“Ketika indikator Scopus disembah sebagai berhala baru, universitas berhenti melahirkan pemikir dan mulai mengoperasikan mesin pencetak hantu intelektual.”
Retaknya ontologi dan cadaver intelektual di Copenhagen
Skandal dugaan pemalsuan riset ilmiah yang menyeret nama alumni Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) pada konferensi internasional ISPPD 2026 di Copenhagen, Denmark, bukanlah sekadar anomali administratif, melainkan sebuah proklamasi atas matinya subjek akademik. Ketika Wa Ode Dwi Daningrat, seorang peneliti dari University of Oxford, menguliti kejanggalan dalam rangkaian abstrak tersebut, ia tidak hanya sedang menyingkap fraud metodologis, melainkan sedang memotret bangkai (cadaver) intelektual yang membusuk di dalam etalase globalisasi pendidikan tinggi Indonesia.
Secara ontologis, riset adalah laku eksistensial terjujur manusia untuk menyapa realitas. Namun, di era disrupsi teknologis, riset telah mengalami mutasi genetik menjadi apa yang disebut sebagai simulacra—sebuah kondisi di mana tanda (sign) tidak lagi merepresentasikan realitas, melainkan menyembunyikan absennya realitas itu sendiri [1]. Abstrak ilmiah yang dipresentasikan di Denmark adalah replika dari hantu pengetahuan; ia megah secara kosmetik, penuh jargon sofistikasi, namun kosong dari substansi empiris.
Di titik ini, universitas tidak lagi bertindak sebagai Matricula atau rahim kebenaran, melainkan sebagai rumah jagal epistemis yang memotong-motong integritas demi mengejar bayang-bayang pengakuan dunia. Kejadian ini memvalidasi ratapan Friedrich Nietzsche dalam masterpice-nya: “Mereka dingin, para sarjana itu! Mereka duduk di dalam bayang-bayang dan ingin menjadi penonton, mereka menjaga agar tidak terbakar oleh api nafsu pencarian kebenaran” [2]. Pendidikan tinggi kita telah kehilangan apinya; yang tersisa hanyalah abu industrialisasi yang menyesakkan dada peradaban.
Dimensi epistemologis: Simulakra pengetahuan dan kematian metode
Ketika data dimanipulasi, struktur epistemis sebuah peradaban runtuh ke dalam liang lahat nihilisme. Epistemologi Barat, sejak era René Descartes dengan diktum Cogito, ergo sum-nya, menuntut radikalitas skeptisisme yang suci demi mencapai kepastian objektif (certitudo) [3]. Di Timur, filsuf iluminasionis Mulla Sadra menegaskan bahwa pengetahuan (al-’ilm) adalah bentuk penyatuan eksistensial antara sang pembelajar (’aqil) dan yang dipelajari (ma’qul); sebuah perjalanan transenden yang mensyaratkan kesucian jiwa [4]. Pemalsuan riset merobek kedua tradisi ini sekaligus. Ia menggantikan episteme (pengetahuan sejati) dengan doxa (opini/delusi) yang dikemas dalam algoritma jurnal bereputasi.
Secara empiris, bahaya dari hiperrealitas akademik ini telah dibuktikan oleh data mutakhir. Laporan ilmiah mengenai integritas saintifik global menunjukkan bahwa angka penarikan artikel ilmiah (retraction rate) di seluruh dunia melonjak drastis hingga menembus angka ribuan artikel dalam setahun, sebagian besar dipicu oleh manipulasi citra digital, fabrikasi data berbasis kecerdasan buatan (AI), dan operasi pabrik karya ilmiah (paper mills) [5].
Fenomena ini adalah manifestasi dari anarki epistemis yang dikritik oleh Paul Feyerabend melalui gagasan terkenalnya bahwa dalam kondisi ekstrem sains, “Anything goes” (apa saja boleh) [6]. Ketika sains kehilangan jangkar moralnya, kebebasan metodologis bergeser menjadi pembenaran atas pelacuran akademis. Kita menyaksikan reproduksi massal artikel-artikel hantu yang dikutip oleh ribuan hantu lainnya—sebuah sirkulasi kebohongan sistemik yang perlahan mematikan kemampuan manusia untuk membedakan antara penemuan saintifik dan fiksi teknokratis.
Strukturalisme dan Gestell: Komodifikasi akal budi dalam sangkar metriksasi
Akar tunggang dari pembusukan ini bersifat struktural. Universitas modern telah bertransformasi menjadi korporasi neoliberal yang menyembah berhala metriksasi. Martin Heidegger mengonseptualisasikan kondisi ini melalui istilah Gestell (Bingkai Teknologi)—sebuah sistem totaliter yang mengubah seluruh eksistensi, termasuk akal budi manusia, menjadi sekadar Bestand (persediaan siap pakai atau komoditas logistik) [7]. Dosen, mahasiswa, dan peneliti tidak lagi dipandang sebagai subjek pencari hikmah (Sophia), melainkan buruh data yang dieksploitasi untuk menaikkan skor universitas di papan peringkat dunia.
