Dirosah An-Nahdliyah, Membangun Kembali Nalar Strategis Nahdlatul Ulama

Di tengah perubahan sosial, disrupsi teknologi, polarisasi politik, dan krisis otoritas pengetahuan keagamaan, kebutuhan terhadap penguatan tradisi intelektual Nahdlatul Ulama (NU) menjadi semakin mendesak. NU tidak cukup hanya dipahami sebagai organisasi sosial-keagamaan yang bergerak dalam bidang pendidikan, sosial dan pelayanan umat, tetapi juga sebagai peradaban pemikiran yang memiliki konstruksi epistemologi, ideologi, dan kosmologi yang matang. Dalam konteks inilah kehadiran program “Dirosah An-Nahdliyah” yang diselenggarakan Dipantara Leadership Academy menjadi langkah strategis dan relevan.

Program ini bukan sekadar forum kajian rutin, melainkan ikhtiar serius untuk membaca kembali NU secara utuh, mendalam, dan sistematis. Sampai saat ini, Dirosah An-Nahdliyah telah memasuki angkatan kelima. Hal tersebut menunjukkan adanya kebutuhan besar di kalangan generasi muda NU terhadap ruang pembelajaran yang mampu menjelaskan fondasi intelektual dan arah strategis organisasi secara komprehensif.

Selama ini, problem besar yang sering dihadapi organisasi-organisasi keagamaan adalah terjadinya penyempitan cara pandang terhadap identitas gerakan. NU misalnya, kerap direduksi hanya pada simbol-simbol tradisi keagamaan seperti tahlilan, qunut, maulid, dan ritual pesantren. Padahal, warisan terbesar NU sesungguhnya jauh lebih luas dan mendalam daripada sekadar ekspresi ritual keagamaan.

Dalam perjalanan sejarahnya selama lebih dari satu abad, NU berhasil membangun sebuah sistem peradaban yang relatif lengkap. Pertama, NU membentuk system of belief and rituals, yakni tata keyakinan dan praktik keagamaan khas Ahlussunnah wal Jamaah yang moderat, adaptif, dan berbasis tradisi keilmuan. Kedua, NU membangun system of knowledge atau sistem pengetahuan yang bertumpu pada tradisi pesantren, sanad keilmuan, metodologi fikih, ushul fikih, dan dialektika antara teks serta realitas sosial.

Ketiga, NU melahirkan system of ideology, yaitu ideologi gerakan yang berpijak pada prinsip tawassuth, tawazun, tasamuh, dan i’tidal. Ideologi ini menjadikan NU mampu bertahan menghadapi berbagai ekstremisme, baik ekstremisme agama maupun ekstremisme politik modern. Keempat, NU juga berhasil membangun kosmologi sosial berupa collective conscience atau kesadaran kolektif masyarakat Islam Indonesia yang berakar pada tradisi, spiritualitas, nasionalisme, dan kehidupan sosial yang harmonis.

Empat fondasi besar tersebut menjadikan NU bukan hanya organisasi keagamaan, tetapi juga ekosistem peradaban yang memiliki cara pandang tersendiri dalam melihat agama, negara, masyarakat, hingga tata dunia global. Persoalannya, warisan intelektual sebesar ini sering kali tidak dipahami secara utuh oleh generasi mudanya sendiri.

Di sinilah arti penting Dirasah An-Nahdliyah. Program ini mencoba mengembalikan NU pada tradisi intelektualnya. Kajian yang meliputi bidang teologi, Qonun Asasi, ideologi, epistemologi, historiografi, kosmologi, hingga geostrategi menunjukkan bahwa NU sesungguhnya memiliki spektrum pemikiran yang sangat luas. Bahkan, banyak persoalan kontemporer seperti demokrasi, kebangsaan, pluralisme, geopolitik, hingga krisis digital dapat dibaca melalui perspektif pemikiran NU apabila dikaji secara serius.

Dirosah ini juga penting karena berfungsi sebagai kaderisasi tingkat tinggi. Dalam organisasi besar, kaderisasi tidak cukup berhenti pada pembentukan loyalitas struktural atau penguatan identitas simbolik. Organisasi membutuhkan kader yang mampu membaca arah zaman, memahami sejarah gerakan, menguasai metodologi berpikir, serta memiliki kapasitas ideologis untuk menjaga haluan organisasi.

Apalagi saat ini NU menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks dibanding masa-masa sebelumnya. Tantangan itu tidak hanya berupa radikalisme agama atau konflik politik, tetapi juga kolonialisme algoritma, krisis otoritas ulama, fragmentasi sosial digital, hingga penetrasi budaya global yang mengubah cara berpikir generasi muda Muslim. Dalam situasi seperti ini, organisasi besar tanpa basis intelektual yang kuat akan mudah kehilangan arah.

Karena itu, langkah Dipantara Institute Academy menggali sumber-sumber primer NU menjadi sangat penting. Tradisi pemikiran NU tidak boleh berhenti pada kutipan-kutipan populer atau romantisme sejarah semata. Ia harus dibangun melalui tradisi riset, pembacaan manuskrip, kritik historiografi, dan pengembangan metodologi berpikir yang relevan dengan konteks kekinian.

Kehadiran KH Abdul Mun’im DZ sebagai pembimbing utama dalam program ini juga menunjukkan bahwa Dirasah An-Nahdliyah tidak bergerak di wilayah seremonial, tetapi berada dalam jalur tradisi intelektual NU yang serius. Sebagai sejarawan dan ideolog NU, beliau dikenal memiliki perhatian besar terhadap pembangunan kerangka berpikir strategis bagi kader-kader muda NU.

Yang menarik, program ini memakan waktu hingga satu tahun. Ini menunjukkan bahwa memahami NU secara utuh memang tidak dapat dilakukan secara instan. NU adalah organisasi dengan lapisan sejarah, pemikiran, tradisi, dan pengalaman sosial yang sangat kompleks. Dibutuhkan kesungguhan intelektual untuk memahami seluruh dimensinya.

Pada akhirnya, Dirasah An-Nahdliyah dapat dibaca sebagai upaya membangkitkan kembali “tradisi berpikir” di tubuh NU. Sebab organisasi besar hanya akan tetap hidup apabila mampu melahirkan generasi yang tidak hanya pandai menjaga tradisi, tetapi juga mampu mengembangkan gagasan. NU membutuhkan kader yang bukan hanya fasih berbicara soal masa lalu, tetapi juga mampu menawarkan arah masa depan bagi bangsa Indonesia.

Jika tradisi intelektual ini terus diperkuat, maka NU berpotensi kembali menjadi kekuatan strategis yang bukan hanya berpengaruh di tingkat nasional, tetapi juga mampu memberikan kontribusi penting bagi peradaban Islam global.[]

Tulisan ini sebelumnya pernah terbit di Kompasiana dan dimuat kembali atas seizin penulis.

Khariri Makmun
Khariri Makmun
Wakil Ketua Komisi Dakwah MUI Pusat & Pengasuh Pesantren Algebra, Ciawi-Bogor

Related Articles

Artikel baru