Sains, Kota, dan Warisan

Surabaya, 14 Juni 2026.

Kampus Sukolilo bukan tempat yang tenang minggu ini.

Gedung-gedung yang biasanya hanya riuh suara mahasiswa, pekan ini dipenuhi delegasi dari berbagai negara. Lanyard berbahasa Inggris, diskusi sains dan kebijakan publik dalam berbagai aksen mengisi ruang pertemuan tersebut.

Saya berada di The 26th Meeting of COMSATS Coordinating Council. COMSATS kepanjangan dari Commission on Science and Technology for Sustainable Development in the South. Dan setiap kali nama COMSATS disebut, saya selalu terbawa ke satu tempat. Di Trieste, pada tahun 2005. Di International Centre for Theoretical Physics (ICTP). Ada aura yang sulit dijelaskan. Aura seorang fisikawan asal Pakistan bernama Abdus Salam. Pendiri ICTP dan COMSATS ini. Peraih Nobel yang percaya bahwa sains bisa menyeimbangkan ketidakadilan dunia. Bukan sekadar melayani yang sudah kuat.

Misi itu yang masih hidup hari ini.

Ambassador Dr. Mohammad Nafees Zakaria, Direktur Eksekutif COMSATS, membuka forum dengan kalimat yang tidak bisa disangkal. Perbedaan paling fundamental antara negara maju dan negara berkembang terletak pada kemajuan sains dan teknologinya. Bukan pada kekayaan alam. Bukan pada jumlah penduduk.

Senada dengan itu, Rektor ITS, Pak Bambang Pramujati, dalam welcome address-nya menekankan bahwa kehadiran delegasi dari berbagai negara adalah bukti nyata bahwa semangat kerja sama South-South bukan sekadar jargon. Melainkan kebutuhan mendesak.

Bagi ITS, perjalanan ini memiliki catatan khusus. Peran Bu Sri Fatmawati sebagai penghubung utama dalam merajut kemitraan strategis ITS–COMSATS hingga ITS resmi menjadi Centre of Excellence pada 2020.

Di forum ini, Pak Fauzan Adziman, Dirjen Risbang, melontarkan kalimat yang menjadi pengingat bagi komunitas akademik kita. Academic papers are insufficient.

“Kertas akademik saja tidak cukup,” tegas beliau.

Universitas harus berhenti menjadi “silo” teoretis. Kita harus bertransformasi menjadi mesin dinamis. Inkubator pencetak paten dan kekayaan intelektual yang siap diekspor.

Data Global Innovation Index (GII) 2025 sebenarnya sangat membanggakan. Indonesia adalah overperformer. Kolaborasi riset kampus dan industri kita tembus peringkat 13 dunia. Budaya kewirausahaan peringkat 10. Skala pasar domestik peringkat 8.

Modalnya sudah ada. Namun, deretan angka itu akan menguap jika kita tidak membangun jembatannya. Jembatan yang mengubah seedling, bibit inovasi yang tumbuh di laboratorium, menjadi kekuatan rantai pasok global yang berdaulat.

Selasa malam, forum berhenti sejenak.

Di taman Rektorat, di bawah langit Surabaya yang sedang cerah, kami duduk bersama para delegasi dari berbagai penjuru dunia. Pohon-pohon frangipani yang sedang berbunga menebarkan aromanya. Menikmati malam dengan hidangan dan iringan musik ITS Jazz.

Di momen inilah percakapan yang sesungguhnya terjadi. Bukan di balik podium. Bukan di antara slide presentasi. Tapi di antara hidangan dan jabat tangan.

Keesokan harinya, Pak Dedet Chandra membawa Agrivoltaic. Panel surya dan sawah berbagi lahan yang sama, bukan saling mematikan. Pak Agung Purniawan membawa visi From Nano to Nation. Bahwa kemandirian industri dimulai dari material, bukan dari impor.

Di forum ini, Prof. Jibin Sun dari COMSATS Joint Centre for Industrial Biotechnology menegaskan bahwa biomanufaktur yang didorong oleh biologi sintetik dan AI adalah mesin penggerak revolusi industri keempat. Ia mengajak negara Global South untuk berkolaborasi dalam valorisasi limbah pertanian menjadi material bernilai tinggi.

Senada dengan itu, Pak Nurul Jadid menekankan bahwa integrasi biosains dan keanekaragaman hayati melalui pendekatan genomik dan etnobotani adalah kunci mutlak untuk menjawab tantangan keamanan pangan dan kesehatan di tengah ancaman perubahan iklim.

