SURAKARTA — Ratusan jamaah dari berbagai kalangan memadati rangkaian kegiatan Shalat Istisqa’ dan Kajian Kitab Muqodimah Qonun Asasi Nahdlatul Ulama yang diselenggarakan oleh Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Kota Surakarta. Kegiatan berlangsung khidmat sejak pagi dan diikuti oleh unsur Nahdlatul Ulama, berbagai organisasi kemasyarakatan, masyarakat umum, serta perwakilan perguruan tinggi di Surakarta.
Rangkaian kegiatan dimulai pukul 06.00 WIB dengan pembacaan Maulid Al-Barzanji yang dipimpin oleh Ust. Nani Khoirul Muttaqin. Lantunan maulid dan shalawat mengawali suasana pagi sebelum jamaah bersama-sama melaksanakan Shalat Istisqa’ sebagai ikhtiar spiritual memohon turunnya hujan dan keberkahan dari Allah SWT.
Shalat Istisqa’ kemudian dilaksanakan pukul 07.00 WIB dengan imam Ust. Muhammad Fayyad ElBarka, santri Pondok Pesantren Raudlatul Muhibbin Al Mustainiyyah Surakarta. Pelaksanaan shalat kali ini terasa istimewa karena menggunakan bacaan Qira’at Sab’ah. Pada rakaat pertama, Surat Asy-Syams dibaca dengan Qira’at Imam Hamzah, sedangkan pada rakaat kedua Surat Ad-Dhuha dibaca dengan Qira’at Imam Warasy.

Bertindak sebagai khatib adalah Ust. Ghazy Athar Al Ghifari. Dalam khutbahnya, ia mengajak jamaah tidak hanya memandang kekeringan sebagai persoalan alam yang harus diselesaikan melalui ikhtiar lahiriah, tetapi juga sebagai momentum untuk melakukan taubat, muhasabah spiritual, sekaligus muhasabah ekologis.
Menurutnya, manusia tidak cukup hanya meminta hujan dari langit, tetapi juga memiliki tanggung jawab menjaga bumi agar mampu menerima dan menyimpan air sebagai rahmat Allah.
Dalam khutbah tersebut, ia mengutip Imam al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din mengenai syukur sebagai salah satu maqam penting seorang hamba. Syukur tidak berhenti pada ucapan, tetapi harus diwujudkan dengan mempergunakan dan menjaga nikmat Allah secara bertanggung jawab.
Khatib juga mengutip Imam al-Raghib al-Ashfahani dalam al-Dzari‘ah ila Makarim al-Syari‘ah mengenai konsep ‘imarat al-ardh atau memakmurkan bumi sebagai bagian dari tanggung jawab manusia sebagai khalifah.
Pesan tersebut diperkuat dengan penjelasan Imam al-Syathibi dalam al-Muwafaqat mengenai kemaslahatan sebagai tujuan syariat, Imam Izzuddin ibn Abd al-Salam dalam Qawa’id al-Ahkam fi Masalih al-Anam mengenai menghadirkan kemanfaatan dan menolak kemudaratan, serta Imam Ibn ‘Asyur dalam Maqasid al-Syari‘ah al-Islamiyyah mengenai pentingnya menjaga keberlangsungan kemaslahatan umum.
Dengan merujuk QS. Al-A’raf ayat 56 tentang larangan berbuat kerusakan di bumi dan QS. Ar-Rum ayat 41 tentang kerusakan darat dan laut akibat perbuatan manusia, khatib mengingatkan bahwa persoalan lingkungan juga merupakan bagian dari tanggung jawab keagamaan.
“Memohon hujan adalah ibadah, sedangkan menjaga bumi agar mampu menerima dan menyimpan air hujan adalah amanah.”
Usai Shalat Istisqa’, suasana semakin khusyuk ketika Ust. Muhammad Hadziq Maftuh, kader NU Surakarta dan anggota Ansor, memimpin doa dan munajat. Bersama ratusan jamaah, ia memohon kepada Allah SWT agar menurunkan hujan yang membawa rahmat dan keberkahan, sekaligus memohon keselamatan serta kebaikan bagi masyarakat, bangsa, dan negara.
