Tradisi Ngaji Ramadan, Balagh Ramadan, maupun ngaji pasaran merupakan istilah yang lazim digunakan di lingkungan pesantren untuk menyebut kegiatan kajian kitab kuning selama bulan suci. Pada periode ini, para santri biasanya mengikuti pengajian model bandongan dengan target mengkhatamkan satu kitab tertentu dalam waktu relatif singkat.
Salah satu kitab yang hampir tidak pernah absen dikaji adalah Fawā’id al-Ṣawm—yang lebih populer dengan sebutan Maqāṣid al-Ṣawm—karya ulama besar yang dijuluki Sultan al-‘Ulama, Izz al-Din Abd al-Aziz bin Abd al-Salam. Risalah ringkas ini telah lama menjadi rujukan para kiai dan asatidz di berbagai pesantren. Dan kitab ini adalah satu kitab yang dibaca dalam agenda Pasanan 1447 H di PPM Aswaja Nusantara.
Polemik Judul Kitab
Secara filologis, judul yang lebih tepat sebenarnya adalah Fawā’id al-Ṣawm, bukan Maqāṣid al-Ṣawm. Hal ini didasarkan pada keterangan penulis sendiri di akhir risalah yang menyebut: آخر فوائد الصوم
Pendapat ini juga ditegaskan oleh Dr. ‘Abd al-Hakim al-Anis dalam majelis samā’ kitab yang diselenggarakan secara daring oleh Madrasah al-Hadis al-‘Iraqiyyah.
Dalam sumber biografis klasik, al-Dawudi (w. 945 H), murid Jalaluddin al-Suyuti, menyebut risalah ini dalam Ṭabaqāt al-Mufassirīn dengan nama “Kitāb al-Ṣawm wa Faḍluhu.” Sementara beberapa manuskrip menyebutnya secara eksplisit sebagai “Fawā’id al-Ṣawm.”
Adapun penggunaan judul Maqāṣid al-Ṣawm diduga bermula dari pencatatan bibliografis oleh Ḥājjī Khalīfah (w. 1068 H) dalam Kashf al-Ẓunūn, yang kemudian populer dalam tradisi penerbitan modern.
Struktur dan Tema Risalah
Risalah ringkas ini menghimpun beberapa fasal yang tersusun secara sistematis. Pembahasan diawali dengan penjelasan mengenai kewajiban puasa Ramadan, keutamaannya, adab-adab berpuasa, serta hal-hal yang sepatutnya dihindari selama menjalankan ibadah tersebut.
Selanjutnya, risalah ini memuat fasal tentang anjuran meraih keutamaan malam Lailatul Qadr, anjuran i‘tikaf, serta anjuran menyambung puasa Ramadan dengan enam hari puasa di bulan Syawal.
Pada bagian penutup, dibahas ketentuan puasa mutlak, berbagai jenis puasa sunnah, serta hari-hari yang dilarang untuk berpuasa.
Dengan cakupan tersebut, kitab ini dapat dikatakan sebagai panduan ringkas spiritualitas dan hukum puasa.
Metode Penulisan
Dalam penyusunannya, Ibn ‘Abd al-Salam menggunakan pendekatan berbasis dalil. Setiap fasal dibangun atas ayat Al-Qur’an dan hadis Nabi, disertai penjelasan makna dan hikmah secara langsung.
Menariknya, risalah ini hampir tidak memuat perdebatan mazhab atau penyebutan pendapat ulama tertentu. Pengecualian hanya muncul pada pembahasan hukum menggunakan celak saat berpuasa. Pendekatan ini menunjukkan karakter penulis yang menekankan dimensi edukatif dan spiritual dibanding polemik fikih.
Problematika Edisi Cetak
Walaupun telah lama dikaji, kualitas penerbitan kitab ini masih menyisakan persoalan. Edisi modern pertama diterbitkan oleh Dar al-Fikr al-Mu‘āṣir (1992) dengan tahqiq Dr. Iyad Khalid al-Tabba‘ menggunakan judul Maqāṣid al-Ṣawm. Edisi ini mengandung sejumlah kesalahan akibat pembacaan manuskrip yang kurang tepat.
Kesalahan tersebut kemudian ikut tersebar karena dijadikan rujukan oleh banyak penerbit, termasuk di Indonesia.
Edisi lain diterbitkan Dar Ibn Hazm pada tahun yang sama dengan tahqiq Abdullah Nazir Ahmad menggunakan judul Fawā’id al-Ṣawm. Namun, edisi ini juga masih memuat beberapa kekeliruan serupa.
Upaya Koreksi Teks
Dalam rangkaian Ngaji Ramadan yang diselenggarakan oleh PPM Aswaja Nusantara Mlangi, dilakukan upaya peninjauan ulang terhadap sejumlah kesalahan redaksi dalam kitab Fawā’id al-Ṣawm. Langkah ini bertujuan untuk memberikan kontribusi awal bagi penyusunan edisi yang lebih akurat, sehingga di masa mendatang kitab ini dapat diterbitkan kembali dengan kualitas teks yang lebih baik dan minim kekeliruan.
