Beberapa tahun lalu ketika Houthi, berhasil menumbangkan pemerintahan sah Yaman, publik dunia apatis. Berbeda dengan sekarang, ketika Ansorullah, sayap militer Houthi secara gencar menyerang sejumlah wilayah di Saudi Arabia, pengamat, akademisi, aktivis hubungan internasional dan lebih-lebih pada penanggungjawab keamanan kawasan, sibuk meng-ghibahnya. Siapa houthi? Apa agenda mereka? Seberapa besar pengaruh Iran terhadap kelompok ini? Sejumlah pertanyaan inilah yang mengemuka saat ini.
Houthi Syiah Zaidiyah
Perlawanan model Houthi, paralel dengan pola serupa yang dilakukan oleh Hizbullah di Libanon. Baik Ansorulloh maupun Hizbullah, ciri khasnya adalah militan, anti Amerika-Israel berikut sekutunya. Mereka juga, berideologi Islam Syiah yang dalam banyak hal dipandang sebagai proxy Iran.
Sebutan dan stigma Syiah dan proxy Iran, secara sengaja dilekatkan oleh Barat. Pelabelan tersebut hakekat nya adalah proyek pecah belah Inggris. Proyek ini dimaksudkan sebagai propaganda anti Islam. Atau tepatnya propaganda untuk memecah konsentrasi Islam menjadi dua kutub utama yang saling membenci.
Di samping itu, framing Sunni Syiah dimaksudkan untuk membelah “aqidah”. Sunni Syiah dengan proyek pembelahan aqidah bertujuan membenturkan, adu domba serta menghancurkan persatuan Islam, seperti persatuan Islam internasional di bawah kendali dan pada masa turki Usmani.
Secara geopolitik, Syiah kurang berkembang di luar kawasan Persia, Syam, Yaman Utara dan sejumlah kecil Afrika Utara.
Di asia tenggara, Indonesia, Malaysia, Brunei, Moro serta Pattani, yang bermazhab Syafi’i, secara ideologi syiah tidak mendapat tempat. Meski begitu, secara kultural, sejumlah tradisi Syiah mudah ditemukan di Darul Arqom Malaysia, Nahdlatul ulama Indonesia. Juga pada para Mujahidin di Moro maupun Pattani.
Lebih-lebih jika tradisi tersebut ditarik pada “acara dan agenda” kenegaraan kerajaan-kerajaan Islam Nusantara. Mulai dari Pasai di Aceh, Siak di Riau, kesultanan Palembang, Mataram Islam, hingga kesultanan di Sambas Kalimantan Barat, Ternare, Tidore, Bacan, Jaillo hingga Bima, tradisi pengagungan ahliu bait, yang identik dengan tradisi Syiah, mudah kita temukan.
Juga, acara haul, ziarah orang suci, penghormatan kepada kuburan para wali serta kultus kepada para ulama, prakteknya tidak beda di komunitas Sunni Nusantara dengan tradisi Syiah di Persia, syam maupun Yaman.
Posisi Sakral Mekah Madinah
Adakah agenda Houthi untuk mengambil alih dua kota suci Mekah Madinah dari keluarga Saud ? Pertanyaan berbau konspiratif ini layak diajukan dengan sejumlah perspektif.
Pertama, Mekah Madinah dan Yaman Utara (basis utama houthi) sama-sama bekas federasi Turki Usmani. Sebagai sesama negara bagian, mereka memiliki kesamaan memori kolektif tentang Turki Usmani. Memori kolektif menyangkut; kehidupan sosial, ekonomi, budaya dan tentu saja praktek beragama.
Kedua, Turki Usmani yang mederat, berbeda secara tajam dengan aliran Wahabi. Wahabi yang menjadi Mazhab Islam negara kerajaan Saudi Arabia. dengan madzhab Wahabi pula Saudi menyelenggarakan praktek keislaman di dua kota suci umat Islam tersebut.
Ketiga, belum lagi alasan energi, ekonomi dan hubungan bilateral. Saudi yang makmur, dengan sumberdaya energi yang melimpah, memicu kecemburuan ekonomi Yaman.
Keempat, gap ekonomi antara Saudi dan Yaman ini, tampak dengan sengaja ditampilkan ke publik internasional oleh Saudi. Saudi kaya, makmur dan modern. Sementara Yaman hidup dengan bantuan kemanusiaan, politik dalam negeri nya kacau dan indeks pembangunan manusianya paling buncit. Intinya, perilaku Saudi “mempermalukan’ Yaman ke publik internasional, menyulut spirit anti Saudi.
Saudi tampak enggan punya tetangga seperti itu. Hubungan tetangga serumpun ini, tidak pernah harmonis, untuk tidak menyebut buruk. Yaman terkucil dari pergaulan Arab maupun Islam kawasan. Suaranya tidak pernah didengar. Sikap dan pilihan politiknya kurang dihargai.
Berbeda dengan Saudi; pemimpin kawasan, militer terkuat (sebelum pecah perang Amerika Iran), energi dan sumberdaya mineral melimpah. Di atas semua itu, Saudi mengelola dan menikmati limpahan berkah dari jutaan jemaah haji dan umroh sepanjang tahun.
Penutup
Houthi menemukan momentum unjuk gigi, saat Amerika sibuk berperang melawan Iran. Setelah berhasil mengambil alih kekuasaan de facto Yaman, kelompok yang dikendalikan para Mullah ini terobsesi untuk menaikkan target dan level jihadnya.
Meski tampak sporadis dan tidak terpola, sejatinya misi perjuangan Houthi terstruktur terencana rapi. Riyadh adalah on going target. Bisa jadi setelah Riyadh, Mekah, Madinah dan Palestina serta Tel Aviv adalah serangkaian misi penaklukan berikutnya. Target-target tersebut, sangat mungkin terlaksana. Otomatis hal ini masih satu episode dengan penataan ulang geopolitik Timur Tengah. Tentu faktor Iran juga vital.
Dr M Sholeh Basyari, Analis Islam Kawasan dan Direktur Eksekutif CSIIS

