Kegiatan Muktamar Kebudayaan Indonesia Lesbumi PBNU tanggal 12-14 Juni 2026 dengan tema “Kembali ke Akar” yang diadakan di Jombang bisa disimpulkan dengan satu kata: kegairahan.
Kegairahan dalam arti bukan sekadar keramaian peserta yang hadir, tapi menggambarkan gelora para peserta dari berbagai daerah yang datang ke muktamar dengan membawa sebuah harapan, semoga kebudayaan masih memiliki tempat dalam perjalanan bangsa ini.
Muktamar Kebudayaan Lesbumi di Jombang terasa menjelma menjadi ajang bertemunya gairah kebanggaan terhadap nilai tradisi dan semangat akan adanya harapan sukses merengkuh masa depan kebudayaan yang lebih canggih di tengah kondisi kebangsaan yang semakin kompleks. Dalam setiap sesi diskusi peserta seperti terus saling ingat-mengingatkan, bahwa perjuangan Nahdlatul Ulama memang tidak pernah kering dari cita-cita dan harapan mencapaii kemajuan kebudayaan.
Sebagaimana dawuh dari para pendiri NU, “Menjaga tradisi lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik” (al-muhafazhah ‘ala al-qadim al-shalih wal akhdzu bil jadid al-ashlah), peserta nampak dengan sadar untuk selalu menjaga meletakkan setiap pandangan nilai baik yang disampaikan tetap bersumber pada ajaran dan nilai-nilai Agama Islam, karena itu prinsip untuk menjaga fondasi kebudayaan agar tidak tercerabut dari akar utamanya.
Kebudayaan Jalan Kemaslahatan
Dalam forum muktamar mengemuka satu kesadaran:
bahwa kebudayaan dan seni bukan pelengkap perjuangan, kebudayaan dan seni bagian dari jalan perjuangan menuju kemaslahatan umat dan bangsa. Ini sejalan dengan yang dirintis para tokoh NU, berjuang untuk menegaskan bahwa “Islam datang bukan untuk menghapus budaya, tetapi untuk memuliakannya.”
Saat ini dunia sedang bergejolak akibat – tekanan ekonomi, disrupsi teknologi, dan perubahan sosial – namun sesungguhnya krisis yang kita hadapi adalah satu krisis yang jarang disadari: krisis rasa. Rasa sebagai penuntun gerak peradaban. Ketika rasa melemah atau hilang, jalan untuk diterimanya kebenaran pun hilang.
Dalam situasi dan kondisi seperti ini, seni sangat berperan. Sebagaimana sering disampaikan oleh para ulama, bahwa “agama tanpa kebudayaan akan kering, dan kebudayaan tanpa agama akan kehilangan arah.”
Budayawan Lesbumi: Penjaga Nilai di Tengah Zaman
Seperti apa seharusnya budayawan Lesbumi hari ini? Budayawan Lesbumi hari ini adalah mereka yang mampu menjembatani nilai dan realitas. Ia adalah penjaga tradisi, sekaligus pembaca zaman, seniman yang peka terhadap penderitaan sosial, dan penggerak yang mampu hadir di tengah generasi muda.
Kita di NU sering diingatkan oleh para senior bahwa manusia modern itu memang cerdas dan melek informasi, tetapi umumnya miskin makna. Maka tugas kebudayaan mengembalikan makna itu kembali ke dalam ruang kehidupan.
Hari ini, generasi muda kita tidak cukup jika hanya diajak dengan narasi normatif. Mereka sangat menuntut untuk mengalami, merasakan, karena mereka adalah generasi yang ingin menemukan sendiri keindahan kebenaran yang kini menghutan menjadi pembenaran.
Kini budaya seni bekerja bukan sebagai penceramah, tetapi sebagai penuntun pengalaman batin.
Indonesia Jilid II: Dari Wacana ke Peradaban Nyata

Jika kita berbicara tentang Indonesia Jilid II – sebuah fase baru yang lebih maju secara teknologi dan ekonomi – maka pertanyaan yang mendasar adalah: apakah kita sudah siap maju secara kebudayaan?
Lesbumi memiliki tanggung jawab sejarah untuk menjawab pertanyaan ini. Tak cukup hanya dengan diskusi. Tidak cukup jika hanya sibuk merumuskan gagasan.