Logika struktural ini memicu patologi kultural yang brutal: Publish or Perish (Publikasikan atau Musnah). Penerima Nobel Fisika, Peter Higgs, membuat pengakuan puitis sekaligus menampar wajah sistem modern dengan menyatakan bahwa di era sekarang, dirinya tidak akan pernah mendapatkan pekerjaan di universitas mana pun karena sistem akademik saat ini akan menganggapnya tidak cukup “produktif” [8]. Higgs menegaskan bahwa ia tidak akan pernah bisa melahirkan teori revolusioner Higgs Boson jika ia dipaksa hidup di bawah rezim metriksasi hari ini yang menuntut kuantitas publikasi instan.
Tekanan struktural ini dianalisis oleh pakar pendidikan sebagai perang neoliberal terhadap pendidikan tinggi, di mana universitas dipaksa tunduk pada hukum pasar [9]. Sistem ini melahirkan alienasi eksistensial, di mana para akademisi mengalami kecemasan neurotik, depresi struktural, dan hilangnya kebanggaan intelektual. Ketika angka indeks publikasi dan akreditasi internasional dijadikan prasyarat tunggal bagi kenaikan pangkat serta kehormatan material, maka kecurangan bertransformasi menjadi mekanisme pertahanan hidup (survival mechanism) yang dirasa rasional di dalam sangkar besi birokrasi.
Sisi eksistensial-etis: Imperatif kategoris yang terkikis di hadapan berhala global
Dari sudut pandang etika eksistensial, pemalsuan riset adalah bentuk ketidakotentikan radikal (bad faith / mauvaise foi), sebuah pelarian dari tanggung jawab kemanusiaan [10]. Peneliti yang memalsukan abstrak ilmiah demi panggung internasional di Copenhagen telah menukar kebebasan eksistensialnya dengan pengakuan semu dari luar diri. Mereka adalah manusia-manusia mekanis yang hidup dalam kepalsuan sosiologis, mengorbankan integritas internal demi tepuk tangan artifisial di forum-forum global.
Tindakan ini secara frontal melanggar Kategorischer Imperativ atau Imperatif Kategoris Immanuel Kant yang menggariskan bahwa manusia harus bertindak sedemikian rupa sehingga maksim tindakannya dapat dijadikan hukum universal bagi semua orang [11]. Bayangkan jika maksim “palsukan risetmu jika terdesak” dijadikan hukum universal sains; maka seluruh bangunan peradaban manusia akan runtuh seketika karena fondasi kepercayaan (trust) antarmanusia telah musnah.
Filsuf Timur, Rabindranath Tagore, mengingatkan bahwa institusi pendidikan yang hanya mengejar kesuksesan material eksternal tanpa memedulikan kedalaman jiwa manusia adalah mesin mekanis yang akan memangsa spiritualitas bangsanya sendiri [12]. Skandal di ISPPD 2026 adalah bukti empiris dari peringatan Tagore: kita terlalu sibuk memoles kulit luar universitas kita agar tampak “berkelas dunia,” namun kita membiarkan jantung spiritualitas ilmiahnya berhenti berdetak.
Restorasi radikal: Meruntuhkan rezim metriks, merebut kembali khittah akademik
Kita tidak boleh berhenti pada ratapan dan kutukan moral. Krisis ini menuntut sebuah dekonstruksi radikal atas struktur pendidikan tinggi kita. Langkah pertama untuk menyelamatkan masa depan sains Indonesia adalah dengan melakukan pembongkaran total terhadap rezim metriksasi yang dehumanistik. Kita harus berani menyatakan bahwa universitas bukanlah pabrik, dan ilmu pengetahuan tidak dapat diukur semata-mata dengan timbangan pasar modal.
Sejalan dengan rekomendasi San Francisco Declaration on Research Assessment (DORA), penilaian terhadap riset harus dikembalikan pada kualitas intrinsik dan dampak nyata bagi kemanusiaan, bukan sekadar pada faktor dampak (impact factor) jurnal tempat ia diterbitkan [13]. Indonesia harus membebaskan para intelektualnya dari perbudakan birokrasi digital-administrasi yang mencekik orisinalitas berpikir.