Gagasan-gagasan besar itu terus mengalir, melengkapi satu sama lain. Bu Warmadewanthi membedah circular bioeconomy, Pak Adhi Dharma Wibawa menelaah dampak AI bagi pendidikan dan masyarakat, Bu Hepi Hapsari memaparkan ketangguhan mitigasi bencana, hingga Pak Arman Hakim Nasution yang merevolusi ekosistem pendidikan digital kita.

Seluruh diskursus kelas dunia ini tak akan pernah terselenggara tanpa kerja keras dalam diam. Tim panitia bersama DKG, DRPM, DIKST, UKP dan segenap unit lainnya di ITS, telah merajut setiap detail acara ini siang dan malam. Sebuah dedikasi tangguh di balik layar yang patut kita apresiasi setinggi-tingginya.

Namun, di puncak diskursus tentang teknologi masa depan itu, waktu seolah berhenti sejenak. Kampus ITS sedang berkabung.

Bapak Profesor Johan Silas berpulang. Di usia 90 tahun.

Sabtu pagi, saat berdiri di upacara pelepasannya, saya menyadari sesuatu. Beliau adalah wujud paling nyata dari semua teori keberlanjutan yang sedang kami diskusikan di forum.

Pak Johan Silas tidak pernah berhenti di teori kota. Beliau adalah arsitek yang merancang Surabaya dengan filosofi yang unik. Beliau tidak pernah memandang Surabaya dengan kacamata “kota cincin”, yang hanya menumpuk kemegahan di pusat lalu membuang sisanya ke pinggiran, seperti model Beijing atau Jakarta.

Bagi Pak Johan Silas, Surabaya adalah papan catur. Dinamis, modular, dan memanusiakan tiap bidaknya. Setiap kampung adalah unit mandiri yang punya hak untuk tumbuh. Beliau tidak memandang gang-gang sempit sebagai rintangan modernisasi, melainkan sebagai sel-sel hidup yang harus dijaga kesehatannya.

Beliau merancang dengan tangan dan hatinya. Dari rehabilitasi pasca-tsunami di Aceh dan Nias, hingga merancang Kuala Kencana di Papua. Warga adat Nias Selatan menganugerahinya gelar kehormatan Balugu Samaeri Ono Niha.

Hari ini kita ramai bicara tentang Smart City, sensor, dan dashboard kota. Tapi Pak Johan Silas tidak bicara soal itu. Ia bicara tentang warga yang bisa jalan kaki ke warung dengan aman. Tentang kampung yang tidak perlu digusur atas nama modernisasi. Ia paham bahwa kota yang paling cerdas bukan yang paling banyak sensornya, tapi yang paling memanusiakan warganya.

Pekan ini saya berdiri di dua tempat yang terasa berseberangan. Forum sains internasional dengan segala ambisi globalnya. Dan ruang duka bagi seorang arsitek yang menghabiskan hidupnya untuk arsitektur pemukiman, khususnya perkampungan.

Tapi semakin saya pikirkan, semakin jelas. Keduanya bicara tentang hal yang sama.

Bahwa ilmu pengetahuan bukan tujuan. Ia adalah kendaraan. Dan kendaraan itu hanya bermakna kalau tahu ke mana pergi.

Ke tempat yang lebih manusiawi. Ke kebermanfaatan yang tidak perlu diteriakkan. Karena sudah terasa oleh mereka yang menerimanya.

Pak Johan Silas tidak hanya meninggalkan publikasi ilmiah. Ia meninggalkan gang-gang yang bisa dilalui anak-anak dengan aman. Ia meninggalkan rumah-rumah yang berdiri kembali di atas tanah yang pernah rata. Itu jenis warisan yang tidak perlu indeks sitasi untuk dibuktikan nilainya.

Masih banyak yang harus dikerjakan. Membangun ekosistem riset dan inovasi. Mimpi membangun Entrepreneurial University yang berkarakter masih jauh dari selesai.

Tapi setidaknya pekan ini, dua momen itu mengingatkan saya tentang satu hal.

Yang timeless bukan yang paling canggih. Tapi yang paling berguna bagi manusia lain.

AMH
Agus Muhamad Hatta

Prof. Agus Muhamad Hatta, S.T., M.Si., Ph.D
Prof. Agus Muhamad Hatta, S.T., M.Si., Ph.D
Wakil Rektor Bidang Inovasi, Kerja Sama, dan Kealumnian ITS untuk 2024-2029.

Related Articles

Artikel baru