SURAKARTA — Aula Pondok Pesantren Raudlatul Muhibbin Al Mustainiyyah Surakarta dipadati ratusan jamaah yang hadir dengan penuh antusias dalam kajian ilmu tasawuf bersama Syekh Musthafa bin Mansur bin Sholeh Bamarhul dari Yaman. Kegiatan ini menjadi momentum penting bagi keluarga besar pesantren, para santri, dan masyarakat untuk memperdalam pemahaman keislaman, khususnya mengenai penyucian jiwa, pembinaan akhlak, dan upaya mendekatkan diri kepada Allah Swt.
Ratusan jamaah mengikuti kegiatan dengan penuh perhatian. Kehadiran mereka menunjukkan besarnya minat masyarakat terhadap majelis ilmu yang tidak hanya memperluas pengetahuan agama, tetapi juga memberikan ruang untuk memperkuat kehidupan spiritual dan memperbaiki kualitas akhlak.
Kajian tersebut menghadirkan Syekh Musthafa Bamarhul, yang memiliki latar belakang pendidikan dan aktivitas pengajaran di lingkungan pendidikan Islam Yaman. Kehadirannya menjadi kesempatan berharga bagi para santri dan masyarakat untuk memperluas wawasan keislaman sekaligus mempererat hubungan keilmuan antara pesantren di Indonesia dan tradisi pendidikan Islam di Yaman.
Melalui kegiatan ini, Pondok Pesantren Raudlatul Muhibbin Al Mustainiyyah Surakarta kembali menegaskan perannya sebagai pusat pendidikan, pembinaan spiritual, dan pengembangan wawasan keislaman bagi santri maupun masyarakat luas.
Dalam sambutannya, Ust. Wassim Ahmad Fahruddin Ketua Yayasan Raudlatul Muhibbin Al Mustainiyyah Surakarta menyampaikan bahwa penyelenggaraan kajian bersama ulama dari Yaman merupakan bagian dari ikhtiar pesantren untuk terus menghidupkan tradisi keilmuan Islam sekaligus memperkuat hubungan dengan para ulama dan lembaga pendidikan Islam di berbagai negara.
Menurutnya, pesantren memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk generasi yang tidak hanya memiliki keluasan ilmu agama, tetapi juga kedalaman spiritual dan keluhuran akhlak. Pendidikan Islam tidak cukup berhenti pada kemampuan membaca kitab, memahami dalil, atau menguasai berbagai disiplin ilmu. Lebih dari itu, ilmu harus mampu membimbing seseorang menjadi pribadi yang jujur, rendah hati, bertanggung jawab, dan bermanfaat bagi masyarakat.
Ketua yayasan menekankan bahwa tasawuf mempunyai peran penting dalam mewujudkan tujuan pendidikan tersebut. Melalui pembinaan hati, seorang penuntut ilmu diajak untuk senantiasa memperbaiki niat, mengendalikan hawa nafsu, menghindari sifat tercela, serta membangun hubungan yang baik dengan Allah Swt. dan sesama manusia.
Ia juga memandang bahwa kehadiran ulama dari luar negeri memberikan kesempatan berharga bagi para santri dan jamaah untuk memperluas cakrawala keilmuan. Pertemuan dalam majelis ilmu semacam ini diharapkan mampu menumbuhkan semangat belajar, memperkuat penghormatan terhadap tradisi keilmuan, dan mendorong pengamalan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari.
Antusiasme ratusan jamaah yang memenuhi aula pondok menjadi dorongan tersendiri bagi pesantren untuk terus menghadirkan kegiatan keagamaan yang berkualitas. Pesantren diharapkan tidak hanya menjadi tempat pendidikan bagi para santri, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran masyarakat dalam memperdalam ilmu agama dan membangun kehidupan spiritual yang lebih baik.
Ketua yayasan berharap, melalui kajian tersebut, seluruh peserta memperoleh manfaat yang dapat diterapkan dalam kehidupan nyata. Ilmu yang didapatkan hendaknya melahirkan perubahan perilaku, memperkuat kepedulian sosial, dan meningkatkan kesadaran untuk menjalani kehidupan sesuai tuntunan agama.
Sementara itu, dalam sambutannya, Dr. KH. Mustain Nasoha Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatul Muhibbin Al Mustainiyyah Surakarta menegaskan pentingnya menyeimbangkan pendalaman ilmu agama dengan pembinaan adab dan penyucian jiwa. Menurutnya, proses pendidikan di pesantren bukan hanya bertujuan menghasilkan santri yang cerdas secara intelektual, melainkan juga membentuk pribadi yang matang secara spiritual dan mulia dalam perilaku.
Pengasuh pesantren mengingatkan bahwa ilmu dan adab merupakan dua unsur yang tidak dapat dipisahkan. Keluasan pengetahuan harus membuat seseorang semakin bijaksana dan rendah hati, bukan justru merasa lebih tinggi daripada orang lain. Demikian pula, ibadah perlu disertai kesungguhan memperbaiki hati agar nilai-nilai agama benar-benar tercermin dalam sikap dan tindakan.
Dalam tradisi pesantren, keberhasilan menuntut ilmu tidak semata-mata diukur dari banyaknya kitab yang dipelajari atau lamanya seseorang mengikuti pengajian. Keberhasilan itu juga tampak dari penghormatan kepada guru, kedisiplinan dalam beribadah, kesungguhan mengamalkan ilmu, serta kemampuan menjaga hubungan baik dengan sesama.
Karena itu, kajian tasawuf memiliki arti penting bagi para santri dan masyarakat. Tasawuf mengajak setiap muslim untuk melakukan introspeksi, mengenali kekurangan diri, dan berusaha memperbaiki sifat-sifat yang dapat merusak hubungan dengan Allah Swt. maupun dengan manusia.
