Ribuan nahdliyin memadati arena pembukaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama. Saya hadir mendampingi Rektor ITS, Prof. Bambang Pramujati. Duduk di tengah keriuhan itu, menjadi saksi sejarah.
Dari atas panggung, Presiden Prabowo Subianto melontarkan satu frasa yang menarik perhatian. “Jas Hijau,” tegasnya. Jangan sekali-sekali melupakan jasa ulama.
Rima ini seolah melengkapi “Jas Merah” Bung Karno. Kita mafhum, kemerdekaan Indonesia memang diproklamasikan di Jakarta. Namun, ujian sesungguhnya justru pecah di Surabaya. Dibayar tunai lewat darah dan nyawa laskar santri di bawah panji Resolusi Jihad 1945.
Berada di Tambakberas, ingatan otomatis melayang kepada sang tuan rumah sejarah: K.H. Abdul Wahab Chasbullah. Sang arsitek pergerakan NU.
Selama ini kita mungkin lebih sering mengingat beliau sebagai sosok kiai sepuh yang mapan. Mari kita putar waktu sejenak. Tengok Kiai Wahab di usia 20-an, awal dekade 1910-an. Saat itu, darah mudanya mendidih menghadapi zaman yang sangat menekan. Bukan cuma satu, tapi tiga himpitan besar menghantam sekaligus.
Pertama, cengkeraman kolonialisme Belanda yang makin represif terhadap embrio pergerakan santri. Kedua, turbulensi global berupa runtuhnya Kekhalifahan Utsmaniyah yang disusul merembesnya gelombang puritanisme. Ketiga, dan ini yang paling menyakitkan, stigma dari dalam negeri sendiri. Pesantren dipojokkan, dilabeli kuno, kolot, dan tertinggal oleh kelompok yang melabeli diri modernis.
Ruang gerak ulama tradisional betul-betul terjepit. Tapi Wahab muda tidak memilih jalan meratapi nasib. Ia merancang arsitektur perlawanan yang elegan. Berpegang teguh pada prinsip amar ma’ruf nahi munkar. Ia merebut narasi.
Stigma “kolot” dilawan bukan dengan menjauhi modernitas. Pada 1914, di usia 26 tahun, ia dan K.H. Mas Mansyur mendirikan Taswirul Afkar (Potret Pemikiran) di Surabaya. Ini bukan majelis taklim biasa, melainkan forum debat terbuka. Ruang bagi para pemuda mengasah nalar rasional di tengah represi.
Menghadapi turbulensi identitas, ia menawarkan pijakan lokal yang kokoh. Lahirlah madrasah Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Tanah Air) pada 1916. Sistem pendidikan dirombak. Madrasah ini berkelas, memiliki kurikulum, memakai meja-bangku layaknya sekolah modern Belanda, namun rohnya tetap teguh pada Ahlussunnah wal Jama’ah.
Di madrasah itulah mahakarya berkumandang:
…
Pusaka hati wahai tanah airku
Cintaku dalam imanku
Jangan halangkan nasibmu
Bangkitlah hai bangsaku
…
Taktiknya cerdas. Lirik mars Syubbanul Wathon sengaja memakai bahasa Arab agar lolos dari radar intelijen. Setiap pagi santri wajib menyanyikannya. Jauh sebelum gagasan “Republik Indonesia” membumi, Kiai Wahab sudah menanamkan bibit patriotisme langsung ke alam bawah sadar pemudanya.
Riuh Muktamar ini seakan mengingatkan kembali bahwa pergerakan besar selalu lahir dari kegelisahan merespons zaman. Jika dulu hambatannya berwujud fisik dan kolonialisme, hari ini tantangan pemuda kita bermutasi menjadi tiga ancaman yang jauh lebih senyap, namun punya daya hancur yang sama.
