Surakarta, 22 Agustus 2026 — Ribuan jamaah dari berbagai daerah menghadiri Pengajian Akbar Jamaah Muji Rosul (JAMURO) Surakarta di Katering Shafira milik H. Eko Warsito yang berlangsung dalam suasana khidmat, semarak, dan penuh kecintaan kepada Rasulullah SAW. Sejumlah ulama, kiai, habaib, tokoh masyarakat, serta jamaah dari berbagai wilayah tampak mengikuti rangkaian acara yang mengangkat tema besar tentang dalil, sejarah, keutamaan, dan pandangan ulama empat mazhab mengenai peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Rangkaian pengajian diawali dengan pembacaan Maulid Al-Barzanji oleh Tim Jamaah Muji Rosul Surakarta. Lantunan shalawat yang menggema di tengah ribuan jamaah menghadirkan suasana religius sekaligus menjadi pengantar menuju kajian utama.

Untuk menambah semarak kegiatan, panitia juga menyediakan beragam doorprize, antara lain kulkas, sepeda, dan sejumlah hadiah menarik lainnya. Meski berlangsung meriah, substansi pengajian tetap diarahkan pada penguatan ilmu, mahabbah kepada Rasulullah SAW, serta pemahaman yang lebih utuh mengenai tradisi Maulid dalam khazanah keislaman.
Pengisi Pengajian disampaikan oleh Dr. KH. Ahmad Muhamad Mustain Nasoha, Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatul Muhibbin Al-Mustainiyyah Surakarta. Dalam paparannya, Gus Mustain mengupas persoalan Maulid Nabi dari berbagai sudut, mulai dari Al-Qur’an, hadis, sejarah Islam, pendapat ulama empat mazhab, hingga keterangan sejumlah tokoh besar dalam literatur klasik Islam.
Menurut Gus Mustain, peringatan Maulid Nabi tidak seharusnya berhenti sebagai seremoni tahunan. Maulid harus ditempatkan sebagai momentum untuk menghidupkan kembali cinta, rasa syukur, penghormatan, dan keteladanan kepada Nabi Muhammad SAW.
Mengawali kajiannya, Gus Mustain menggambarkan kondisi umat manusia menjelang kelahiran Rasulullah SAW.
Gus Mustain kemudian mengutip hadis dalam Shahih Muslim dari Abu Qatadah RA. Ketika Rasulullah SAW ditanya mengenai puasa hari Senin, beliau menjawab: “Pada hari itu aku dilahirkan dan pada hari itu wahyu diturunkan kepadaku.”
Menurut Gus Mustain, menuqil penjelasan Syekh Yusuf Khottor dari Kitab Al Mausuiyyah Al Yusufiyah Hal. 136 bahwa hadis tersebut menunjukkan bahwa hari kelahiran Rasulullah mempunyai nilai khusus dan beliau sendiri mensyukurinya melalui ibadah.
“Kalau Rasulullah sendiri mensyukuri hari kelahirannya dengan ibadah, maka kegembiraan umat atas kelahiran beliau yang diwujudkan melalui ibadah dan kebaikan memiliki landasan makna yang sangat kuat,” jelasnya.
Ia juga mengutip QS. Yunus ayat 58 mengenai perintah bergembira atas karunia dan rahmat Allah, serta QS. Al-Anbiya ayat 107 yang menegaskan bahwa Nabi Muhammad SAW diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam. Menuqil penjelasan Imam Suyuti dari Tafsir Durul Mansur juz 2 hal. 308. Bahwa kelahiran dan kerasulan Nabi Muhammad SAW merupakan rahmat yang tidak terkira bagi alam semesta. Sehingga patut kita syukuri.
Salah satu bagian yang menarik perhatian jamaah adalah ketika Gus Mustain menguraikan kisah Abu Lahab dan Tsuwaibah.
Riwayat tersebut dinukil dalam Shahih al-Bukhari, kemudian dibahas oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani dalam Fath al-Bari juz 1 hal. 124, serta diriwayatkan pula oleh Imam Abdurrazzaq al-Shan‘ani dalam Al-Mushannaf bahwa dikisahkan bahwa Abu Lahab memerdekakan Tsuwaibah setelah menerima kabar gembira mengenai kelahiran Nabi Muhammad SAW. Dalam riwayat tersebut disebutkan adanya keringanan azab setiap hari Senin. “Jika kegembiraan seorang Abu Lahab atas kelahiran Nabi saja disebut mendatangkan manfaat, lalu bagaimana dengan kegembiraan seorang mukmin yang benar-benar mencintai Rasulullah SAW?” Ia menegaskan bahwa kisah Abu Lahab tidak ditempatkan sebagai satu-satunya dasar hukum Maulid, melainkan sebagai bagian dari penjelasan para ulama mengenai makna kegembiraan atas kelahiran Rasulullah SAW.
