Satu Suro Bukan Mitos: Membaca Rekayasa Peradaban Sultan Agung dari Kotagede

Malam tadi, ketika magrib turun di Selasa Wage 15 Juni 2026, ribuan kaki menghantam aspal di seputar Keraton Yogyakarta. Iring-iringan sunyi itu Mubeng Beteng Tapa Bisu menandai datangnya 1 Suro 1960 Jawa, atau 1 Muharram 1448 Hijriah. Media akan menyebutnya ritual mistis. Akademisi akan menyebutnya sinkretisme. Sebagian ustaz akan mengernyitkan dahi. Namun dari mata seorang arkeolog yang setiap hari menapaki batu-batu tua di Kotagede, ibu kota pertama Mataram Islam itu, ada pertanyaan yang lebih menggelitik:

“Siapa sebenarnya yang sedang dirayakan malam ini: Tuhan, atau Sultan Agung?”

Pertanyaan itu bukan provokasi. Ia adalah kunci untuk membuka laci peradaban yang selama berabad-abad dikunci rapat oleh dua pihak yang sama-sama merasa paling berhak atas Satu Suro: kaum kejawen yang mensakralkannya, dan kaum puritan yang menolaknya. Keduanya, ironisnya, melewatkan fakta yang paling mendasar: bahwa Satu Suro adalah sebuah proyek negara. Ia adalah rekayasa peradaban yang terencana, dingin, dan jenius, dirancang oleh seorang raja-arsitek bernama Sultan Agung Hanyokrokusumo pada 8 Juli 1633 Masehi, di Jumat Legi, bulan Jumadil Akhir, tahun 1555 Saka.

I. DARI KOTAGEDE: MEMBACA BATU SEBELUM MEMBACA KATA

Sebelum kita berbicara tentang kalender, kita perlu berbicara tentang batu. Di Kotagede kawasan yang kini diam sebagai kecamatan di selatan Yogyakarta, namun dulu adalah jantung kekuasaan Mataram, masih tegak dinding bata merah yang mengelilingi kompleks makam Ki Ageng Pemanahan dan Panembahan Senopati. Nisan-nisan batu andesit di sana bertanggal awal abad ke-16 dan ke-17. Masjid Gedhe Mataram masih berdiri dengan atap tumpang tiga yang mengadopsi kosmologi Hindu-Buddha, namun mihrabnya mengarah ke kiblat Islam.

Itulah bahasa material yang tidak bisa berbohong: Mataram Islam lahir bukan dengan menghancurkan yang lama, melainkan dengan menegosiasikannya. Dan Sultan Agung yang lahir dan tumbuh di Kotagede, raja yang kemudian memindahkan ibu kota ke Kerta namun selalu kembali ke akar Kotagede-nya, memahami logika negosiasi itu lebih dari siapa pun.

FAKTA ARKEOLOGIS

Kompleks makam Kotagede, termasuk makam Ki Ageng Pemanahan (pendiri Mataram) dan Panembahan Senopati (raja pertama), merupakan salah satu situs cagar budaya Islam-Jawa tertua yang masih aktif digunakan untuk ziarah hingga hari ini. Nisan-nisan andesitnya memadukan bentuk menhir pra-Islam dengan kaligrafi Arab, bukti fisik sinkretisme yang sudah berlangsung jauh sebelum Sultan Agung bahkan lahir.

II. REKAYASA PERADABAN: KALENDER SEBAGAI SENJATA POLITIK

Inilah yang kerap hilang dari narasi Satu Suro: dimensi politiknya yang sangat kalkulatif. Ketika Sultan Agung meresmikan Kalender Jawa pada 1633, ia sedang menghadapi dua ancaman eksistensial secara bersamaan.

Pertama, ancaman dari luar: VOC-Belanda yang bercokol di Batavia. Sultan Agung sudah dua kali menyerbu Batavia (1628 dan 1629) dan gagal. Ia butuh rakyat yang bersatu, bukan terpecah oleh identitas keagamaan.

Kedua, ancaman dari dalam: perpecahan antara kaum santri yang sudah menganut Islam dengan ketat dan menggunakan kalender Hijriah dan kaum abangan-kejawen yang masih setia pada kalender Saka warisan Hindu-Buddha. Dua kalender yang berbeda berarti dua komunitas yang tidak pernah merayakan hari yang sama, tidak pernah berkumpul dalam momentum yang sama.

“Sultan Agung menciptakan satu waktu untuk semua orang, agar semua orang bisa menjadi satu.”

