Sabtu, 20 Juni 2026. Di Pondok Pesantren Al-Falah, Ploso, Kediri.
Saya melangkah memasuki pekarangan pesantren, mewakili Rektor ITS. Undangan PBNU untuk menghadiri Munas Alim Ulama dan Konferensi Besar NU. Sebuah acara di era yang bergerak serba cepat.
Di tengah gelombang disrupsi digital, pesantren salaf ini berdiri dengan ketenangannya sendiri. Jauh dari hiruk-pikuk media sosial. Ribuan kiai dan santri duduk tawaduk, tekun menelaah kitab kuning yang diwariskan lintas generasi.
Pemandangan itu seperti sebuah pengingat sederhana. Tidak semua hal dalam kehidupan dapat dipercepat.
Ada pengetahuan yang lahir dari ketekunan. Ada kebijaksanaan yang hanya tumbuh melalui perjalanan panjang. Ada nilai-nilai yang tidak bisa diunduh secara instan.
Pilihan Ploso sebagai tempat pertemuan bukanlah kebetulan. Pesantren ini merupakan salah satu simpul penting transmisi keilmuan Islam di Nusantara. Sementara rangkaian Konbes NU akan ditutup di Bangkalan. Tanah yang menjadi salah satu pusat sejarah perjuangan ulama melalui sanad keilmuan Syaikhona Kholil.
Dua tempat, satu pesan. Kembali kepada akar.
Sebuah isyarat bahwa NU sedang merumuskan masa depan peradaban dengan tetap berpijak pada tradisi, sekaligus menjawab tantangan zaman.
Melihat suasana Ploso, pikiran saya melayang pada sejarah. Tanah Kediri ini pernah menjadi ruang lahirnya mahakarya sastra Kakawin Bharatayuddha. Nusantara kemudian mengenal kejayaan Majapahit melalui Negarakertagama. Di pulau yang sama, Borobudur berdiri sebagai bukti bahwa peradaban besar dibangun melalui kesabaran, ketelitian, dan kerja lintas generasi.
Kakawin, candi, dan laku santri di Ploso menyampaikan pesan yang sama. Sesuatu yang bernilai tinggi tidak selalu lahir dengan segera.
Keindahan membutuhkan waktu. Kedalaman membutuhkan proses. Harmoni menjadi dasar bagi kebesaran.
Namun pesan itu kini berhadapan dengan dunia yang bergerak dengan logika berbeda. Dunia modern dibangun di atas percepatan.
Revolusi Industri pertama menaklukkan keterbatasan tenaga manusia. Melalui mekanisasi dan mesin uap. Revolusi kedua menghadirkan produksi massal. Melalui listrik dan sistem manufaktur modern.
Revolusi ketiga mengubah informasi menjadi kekuatan. Melalui transistor, komputer, dan silikon. Revolusi keempat mempertemukan dunia fisik dan digital. Melalui internet, sensor, dan sistem siber-fisik.
Waktu menyusut drastis. Membangun sesuatu yang dahulu membutuhkan puluhan tahun, kini dapat dilakukan dalam hitungan bulan, bahkan menit. Targetnya jelas. Lebih banyak, lebih cepat, lebih murah.
Namun kecepatan juga membawa konsekuensi. Banyak inovasi lahir dengan cepat, tetapi juga cepat tergantikan.
Kini kita memasuki gelombang berikutnya. Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
AI bukan sekadar kelanjutan otomatisasi. Ia mengubah cara manusia menciptakan, bekerja, belajar, dan mengambil keputusan. Ia membawa peluang luar biasa bagi ilmu pengetahuan, pendidikan, kesehatan, dan berbagai sektor kehidupan.
Namun setiap cahaya memiliki bayangan.
Dalam ilmu optika, bidang yang saya tekuni, semakin terang sebuah cahaya, semakin tajam pula kontras bayangannya.
AI adalah salah satu cahaya paling terang dalam sejarah perkembangan ilmu pengetahuan manusia. Tetapi di balik potensinya, terdapat tantangan besar. Ketimpangan akses teknologi, konsentrasi kekuatan digital, perubahan dunia kerja, hingga risiko berkurangnya pertimbangan manusia. Ketika keputusan semakin banyak diserahkan kepada mesin.
