam kejernihan memandang kekacauan. Dalam keberanian menertawakan absurditas kekuasaan. Dalam kesediaan tetap manusiawi ketika sejarah sedang kacau.

Gerakan mahasiswa saat ini kadang terjebak pada imajinasi heroik yang membutuhkan validasi mediatik. Seolah perjuangan harus selalu tampak besar, lantang, dan penuh tepuk tangan. Sahabat Mahbub justru mengingatkan bahwa kekuatan moral sering tumbuh dari hal-hal yang tampak biasa. Tumbuh dalam keluarga yang penuh kekuarangan, namun tetap bertahan, anak yang bertanya, orang-orang kecil yang tetap hidup di tengah guncangan sejarah.  Seperti ungkapan Gus Baha, kita seringkali kurang menghayati ni’mat-ni’mat dari peristiwa sehari-hari. Kita masih diberi ni’mat bernafas, hidup, makan sehari-hari, ngopi, ngudud, atau jagongan penuh canda tawa menertawakan realitas.

Kaderisasi bukan hanya forum besar, tetapi juga proses berkelanjutan—dari ruang-ruang sederhana hingga forum yang lebih terstruktur (Sumber Foto: Koleksi Pribadi)

Karena itu, membaca  Dari Hari ke Hari, sesungguhnya seperti sedang membaca watak dasar pergerakan yang sehat. Watak yang tidak tercerabut dari rakyat. Watak yang tidak mabuk jargon. Watak yang kritis, tetapi tidak kehilangan kedewasaan. Watak yang berani menertawakan kesombongan kuasa. Watak yang tahu bahwa sejarah bangsa tidak dibangun hanya oleh tokoh besar, tetapi juga oleh manusia-manusia biasa yang bertahan dari hari ke hari. Namun demikian, novel ini juga tidak terjebak pada kesombongan dalam bentuknya yang lain. Menertawakan bukan berarti merendahkan atau menganggap tidak penting apa yang ditertawakan.

Dan di situlah relevansi novel ini bagi PMII agar tetap hidup sampai sekarang. PMII memerlukan kader yang seperti itu. Kader yang berintegritas, peka, kritis, selera humor tinggi, berakar pada tradisi, dekat dengan rakyat, dan mampu melihat bahwa bangsa ini dengan empati, bukan hanya dibaca dengan teori.

Pada akhirnya, Dari Hari ke Hari bukan sekadar cerita tentang revolusi. Novel ini adalah pelajaran tentang cara menatap sejarah. Sejarah tidak hanya terdiri dari kemenangan dan kekalahan, tetapi juga dari kecemasan kecil, pertanyaan polos, ironi, dan daya tahan batin. Belajar melihat sejarah bangsa secara lebih manusiawi, belajar bersikap kritis tanpa kehilangan humor, dan belajar bahwa perjuangan yang paling  istiqomah tidak selalu lahir dari teriakan paling keras. Namun dari bagaimana menghidupkan PMII dalam aktivitas sehari-hari, yang biasa, yang datar-datar saja, yang tidak menggelegar. Bagi PMII, itulah mungkin inspirasi yang paling berharga.

Suasana salah satu forum di PMII (Sumber Foto: Koleksi Pribadi)

Dengan demikian, semua sahabat warga pergerakan (dari rayon sampai PB) akan merasa memliki, merasa bermakna, merasa berkontribusi terhadap PMII, sekecil apapun, dalam bentuk apapun, dan karenanya memiliki kebanggaan sosial tercatat sebagai bagian dari keluarga besar PMII.   Dan sahabat Mahbub, dengan caranya yang khas, telah menunjukkan bahwa watak seperti itu bisa dibentuk, hari demi hari. Wallohu a’lam bis-showwab.

Muhammad Mustafid
Muhammad Mustafid
Pimred kanal www.aswajanusantara.com dan Dewan Pengasuh Pesantren Pelajar-Mahasiswa (PPM) Aswaja Nusantara Mlangi

Related Articles

Artikel baru