Kalau politik adalah panggung sandiwara, maka sebagian besar perhatian kita biasanya tertuju pada para aktor, presiden, perdana menteri, atau pemimpin partai. Padahal, di belakang panggung sering kali ada penulis naskah yang menentukan arah cerita. Di Tiongkok, salah satu penulis naskah itu adalah Wang Huning.
Nama Wang Huning mungkin tidak sepopuler Xi Jinping atau Deng Xiaoping. Ia jarang berpidato di depan publik, hampir tidak pernah berkampanye, dan bukan tipe politisi yang gemar tampil di media. Namun, pengaruhnya terhadap arah politik Tiongkok sangat besar. Ia adalah profesor ilmu politik yang kemudian menjadi penasihat tiga generasi pemimpin Tiongkok: Jiang Zemin, Hu Jintao, dan Xi Jinping. Tidak banyak intelektual di dunia yang berhasil bertahan melewati tiga rezim dengan orientasi politik yang berbeda, tetapi Wang melakukannya.
Yang menarik, Wang tidak terkenal karena menciptakan teori yang rumit dengan nama yang sulit dihafal. Ia justru dikenal karena kemampuannya membaca dunia dan menyimpulkan satu hal sederhana, negara tidak bisa bertahan hanya dengan pasar, uang, dan pemilu. Negara juga membutuhkan ide, identitas, dan otoritas.
Pandangan ini lahir dari pengamatannya terhadap Amerika Serikat pada akhir 1980-an. Saat itu Wang menghabiskan beberapa bulan mengunjungi berbagai universitas dan lembaga penelitian di Amerika. Hasil pengamatannya kemudian dituangkan dalam buku America Against America. Judulnya provokatif. Seolah-olah Amerika sedang berperang melawan dirinya sendiri.

Yang mengejutkan, Wang tidak datang sebagai pembenci Amerika. Sebaliknya, ia sangat mengagumi inovasi, teknologi, universitas, efisiensi ekonomi, dan kreativitas masyarakat Amerika. Namun, menurutnya, di balik kemegahan itu terdapat kontradiksi yang perlahan menggerogoti fondasi negara.
Ia melihat masyarakat yang sangat bebas, tetapi semakin terpecah. Masyarakat yang sangat kaya, tetapi juga semakin individualistis. Institusi politik tetap berjalan, tetapi kepercayaan sosial mulai menurun. Kompetisi menghasilkan inovasi, tetapi juga memperlebar kesenjangan. Singkatnya, Amerika tampak kuat dari luar, tetapi menyimpan keretakan di dalam.
Banyak orang menganggap pengamatan Wang terlalu pesimistis. Namun tiga puluh tahun kemudian, ketika Amerika menghadapi polarisasi politik yang tajam, krisis kepercayaan terhadap lembaga publik, serta meningkatnya konflik identitas, buku itu kembali dibaca dengan cara yang berbeda. Bukan karena semua prediksinya terbukti benar, melainkan karena beberapa kegelisahannya tampak relevan. Dari sinilah muncul gagasan paling penting Wang Huning.
Ia menolak anggapan bahwa demokrasi liberal adalah tujuan akhir semua negara. Menurutnya, setiap negara memiliki sejarah, budaya, dan tantangan yang berbeda. Karena itu, tidak ada satu resep politik yang berlaku universal.
Kalau sebuah negara langsung menyalin sistem negara lain tanpa memperhatikan kondisi sosialnya, hasilnya belum tentu demokrasi. Bisa jadi justru kekacauan. Karena itu, Wang lebih menaruh perhatian pada kapasitas negara.
Dalam ilmu politik, kapasitas negara berarti kemampuan pemerintah menjalankan keputusan, menyediakan pelayanan publik, menjaga keamanan, mengumpulkan pajak, dan memastikan hukum ditegakkan. Bagi Wang, negara yang lemah tidak akan mampu menjalankan fungsi-fungsi tersebut, sebaik apa pun konstitusinya.
Di sinilah letak perbedaannya dengan banyak pemikir liberal. Jika tradisi liberal sering bertanya,”Bagaimana membatasi kekuasaan negara?”, Wang lebih dahulu bertanya, “Bagaimana membuat negara mampu bekerja?”