Tantangan pertama tak lagi berwajah kolonial asing, melainkan kemungkaran dari dalam rumah sendiri. Korupsi. Indeks Persepsi Korupsi kita yang merosot bukanlah sekadar angka. Melainkan potret muram kebocoran masa depan. Ini adalah penjajahan gaya baru yang mencekik anggaran pendidikan, menyandera laju riset, dan memperlambat pemerataan infrastruktur. Tanpa disadari, kemungkaran struktural ini terus menggerus modal sosial dan kepercayaan publik yang justru menjadi nyawa sebuah pergerakan bangsa.
Tantangan kedua adalah badai yang bergerak cepat menuju satu titik tabrakan. Ledakan bonus demografi yang berhadapan langsung dengan revolusi Agentic AI. Di satu sisi, jutaan anak muda kita sedang berdesakan di pintu masuk dunia kerja. Di sisi lain, kecerdasan buatan otonom kini tak lagi sekadar membantu, tapi siap mengambil alih pekerjaan-pekerjaan level pemula tersebut. Tanpa perombakan kompetensi yang radikal, titik temu di dekade 2030-an nanti tidak akan menjanjikan Indonesia Emas, melainkan berisiko meledakkan bom waktu pengangguran massal.
Tantangan ketiga kesenjangan digital yang kualitatif. Jika dulu santri dipinggirkan karena tak punya akses ke sekolah Eropa, kini pemuda di pedesaan dan pesantren terancam hanya menjadi penonton di era algoritma. Akses internet mungkin sudah merambah desa, namun tanpa literasi dan penguasaan teknologi yang mumpuni. Generasi ini direduksi sebatas menjadi “data pakan” bagi korporasi raksasa, gagal mengekstraksi nilai dari teknologi di genggaman mereka.
Menghadapi kepungan ini, meratap bukanlah pilihan. Kita wajib memanggil kembali spirit taktik Wahab muda melalui tiga langkah orkestrasi yang nyata.
Bangkitkan gerakan integritas akar rumput Prinsip amar ma’ruf nahi munkar harus diterjemahkan sebagai gerakan sipil. Jaringan pesantren yang mengakar hingga ke pelosok desa memiliki rentang kendali sosial untuk menjadi kekuatan penjaga moral publik. Pesantren harus mengambil peran kultural mendorong transparansi di akar rumput. Mendidik santri menjadi agen integritas. Dan, menempatkan isu antikorupsi sebagai inti dakwah yang membumi. Jasa ulama menjaga akhlak bangsa harus menemukan bentuk paling konkretnya di titik ini.
Leburkan sekat kampus, pesantren, dan industri Mengatasi tabrakan demografi dan otomatisasi mesin membutuhkan tuas rem darurat berupa sinergi lintas sektor. Perguruan tinggi harus turun menginkubasi inovasi bersama pesantren dan masyarakat, dengan didukung kelayakan bisnis dari industri. Kurikulum harus dirombak agar pemuda kita tidak hanya bersaing dengan mesin, melainkan belajar membedah logika komputasi dan bekerja bersama algoritma. Menjadikan mereka kreator teknologi, bukan buruh operasional yang menunggu usang.
Bangun Taswirul Afkar era digital. Kita sangat membutuhkan ruang praktik, bukan sebatas forum retorika. Laboratorium teknologi terapan, mulai teknologi cerdas untuk agrikultur, hingga purwarupa pembangkit energi terbarukan, harus mulai diujicobakan langsung di pesantren-pesantren. Dengan menjadikan kampus sebagai mitra pendamping teknis, pemuda di pelosok bisa membedah anatomi teknologi untuk memecahkan problem riil akar rumput. Inilah wujud sejati dari demokratisasi teknologi. Inovasi yang membumi dan dirasakan manfaatnya langsung oleh masyarakat.
Kiai Wahab telah memberi teladan penting. Disrupsi tidak untuk diratapi, melainkan diorkestrasi.
Slogan “Jas Hijau” hari ini adalah alarm. Di persimpangan antara majunya mesin otonom dan kian sempitnya jendela demografi, pemuda harus menjaga nalar dan daya juangnya. Jika kita lengah, sejarah masa depan hanya akan digerakkan oleh deretan algoritma dan statistik mesin, bukan lagi oleh nurani anak bangsa.
AMH
Agus Muhamad Hatta