Internet pada awalnya membawa harapan desentralisasi. Individu dan usaha kecil memperoleh kesempatan untuk terhubung secara global. Namun dalam perkembangannya, infrastruktur digital, data, dan platform semakin banyak terkonsentrasi pada segelintir perusahaan besar.
AI memperdalam kecenderungan tersebut.
Kekuatan AI modern bertumpu pada lima pilar utama. Komputasi, data, algoritma (model), talenta, dan modal yang raksasa. Sayangnya, kelima elemen ini masih terkonsentrasi pada sebagian kecil aktor global. Tidak semua negara atau komunitas memiliki akses yang sama. Tantangannya bagi negara berkembang bukan sekadar puas menjadi pengguna AI. Tetapi, memastikan diri ikut memiliki, membangun, dan mengarahkan teknologi tersebut.
Ekonom politik Yanis Varoufakis mengajukan istilah “teknofeodalisme”. Sebuah gambaran tentang bagaimana infrastruktur digital dapat menjadi ruang kekuasaan baru yang dikuasai oleh segelintir aktor.
Pertanyaannya kemudian, bagaimana memastikan AI tetap berada dalam orbit manusia?
Di titik inilah dialog antara pesantren dan teknologi menjadi penting.
Dunia mengenal gagasan Society 5.0. Teknologi yang diarahkan kembali untuk melayani manusia. Tetapi teknologi yang benar-benar berpusat pada manusia membutuhkan sesuatu yang lebih dari sekadar kemampuan komputasi. Ia membutuhkan nilai, kebijaksanaan, dan tanggung jawab moral.
Forum di Ploso memberikan pelajaran penting. Keputusan tidak hanya lahir dari informasi, tetapi melalui musyawarah, konteks, dan pertimbangan etis.
Hal ini disebut sebagai “Demokrasi Kecerdasan”.
Sebuah gagasan bahwa kecerdasan masa depan tidak boleh hanya ditentukan oleh mereka yang memiliki mesin, data, dan modal. Kecerdasan harus pula dibimbing oleh nilai dan pengalaman masyarakat yang akan menggunakannya.
Karena itu, adab tidak cukup hanya dipercayakan kepada kotak hitam algoritma. Ia harus diterjemahkan menjadi strategi nyata, yaitu kedaulatan digital.
Kita perlu mendorong pengembangan model AI terbuka, Small Language Models (SLM), dan sistem yang dapat tumbuh di lingkungan lokal. Seperti kampus dan komunitas. AI tidak harus selalu berada di pusat. Ia dapat dikembangkan dari kebutuhan masyarakat sendiri.
Seperti, inisiatif pengembangan AI “Senopati” di ITS. Teknologi harus menjejak bumi. Membantu pembatik membaca tren tanpa kehilangan estetika budaya. Membantu pemantauan mangrove untuk menjaga ekologi. Menjadi alat pemberdayaan, bukan algoritma yang menjadikan candu di media sosial.
Sebagai perguruan tinggi, tugas kita adalah menerjemahkan kebijaksanaan menjadi arsitektur teknologi.
Menerjemahkan tawasuth menjadi algoritma yang adil. Menerjemahkan tawazun menjadi keseimbangan antara efisiensi mesin dan martabat manusia.
Biarlah para ulama menjaga kompas moralnya. Para ilmuwan dan insinyur bertugas memastikan kompas itu hadir dalam kode, sistem, dan teknologi yang kita bangun.
Dari Ploso, pesannya jelas.
Kita tidak perlu memilih antara menjadi bangsa modern atau bangsa yang berakar pada tradisi. Masa depan justru membutuhkan keduanya.
Kecepatan algoritma harus berjalan bersama kesabaran peradaban.
Pada akhirnya, teknologi terbaik bukanlah teknologi yang membuat manusia semakin menyerupai mesin. Melainkan teknologi yang membantu manusia semakin memahami, mengembangkan, dan memuliakan dirinya sebagai manusia.
Karena sejatinya, seluruh kemajuan teknologi harus bermuara pada satu tujuan. Memajukan kemanusiaan.
Mulailah merancang masa depan itu. Sekarang.
AMH
Agus Muhamad Hatta