Ia percaya bahwa negara yang terlalu lemah sama berbahayanya dengan negara yang terlalu kuat. Namun, Wang tidak berhenti pada soal birokrasi. Ia juga berbicara tentang budaya. Menurutnya, institusi politik hanyalah “perangkat keras”. Yang membuat perangkat keras itu hidup adalah “perangkat lunak” berupa nilai, moral, identitas, dan rasa kebangsaan.
Bayangkan sebuah negara memiliki konstitusi yang sangat baik. Pemilunya jujur. Pengadilannya independen. Namun masyarakatnya saling membenci, tidak percaya kepada institusi, dan lebih mementingkan kepentingan kelompok masing-masing. Dalam kondisi seperti itu, institusi formal akan kesulitan bekerja. Karena itu Wang menganggap budaya politik sama pentingnya dengan desain kelembagaan.
Gagasan inilah yang kemudian banyak memengaruhi arah politik Tiongkok di era Xi Jinping. Kita melihat penekanan yang lebih besar pada nasionalisme, identitas peradaban Tiongkok, pendidikan ideologi, serta penguatan posisi Partai Komunis sebagai pusat koordinasi negara. Bagi Wang, partai bukan sekadar kendaraan politik untuk memenangkan pemilu. Partai adalah perekat yang menjaga agar negara tetap terintegrasi.
Tentu saja di sinilah kritik mulai berdatangan. Banyak ilmuwan politik Barat berpendapat bahwa pemikiran Wang terlalu mudah membenarkan sentralisasi kekuasaan. Jika stabilitas dijadikan tujuan utama, bagaimana dengan kebebasan berpendapat? Jika negara selalu dianggap lebih tahu daripada masyarakat, siapa yang mengawasi negara? Pertanyaan-pertanyaan ini tetap relevan.
Sebaliknya, para pendukung Wang mengajukan pertanyaan yang tidak kalah tajam. Mengapa banyak negara memiliki pemilu yang bebas tetapi pemerintahnya tetap tidak efektif? Mengapa sebagian negara memiliki konstitusi demokratis tetapi birokrasinya korup? Mengapa ada negara yang rutin berganti pemerintahan, tetapi pelayanan publiknya tidak pernah membaik? Bagi mereka, demokrasi tidak otomatis menghasilkan negara yang mampu bekerja. Perdebatan itu belum selesai sampai hari ini.
Yang membuat Wang Huning menarik bukan karena semua gagasannya harus disetujui. Justru sebaliknya. Ia memaksa kita mempertanyakan asumsi-asumsi yang sering diterima begitu saja dalam ilmu politik. Apakah kebebasan selalu melahirkan stabilitas? Apakah negara yang kuat pasti menjadi otoriter? Apakah demokrasi hanya dapat diukur melalui pemilu? Apakah identitas nasional sekadar simbol, atau memang merupakan sumber kekuatan politik? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu membuat karya Wang tetap penting dibaca, bahkan oleh mereka yang tidak sepakat dengannya.
Ada ironi kecil di sini. Di era media sosial, kita sering menganggap politik ditentukan oleh pidato paling viral atau unggahan yang paling banyak dibagikan. Wang Huning justru menunjukkan hal yang sebaliknya. Politik jangka panjang sering kali dibentuk oleh orang yang tidak banyak bicara, tetapi berpikir sangat lama.
Ia mengingatkan bahwa negara bukan hanya soal anggaran, jalan tol, atau pertumbuhan ekonomi. Negara juga merupakan kumpulan gagasan tentang siapa kita, ke mana kita akan pergi, dan mengapa kita memilih berjalan bersama.
Setuju atau tidak dengan Wang Huning, sulit menyangkal satu hal sederhana. Sosoknya telah menjadi salah satu arsitek intelektual paling berpengaruh dalam kebangkitan Tiongkok abad ke-21. Ia bukan pemimpin yang paling sering tampil di televisi, tetapi banyak jejak pemikirannya dapat ditemukan dalam cara Tiongkok memandang negara, pembangunan, dan posisinya di dunia.
Di tengah perdebatan global tentang krisis demokrasi, bangkitnya populisme, dan persaingan antara model politik Barat dan Tiongkok, membaca Wang Huning bukan berarti harus menjadi pendukungnya. Membacanya berarti memahami bahwa di balik setiap negara besar, selalu ada pertarungan ide tentang bagaimana negara seharusnya dijalankan. Dan sering kali, pertarungan itu dimulai bukan di istana, melainkan di meja kerja seorang profesor.

