Ada angka yang seharusnya membuat dunia berhenti sejenak.
Dalam laporan terbarunya tentang anak-anak Palestina, Independent International Commission of Inquiry on the Occupied Palestinian Territory, including East Jerusalem, and Israel menyatakan bahwa otoritas dan pasukan keamanan Israel telah secara sengaja menargetkan anak-anak Palestina. Komisi itu menyebut tindakan tersebut menghasilkan genosida, kejahatan terhadap kemanusiaan, dan kejahatan perang.
Angkanya mengerikan. Antara 7 Oktober 2023 dan 7 Oktober 2025, lebih dari 20.000 anak Palestina terbunuh dan lebih dari 44.000 terluka. Anak-anak membentuk sekitar 30% dari seluruh korban tewas. Infrastruktur kehidupan anak juga dihancurkan: 97% sekolah hancur, 95% universitas terdampak, 22 dari 38 universitas di Gaza hancur total, dan sedikitnya 151 anak meninggal akibat malnutrisi per 1 Oktober 2025.
Tetapi angka punya risiko: ia bisa membuat penderitaan terlihat besar, tetapi juga jauh. Dua puluh ribu anak dapat berubah menjadi statistik. Empat puluh empat ribu anak terluka dapat berubah menjadi data. Karena itu, kita perlu mendengar cerita.
Chris Sidoti, salah satu Commissioner PBB, menceritakan seorang anak Palestina di Tepi Barat. Katanya:
“Anak yang kematiannya paling mengguncang saya di Tepi Barat berada dalam situasi berbeda.”
Padahal Israhell sering bernarasi, menghancurkan Gaza karena Hamas. Di Tepi Barat tidak ada Hamas, tapi Israhell sedang melakukan hal serupa yg ia lakukan di Gaza di Tepi Barat.
Anak itu berusia 14 tahun. Ia dibunuh di kamp pengungsi Al-Far’a, Tubas. Ia ditembak ketika main keluar rumah. Saat itu tidak ada pertempuran.
“Ia ditembak, terluka parah, dan tergeletak di tanah. Ia dikelilingi oleh sekelompok tentara Israel, sebagian merokok, selama sekitar 45 menit, sementara anak 14 tahun itu menangis, menggelepar, kehabisan darah hingga meninggal.”
Anak itu masih hidup. Ia masih bergerak. Ia mendorong topinya untuk menunjukkan bahwa ia masih hidup. Namun topi itu dilempar atau ditendang kembali kepadanya oleh tentara Israhell. Ketika ia menangis meminta pertolongan, ia ditendang. Tentara Israhell seakan menikmati proses itu, menendang, menyaksikan anak remaja kesakitan keluar banyak darah, menunggui 45 menit ingin memastikan kematiannya.
Ibunya melihat semua itu. Ketika sang ibu berusaha keluar rumah untuk menolong anaknya, ia ditembaki. Ambulans Palang Merah yang mencoba mendekat juga dihalangi. Senjata berlaser diarahkan ke kepala pengemudi ambulans hingga ia mundur karena takut ditembak.
Sidoti melanjutkan:
“Selama 45 menit, anak itu dibiarkan kehabisan darah oleh tentara Israel. Tidak ada kepedulian sedikit pun. Mereka bukan hanya tidak menolong anak itu, ibunya, atau ambulans; jenazahnya bahkan belum dikembalikan kepada keluarganya untuk dimakamkan. Sebuah kekuatan militer Israel menahan tubuh seorang anak sebagai sandera.”
Di sini kita melihat sesuatu yang lebih dalam daripada “korban perang.” Yang terjadi bukan hanya kematian. Yang terjadi adalah penghancuran martabat manusia sampai ke titik paling telanjang: seorang anak ditembak, dibiarkan sekarat, ibunya dihalangi, ambulans dicegah, jenazahnya ditahan.
Lalu Sidoti bertanya kepada rakyat Israel:
“Apakah tentara kalian adalah orang-orang yang membiarkan anak 14 tahun kehabisan darah selama 40 atau 45 menit? Pemimpin militer macam apa yang menanamkan budaya sehingga tentara merasa bebas melakukan ini dengan impunitas total? Pemimpin macam apa yang memberi perintah dan pernyataan yang bukan hanya membiarkan perilaku seperti ini, tetapi mendorongnya?”
Pertanyaan ini bukan hanya untuk Israel. Ia juga untuk dunia. Untuk kita. Untuk siapa pun yang masih bisa melihat anak Palestina sebagai angka, bukan sebagai manusia. Untuk siapa pun yang masih menyebut genosida sebagai “konflik.” Untuk siapa pun yang masih merasa bahwa diam adalah moderasi.
Anak-anak Palestina tidak hanya dibunuh sebagai individu. Dengan menarget anak-anak, Israel menyerang masa depan biologis, sosial, dan politik rakyat Palestina. Anak adalah kelanjutan hidup sebuah bangsa. Anak adalah memori yang akan tumbuh, bahasa yang akan diwariskan, sekolah yang akan dibangun, keluarga yang akan diteruskan, tanah yang akan diingat, dan masa depan yang akan diperjuangkan.
Maka ketika anak-anak dibunuh, sekolah dihancurkan, universitas diratakan, rumah sakit dilumpuhkan, makanan diblokade, dan tubuh anak bahkan ditahan dari pemakaman, yang sedang diserang bukan hanya generasi hari ini. Yang sedang diserang adalah kemungkinan Palestina untuk terus hidup sebagai bangsa.
Di titik ini, kepedulian kepada Palestina bukan soal menjadi Muslim atau Arab. Ini soal masih punya hati sebagai manusia.
Jika 20.000 anak terbunuh belum mengguncang kita, apa lagi yang tersisa dari nurani kita?
Umat manusia, bangkitlah!
Moh Yasir Alimi,
Wakil Ketua PWNU Jateng 2018-2023