Solusinya adalah kalender baru yang tidak memihak siapa pun: Kalender Jawa. Ia tetap melanjutkan hitungan tahun Saka (bukan menggantinya dengan hitungan Hijriah dari nol, Sultan Agung tidak mau terlihat sebagai pengikut Arab) tetapi mengganti sistem perhitungan bulan ke sistem lunar Hijriah. Nama-nama bulan diindonesiakan: Muharram menjadi Suro, Ramadan menjadi Pasa. Sistem hari tujuh (saptawara: Ahad hingga Sabtu) digabung dengan sistem hari lima pasar Jawa (pancawara: Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon).

Hasilnya adalah sebuah teknologi waktu yang tidak pernah ada sebelumnya di dunia: kalender yang secara bersamaan mengakomodasi ritus agraris petani Jawa, kewajiban ritual Muslim (puasa Muharram/Asyura), dan kedaulatan politik Mataram yang tidak tunduk sepenuhnya pada otoritas Islam Arab.

TITIK BALIK

Para peneliti Ilmu Falak UIN Walisongo (Yumna Nur Mahmudah dan Ahmad Izuddin, 2023) menunjukkan bahwa embrio Kalender Jawa-Islam sebenarnya sudah berkembang sebelum Sultan Agung. Artinya: Sultan Agung bukan sekadar pencipta, ia adalah seorang politisi peradaban yang tahu kapan harus melembagakan dan meresmikan sesuatu yang sudah hidup di masyarakat, agar ia bisa mengklaim otoritas atasnya.

III. SATU SURO SEBAGAI PENGGANTI RAJAWEDHA: KUDETA BUDAYA YANG HALUS

Salah satu fakta yang paling jarang dibicarakan dalam diskusi Satu Suro adalah ini: Sultan Agung tidak sekadar menciptakan kalender baru. Ia mengganti ritual kenegaraan lama.

Upacara Rajawedha, ritual kerajaan tahunan yang berakar dari tradisi Hindu-Buddha, digantikan oleh tradisi Satu Suro dengan komponen baru: ziarah ke makam Ngampel dan Giri (dua walisongo), pengajian oleh para penghulu kabupaten, dan haul para leluhur. Setiap Jumat Legi, laporan pemerintahan daerah dilakukan bersamaan dengan kegiatan keagamaan Islam.

Bayangkan betapa cerdasnya ini secara politik: Sultan Agung mengambil momentum ritual negara yang sudah dikenal rakyat (pergantian tahun/siklus kekuasaan), mengisinya dengan konten Islam, namun membungkusnya dalam kalender yang tetap terasa Jawa. Santri merasa Islam dihormati. Abangan merasa tradisi leluhur tidak dibuang. Penguasa daerah mendapat legitimasi ganda: hadir di ritual agama sekaligus melaporkan kinerja pemerintahan.

“Ini bukan sinkretisme naif. Ini adalah arsitektur kekuasaan yang disusun batu demi batu.”

IV. MUBENG BETENG DAN TAPA BISU: RITUAL YANG BERMAKNA GANDA

Lalu mengapa dua ritual ikonik Satu Suro, Mubeng Beteng dan Tapa Bisu, bisa bertahan selama berabad-abad? Jawabannya ada pada sifatnya yang multi-tafsir.

Mubeng Beteng, berjalan mengelilingi benteng Keraton tanpa alas kaki, dapat dibaca setidaknya dalam tiga lapis makna yang berbeda-beda namun tidak saling bertentangan:

Lapisan MaknaInterpretasi
Kosmologis JawaMeniru sirkulasi alam semesta, perputaran bintang, pergantian musim, siklus hidup-mati. Berjalan melingkar = mengakui bahwa waktu bukan garis lurus tapi spiral.
Sufistik-IslamTawaf mengelilingi Kakbah juga melingkar. Tapa Bisu mengingatkan pada khalwat (meditasi diam) dalam tradisi tasawuf. Dzikir tanpa suara (dzikir sirr) adalah puncak spiritualitas Sufi.
Politis-KenegaraanRakyat berjalan mengelilingi pusat kekuasaan (Keraton) = penegasan loyalitas kolektif terhadap negara. Dalam sunyi, tanpa provokasi, tanpa pidato, sebuah demonstrasi kesetiaan yang paling halus.

Inilah kekuatan sesungguhnya dari desain Sultan Agung: ia menciptakan ritual yang bisa dimaknai oleh siapa pun sesuai dengan keyakinannya. Petani Jawa bisa ikut tanpa merasa meninggalkan leluhurnya. Santri yang taat bisa ikut dengan merujuk pada tradisi khalwat dan dzikir. Orang awam yang tidak terlalu religius pun bisa ikut karena ritualnya tidak menuntut pemahaman teologis, cukup berjalan dan diam.