Dalam kesempatan tersebut, Ketua MUI Kota Surakarta KH. Imam Suhadi, yang juga merupakan salah satu kader Ansor NU Surakarta, mengajak seluruh jamaah untuk benar-benar menjalankan amanah sebagai khalifatullah fil ardh. Menurutnya, kedudukan manusia sebagai khalifah menuntut adanya tanggung jawab untuk menjaga kehidupan, kemaslahatan masyarakat, serta kelestarian alam.
Sementara itu, Ketua PCNU Kota Surakarta KH. Muhammad Masyhuri mengajak seluruh jamaah untuk terus memperkuat doa dan munajat bersama demi kebaikan bangsa dan negara. Turut hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Bendahara PCNU Kota Surakarta, Bapak Syamsul Hadi, bersama jajaran pengurus dan berbagai unsur Nahdlatul Ulama.
Rangkaian kegiatan kemudian mencapai puncaknya pada pukul 08.00 WIB melalui Kajian Kitab Muqodimah Qonun Asasi Nahdlatul Ulama karya pendiri Nahdlatul Ulama, Hadratussyaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari.
Pada puncak acara, Dr. KH. Ahmad Muhamad Mustain Nasoha, Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatul Muhibbin Al Mustainiyyah Surakarta, mengkaji Muqodimah Qonun Asasi Nahdlatul Ulama karya Hadratussyaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari dengan metode “Utawi Iki Iku”, tradisi pemaknaan kitab khas pesantren. Dalam kajiannya, beliau menegaskan bahwa Qonun Asasi bukan sekadar dokumen sejarah berdirinya NU, tetapi merupakan fondasi ideologis, spiritual, dan sosial dalam membangun cara berpikir dan cara berkhidmah warga Nahdliyin.
Menurut beliau, kekuatan umat lahir dari ilmu, persatuan, keteraturan organisasi, adab, dan keikhlasan dalam berkhidmah. Ilmu membutuhkan sanad, perjuangan membutuhkan organisasi, dan organisasi membutuhkan amanah serta tujuan yang benar.
Nilai-nilai Qonun Asasi juga dinilai semakin relevan menghadapi tantangan masa kini, mulai dari persoalan pendidikan, ekonomi, teknologi, sosial, hingga lingkungan. Karena itu, warga NU tidak cukup hanya besar secara jumlah, tetapi harus kuat dalam ilmu, ekonomi, pendidikan, sosial, dan pengabdian kepada masyarakat.
Beliau juga menegaskan bahwa tradisi pesantren harus terus hidup dan mampu menjawab perkembangan zaman. “Kitab kuning harus tetap dibaca, tetapi persoalan zaman juga harus dibaca. Sanad harus dijaga, tetapi realitas masyarakat juga harus dipahami.”
Di akhir kajian, jamaah diajak menghidupkan Qonun Asasi dalam kehidupan nyata melalui penguatan persatuan, penghormatan kepada ulama, peningkatan kualitas keilmuan, kemandirian umat, dan kehadiran nyata dalam menyelesaikan persoalan masyarakat.
NU harus kuat akarnya dalam tradisi, luas pandangannya terhadap zaman, dan nyata manfaatnya bagi umat.
Kehadiran ratusan jamaah dari berbagai organisasi dan perwakilan perguruan tinggi menunjukkan tingginya antusiasme masyarakat terhadap kegiatan keagamaan yang mempertemukan ibadah, tradisi keilmuan pesantren, kepedulian sosial, dan kesadaran ekologis dalam satu rangkaian.
Melalui kegiatan ini, LDNU Kota Surakarta membawa pesan kuat bahwa menghadapi berbagai persoalan kehidupan tidak cukup hanya dengan doa dan ikhtiar lahiriah secara terpisah. Doa harus melahirkan kesadaran, ilmu harus melahirkan tindakan, dan keimanan harus diwujudkan dalam tanggung jawab menjaga manusia sekaligus alam semesta.

