Maulid dan Syahadah

Di dalam rangkaian bacaan Barzanji yang dinisbatkan kepada Sayyid Ja‘far bin Hasan al-Barzanji, ada sebait doa yang sering dilantunkan dengan suara merdu:

يَا رَبِّ وَارْزُقْنَا الشَّهَادَةَ
يَا رَبِّ حُطَّنَا بِالسَّعَادَةِ

“Wahai Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami kesyahidan. Wahai Tuhan kami, tempatkanlah kami dalam kebahagiaan.”

Kita sering melantunkannya dengan khusyuk. Nadanya naik dan turun, tangan memegang kitab, tubuh bergoyang perlahan. Namun terkadang maknanya tidak ikut bergerak. Bibir kita meminta syahadah, tetapi kesadaran kita mungkin tidak pernah bertanya: syahadah macam apakah yang sedang dimohonkan?

Barzanji bukan hanya kumpulan pujian kepada Rasulullah saw. Ia juga mengisahkan kelahiran beliau, perjalanan hidupnya, kemuliaan akhlaknya, nasabnya, bahkan ciri-ciri biologis dan keindahan penampilannya. Semua dirangkai dengan bahasa yang lembut, seolah-olah cinta kepada Rasulullah harus memasuki manusia melalui seluruh pintu: sejarah, ingatan, akal, perasaan dan imajinasi.

Tetapi di balik kelembutan itu tersimpan sesuatu yang sangat revolusioner. Ada doa agar manusia dianugerahi syahadah. Ini bukan doa agar seseorang mencari kematian secara serampangan. Syahadah bukan kegemaran terhadap pertumpahan darah. Ia merupakan kesiapan mempertaruhkan diri demi kebenaran, keadilan dan kemanusiaan. Orang yang memohon syahadah sedang memohon agar hidupnya tidak berakhir sebagai kehidupan yang sia-sia, jinak di hadapan kezaliman dan sibuk menyelamatkan dirinya sendiri.

Dahulu, ketika saya masih duduk di SD dan SMP, saya mengaji Al-Qur’an dan menghapalkannya kepada Ustaz Kaelani. Beliau santrinya KH. Abdul Hamid. Beliau tidak hanya mengajarkan Al Quran, tetapi juga mengajarkan kami menghapalkan kitab Barzanji. Kami menghapalkan bait-baitnya dengan patuh, meskipun belum memahami kedalaman maknanya.

Sayangnya, Ustaz Kaelani tidak menjelaskan arti teks-teks itu. Mungkin waktu pengajian terlalu singkat. Mungkin tradisi kita memang lebih terampil mewariskan bunyi daripada membedah makna. Akibatnya, Barzanji berpindah dari generasi ke generasi sebagai irama yang indah, tetapi daya ledaknya disimpan rapat-rapat di balik bahasa Arab yang tidak seluruh pembacanya mengerti.

Padahal, seandainya Ustaz Kaelani dahulu menerangkan artinya, dan seandainya para pengamal Barzanji sekarang bersedia mengulik setiap kalimatnya, kita akan menemukan sebuah pendidikan revolusioner yang berbasis pada kecintaan kepada Rasulullah saw. dan Ahlulbaitnya. Cinta di dalam Barzanji bukan cinta yang membuat manusia tertidur. Ia justru membangunkan keberanian moral.

Di sinilah doa meminta syahadah menemukan tempatnya. Ia tidak berdiri sendirian. Ia menyatu dengan pujian kepada Rasulullah, dengan ingatan kepada akhlaknya dan dengan kerinduan kepada Ahlulbaitnya. Dengan demikian, syahadah bukanlah keberanian yang tumbuh dari kebencian. Ia lahir dari cinta: cinta kepada Allah, kepada Rasulullah, kepada manusia dan kepada keadilan.

Mungkin inilah salah satu makna terdalam peringatan Maulid. Maulid bukan hanya mengenang kapan Rasulullah dilahirkan. Ia merupakan ikhtiar agar nilai-nilai kerasulan dilahirkan kembali di dalam diri manusia. Jika dari sebuah peringatan Maulid tidak lahir keberpihakan kepada kaum tertindas, tidak tumbuh keberanian menghadapi kezaliman, dan tidak muncul akhlak yang melindungi manusia lemah, mungkin yang lahir hanyalah acaranya–bukan kesadaran kenabiannya.