Lesbumi harus menjadi: pusat produksi karya budaya, ruang edukasi budaya publik, dan gerakan budaya yang nyata yang hadir di tengah masyarakat.
Sebagaimana semangat KH. Wahab Hasbullah, yang menjadikan budaya sebagai sarana dakwah yang hidup dan membumi – Lesbumi hari ini perlu menghadirkan kembali pendekatan itu dalam bentuk yang lebih kontekstual.
Tonggak Baru: Lesbumi sebagai Penjelasan Hidup
Saya pribadi mengusulkan satu hal sederhana namun mendasar:
Lesbumi perlu menghadirkan sesuatu yang nyata – sebuah karya monumental sebagai penanda gerakan yang bisa menjadi tonggak. Sebuah simbol yang operasional bahwa kebudayaan bukan hanya dibicarakan, tetapi menghidupkan.
Lesbumi harus menjadi penjelasan hidup tentang kebudayaan dan seni kepada masyarakat. Bukan dalam bentuk konsep, tetapi dalam pengalaman nyata: film yang menggugah kesadaran, pertunjukan yang menyentuh rasa, ruang kreatif yang membuka partisipasi publik, dan gerakan yang mengajak generasi muda mencintai kebenaran melalui keindahan.
Menghidupkan Rasa, Menjaga Kebenaran
Lesbumi harus segera kembali pada satu kesadaran yang sangat mendasar: bahwa manusia tidak hanya hidup dengan akal, tetapi juga dengan rasa.
Dan kebudayaan adalah cara merawat rasa.
Jika Lesbumi mampu menghidupkan rasa di tengah masyarakat, maka kebenaran tidak perlu lagi diteriakan, karena ia telah dicintai. Sebagaimana jalan yang telah ditunjukkan para pendiri NU: perjuangan tidak selalu harus keras, perjuangan bisa hadir dengan halus – melalui budaya, melalui seni, melalui keindahan. Dari situlah, kita bisa berharap: Indonesia Jilid II bukan hanya maju secara materi, tetapi juga matang jiwanya.
Orientasi dan Strategi Kebudayaan Lesbumi Ke Depan
Kebudayaan hari ini sedang di persimpangan jalan. Satu sisi, menghadapi arus globalisasi, digitalisasi, dan industrialisasi yang begitu cepat. Di sisi lainnya, dituntut untuk tetap menjadi penopang identitas, nilai, dan arah kehidupan masyarakat. Dalam situasi ini, kehadiran Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia (Lesbumi) menjadi semakin penting – sebagai penjaga tradisi, sekaligus sebagai penggerak peradaban. Lalu, ke mana arah Lesbumi ke depan?
Orientasi Kebudayaan: Dari Pelestarian ke Transformasi
Kebudayaan yang lebih sering dipahami dalam kerangka pelestarian. Tradisi dijaga, kesenian dirawat, warisan dipertahankan. Namun, dalam konteks saat ini, orientasi sekedar pelestarian perlu diperluas.
Lesbumi terlalu sempit jika hanya menjadi lembaga pelestari, tetapi harus bertransformasi menjadi kekuatan kreatif yang mampu: menciptakan bentuk-bentuk kebudayaan baru, mengolah tradisi menjadi relevan dengan konteks kekinian, dan menjadikan kebudayaan sebagai solusi atas persoalan sosial. Kebudayaan bukan hanya sebagai memori masa lalu, tetapi sebagai energi masa depan.
Dalam perspektif ini, kebudayaan menjadi “apa yang diwariskan” dan juga “apa yang diciptakan untuk menjawab zaman”.
Strategi Kebudayaan: Dari Wacana ke Karya
Salah satu tantangan utama gerakan kebudayaan adalah melawan kecenderungan selalu berhenti pada wacana. Diskusi berkembang, gagasan bertumbuh, tetapi tidak selalu berujung pada karya nyata. Karena itu, strategi utama Lesbumi ke depan harus bertumpu pada produksi karya. Karya bahasa kebudayaan paling efektif. Karya yang tidak menggurui, tetapi mengajak, dan tidak memaksa, tetapi menyentuh.
