Direktur BRAC International, Indonesia
PADA Mei 2025, para pemimpin ASEAN mengadopsi ASEAN Vision 2045 di Kuala Lumpur. Dokumen tersebut menandai optimisme kawasan setelah beberapa dekade menikmati pertumbuhan ekonomi yang relatif stabil dan keberhasilan mengurangi kemiskinan. Jutaan penduduk ASEAN berhasil keluar dari kemiskinan berkat pembangunan ekonomi yang berkelanjutan dan perluasan skema perlindungan sosial.
Namun, keberhasilan tersebut tidak berarti pekerjaan telah selesai. Di balik “cerita” statistik yang menggembirakan, masih terdapat jutaan rumah tangga yang hidup dalam kemiskinan ekstrem. Mereka bukan sekadar miskin dari sisi pendapatan, tetapi juga menghadapi berbagai keterbatasan yang saling berkaitan: minimnya aset produktif, rendahnya keterampilan, terbatasnya akses terhadap pasar dan layanan keuangan, eksklusi sosial, serta tingginya kerentanan terhadap guncangan ekonomi.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kemiskinan ekstrem bukanlah persoalan tunggal yang dapat diselesaikan hanya dengan satu jenis intervensi. Bantuan tunai memang sangat penting untuk menjaga daya beli dan melindungi masyarakat dari krisis, tetapi bagi kelompok yang paling tertinggal, bantuan sosial semata sering kali tidak cukup untuk mengubah masa depan mereka secara permanen.
Di sinilah muncul tantangan baru perlindungan sosial di ASEAN. Pertanyaannya bukan lagi bagaimana memperluas cakupan perlindungan sosial, melainkan bagaimana menjadikannya lebih transformatif mampu membantu masyarakat membangun kehidupan yang mandiri dan berkelanjutan.
Pengalaman berbagai negara menunjukkan bahwa banyak program perlindungan sosial dan penanggulangan kemiskinan masih berjalan secara sektoral. Program bantuan pangan, bantuan tunai, pemberdayaan ekonomi, pelatihan keterampilan, hingga akses pembiayaan sering kali dikelola secara terpisah dengan koordinasi yang sangat terbatas. Akibatnya, rumah tangga miskin menerima berbagai bentuk bantuan, tetapi belum tentu bisa keluar dari jebakan kemiskinan.
Karena itu, pendekatan inovatif yang membantu mengintegrasikan berbagai intervensi menjadi semakin relevan. Salah satunya yang mendapat perhatian luas di tingkat global ialah Pendekatan Graduasi (Graduation Approach), yang pertama kali dikembangkan BRAC salah satu organisasi pembangunan terbesar di dunia yang berasal dari Global South lebih dari dua dekade lalu.
Berbeda dari skema penanggulangan kemiskinan konvensional yang hanya mengatasi satu persoalan pada satu waktu, pendekatan ini dirancang untuk membantu rumah tangga mengatasi berbagai deprivasi secara bersamaan melalui rangkaian intervensi yang terintegrasi, berurutan, adaptif, dan berbatas waktu – pada umumnya selama dua hingga tiga tahun.
Pendekatan Graduasi bukanlah skema baru yang menggantikan berbagai program pemerintah. Sebaliknya, ia memperkuat program-program yang telah ada agar mampu menghasilkan perubahan berkelanjutan.
Pendekatan ini bertumpu pada tiga komponen utama yang dikenal dengan ABC.
Pertama, Asset (Aset). Rumah tangga menerima investasi produktif yang cukup, dalam bentuk uang tunai dan/atau barang, agar mampu membangun sumber mata pencaharian yang layak dan berkelanjutan.
Kedua, Basic Needs (Kebutuhan Dasar). Dukungan terhadap kebutuhan dasar memungkinkan rumah tangga mempertahankan tingkat kesejahteraan minimum sekaligus melindungi aset produktif agar tidak terpaksa dijual demi memenuhi kebutuhan mendesak atau ketika menghadapi tekanan ekonomi jangka pendek. Dengan demikian, tercipta stabilitas yang diperlukan untuk membangun mata pencaharian yang berkelanjutan.
Ketiga—dan dapat dikatakan sebagai ciri utama pendekatan ini, Coaching (Pendampingan). Pendampingan secara berkala dan intensif memberikan manfaat yang jauh melampaui sekadar dukungan atau saran teknis. Pendampingan membantu peserta membangun rasa percaya diri, meningkatkan keterampilan hidup, memecahkan berbagai persoalan praktis, menghubungkan mereka dengan layanan pemerintah dan pasar, serta memperkuat kemampuan mereka untuk mengambil keputusan secara mandiri.