Pengasuh juga berharap kehadiran Syekh Musthafa Bamarhul dapat memberikan tambahan wawasan dan motivasi bagi para santri untuk terus memperdalam ilmu agama. Para jamaah diharapkan tidak hanya memperoleh pengetahuan baru, tetapi juga terdorong untuk meningkatkan kualitas ibadah, menjaga akhlak, dan menerapkan ajaran Islam secara lebih baik.
Lebih jauh, pesantren diharapkan terus menjadi tempat tumbuhnya generasi yang mampu memadukan kedalaman ilmu, kekuatan spiritual, dan tanggung jawab sosial. Dengan bekal tersebut, para santri dapat berperan aktif di tengah masyarakat serta menghadirkan Islam melalui keteladanan, sikap santun, dan perilaku yang membawa kemaslahatan.
Dalam sesi inti, Syekh Musthafa Bamarhul membahas ilmu tasawuf sebagai bagian penting dari perjalanan seorang muslim untuk membersihkan hati, memperbaiki akhlak, dan mendekatkan diri kepada Allah Swt.
Tasawuf tidak sekadar berbicara tentang persoalan batin atau pengalaman spiritual, tetapi juga berhubungan erat dengan pembentukan karakter. Seseorang yang memperdalam tasawuf diharapkan semakin mampu mengendalikan hawa nafsu, menjaga keikhlasan, bersikap rendah hati, serta menjauhkan diri dari sifat-sifat tercela.
Dalam kerangka ajaran Islam, tasawuf harus berjalan seiring dengan syariat dan berlandaskan Al-Qur’an serta Sunnah. Kedalaman spiritual tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan ketentuan agama. Sebaliknya, penghayatan batin semestinya memperkuat kesungguhan dalam beribadah dan mendorong seseorang menjalankan kewajiban agama dengan penuh kesadaran.
Salah satu persoalan mendasar dalam pembinaan tasawuf adalah membersihkan hati dari sifat sombong, riya, iri hati, dan kecintaan berlebihan terhadap pujian. Sifat-sifat tersebut dapat menghalangi keikhlasan dan merusak hubungan antarmanusia. Oleh karena itu, setiap muslim perlu membiasakan muhasabah, memperbaiki niat, memperbanyak amal saleh, dan menjaga perilaku dalam kehidupan sehari-hari.
Tasawuf juga mempunyai dimensi sosial yang kuat. Kebersihan hati seharusnya tercermin dalam perilaku yang santun, kejujuran, kesabaran, kepedulian kepada sesama, dan kemampuan menghargai perbedaan. Dengan demikian, keberhasilan pembinaan spiritual tidak hanya terlihat dalam aktivitas ibadah, tetapi juga dalam kualitas hubungan seseorang dengan keluarga dan masyarakat.
Dalam konteks kehidupan modern, nilai-nilai tasawuf semakin relevan. Perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi menuntut manusia untuk memiliki pengendalian diri, kebijaksanaan, serta kemampuan menjaga etika. Tasawuf memberikan landasan moral agar kemajuan pengetahuan dan teknologi tetap diiringi dengan tanggung jawab serta keluhuran akhlak.
Bagi para santri, kajian tersebut menjadi pengingat bahwa menuntut ilmu merupakan perjalanan panjang yang harus disertai usaha memperbaiki diri. Ilmu yang dipelajari di pesantren hendaknya tidak berhenti pada pemahaman teoretis, tetapi diwujudkan dalam pengamalan agama, penghormatan terhadap guru, dan pelayanan kepada masyarakat.
Syekh Musthafa bin Mansur bin Sholeh Bamarhul berasal dari Aden, Yaman Selatan, dan memiliki keterkaitan dengan lingkungan pendidikan Islam di kawasan Hadhramaut. Wilayah ini dikenal sebagai salah satu pusat tradisi keilmuan Islam yang memiliki sejarah panjang dalam pengajaran kitab-kitab klasik, pembinaan akhlak, dan pengembangan spiritualitas.
Dalam riwayat pendidikan yang dipublikasikan sejumlah sumber, Syekh Musthafa disebut sebagai alumni atau bagian dari angkatan ketiga Pondok Pesantren Darul Musthofa di Tarim, Hadhramaut, yang diasuh oleh Al-Habib Umar bin Hafidz. Lembaga tersebut dikenal dengan pendidikan yang menekankan penguasaan ilmu-ilmu keislaman, pembentukan adab, dan pengamalan ajaran agama.
Dalam aktivitas keilmuannya, Syekh Musthafa disebut mengemban peran sebagai pengajar sekaligus mudir atau pimpinan Ma’had Ibrahim Al-Khalil di Mukalla, Yaman. Ia juga dikaitkan dengan kegiatan pengajaran di Markas Arabiyah, Universitas Al-Ahgaff.
Latar belakang pendidikan dan aktivitas pengajaran tersebut memberikan konteks bagi kehadirannya dalam kajian di Pondok Pesantren Raudlatul Muhibbin Al Mustainiyyah Surakarta. Pertemuan ini menjadi kesempatan bagi para santri dan masyarakat untuk memperluas wawasan, mempererat hubungan keilmuan, serta memperdalam pemahaman terhadap tradisi keislaman.
Kehadiran ulama dari Yaman juga memperlihatkan bahwa pengembangan ilmu di pesantren dapat berlangsung melalui perjumpaan lintas wilayah dan lembaga pendidikan. Tradisi belajar, penghormatan terhadap guru, dan pembentukan akhlak menjadi nilai penting yang dapat terus dikembangkan dalam kehidupan pesantren di Indonesia.