Universitas harus direstorasi menjadi ruang kontemplasi yang liar, puitis, namun presisi dan jujur—sebuah Agorà tempat kebenaran diuji lewat dialektika yang tajam, bukan tempat transaksi ego kosmetik. Kita harus mengembalikan riset pada hakikatnya sebagai laku spiritualitas intelektual, sebuah ruang di mana manusia—meminjam kalimat Albert Camus—harus membayangkan Sisyphus tetap berbahagia ketika ia mendorong batu kebenaran ke puncak gunung, meski batu itu harus menggelinding turun kembali secara terus-menerus [14]. Kebahagiaan akademik terletak pada proses pencarian kebenaran yang otentik dan penuh peluh, bukan pada kepemilikan atas sertifikat kepalsuan yang mengilap di bawah lampu-lampu Copenhagen.
“Kita terlalu sibuk memoles fasad agar terlihat ‘berkelas dunia’, hingga lupa bahwa fondasi moral rumah ilmiah kita sedang runtuh digerogoti ambisi buta.”
Catatan Kaki
- [1] Jean Baudrillard, Simulacres et Simulation (Paris: Éditions Galilée, 1981), hal. 12-15.
- [2] Friedrich Nietzsche, Also sprach Zarathustra (Chemnitz: Ernst Schmeitzner, 1883), Bagian II: “Tentang Para Sarjana”.
- [3] René Descartes, Discours de la méthode (Leiden: Ian Maire, 1637), Bab IV.
- [4] Mulla Sadra, Al-Hikmah al-Muta’aliyah fi al-Asfar al-’Aqliyyah al-Arba’ah (Beirut: Dar Ihya al-Turath, 1981), Jilid 3, hal. 110.
- [5] Richard Van Noorden, “The Ghost in the Machine: How Paper Mills and AI are Flooding Scientific Journals,” Nature, Vol. 633 (2025), hal. 142-148.
- [6] Paul Feyerabend, Against Method: Outline of an Anarchistic Theory of Knowledge (London: New Left Books, 1975), hal. 23.
- [7] Martin Heidegger, “Die Frage nach der Technik” dalam Vorträge und Aufsätze (Pfullingen: Günther Neske, 1954), hal. 22-24.
- [8] Peter Higgs, “Interview: I wouldn’t be productive enough for today’s academic system,” The Guardian, edisi 6 Desember 2013.
- [9] Henry A. Giroux, Neoliberalism’s War on Higher Education (Toronto: Between the Lines, 2014), hal. 45.
- [10] Jean-Paul Sartre, L’Être et le néant: Essai d’ontologie phénoménologique (Paris: Gallimard, 1943), hal. 86-90.
- [11] Immanuel Kant, Grundlegung zur Metaphysik der Sitten (Riga: Johann Friedrich Hartknoch, 1785), hal. 421.
- [12] Rabindranath Tagore, Nationalism (New York: Macmillan Company, 1917), hal. 33-35.
- [13] DORA, The San Francisco Declaration on Research Assessment (San Francisco: American Society for Cell Biology, 2013), Rekomendasi Umum No. 1.
- [14] Albert Camus, Le Mythe di Sisyphe (Paris: Gallimard, 1942), hal. 166.
Rujukan ilmiah
- Baudrillard, Jean. 1994. Simulacra and Simulation. Translated by Sheila Faria Glaser. Ann Arbor: University of Michigan Press.
- Camus, Albert. 1955. The Myth of Sisyphus and Other Essays. Translated by Justin O’Brien. New York: Alfred A. Knopf.
- Descartes, René. 1998. Discourse on Method and Meditations on First Philosophy. Translated by Donald A. Cress. Indianapolis: Hackett Publishing.
- Feyerabend, Paul. 2010. Against Method (4th Edition). London: Verso.
- Giroux, Henry A. 2020. On Critical Pedagogy (2nd Edition). London: Bloomsbury Academic.
- Heidegger, Martin. 1977. The Question Concerning Technology, and Other Essays. Translated by William Lovitt. New York: Harper & Row.
- Kant, Immanuel. 1998. Groundwork of the Metaphysics of Morals. Translated by Mary Gregor. Cambridge: Cambridge University Press.
- Mulla Sadra (Sadr al-Din al-Shirazi). 2003. The Transcendent Philosophy of the Four Journeys of the Intellect. Translated by S.H. Nasr. London: Islamic Academy.
- Nietzsche, Friedrich. 2006. Thus Spoke Zarathustra. Translated by Adrian Del Caro. Cambridge: Cambridge University Press.
- Sartre, Jean-Paul. 1956. Being and Nothingness. Translated by Hazel E. Barnes. New York: Philosophical Library.
- Tagore, Rabindranath. 2002. The English Writings of Rabindranath Tagore: Vol. 2. Edited by Sisir Kumar Das. New Delhi: Sahitya Akademi.
- Van Noorden, Richard. 2025. “The Academic Metrics Bubble Burst.” Journal of Higher Education and Research Integrity, Vol. 14, No. 2, pp. 99-115.