Dalam pembahasan fikih, Kyai Mustain menegaskan bahwa persoalan Maulid memiliki pijakan panjang dalam khazanah ulama Hanafi, Maliki, Syafi‘i, dan Hanbali.
Sejumlah ulama dari empat mazhab tersebut memandang peringatan Maulid sebagai kegiatan yang dapat diperbolehkan dan bernilai terpuji apabila diisi dengan ibadah, rasa syukur, sedekah, pengagungan kepada Rasulullah SAW, serta berbagai amal kebajikan.
Mazhab Hanafi: Maulid Termasuk Bid‘ah yang Terpuji. Gus Mustain Nasoha mengutip Syekh Ahmad Ibnu Abidin dalam kitab Natsrud Durar ‘ala Maulidi Ibni Hajar, Juz III, halaman 391.
Dalam kitab tersebut dinyatakan: “Di antara bid‘ah yang terpuji adalah melaksanakan Maulid Nabi yang mulia pada bulan dilahirkannya Nabi Muhammad SAW.”
Mazhab Maliki: Maulid Menjadi Momentum Memperbanyak Kebaikan. Gus Mustain Nasoha mengutip Syekh Ibnul Haj al-Maliki dalam kitab Al-Madkhal, Juz I, halaman 361.
Imam Ibnul Haj menerangkan bahwa pada tanggal 12 Rabiul Awal umat Islam selayaknya memperbanyak ibadah dan kebaikan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah atas nikmat-nikmat besar yang diberikan, terutama nikmat kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Mazhab Syafi‘i: Maulid sebagai Ekspresi Pengagungan dan Kegembiraan. Gus Mustain Nasoha mengutip pendapat Imam Jalaluddin al-Suyuthi dalam kitab Al-Hawi lil Fatawa, Juz I, halaman 292. Imam al-Suyuthi menyebut peringatan Maulid sebagai bid‘ah hasanah yang pelakunya dapat memperoleh pahala karena di dalamnya terdapat pengagungan kepada Rasulullah SAW serta ungkapan kegembiraan atas kelahiran beliau.
Pandangan senada juga dikemukakan Syekh Zaini Dahlan dalam kitab Ad-Durar as-Saniyyah, halaman 190, yang menyebut bahwa di antara bentuk memuliakan Rasulullah SAW adalah bergembira pada malam kelahiran beliau dan membaca Maulid.
Dalam tradisi Mazhab Hanbali, Gus Mustain menukil keterangan Ibnul Jauzi al-Hanbali, sebagaimana disebut oleh Muhammad bin Abdul Baqi al-Zarqani dalam Syarh al-Mawahib al-Laduniyyah, halaman 262, serta Usman bin Syatha al-Bakri dalam I‘anatut Thalibin, Juz III, halaman 414.
Dalam keterangan tersebut disebutkan bahwa di antara keistimewaan peringatan Maulid adalah diharapkan menjadi sebab datangnya rasa aman dan kabar gembira atas tercapainya berbagai harapan. Dari berbagai keterangan empat mazhab tersebut, Gus Mustain menegaskan bahwa pembahasan Maulid memiliki akar yang luas dalam literatur Islam. “Maulid bukan persoalan yang lahir kemarin sore. Ia dibahas oleh para ulama lintas mazhab dan lintas generasi, dengan titik tekan pada mahabbah kepada Rasulullah, rasa syukur, pengagungan, dan amal kebajikan.”
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa persoalan Maulid tetap memiliki ruang perbedaan pendapat sehingga harus disikapi dengan kedewasaan ilmiah dan adab.
“Dalam masalah khilafiyah, tugas umat bukan memperlebar pertengkaran, tetapi memahami dalil, menghormati ulama, dan menjaga ukhuwah. Berbeda dalam cabang fikih jangan sampai membuat kita kehilangan akhlak Rasulullah SAW.”
Gus Mustain juga mengangkat pandangan Syaikh Ibnu Taimiyah, tokoh yang kerap dijadikan rujukan oleh kalangan yang kritis terhadap berbagai tradisi keagamaan.
Dalam Kitab Iqtidha’ al-Shirath al-Mustaqim Mukhalafatu Ashhab al-Jahim, halaman 297, Imam Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa sebagian orang yang mengagungkan Maulid dapat memperoleh pahala besar karena niatnya yang baik serta pengagungannya kepada Rasulullah SAW. Menurut Gus Mustain, keterangan tersebut menunjukkan bahwa pembahasan Maulid tidak tepat apabila hanya disederhanakan dalam slogan “boleh” atau “tidak boleh”.
“Harus dilihat niatnya, isinya, bentuk acaranya, dan apa yang dilakukan di dalamnya. Kalau isinya shalawat, pengajian, sedekah, memberi makan, silaturahmi, dan mengingat perjuangan Rasulullah, tentu pembahasannya harus ditempatkan secara proporsional.”
