Catatan Kuratorial Pameran “Daulat Sampah: Mengenang Pilar Seni Rupa Modern Indonesia Trubus Soedarsono dan Api Pengabdian Sujarwo” (11–20 Juli 2026)
Seni sebagai Altar Keberpihakan dan Ekologi Tubuh yang Dibuang
Bagaimana kita membaca sejarah seni rupa modern Indonesia hari ini ketika bumi yang kita pijak kian sesak oleh residu konsumerisme? Jawabannya tidak lagi tersimpan di dalam ruang pameran putih steril yang berjarak (white cube), melainkan di dalam ruang dialektika yang mempertemukan tumpukan material yang terbuang dengan sejarah estetika yang sengaja dihilangkan.
Pameran bertajuk “Daulat Sampah: Mengenang Pilar Seni Rupa Modern Indonesia Trubus Soedarsono dan Api Pengabdian Sujarwo” yang digelar pada 11–20 Juli 2026 merupakan sebuah manifesto visual-ekologis yang radikal. Pameran ini bukan sekadar ruang retrospeksi, melainkan sebuah medan pertempuran epistemik. Di satu sisi, pameran ini menghidupkan kembali “api pengabdian” Sujarwo, seorang pejuang lingkungan yang mendedikasikan hidupnya untuk mengelola limbah dan menolak kepunahan ekologis. Di sisi lain, pameran ini memulangkan ingatan kolektif kita pada sosok Trubus Soedarsono, pilar seni rupa modern Indonesia asal Wates, Kulon Progo, yang jejak sejarahnya sempat dikubur dalam senyap pasca-tragedi politik 1965.
Pertemuan antara gagasan ekologi “Daulat Sampah” dan warisan estetika Trubus melahirkan sebuah rumusan filosofis yang mendalam: seni adalah bahasa yang memihak. Memihak di sini bukan berarti menyempitkan seni menjadi pamflet politik yang dangkal, melainkan menaruh kepedulian estetis pada apa yang marjinal, apa yang dibuang, dan apa yang dianggap sebagai “sampah”—baik secara harafiah (limbah ekologis Sujarwo) maupun secara historis (tubuh-tubuh rakyat yang didepak dari narasi resmi kekuasaan).
Genealogi Estetika Kerakyatan: Menemukan Jiwa Trubus di Tanah Kulon Progo
Trubus Soedarsono adalah seorang empiris sejati. Lahir di Wates, Kulon Progo, tanah kelahirannya bukanlah sekadar koordinat geografis, melainkan rahim spiritual yang membentuk kepekaan estetikanya terhadap realitas hidup rakyat jelata. Kehidupan agraris yang bersahaja, debu tanah Kulon Progo, serta lekuk tubuh para petani dan penari tradisional adalah “akademi” pertama yang ia masuki sebelum ia melukis bersama sang maestro Affandi di sanggar Seniman Indonesia Muda (SIM).
Dalam sejarah seni rupa modern Indonesia, Trubus menolak mentah-mentah estetika kolonial Mooi Indië (Hindia Indah) yang memanjakan mata turis dengan lanskap gunung molek dan sawah yang tenang namun menepikan keringat manusia di dalamnya. Trubus memilih jalan realisme-sosialis yang empati. Hal ini sejalan dengan pandangan filosofis Walter Benjamin yang menyatakan:
“Mengartikulasikan masa lalu secara historis tidak berarti mengenalnya sebagaimana ia sebenarnya. Itu berarti menguasai ingatan saat ia kilat dalam momen bahaya.”
Bagi Trubus, keindahan sejati tidak terletak pada harmoni yang dipaksakan, melainkan pada ketegangan eksistensial tubuh-tubuh yang bekerja. Ketika kita mengamati karya lukis potret dan figuratif karya Trubus, kita tidak sekadar melihat penguasaan teknik anatomi yang luar biasa atau permainan cahaya (chiaroscuro) yang dramatis. Kita sedang dihadapkan pada subjek manusia yang utuh. Kerutan di dahi seorang nenek, sorot mata lelah seorang buruh, atau kelenturan jemari penari rakyat yang ia goreskan, adalah ekspresi kedaulatan estetis manusia yang menolak ditundukkan. Trubus memihak kepada mereka yang tak bersuara; bahasa visualnya adalah bentuk pembelaan eksistensial bahwa rakyat kecil bukanlah sekadar pelengkap ornamen dekoratif, melainkan subjek utama sejarah seni rupa kita.
Monumen yang Hidup: Dari Tanah Liat Menuju Ruang Publik Nasional
Banyak yang tidak menyadari bahwa lanskap visual ibu kota Jakarta hari ini sangat berutang budi pada ketukan pahat dan sensibilitas Trubus Soedarsono. Ia adalah salah satu pematung utama—bersama Edhi Sunarso—di balik mahakarya publik seperti Tugu Selamat Datang di Bundaran Hotel Indonesia, Monumen Pembebasan Irian Barat di Lapangan Banteng, hingga patung-patung monumental yang menghiasi taman Istana Kepresidenan Bogor.
Bagi Trubus, mematung bukanlah sekadar menumpuk perunggu atau mencor beton. Mematung adalah ritual memindahkan api pengabdian rakyat ke dalam material keras agar ia abadi melintasi zaman. Filsuf prancis Albert Camus, Penerima Nobel Sastra 1957, pernah menulis konsep yang sangat mewakili kerja kepatungan Trubus:
“Seni bukanlah kesenangan yang menyendiri. Itu adalah sarana untuk menggerakkan jumlah terbesar manusia dengan menawarkan kepada mereka gambaran istimewa tentang penderitaan dan kegembiraan bersama.”
