Mengapa NU Belum Menjadi Kekuatan Geopolitik Global?

Bayangkan jika NU memiliki pemimpin berkelas global. Seorang pemimpin yang tidak hanya berpikir tentang periode kepengurusan lima tahunan, tetapi memikirkan masa depan umat, bangsa, dan peradaban dalam horizon puluhan bahkan ratusan tahun ke depan. Seorang pemimpin yang mampu mengonsolidasikan lebih dari seratus juta warga nahdliyin dalam satu visi besar, menghubungkan ribuan pesantren dengan pusat-pusat riset dan inovasi, mengubah kekuatan sosial menjadi kekuatan ekonomi, serta menjadikan jaringan NU sebagai aktor yang diperhitungkan dalam percaturan dunia.

Ada satu pertanyaan yang seharusnya mengganggu pikiran setiap warga Nahdlatul Ulama hari ini: mengapa organisasi Islam dengan basis sosial terbesar di dunia belum menjadi salah satu kekuatan geopolitik global?

Pertanyaan ini bukan untuk merendahkan NU. Justru karena terlalu besar untuk sekadar menjadi organisasi biasa, NU layak ditanya dengan standar yang jauh lebih tinggi. Mari berbicara dengan jujur.

Selama puluhan tahun warga NU bangga menyebut diri sebagai bagian dari organisasi Islam terbesar di dunia. Jumlah pengikutnya diperkirakan mencapai lebih dari seratus juta orang. Jaringan pesantrennya puluhan ribu. Ulama dan kiai tersebar dari desa terpencil hingga pusat-pusat kekuasaan nasional. Pengaruh politiknya menjangkau seluruh spektrum pemerintahan.

Tetapi setelah semua angka itu disebutkan, muncul pertanyaan yang lebih penting: lalu apa?

Apa arti seratus juta warga jika tidak terkonsolidasi menjadi kekuatan ekonomi? Apa arti ribuan pesantren jika tidak melahirkan pusat-pusat riset kelas dunia? Apa arti kedekatan dengan kekuasaan jika tidak menghasilkan agenda strategis jangka panjang bagi umat? Apa arti menjadi organisasi terbesar jika cara berpikir para elite-nya masih berkisar pada perebutan jabatan lima tahunan?

Di sinilah persoalan sesungguhnya berada.

Masalah terbesar NU hari ini bukan kekurangan massa. Masalah terbesar NU adalah kekurangan imajinasi besar.

NU sesungguhnya memiliki semua syarat untuk menjadi pemain global. Jumlah warga besar, legitimasi keagamaan kuat, akar budaya kokoh, jaringan pendidikan luas, dan kedekatan dengan negara yang telah terbangun.

Namun potensi tersebut belum berubah menjadi kekuatan strategis yang terorganisasi. Banyak energi organisasi justru habis untuk urusan internal: perebutan posisi, pertarungan kelompok, dan manuver dukungan. Seolah-olah puncak prestasi organisasi adalah memenangkan jabatan struktural. Padahal jika dilihat dari perspektif geopolitik global, semua itu hanyalah aktivitas pinggiran.

Dunia sedang berbicara tentang kecerdasan buatan, teknologi kuantum, transisi energi, perang ekonomi, perebutan pengaruh global, ketahanan pangan, dan desain peradaban masa depan. Sementara para elite NU masih sibuk menghitung suara dan dukungan internal.

Bayangkan Jika NU Memiliki Pemimpin Berkelas Global

Sejarah menunjukkan bahwa organisasi besar tidak lahir dari massa besar. Organisasi besar lahir dari kepemimpinan besar.

Tokoh seperti Ayatollah Ruhollah Khomeini atau Ali Khamenei sering menjadi perdebatan dalam politik internasional. Banyak orang setuju, banyak pula yang mengkritik mereka. Namun satu hal sulit dibantah: mereka memimpin dengan visi global. Mereka tidak berpikir sebagai pengurus organisasi. Mereka berpikir sebagai arsitek sejarah.

Mereka membangun jaringan pendidikan, mengonsolidasikan elite intelektual, menghubungkan agama dengan kekuasaan sosial, dan mengubah komunitas keagamaan menjadi kekuatan yang diperhitungkan dunia.

Meski NU memiliki tradisi yang berbeda dengan Syiah, tidak ada alasan untuk meniru model kepemimpinan organisasi lain.

