Penting nya membicarakan Muktamar dengan substantif, bukan sekedar meramaikan dengan penuh euforia tanpa punya arah yang jelas, apa lagi memaknai Muktamar sekedar kontestasi belaka, pasti akan terjebak dengan inters pribadi atau kelompok, bahkan yang lebih ironi intres ke alumnian bukan pada kwalifikasi yang diharapkan.
Selama ini marak di bicarakan pada media sosial, platform digital pada portal media menstrim, yang menarik di bicarakan sekedar kontestasi, sehingga energi dihabiskan hanya sekedar kulitnya bukan subtansi atau haqiqotul waqi’nya,
Padahal ada problematika dunia pada umumnya tentang peradaban dunia dan posisioning Nahdlatul Ulama dalam menyikapinya, agresi Amerika kepada negara-negara di timur Tengah yang masih terus dilakukan dengan arogansinya menekan untuk patuh dan tunduk, sementara Israil yang punya ideolegi Zionisme selalu berdiri dibalik jubah kebesaran Negara Barat. Mulai samar kekuatan Amerika dibalik agresi militernya terhadap Negeri Mullah Iran, dan kalangkabut, keteteran terhadap kekuatan Iran.
Tentunya Nahdlatul Ulama dengan kelebihan membangun komunikasi dan menyebarnya Ideologi Ahlussunnah wal Jama’ah dengan wasthiyah nya, tasamuh dan tawazunnya, sangat di harapkan menjadi pioner kedamaian dunia dan menjadi pelopor mencipatan peradaban baru di muka bumi ini.
Tentang Geo-Politik
Indonesia sebagai penduduk mayoritas Ummat Islam dan lebih dari separo berhaluan alhlussunah wal Jamaah, bahkan menurut beberapa survai 51 persen anggota dan simpatisan Nahdlatul Ulama, warga yang didominasi oleh Islam Tradisional ini perlu adanya sikap yang seharusnya menghebohkan dunia, bukan sekedar penonton bahkan terkesan tidak memiliki kekuatan sama sekali.
Ketegangan di Timur Tengah yang masih memanas, agresi Amerika terhadap Iran dan tidak bisa dicegah sekedar menurunkan eskalasi, dan justru makin menjadi- jadi, sementara amanat dalam Pembukaan UUD 1945 yang menyatakan bahwa “Segala bentuk penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.” Tentunya sikap NU secara jamiyyah, sebagai keputusan Muktamar 35 atas agresi Amerika terhadap Iran, genosida Israil bagaimana disikapi dan menjadi mumentum bersejarah bahwa NU bukan sekedar Jamiyyah tahlil wal manaqib.
Mbah Wahab dan para kyai waktu itu dengan komite Hijaz nya memberi teladan bahwa Kyai tidak sekdar ngaji di pesantren tetapi mampu berdiplomasi tingkat dunia, tidak berbeda KH Abdurrahman Wahid yang tidak sekedar diam mampu mempengaruhi para pemimpin dunia, NU jangan terjebak dengan proyek negara Barat tentang Terorisme, moderasi beragama, proyek ini akan memperlemah nilai tawar terhadap dunia, karena sejatinya Moderat dan anti kekerasan itu ajaran Ahlisunnah wal Jamaah.
de-konstruksi barat
Lebih hamper 400 tahun terakhir, politik dunia didominasi oleh Barat, negara-negara barat menciptakan sistem negara bangsa, hukum internasional, ekonomi global, baik dengan cara menjajah dengan menaklukan atau menyebarkan nilai-nilai kebenaran menurutnya keseluruh dunia.
Nahdlatul Ulama sebagai pemegang otoritas moral, termasuk pemilik saham besar pada Negara ini, sangat berkewajiban untuk menetralkan virus yang menghinggapi yang menggerogoti kedaulatan negara pengaruh politik barat, yang dampak bahayanya universalisme barat ( demokrasi liberal, HAM, pasar bebas )
Pioneer melawan hegemoni Barat telah didahului oleh Iran sejak tahun 1979, mengadopsi kekuatan Iran dan menteladani para pemimpin Iran bukan aib atau ketinggalan, tetapi menyelamatkan kedaulatan bangsa menjujung tinggi nilai luhur Islam.
Dan, keberhasilan ini dibuktikan Iran tidak mudah tumbang sekalipun di hajar habis- habisan oleh Amerika+Israil dan Sekutu lainnya. Ada catatan penting adalah karena Kemandirian dan Kedaulatan.
kalimatul Ikhtitam
Memotret para Muasis tidak cukup hanya dari satu arah, tetapi harus dari berbagai sisi sehingga milihat dengan utuh sebuah konstruksi yang mendeketai sempurna , dari wawasan regeonal/domestic bahkan Internasional para Muasis sangat peduli dan bukan sekedar omon-omon tapi tindakan dengan tanpa memikirkan untung rugi pada pribadi, tetapi kemaslahatan umat di dunia.
Sehingga, Muktamar NU 35 bukan menjadi ajang rebutan jabatan, tetapi lebih menatap kedepan kemaslahatan keselamatan dan kemanfaatan umat terpecahkan dalam Muktamar tempat bertemunya para Kyai dalam bingkai rohmatan lillalamin.
Peran serta Nahdlatul Ulama sangat vital untuk menjaga perdamaian dunia, sehingga Membangun peradaban dunia tidak sekedar jargon tanpa visi yang jelas.
Penulis
KH Munib Abd Muchith
Wk Katib syuriyah PWNU Jateng

