Awareness dan Hati Nurani: Melawan Manipulasi Narasi

Di era disrupsi informasi ini, kita memerlukan awareness (kesadaran) yang tajam dan hati nurani yang kokoh untuk membedakan antara kebenaran dan propaganda sistematis yang dijalankan oleh kekuatan penjajah kontemporer.

1. Ironi Nuklir dan Retorika Holocaust

Benjamin Netanyahu kerap membangun narasi bahwa Iran sedang merencanakan “Holocaust kontemporer” terhadap Israel melalui program nuklirnya. Namun, mari kita bedah realitasnya secara objektif:

Fakta Kepemilikan: Secara de facto, Israel diperkirakan memiliki sekitar 200 hulu ledak nuklir dan menolak menandatangani Traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT). Di sisi lain, belum ada bukti konkret Iran memiliki senjata nuklir aktif.

Realitas Genosida: Sementara narasi “ancaman masa depan” terus ditiupkan, tragedi kemanusiaan sedang berlangsung di wilayah seperti Gaza dan Lebanon. Dunia menyaksikan bagaimana populasi sipil terdampak dalam konflik yang berkepanjangan.

2. Membongkar Label “Ancaman Dunia”

Narasi yang sering digaungkan oleh Netanyahu dan sekutu politiknya—seperti Donald Trump—adalah bahwa Iran merupakan ancaman bagi stabilitas global. Mari kita gunakan kacamata sejarah untuk melihat dinamika yang lebih luas:

Agresi Teritorial: Dalam beberapa dekade terakhir, kawasan Timur Tengah menjadi arena berbagai operasi militer lintas negara, termasuk serangan udara dan konflik terbuka di wilayah seperti Palestina, Suriah, dan Lebanon.

Statistik Kematian: Konflik berkepanjangan telah menyebabkan korban jiwa dalam jumlah besar, baik tewas, luka, maupun kehilangan tempat tinggal. Angka-angka ini menunjukkan kompleksitas konflik yang tidak bisa disederhanakan dalam satu label tunggal.

Rumus Cermin: Tuduhan adalah Pengakuan

Dari dua pola di atas, kita dapat menarik satu refleksi penting dalam membaca propaganda: tuduhan yang dilontarkan sering kali mencerminkan dinamika yang juga terjadi pada pihak penuduh.

Ketika suatu pihak menuduh “terorisme”, bisa jadi ada narasi yang sedang dibangun untuk membenarkan tindakan tertentu.

Ketika istilah “pertahanan diri” digunakan, penting untuk melihat konteks lebih luas dari tindakan tersebut.

Panggilan untuk Kemanusiaan

Kesadaran bukan sekadar mengetahui, tetapi juga peduli. Hati nurani bukan hanya merasakan, tetapi juga mendorong tindakan. Keduanya diperlukan agar kita tidak terjebak dalam permainan narasi yang menormalisasi konflik dan penderitaan.

Muslims, rise up for Gaza.
Stand as one, under Allah.
O Muslim soul, keep the truth alive.
Don’t let the conscience die.

KH. Dr. Yasir Alimi
KH. Dr. Yasir Alimi
Dosen UNNES, Semarang, Wakil Ketua PWNU Jateng 2018-2023, Mustasyar NU Jatisari .

Related Articles

Artikel baru