Ada pelajaran yang sangat penting: kepemimpinan besar selalu lahir dari keberanian berpikir besar.

Pertanyaannya, kapan terakhir kali NU melahirkan pemimpin yang berbicara tentang peta jalan 100 tahun umat Islam Indonesia? Kapan terakhir kali NU berbicara tentang strategi menguasai ekonomi nasional? Kapan terakhir kali NU merancang bagaimana menjadi pusat pemikiran Islam dunia?

Seratus Juta Warga Adalah Kekuatan yang Menggetarkan Dunia

Mari berhenti melihat NU hanya sebagai organisasi pengajian. Lihatlah angka-angkanya.

Jika 120 juta warga NU terkonsolidasi dalam satu ekosistem ekonomi, maka NU dapat menjadi salah satu kekuatan ekonomi masyarakat terbesar di dunia.

Jika pesantren-pesantren NU terhubung dalam satu sistem pendidikan modern, maka akan lahir jutaan kader intelektual setiap tahun.

Jika dana umat dikelola secara profesional, maka NU dapat memiliki dana abadi yang nilainya mencapai puluhan bahkan ratusan triliun rupiah.

Jika jaringan bisnis warga terkoneksi, maka NU dapat membangun konglomerasi ekonomi berbasis komunitas yang melampaui banyak kelompok usaha nasional.

Jika sumber daya tersebut terkonsolidasi, maka bukan hanya pemerintah Indonesia yang akan mendengar suara NU. Investor global akan mendengarnya. Lembaga internasional akan memperhitungkannya. Kepala negara akan mempertimbangkannya. Dunia akan memperhatikannya.

Banyak warga NU belum menyadari bahwa jumlah mereka sendiri adalah aset geopolitik. Dalam dunia modern, pengaruh tidak hanya lahir dari senjata. Pengaruh lahir dari jaringan, ekonomi, pendidikan, budaya, dan legitimasi moral. NU memiliki semuanya. Yang belum dimiliki adalah konsolidasi.

Bayangkan apabila NU memiliki universitas riset kelas dunia, bank investasi umat, pusat teknologi dan inovasi, media internasional, lembaga think tank global, serta jaringan diplomasi kebudayaan lintas negara. Maka NU tidak hanya menjadi pemain domestik. NU akan menjadi salah satu aktor non-negara paling berpengaruh di dunia Islam.

Masalah terbesar yang harus diatasi bukanlah lawan di luar organisasi. Masalah terbesar adalah mentalitas kecil di dalam organisasi. Mentalitas yang menganggap jabatan sebagai tujuan. Mentalitas yang menganggap kemenangan kelompok sebagai prestasi. Mentalitas yang menganggap organisasi hanya sebatas forum silaturahmi.

NU didirikan bukan untuk itu. Para pendirinya tidak sedang membangun paguyuban. Mereka sedang membangun fondasi peradaban.

Karena itu, warga NU harus mulai bertanya dengan jujur kepada dirinya sendiri: apakah kita ingin NU tetap menjadi organisasi besar yang sibuk bertengkar di tingkat internal? Ataukah kita ingin NU menjadi salah satu kekuatan intelektual, ekonomi, budaya, dan moral yang ikut menentukan arah masa depan dunia?

Perbedaan antara keduanya terletak pada satu hal: kualitas kepemimpinan dan keberanian memiliki mimpi besar.

Seratus juta warga adalah energi yang luar biasa. Tetapi energi tanpa visi hanya akan menjadi keramaian. Energi yang dipimpin oleh gagasan besar akan menjadi peradaban.

NU tidak kekurangan massa. NU tidak kekurangan sejarah. NU tidak kekurangan legitimasi.

Yang paling dibutuhkan NU hari ini adalah keberanian untuk kembali berpikir sebesar cita-cita para pendirinya: membangun kekuatan Islam yang bukan hanya besar dalam jumlah, tetapi besar dalam pengaruh, besar dalam karya, dan besar dalam menentukan arah zaman.

Tulisan ini sebelumnya pernah terbit di Kompasiana dan dimuat kembali atas seizin penulis.

Khariri Makmun
Khariri Makmun
Wakil Ketua Komisi Dakwah MUI Pusat & Pengasuh Pesantren Algebra, Ciawi-Bogor

Related Articles

Artikel baru