Karena itu, tuduhan bidah terhadap seluruh bentuk peringatan Maulid sering kali terlalu sederhana. Ia hanya memperdebatkan bungkus, tetapi tidak menyentuh daya transformasi yang dikandungnya. Bahkan, dalam perjalanan sejarah, penolakan terhadap tradisi keagamaan yang membangkitkan cinta, ingatan dan solidaritas dapat menguntungkan penguasa zalim. Penguasa biasanya tidak takut kepada upacara. Yang mereka takutkan ialah ketika manusia menemukan makna di balik upacara itu.

Penguasa tidak terlalu khawatir kepada orang yang membaca:

يَا رَبِّ وَارْزُقْنَا الشَّهَادَةَ

selama orang itu tidak memahami artinya. Tetapi ketika kalimat tersebut masuk ke dalam kesadaran, ia dapat melahirkan manusia yang tidak mudah dibeli, tidak gampang ditakut-takuti dan tidak bersedia menggadaikan kebenaran demi jabatan. Manusia seperti itu mungkin tetap tersenyum dan berselawat, tetapi di dalam dadanya telah berdiri sebuah Karbala: ruang batin tempat kebenaran dan kezaliman tidak dapat diperdamaikan.

Pada saat mahallul qiyam, para pembaca melantunkan:

مَرْحَبًا يَا جَدَّ الْحُسَيْنِ

“Selamat datang, wahai kakek Husain.”

Penyebutan Imam Husain bukan sisipan tanpa makna. Ia menghubungkan kelahiran Rasulullah dengan kelanjutan risalahnya dalam diri Ahlulbait. Rasulullah saw. bersabda:

حُسَيْنٌ مِنِّي وَأَنَا مِنْ حُسَيْنٍ، أَحَبَّ اللَّهُ مَنْ أَحَبَّ حُسَيْنًا

“Husain ibn Ali adalah bagian dariku dan aku adalah bagian dari Husain. Allah mencintai orang yang mencintai Husain.”

Kalimat “Husain adalah bagian dariku” mudah dipahami melalui hubungan darah dan kasih sayang seorang kakek kepada cucunya. Namun kalimat “aku adalah bagian dari Husain” membuka cakrawala yang lebih jauh. Risalah Muhammad diteruskan, dijaga dan ditampakkan kembali melalui pengorbanan Husain. Rasulullah merupakan mata air risalah, sedangkan Husain menjadi salah satu aliran sejarah yang membuat mata air itu tidak dikubur oleh kekuasaan. Husain menjadi titik sebar Islam Muhammadi dengan energi revolusionernya yang dahsyat, sehingga api revolusi itu tidak pernah padam di dalam qalbu setiap mukmin.

إِنَّ لِقَتْلِ الْحُسَيْنِ حَرَارَةً فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ لَا تَبْرُدُ أَبَدًا

Kesyahidan Husain menyalakan bara di dalam kalbu orang-orang beriman–bara yang tidak akan pernah padam.

Karena itulah, dalam pembacaan yang lebih mendalam, memperingati kelahiran Rasulullah juga berarti mengingat syahadah Rasulullah dan Ahlulbaitnya yang suci. Kelahiran dan kesyahidan bertemu dalam satu garis perjuangan. Kelahiran menghadirkan cahaya, sedangkan syahadah menjaganya agar tidak dipadamkan oleh kezaliman.

Maulid dengan demikian bukan sekadar perayaan hari lahir. Ia adalah peringatan bahwa Muhammad pernah lahir untuk mengubah dunia, dan Husain gugur agar perubahan itu tidak dibatalkan oleh istana. Kita berdiri pada mahallul qiyam bukan hanya untuk menghormati kedatangan seorang bayi mulia dari Makkah, melainkan juga untuk bertanya kepada diri sendiri: apakah ajaran beliau telah benar-benar lahir dalam keberanian kita?

Tidak semua orang yang berdiri ketika Barzanji dibaca telah berdiri melawan kezaliman. Tidak semua orang yang menangis mendengar nama Husain bersedia menolak jalan Yazid. Dan tidak semua orang yang memohon syahadah telah bersedia mengorbankan kenyamanan kecilnya demi kebenaran.

Barzanji menunggu untuk dibaca kembali–bukan hanya dengan suara, tetapi dengan kesadaran. Ketika bunyi dan makna akhirnya bertemu, Maulid tidak lagi berhenti sebagai ritus tahunan. Ia menjadi pendidikan cinta, latihan keberanian dan ikrar bahwa manusia tidak akan berlutut di hadapan apa pun selain Allah.

Itulah perjumpaan antara Maulid dan syahadah: kita merayakan kelahiran cahaya sekaligus berjanji untuk tidak membiarkan cahaya itu dibunuh untuk kedua kalinya.

Related Articles

Artikel baru