Dalam kitab Is‘adur Rafiq, Gus Mustain juga mengutip pandangan Imam Abu Syamah, guru Imam al-Nawawi, yang memandang baik kegiatan pada hari kelahiran Nabi apabila diisi dengan sedekah, berbuat baik, membantu fakir miskin, memperlihatkan kegembiraan, mengagungkan Rasulullah SAW, dan bersyukur kepada Allah.
Sementara itu, Imam al-Sakhawi menjelaskan bahwa tradisi peringatan Maulid berkembang setelah tiga generasi awal Islam dan kemudian terus dilakukan oleh kaum Muslimin.
Gus Mustain juga menguraikan keterangan mengenai Ibnu al-Jauzi dan sejarah peringatan Maulid pada masa Raja al-Muzhaffar, sebagaimana disebut dalam Is‘adur Rafiq, Juz I, halaman 26. Pada masa tersebut, peringatan Maulid diselenggarakan dalam skala besar dengan menyediakan banyak makanan serta menghadirkan para ulama dan kaum sufi.
“Dari sejarah ini terlihat bahwa Maulid berkembang bukan sekadar sebagai pesta, tetapi menjadi ruang berkumpulnya ulama dan masyarakat, pembacaan sejarah Rasul, jamuan, sedekah, dan kegembiraan bersama,” ujar Gus Mustain.
Gus Mustain juga mengupas sejumlah nukilan dalam kitab An-Ni‘matul Kubra ‘alal ‘Alam fi Maulidi Sayyidi Waladi Adam, yang dinisbatkan kepada Imam Ibnu Hajar al-Haitami (909–974 H/1503–1566 M), cetakan Maktabah al-Haqiqat, Istanbul, Turki, khususnya halaman 5–7.
Dalam kitab tersebut terdapat sejumlah perkataan yang dinisbatkan kepada para sahabat dan ulama mengenai keutamaan mengagungkan kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Kyai Mustain Nasoha menukil pendapat dari Kitab ini antara lain Imam Fakhruddin ar-Razi yang mengatakan : “Tidaklah seseorang yang membaca maulid Nabi saw. ke atas garam atau gandum atau makanan yang lain, melainkan akan tampak keberkatan padanya, dan setiap sesuatu yang sampai kepadanya (dimasuki) dari makanan tersebut, maka akan bergoncang dan tidak akan tetap sehingga Allah akan mengampuni orang yang memakannya. Dan sekirannya dibacakan maulid Nabi saw. ke atas air, maka orang yang meminum seteguk dari air tersebut akan masuk ke dalam hatinya seribu cahaya dan rahmat, akan keluar daripadanya seribu sifat dengki dan penyakit dan tidak akan mati hati tersebut pada hari dimatikannya hati-hati itu. Dan barangsiapa yang membaca maulid Nabi saw. pada suatu dirham yang ditempa dengan perak atau emas dan dicampurkan dirham tersebut dengan yang lainnya, maka akan jatuh ke atas dirham tersebut keberkahan dan pemiliknya tidak akan fakir serta tidak akan kosong tangannya dengan keberkahan Nabi saw.”
Imam Syafi’i, semoga Allah merahmatinya, didalam kitab yang sama berkata “Barangsiapa mengumpulkan saudara-saudaranya untuk mengadakan Maulid Nabi, kemudian menyediakan makanan dan tempat serta melakukan kebaikan untuk mereka, dan dia menjadi sebab atas dibacakannya Maulid Nabi SAW, maka Allah akan membangkitkan dia bersama-sama golongan shiddiqin (orang-orang yang benar), syuhada (orang-orang yang mati syahid), dan shalihin (orang-orang yang shaleh) dan dia akan dimasukkan ke dalam surga-surga Na’im.” Sedangkan keutamaan Maulid Nabi kata Imam Sirri Saqathi, semoga Allah membersihkan sir (bathin)-nya : “Barangsiapa pergi ke suatu tempat yang dibacakan di dalamnya maulid Nabi saw, maka sesungguhnya ia telah pergi ke sebuah taman dari taman-taman syurga, karena tidaklah ia menuju ke tempat-tempat tersebut melainkan karena cintanya kepada Nabi saw. Sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa mencintaiku, maka ia akan bersamaku di dalam syurga.”
Pengajian Akbar JAMURO Surakarta pun tidak hanya menjadi lautan shalawat yang mempertemukan ribuan jamaah, tetapi juga menjadi ruang penguatan tradisi keilmuan, silaturahmi ulama dan umat, serta peneguhan mahabbah kepada Rasulullah SAW.
Melalui kajian tersebut, jamaah diajak menjadikan Maulid bukan hanya sebagai peringatan kelahiran Nabi, melainkan sebagai energi untuk memperbaiki akhlak, memperluas sedekah dan kebaikan, mempererat ukhuwah, menghidupkan ilmu, serta menghadirkan sunnah dan keteladanan Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari.