V. TUDUHAN “BIDAH” DAN PARADOKS SEJARAH

Setiap tahun, menjelang Satu Suro, muncul suara-suara yang mengecap ritual ini sebagai bidah atau takhayul. Dari sudut pandang arkeologi dan sejarah, tuduhan ini mengandung sebuah paradoks yang menggelikan sekaligus menyedihkan.

Paradoks itu: para penolak Satu Suro atas nama Islam sering kali mengandalkan kalender Hijriah untuk menentukan tanggal 1 Muharram. Namun kalender Hijriah yang kini digunakan secara global itu sendiri adalah buatan manusia, diciptakan oleh Umar bin Khattab pada tahun 638 M (enam tahun setelah wafatnya Muhammad), dengan menjadikan peristiwa Hijrah sebagai titik nol. Ia bukan kalender yang turun dari langit; ia adalah rekayasa politik untuk menyatukan umat Islam yang tersebar di berbagai wilayah yang sebelumnya punya sistem waktu berbeda-beda.

Sultan Agung melakukan hal yang persis sama, empat belas abad kemudian, di konteks yang berbeda. Yang satu disebut sunnah. Yang lain disebut bidah. Yang membedakan keduanya bukan substansi tindakannya, melainkan siapa yang berkuasa untuk mendefinisikannya.

DEBAT ILMIAH

MC Ricklefs dalam “Islamising Java: The Long Shadow of Sultan Agung” (Archipel) mencatat bahwa strategi Sultan Agung dalam mengislamkan Jawa bukan melalui paksaan dogmatik, melainkan melalui akulturasi bertahap, termasuk rekayasa kalender ini. Hasilnya adalah Islam Jawa yang khas, yang oleh sebagian sarjana barat disebut sebagai satu eksperimen peradaban paling unik dalam sejarah Islam global.

VI. APA YANG DIRAYAKAN MALAM INI SEBENARNYA?

Kembali ke pertanyaan awal: malam ini, ketika ribuan kaki mengelilingi Keraton Yogyakarta dalam sunyi, siapa atau apa yang sebenarnya sedang dirayakan?

Jawabannya, dari perspektif arkeologi peradaban: keduanya dan lebih dari itu.

Yang dirayakan adalah kecerdasan kolektif sebuah peradaban yang mampu mengelola kebhinekaan tanpa perlu menyeragamkan. Yang dirayakan adalah warisan seorang raja yang memahami bahwa waktu adalah kekuasaan, siapa yang mendefinisikan waktu, ia mendefinisikan kesadaran kolektif rakyatnya. Yang dirayakan adalah kemampuan manusia Jawa untuk menyerap berbagai tradisi, Hindu, Buddha, Islam, lokal, tanpa kehilangan dirinya sendiri.

Dan yang paling penting, dari sudut pandang seseorang yang tinggal di Kotagede, yang setiap hari menapaki batu-batu tua bekas ibu kota pertama Mataram: yang dirayakan adalah bukti bahwa peradaban tidak tumbuh dari dogma tunggal, melainkan dari negosiasi yang panjang, sabar, dan penuh akal.

(Kembali ke tempat di mana segala sesuatunya bermula.)

Frasa Jawa itu tidak hanya berlaku untuk jiwa manusia yang kembali ke Tuhan. Ia berlaku juga untuk sejarah yang selalu kembali menuntut kita untuk jujur.

Satu Suro bukan mitos. Ia adalah monumen peradaban yang sebagian material evidencenya masih bisa kita sentuh hari ini di dinding-dinding bata merah Kotagede, di nisan-nisan andesit yang menyimpan nama orang-orang yang mewariskan tradisi ini kepada kita.

“Pertanyaannya bukan lagi: apakah kita harus merayakan Satu Suro? Pertanyaannya adalah: apakah kita cukup cerdas untuk memahami apa yang kita rayakan?”

Yogyakarta, 16 Juni 2026 / 1 Suro 1960 Jawa / 1 Muharram 1448 H

Catatan Sumber

  • MC Ricklefs, “Islamising Java: The Long Shadow of Sultan Agung” dalam Archipel.
  • KH. M. Solikhin, Misteri Bulan Suro: Perspektif Islam Jawa.
  • Yumna Nur Mahmudah & Ahmad Izuddin, “Kalender Jawa Islam Menurut Ronggowasito dalam Serat…”, Jurnal Ilmu Falak dan Astronomi, UIN Walisongo, 2023.
  • Data arkeologis situs Kotagede, Balai Arkeologi Yogyakarta.
  • Observasi lapangan penulis di kompleks makam Kotagede, 2025–2026.

Sumber Artikel: Facebook Mohammad Basyir

Mohammad Basyir Zubair
Mohammad Basyir Zubair
Pengamat Arkeologi & Penulis Populer-Akademik | Kotagede, Yogyakarta

Related Articles

Artikel baru