Proses pembenaran dilakukan berdasarkan perbandingan hasil mengikuti dua majelis pengajian kitab yang memiliki otoritas sanad dan perhatian filologis terhadap naskah, yaitu: pengajian Syekh Walid al-Manisi yang diselenggarakan secara daring oleh Jam‘iyyah Ihyā’ al-Turāth Kuwait cabang al-Jahra’ melalui platform telegram pada , serta pengajian Syekh ‘Abd al-Hakim al-Anis yang diselenggarakan secara daring oleh Madrasah al-Hadis al-‘Iraqiyyah melalui platform facebook.
Meskipun kedua majelis tersebut memiliki beberapa perbedaan dalam pembacaan naskah, ditemukan sejumlah titik kesepakatan yang saling menguatkan. Berdasarkan perbandingan tersebut, berikut beberapa pembenaran redaksi yang dihasilkan:
| No | Redaksi dalam Edisi Cetak | Redaksi yang Benar |
| 1 | ليكشف | لينكف أو ليكف |
| 2 | المشابهة | المساببة |
| 3 | وقد بلغنا أن سليمان أو يوسف عليهما السلام لا يأكل | وقد بلغنا أن سليمان أو يوسف عليهما السلام كانا لا يأكل |
| 4 | وأما شكر عالم الخفيات؛ إذا… | وأما شكر عالم الخفيات؛ لأنه إذا… |
| 5 | وتشوفت إلى المخالفات | وتوسلت إلى المخالفات |
| 6 | وطموح النفس إلى المناجات | وطموح النفس إلى المباحات |
| 7 | فتقعده | فيقعده |
| 8 | فلا وجه إلى إيطال النفس | فلا وجه إلى إبطاء النفس |
| 9 | والمستحب من | والمستحب لمن |
| 10 | وحق المزور | وحق على المزور |
| 11 | في عمومها وإسراعها | في هبوبها وإسراعها |
| 12 | وأحيانا يعرض علي | وأحب أن يعرض عملي |
Pembenaran ini menunjukkan bahwa tradisi pengajian sanad tidak hanya berfungsi sebagai transmisi keilmuan, tetapi juga berperan penting dalam kritik teks (taḥqīq) terhadap karya-karya turats. Melalui proses semacam ini, kesinambungan antara tradisi lisan pesantren dan studi filologi klasik dapat terus terjaga.
Tradisi Sanad Keilmuan
Pada pertemuan penutup pengajian—yang berlangsung selama delapan sesi—disampaikan sanad kitab hingga penulisnya. Penyampaian sanad ini merupakan tradisi penting dalam transmisi keilmuan Islam Ahl al-Sunnah wa al-Jamā‘ah, khususnya dalam menjaga otentisitas jalur periwayatan kitab-kitab turats.
Kitab ini diriwayatkan melalui sejumlah guru, di antaranya: Syekh Walid bin Idris al-Manisi, Syekh Qasim bin Ibrahim al-Bahr, Syekh Muhammad Fariq al-Maswati, Syekh Hasan Maqbul al-Ahdal, Syekh Yahya al-Gawsani, Syekh Yusuf al-Rubaidi, Syekh Muhammad ‘Abd al-Samad Muhanna, dan Syekh ‘Abd al-Hakim al-Anis.
Adapun salah satu jalur sanad yang dibacakan dalam khataman adalah melalui Syekh Muhammad ‘Abd al-Samad al-Muhanna sebagai berikut:
يروي شيخنا محمد عبد الصمد مهنا إجازةً عن شيخه الإمام الرائد محمد زكي إبراهيم، عن شيخه محمد عبد الله العربي العاقوري الليبي، عن الإمام الباجوري، عن الإمام الأمير الكبير، عن الإمام علي الصعيدي، عن الإمام ابن عقيلة، عن الشيخ حسن، عن الإمام البابلي، عن الإمام السنهوري، عن الإمام النجم الغيطي، عن شيخ الإسلام الإمام زكريا الأنصاري، عن الإمام الحافظ جلال الدين السيوطي، عن محمد بن مقبل الحلبي، عن محمد بن علي الحراوي، عن الحافظ شرف الدين عبد المؤمن الدمياطي، عن المؤلف سلطان العلماء الإمام عز الدين عبد العزيز بن عبد السلام السلمي.
Melalui sanad ini, pengajian tidak hanya berfungsi sebagai proses memahami isi kitab, tetapi juga sebagai bentuk ittishāl al-‘ilm (kesinambungan transmisi ilmu) yang menghubungkan generasi pembelajar masa kini dengan mata rantai ulama klasik hingga penulisnya. Tradisi ini menjadi salah satu ciri khas kuat dalam budaya keilmuan pesantren.
Penutup
Kajian Fawā’id al-Ṣawm dalam tradisi ngaji pasaran Ramadan tidak sekadar bertujuan mengkhatamkan teks, tetapi juga menjadi sarana pelestarian sanad keilmuan, serta pendalaman spiritualitas puasa. Risalah ringkas ini menunjukkan bagaimana ulama klasik mampu merangkum dimensi hukum, etika, dan hikmah ibadah dalam format yang padat namun tetap relevan hingga kini.

