LFSP Pemprov Jateng Gelar Diskusi Sinergi Pesantren dan Perguruan Tinggi di Ponpes Raudlatul Muhibbin Al Mustainiyyah Surakarta

SURAKARTA — Lembaga Fasilitasi dan Sinergitas Pesantren (LFSP) Provinsi Jawa Tengah menggelar Diskusi Sinergi Pesantren, Perguruan Tinggi, dan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah untuk Generasi Berakhlak, Bermanfaat, dan Bermartabat, Sabtu, 5 September 2026, di Pondok Pesantren Raudlatul Muhibbin Al Mustainiyyah Surakarta.

Kegiatan berlangsung lancar, dinamis, dan produktif, dengan mempertemukan unsur pesantren, perguruan tinggi, LFSP, dan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Forum ini diarahkan untuk membangun sinergi kelembagaan dalam penguatan kualitas sumber daya manusia santri, akses pendidikan, pemberdayaan pesantren, serta pengembangan program yang memiliki dampak langsung bagi masyarakat.

Dalam sambutannya, Dr. KH. Ahmad Muhamad Mustain Nasoha selaku Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatul Muhibbin Al Mustainiyyah Surakarta menekankan pentingnya menempatkan pesantren bukan semata-mata sebagai objek kebijakan, tetapi sebagai subjek strategis pembangunan. Pesantren memiliki modal sosial, tradisi keilmuan, basis pendidikan karakter, serta kedekatan yang kuat dengan masyarakat. Dalam kegiatan tersebut, Mustain Nasoha juga dipercaya memandu sesi utama diskusi.

Pemilihan Pondok Pesantren Raudlatul Muhibbin Al Mustainiyyah sebagai tempat kegiatan menjadi relevan karena forum ini membicarakan pengembangan pesantren dengan menghadirkan langsung ekosistem pesantren sebagai ruang dialog. Dengan demikian, pesantren tidak hanya menjadi tema pembicaraan, tetapi sekaligus menjadi ruang perjumpaan antara tradisi keilmuan Islam, dunia akademik, dan kebijakan publik.

Diskusi menghadirkan Sekretaris LFSP Dr. Fahruddin Faiz dan Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat Gunawan Sudharsono sebagai pembicara. Pembahasan diarahkan pada penguatan ekosistem pesantren melalui kolaborasi lintas sektor, khususnya peningkatan kualitas SDM santri dan perluasan akses terhadap program pemerintah.

Dalam agenda kegiatan, beberapa isu strategis yang dibahas meliputi Program Pesantren OBAH dan Peningkatan SDM Santri, dukungan kebijakan terhadap pesantren, serta Program Beasiswa Santri Penggerak Tahun 2026.

Secara konseptual, sinergi tersebut mempertemukan tiga kekuatan. Pesantren memiliki basis keilmuan, akhlak, pendidikan karakter, dan jaringan sosial; perguruan tinggi memiliki kapasitas riset, inovasi, teknologi, dan pengembangan ilmu pengetahuan; sedangkan pemerintah memiliki instrumen kebijakan, fasilitasi, dan program pembangunan. Integrasi ketiganya diharapkan mampu membentuk ekosistem pemberdayaan pesantren yang lebih sistematis dan berkelanjutan.

Forum tersebut juga melibatkan jejaring pesantren dan perguruan tinggi di Surakarta dan sekitarnya. Daftar undangan mencakup berbagai pondok pesantren serta unsur sejumlah perguruan tinggi, menunjukkan upaya membangun kolaborasi lintas institusi secara lebih luas.

Kegiatan yang berlangsung dengan lancar dan penuh antusiasme ini diharapkan tidak berhenti sebagai forum diskusi, tetapi ditindaklanjuti melalui program konkret, terukur, dan berkelanjutan, terutama dalam peningkatan SDM santri, pendidikan, beasiswa, pemberdayaan ekonomi, dan penguatan kelembagaan pesantren.

Melalui forum ini, LFSP Provinsi Jawa Tengah menegaskan pentingnya membangun pola hubungan yang produktif antara pesantren, perguruan tinggi, dan pemerintah untuk melahirkan generasi yang tidak hanya memiliki kompetensi intelektual, tetapi juga berakhlak, bermanfaat, mandiri, dan bermartabat.

Related Articles

Artikel baru