Masing-masing komponen tersebut mungkin tampak sederhana. Namun, ketika diterapkan secara terpadu, dampaknya jauh lebih besar daripada setiap intervensi yang dilakukan secara terpisah.
Yang membuat Pendekatan Graduasi semakin mendapat perhatian luas di tingkat global adalah kuatnya bukti empiris yang mendukungnya.
Di Bangladesh, BRAC telah melaksanakan program berbasis Graduasi sejak 2002 yang menjangkau lebih dari 2,1 juta rumah tangga (sekitar 10 juta jiwa). Evaluasi dampak yang dilakukan oleh London School of Economics (LSE) menunjukkan adanya peningkatan yang berkelanjutan dalam berbagai aspek, termasuk kepemilikan aset produktif, pendapatan, tabungan, ketahanan pangan, pemberdayaan perempuan, kesehatan mental, serta ketahanan menghadapi guncangan.
Bahkan, lebih dari satu dekade setelah program berakhir, tingkat kesejahteraan rumah tangga terus meningkat, dengan tingkat keberhasilan (graduation rate) lebih dari 95 persen.
Temuan tersebut diperkuat studi eksperimental (Randomized Controlled Trial/RCT) lintas negara yang dilakukan Abdul Latif Jameel Poverty Action Lab (J-PAL) di India, Peru, Pakistan, Ethiopia, Ghana, dan Honduras. Penelitian tersebut menemukan dampak positif serupa yang berkelanjutan di berbagai konteks dengan tingkat keberhasilan keluar dari kemiskinan berkisar antara 75 dan 95 persen.
Hingga kini, Pendekatan Graduasi telah dilaksanakan di lebih dari 40 negara dan didukung lebih dari 100 penelitian ilmiah, termasuk studi eksperimental (BRAC International, 2026). Sangat sedikit model pengentasan kemiskinan yang memiliki bukti empiris sekuat dan seberagam ini.
Aspek lain yang juga sangat penting adalah keterlibatan masyarakat. Pendekatan Graduasi memandang masyarakat bukan sebagai penerima manfaat pasif, melainkan sebagai mitra pembangunan. Masyarakat dapat berperan dalam memverifikasi calon peserta program, memberikan pendampingan, membangun kelompok simpan-pinjam, serta menghubungkan rumah tangga miskin dengan layanan publik, pasar, dan peluang ekonomi.
Pendekatan ini sangat sesuai karakteristik negara-negara ASEAN yang memiliki modal sosial kuat melalui relawan, pekerja sosial, kader masyarakat, organisasi perempuan, dan berbagai organisasi berbasis komunitas. Dengan memanfaatkan struktur yang telah ada, implementasi program menjadi lebih mudah sekaligus lebih efisien.
Sejumlah negara ASEAN mulai mengadopsi pendekatan ini. Indonesia, misalnya, telah mengintegrasikan Pendekatan Graduasi ke dalam sejumlah dokumen perencanaan pembangunan dan mulai mengimplementasikannya di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Filipina juga telah menguji pendekatan serupa melalui integrasi ke dalam program bantuan sosial bersyarat 4Ps.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa ASEAN memiliki peluang besar untuk membangun agenda pembelajaran bersama dalam memperkuat perlindungan sosial dengan Pendekatan Graduasi
Ke depan, terdapat setidaknya tiga langkah yang layak dipertimbangkan.
Pertama, mengintegrasikan Pendekatan Graduasi sebagai instrumen pelengkap dalam sistem perlindungan sosial nasional, terutama bagi rumah tangga yang hidup dalam kemiskinan ekstrem dan menghadapi berbagai kerentanan sekaligus.
Kedua, melakukan ujicoba (implementasi skala terbatas) dan perluasan program berbasis Pendekatan Graduasi oleh pemerintah masing-masing negara sesuai konteks lokal.
Ketiga, memperkuat pembelajaran antarnegara ASEAN melalui pertukaran pengetahuan dan pengalaman implementasi.
Tidak ada satu pendekatan pun yang bisa menjadi solusi tunggal terhadap kemiskinan. Pendekatan Graduasi juga bukan obat mujarab. Namun, ketika perlindungan sosial tidak lagi hanya berfungsi sebagai jaring pengaman, melainkan juga sebagai jembatan menuju kemandirian ekonomi, maka peluang rumah tangga miskin untuk benar-benar keluar dari kemiskinan akan semakin besa

