SESUDAH SERIBU HARI ABDUL HADI WM PERGI

Seribu hari bukanlah ukuran rentang waktu dalam kalender mekanis; ia adalah sebuah karpet waktu yang dibentangkan untuk menghitung jarak antara gema ucapan dan keheningan yang ditinggalkan. Ketika hitungan seribu hari itu genap mengendap untuk Prof. Dr. Abdul Hadi WM, yang hadir bukanlah rasa kehilangan yang ringkih, melainkan sebentuk kesadaran metafisis: bahwa seorang penyair sufistik tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya memindahkan alamat tempat berteduhnya—dari baris-baris puisi menuju Langit Makna yang selama ini terus ia cari.

Mengenang sosok Bang Abdul Hadi membawa ingatan melayang jauh menembus lorong waktu ke era 1980-an. Di seputar pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM) atau di sudut-sudud ruang berpendar lampu temaram Balai Budaya Jakarta, percakapan-percakapan intelektual dan spiritual mengalir tanpa muara yang kaku. Di sana, bersama Bang Sutardji Calzoum Bachri yang selalu meletupkan eksistensi mantra, Almarhum Hamid Djabbar dengan kedalaman puisinya yang bersahaja, serta Taufiq Ismail yang cermat mencatat denyut zaman, Abdul Hadi WM hadir seperti telaga yang teduh.

Jika Sutardji membebaskan kata dari beban pengertian menuju keutuhan bunyi dasar, maka Abdul Hadi WM justru menuntun kata kembali ke rumah asalnya: kembali ke akar hakekat. Dalam majelis-majelis diskusi informal yang riuh oleh asap rokok dan derak cangkir kopi masa itu, Bang Abdul Hadi senantiasa berdiri di persimpangan yang unik. Ia memadukan kejelian sarjana sastra Barat dengan kedalaman intuisi pencari Timur. Dari tangannya, estetika Timur—khususnya tradisi Tasawuf Nusantara dan Persia—bukan sekadar fosil sejarah atau topik kajian akademik yang dingin, melainkan sebuah jalan hidup (tariqah) kebudayaan.

Dalam pandangan sastra Sufi yang sering dibincangkannya, dunia fenomena ini adalah kemah sementara atau cermin tempat Sang Mahakeindahan memantulkan diri-Nya. Abdul Hadi sering mengingatkan kita pada gagasan Ibn ‘Arabi tentang Wahdat al-Wujud dan manifestasi Ilahi (tajalli), atau tarian pencarian Attar dalam “Mantiq al-Tayr”. Bagi beliau, puisi bukanlah sekadar luapan emosi pribadi atau permainan bentuk yang hampa makna, melainkan sarana kasyf—singkapan rahasia antara Yang Fana dan Yang Baka.

“Tuhan, Kita Begitu Dekat / Sebagai kain dengan kapas / Aku kapas, kau kainnya…”

Bait-bait fenomenalnya bukan sekadar metafora estetis, melainkan perumusan filsafat eksistensialisme Islam yang teramat intim. Di tengah gemuruh modernitas yang kerap mengasingkan manusia dari jiwanya sendiri, Abdul Hadi WM menyerukan pentingnya “kembali ke akar”. Akar yang ia maksud bukanlah chauvinisme tradisi yang sempit, melainkan keadaban spiritual yang merangkul keheningan (samad).

Tahsinul Mayyit: Mengukuhkan Kesaksian Orang Baik

Gema dari jejak-jejak keadaban itu menemukan ruang khidmatnya ketika derap waktu mempertemukan kembali para sahabat di ruang sejarah sastra Indonesia. Tepat pada Jumat, 30 Oktober 2026, sebuah majelis peringatan seribu hari diselenggarakan di Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB. Jassin. Di ruangan yang menyimpan arsip denyut kesusastraan negeri ini, hadir sejumlah kolega karib Almarhum—mulai dari Sutardji Calzoum Bachri yang setia merawat napas kesenian, Imam Ma’arif, hingga para sahabat seperjuangan dari Yayasan Wakaf Paramadina dan Lingkar Studi Agama dan Filsafat (LSAF).

Namun, pertemuan khidmat di PDS HB. Jassin itu bukanlah sekadar seremonial pamer nostalgia masa lalu atau meratapi nostalgia ruang-ruang diskusi TIM era 80-an. Lebih dari itu, majelis tersebut menjelma menjadi sebuah tahsinul mayyit—sebuah pembuktian kolektif, kesaksian tulus, dan pengukuhan spiritual bahwa Almarhum adalah orang baik.

Kehadiran para kolega dan murid ideologisnya di sana adalah manifestasi dari sabda profetik: bahwa kesaksian kolektif orang-orang saleh dan para pencari kebenaran di muka bumi adalah cerminan dari perkenan di langit. Di hadapan deretan buku dan arsip yang dulu turut dihidupkan oleh pemikirannya, para sahabat menegaskan kembali ketulusan budi, integritas intelektual, serta keluhuran laku hidup Abdul Hadi WM semasa membersamai perjalanan kebudayaan bangsa.

Kini, seribu hari telah berlalu sejak kepulangannya menembus batas-batas zahir. Namun, Jejak Keheningan yang dirintisnya tetap membias. Di tengah dunia yang kian bising oleh ujaran tanpa makna dan artikulasi tanpa jiwa, warisan pemikiran Abdul Hadi WM tentang Sastra Sufi dan Sastra Timur menjadi semacam oase. Ia mengajarkan kita bahwa kata-kata yang lahir dari kesucian hati akan terus bergetar, menembus batas seribu hari, seribu tahun, hingga bermuara di keabadian.

Seribu hari tanpa Abdul Hadi WM di pelataran budaya adalah seribu hari merawat ingatan: bahwa di balik kata ada makna, di balik makna ada rahasia, dan di balik rahasia itu, para orang baik senantiasa dijemput untuk pulang dengan kedamaian yang sejati.

Bismillah …

Related Articles

Artikel baru