Lesbumi harus mendorong lahirnya budaya seni yang kreatif bagi generasi muda: film yang mengangkat nilai-nilai kemanusiaan dan keislaman, musik yang menyentuh rasa generasi muda, pertunjukan yang menghidupkan kembali kebermaknaan, serta karya digital lain yang mampu menjangkau ruang-ruang baru. Dengan demikian, kebudayaan tidak lagi hanya dibicarakan tapi dilakukan dan alami.
Generasi Muda: Subjek, Bukan Objek
Strategi kebudayaan tidak akan berhasil tanpa melibatkan generasi muda secara aktif. Generasi muda jangan hanya ditempatkan sebagai objek pembinaan. Generasi muda adalah subjek utama dalam produksi kebudayaan masa depan.
Generasi muda diberi ruang untuk bereksperimen, berkreasi, dan bahkan melakukan kesalahan. Dari situlah lahir inovasi kebudayaan. Jika kebudayaan ingin hidup, kebudayaan harus tumbuh di tangan generasi muda.
Lesbumi harus mengubah pendekatan dari pola instruktif menjadi gerakan partisipatif, dari gaya pembinaan menjadi ruang kolaborasi, dari dunia wacana menjadi pengalaman peristiwa.
Kebudayaan sebagai Jalan Kebenaran
Salah satu peran penting kebudayaan adalah menjembatani manusia dengan kebenaran. Namun, kebenaran tidak selalu bisa disampaikan secara langsung. Membutuhkan medium yang halus, yang menyentuh rasa. Seni memainkan peran strategis di sini. Seni mampu menghabarkan kebenaran dengan bahasa keindahan. Dan keindahan adalah pintu masuk bagi penerimaan nilai.
Lesbumi ke depan menempatkan seni sebagai medium dakwah kultural – upaya untuk membangun kesadaran manusia secara utuh.
Ekosistem Kebudayaan: Dari Kegiatan ke Gerakan
Berikutnya Lesbumi membangun ekosistem. Kebudayaan membutuhkan kesinambungan, tidak bisa hidup dari kegiatan yang sporadis.
Untuk itu Lesbumi perlu mengembangkan ruang kreatif yang berkelanjutan, jaringan komunitas lintas daerah, platform distribusi karya, serta kolaborasi dengan berbagai pihak (pendidikan, pemerintah, dan stekeholder dunia kreatif lainnya). Dengan demikian, Lesbumi tidak hanya hadir dalam event, tetapi menjadi gerakan di dalam keseharian masyarakat.
Menuju Indonesia Jilid II
Indonesia ke depan akan memasuki fase baru – yang saya sebut sebagai Indonesia Jilid II. Fase ini akan ditandai oleh semakin pesatnya kemajuan teknologi, pertumbuhan ekonomi, dan perubahan sosial yang super cepat.
Kita sangat menyadari bahwa kemajuan tanpa kebudayaan ( proses karsa, rasa, karya ) akan melahirkan kekosongan makna. Ini adalah peran Lesbumi, peran strategis dalam memastikan bahwa kemajuan bangsa tetap harus berakar pada nilai, rasa, dan kemanusiaan. Lesbumi harus hadir sebagai: penjaga arah, penggerak rasa, dan pencipta makna.
Orientasi dan strategi kebudayaan Lesbumi ke depan harus berangkat dari satu kesadaran: bahwa kebudayaan sebagai jalan peradaban. Kebudayaan bukan pelengkap, tetapi fondasi, bukan pula hiasan, tetapi penentu arah.
Jika Lesbumi berhasil bergerak dari pelestarian menuju transformasi, dari wacana menuju karya, dari kegiatan menuju gerakan – maka Lesbumi tidak lagi hanya menjadi penjaga kebudayaan, tetapi berperan aktif dalam membentuk masa depan Kebudyaan Indonesia. Inilah peran sejati Lesbumi yang sesungguhnya. Menghidupkan rasa, menjaga kebenaran, dan menuntun manusia menuju kehidupan yang lebih bermakna. Ini peran yang sesuai dengan esensi yang terkandung dalam Pembukaan UUD 45, satu dokumen kebudayaan sangat penting yang oleh Ketua Lesbumi PBNU, KH M. Jadul Maula, dikatakan “naskah teks Pembukaan UUD 45 itu suci”.
“… Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya. … untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial,..”
Jakarta, 17/06/2026
Embi C Noer – Pegiat Budaya, Seni, dan Film

