Di masa SMP, saya beruntung memiliki seorang guru seni yang tak mudah dilupakan. Rambutnya gondrong, penampilannya eksentrik, tetapi pengetahuannya tentang seni tradisional Nusantara begitu mendalam. Di tangannya, pelajaran menggambar menjelma menjadi pelajaran membaca peradaban. Ia mengajarkan kepada kami cara mengenali watak candi-candi di Jawa Timur dan Jawa Tengah dengan penjelasan yang sederhana, tetapi sangat akurat. Namun, dari semua penjelasannya, yang paling membekas dalam ingatan saya adalah ketika ia berbicara tentang Candi Borobudur. Saat itu saya belum menyadari bahwa Borobudur bukan sekadar bangunan batu, melainkan sebuah kitab filsafat yang dipahat dalam arsitektur.
Borobudur mungkin bukan sekadar batu. Ia adalah perjalanan. Sebuah jalan yang tidak dibangun untuk memperpendek jarak, melainkan untuk memperpanjang dan memperluas kesadaran. Orang menaikinya bukan karena ingin segera sampai di puncak, tetapi karena setiap anak tangga meminta sesuatu ditinggalkan: nafsu, kesombongan, bahkan ilusi tentang diri sendiri. Di sana, perjalanan lebih penting daripada tujuan.
Mulla Sadra, berabad-abad setelah batu-batu itu disusun di tanah Jawa, berbicara tentang empat perjalanan (al-Asfār al-Arba’ah). Mungkin keduanya tak pernah saling mengenal. Namun keduanya seperti dua bahasa yang berbeda untuk mengucapkan satu pengalaman yang sama: perjalanan manusia menuju Kesempurnaan.
Perjalanan pertama adalah dari makhluk menuju Tuhan (min al-khalq ila al-Haqq). Inilah Kamadhatu. Dunia yang masih dipenuhi tarikan hasrat, hukum karma, dan belenggu keinginan. Di kaki Borobudur manusia belum diminta menjadi suci; ia hanya diminta menyadari bahwa dirinya masih dikuasai oleh nafsu. Kesadaran adalah langkah pertama menuju pembebasan.
Lalu orang memasuki Rupadhatu. Relief-relief memenuhi dinding. Ada kisah, ada ajaran, ada wajah-wajah Buddha yang tenang di setiap relung. Pengetahuan mulai menuntun jiwa. Seperti perjalanan kedua Sadra, bersama Tuhan di dalam Tuhan (bi al-Haqq fi al-Haqq). Bentuk masih ada, tetapi bentuk tidak lagi menipu. Batu berubah menjadi cermin.
Kemudian sampailah pada Arupadhatu. Relief menghilang. Yang tersisa hanyalah lingkaran-lingkaran stupa yang terbuka ke langit. Seakan-akan arsitek Borobudur hendak mengatakan bahwa ketika kata-kata telah selesai, diamlah yang mulai berbicara. Di sinilah perjalanan ketiga Sadra menemukan gema: kembali dari Tuhan menuju makhluk bersama Tuhan (min al-Haqq ila al-khalq bi al-Haqq). Pencerahan ternyata bukan akhir perjalanan.
Di puncak berdiri stupa utama. Ia tidak memamerkan apa pun. Kosong, namun justru karena itu penuh makna. Dari sanalah dimulai perjalanan keempat: bersama Tuhan di tengah-tengah makhluk (fi al-khalq bi al-Haqq). Seorang arif tidak menetap di puncak gunung. Ia turun kembali ke lembah, ke pasar, ke sawah, ke rumah-rumah manusia, membawa cahaya yang telah mengubah dirinya.
Yang menarik adalah cara keduanya mengabadikan perjalanan itu. Mulla Sadra menulis empat perjalanan tersebut dalam bentuk sebuah kitab filsafat. Orang-orang Buddha Nusantara menuliskannya dalam bentuk batu, tempat ibadah. Jika al-Asfar al-Arba’ah adalah buku yang dibaca dengan mata, maka Borobudur adalah buku yang diresapi dengan kaki. Setiap undakan adalah halaman. Setiap relief adalah paragraf. Setiap stupa adalah tanda baca yang mengajak peziarah berhenti sejenak untuk merenung. Karena itu, bagi tradisi Buddhis, tempat peribadatan bukan sekadar bangunan yang mengayomi umat ketika bersembahyang. Tempat ibadah adalah kitab yang dipahat. Ia adalah filsafat yang diwujudkan menjadi ruang. Ia mengajarkan ajaran tanpa harus mengucapkan sepatah kata pun. Dan karena dipahat pada batu, kitab itu dapat terus dibaca oleh manusia hingga berabad-abad, bahkan lebih dari seribu tahun.
Maka ketika seseorang mengunjungi Borobudur, sesungguhnya ia bukan hanya sedang melihat sebuah monumen bersejarah. Ia sedang membaca sebuah buku filsafat tentang perjalanan manusia: dari dunia hasrat menuju Tuhan, bersama Tuhan, lalu kembali kepada manusia dengan membawa cahaya Ilahi. Perjalanan itu tidak berhenti pada pengalaman mistik yang hening. Ia berakhir pada tanggung jawab sosial.
Dalam gamelan Jawa ia berbunyi: nang ning nang gung. Ia menjadi tenang, hening, dan gung (revolusi).
Di titik inilah gema Borobudur bertemu dengan suara Imam Husain. Ketika beliau meninggalkan Madinah menuju Kufah, beliau menjelaskan bahwa keberangkatannya bukanlah demi kekuasaan atau pemberontakan, melainkan “innama kharajtu li ṭalabi al-ishaḥ fi ummati jaddī”—”Sesungguhnya aku keluar tidak lain kecuali untuk mengupayakan perbaikan (ishlaḥ) pada umat kakekku.” Perjalanan spiritual, dalam pandangan ini, mencapai maknanya justru ketika kembali kepada manusia untuk menghadirkan keadilan, kasih sayang, dan perbaikan.
Mungkin karena itu Borobudur tidak dibangun sebagai menara yang menjulang tinggi menjauh dari bumi. Ia dibangun sebagai gunung yang harus didaki perlahan, lalu dituruni kembali. Sebab puncak bukanlah tempat menetap. Puncak hanyalah tempat belajar melihat dunia dengan mata yang baru yang terjernih, agar ketika kembali ke bawah, manusia tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, melainkan menjadi jalan bagi hadirnya kebaikan di tengah sesama. Dalam pengertian itu, Borobudur bukan hanya mahakarya arsitektur, melainkan sebuah kitab batu yang terus mengajarkan bahwa perjalanan menuju Tuhan selalu menemukan kesempurnaannya ketika berubah menjadi perjalanan untuk memperbaiki manusia.