Dalam proses pembuatan patung-patung publik ini, Trubus menerapkan pemahaman mendalam tentang skala, ruang, dan interaksi sosial. Patung Selamat Datang, misalnya, bukanlah simbol arogansi kekuasaan yang megah-dingin, melainkan sebuah ekspresi keramahan komunal yang hangat. Gaya realisme heroik yang ia usung tidak pernah kehilangan sentuhan kemanusiaan yang emosional. Di balik monumentalitas fisik karya-karyanya, selalu ada denyut nadi rakyat biasa yang ia sisipkan dalam lekuk otot dan ekspresi wajah patung-patung tersebut. Ini adalah bukti bahwa seni publik di tangan Trubus adalah bahasa estetika yang memihak pada martabat warganya.
Ekologi Politik “Daulat Sampah”: Mempertemukan Trubus dan Sujarwo
Pameran “Daulat Sampah” secara brilian menarik garis paralel antara tragedi sejarah yang menimpa Trubus dengan krisis ekologis kontemporer yang diperjuangkan oleh Sujarwo melalui material bekas. Mengapa kedua figur ini dipersatukan dalam satu altar kuratorial? Karena keduanya berurusan dengan tindakan penyelamatan terhadap “yang terbuang”.
Dalam ranah kritik seni rupa modern, sampah visual dan sampah material adalah dua sisi dari mata uang yang sama. Filsuf Jerman Theodor Adorno dalam “Aesthetic Theory” secara tajam mengingatkan kita:
“Seni menempatkan dirinya berpihak pada hal-hal yang tidak berharga, yang disingkirkan sebagai sampah oleh kemajuan fungsional rasionalitas instrumental.”
Sujarwo melihat bagaimana plastik, residu industri, dan limbah dibuang begitu saja, meracuni tanah dan mengasingkan manusia dari alamnya. Melalui api pengabdiannya, Sujarwo mendaur ulang limbah tersebut menjadi medium ekspresi baru, memberikannya “daulat” agar kembali bermakna bagi kehidupan.
Trubus Soedarsono, pasca-peristiwa politik 1965, dikategorikan sebagai “sampah sejarah” oleh penguasa. Ia dihilangkan secara paksa, karya-karyanya disembunyikan, dan namanya dihapus dari narasi resmi seni rupa modern Indonesia. Rezim mencoba membuang Trubus karena bahasa seninya yang memihak pada kaum pinggiran dianggap mengancam stabilitas estetika yang mapan.
Pameran ini menjadi ruang daur ulang estetis. Menampilkan potret-potret manusia karya Trubus di tengah instalasi material daur ulang Sujarwo adalah cara kurator menegaskan bahwa baik ingatan sejarah yang dibungkam maupun limbah ekologis yang diabaikan, keduanya memiliki hak konstitusional untuk menuntut keadilan visual.
Menuju Dekolonisasi Estetika: Seni Rupa sebagai Ruang Emansipasi
Mengelola pameran berskala historis dan ekologis seperti “Daulat Sampah” menuntut kita untuk mendekonstruksi model kurasi konvensional yang sering kali hanya melayani selera pasar seni borjuis (art market). Ruang pameran ini bertransformasi menjadi laboratorium kritik seni, di mana setiap goresan kuas Trubus dan setiap jalinan limbah Sujarwo diinterogasi untuk melahirkan kesadaran baru. Pandangan penyair dan pemikir mistis Rabindranath Tagore, Penerima Nobel Sastra 1913, merangkum esensi dari emansipasi seni ini:
“Dalam seni, manusia mengungkapkan dirinya sendiri, bukan objeknya. Seni mengekspresikan kemampuan manusia untuk melampaui keterbatasan fisiknya dan menyatu dengan kebenaran yang lebih tinggi.”
Pameran ini menolak menjadi sekadar tontonan visual yang eksklusif dan steril. Melalui dialog intensif antara lukisan realisme sosial dan patung-patung historis, publik diajak untuk melihat seni rupa bukan sebagai dekorasi dinding, melainkan sebagai alat dekolonisasi pikiran.
Karya-karyanya Trubus menuntut kita untuk mendefinisikan ulang apa itu keindahan: keindahan bukanlah kemolekan yang menipu, melainkan kejujuran dalam menangkap realitas hidup. Di sinilah kurasi berfungsi sebagai tindakan emansipatoris, memperluas kepekaan estetis masyarakat agar mampu membaca tanda-tanda zaman, baik dalam sejarah rupa kita yang terputus maupun dalam masa depan ekologi kita yang terancam.
Kepulangan Sang Pilar ke Tanah Daulat
Pameran bertajuk “Daulat Sampah: Mengenang Pilar Seni Rupa Modern Indonesia Trubus Soedarsono dan Api Pengabdian Sujarwo” adalah sebuah penegasan historis bahwa tidak ada seni yang benar-benar netral. Seni yang mengklaim dirinya apolitis sesungguhnya sedang memihak pada kenyamanan status quo. Melalui sapuan kuas lukisannya yang penuh empati dan pahatan patungnya yang perkasa, Trubus Soedarsono telah memilih jalannya: ia menggunakan bahasa seni yang memihak pada martabat kemanusiaan yang paling dasar.
Dihelat di pertengahan Juli 2026, pameran ini menandai kepulangan spiritual Trubus ke tanah kelahirannya, Kulon Progo, sekaligus memulangkan namanya ke takhta yang layak dalam sejarah seni rupa modern Indonesia. Disandingkan dengan pengabdian ekologis Sujarwo, kita disadarkan bahwa tugas seni hari ini adalah merawat bumi dan merawat ingatan visual kita.
Di hadapan timbunan sampah peradaban modern, bahasa seni Trubus yang jujur dan memihak tetap menyala bagai mercusuar estetika; menuntun kita untuk terus berpihak pada kebenaran, keadilan, dan keluhuran martabat manusia Indonesia.

