Kotagede Bukan Background Foto

Ibu Kota Islam Pertama Mataram yang Masih Bernapas dan Terus Dieksploitasi

Setiap pagi di Kotagede ada dua jenis manusia yang berjalan menyusuri lorong-lorong sempitnya. Yang pertama: warga yang sudah tinggal di sini selama beberapa generasi, pedagang perak, tukang batu bata, abdi dalem yang berjalan menuju kompleks makam mengenakan beskap dan jarik. Yang kedua: wisatawan dengan kamera ponsel terangkat, mencari sudut terbaik dari Tembok Ijo, tembok hijau berlumut yang viral di media sosial, untuk diunggah ke Instagram sebelum sarapan.

Dua dunia ini hidup berdampingan di kota yang sama. Namun hanya satu yang benar-benar memahami tempat ini.

Saya tinggal di Kotagede. Bukan sebagai peneliti yang menginap dua minggu, bukan sebagai jurnalis yang liputan sehari. Saya tinggal di sini, berjalan melewati reruntuhan Benteng Cepuri hampir setiap hari, mendengar azan dari Masjid Gedhe Mataram yang berdiri sejak abad ke-16, dan sesekali berpapasan dengan peziarah berpakaian Jawa yang masuk ke Pasarean Hastana Kitha Ageng dengan langkah pelan dan kepala menunduk.

Dan saya ingin mengatakan sesuatu yang belum banyak ditulis orang lain: Kotagede bukan sekadar destinasi wisata. Ini adalah kota Islam paling tua dalam tradisi Mataram dan ia sedang dieksploitasi dengan cara yang sangat halus, sehingga tidak ada yang menyadarinya.

“Kotagede dikunjungi jutaan orang. Tapi berapa banyak yang benar-benar mengerti apa yang mereka injak?”

I. Dari Alas Mentaok ke Ibukota Imperium

Sebelum kita bicara soal foto-foto cantik dan kerajinan perak, mari kita berdiri sejenak di hadapan berat sejarah ini.

Sekitar tahun 1575, Ki Ageng Pemanahan ayah dari Danang Sutawijaya yang kelak bergelar Panembahan Senopati membuka hutan bernama Alas Mentaok atas hadiah Sultan Hadiwijaya (Jaka Tingkir) dari Pajang. Ini bukan tanah biasa. Ini adalah tanah perdikan yang diberikan sebagai balas jasa atas keberhasilan membunuh Arya Penangsang dari Jipang, salah satu drama politik paling berdarah dalam sejarah Jawa.

Di atas hutan yang dibabat itulah, Kotagede tumbuh. Dan di atas Kotagede itulah, antara 1586 hingga 1601 di bawah pemerintahan Panembahan Senopati, berdiri Kerajaan Mataram Islam, salah satu kerajaan terbesar yang pernah menguasai hampir seluruh Pulau Jawa.

FAKTA HISTORIS

Kotagede sebagai ibukota Mataram Islam: Kompleks makam raja (Pasarean Hastana Kitha Ageng) dibangun bertahap sejak 1589 hingga 1606. Di dalamnya bersemayam Ki Ageng Pemanahan, Panembahan Senopati (wafat 1601), Sultan Hadiwijaya, Panembahan Hanyakrawati (Mas Jolang), dan beberapa raja serta bangsawan Mataram awal. Ketiga bangsal utama, Prabayaksa, Witana, dan Tajug merupakan arsitektur Islam-Jawa yang langka. Gapura Paduraksa bergaya Hindu di pintu masuknya adalah bukti sinkretisme budaya yang genuine, bukan rekayasa pariwisata.

Kotagede berhenti menjadi ibukota pada 1613, ketika Sultan Agung cucu Senopati memindahkan pusat kerajaan ke Karta (dekat Plered). Namun kota ini tidak pernah mati. Ia hanya bergeser dari pusat kekuasaan menjadi pusat peradaban kerajinan dan perdagangan.

Babad Momana mencatat tahun 1589 sebagai awal pembangunan kompleks makam, sebuah dokumen waktu yang memungkinkan kita menghitung: bangunan-bangunan di Kotagede ini sudah berusia lebih dari 400 tahun. Bukan 40, bukan 140. Empat ratus tahun.

Bandingkan dengan Jakarta yang dianggap kota tua karena punya bangunan kolonial abad ke-19. Kotagede menanggung beban sejarah dua kali lebih dalam, dan nyaris tidak ada yang membicarakannya dengan serius.

Arsitektur yang Berbicara, Jika Kita Mau Mendengar

Makam Ki Ageng Mangir yang separuh nisannya ada di dalam cungkup dan separuh di luar, bukan sekadar kuburan aneh. Ini adalah pernyataan politik yang dibekukan dalam batu. Mangir adalah menantu sekaligus musuh Panembahan Senopati. Ditempatkan separuh di dalam, separuh di luar, ia terkunci selamanya dalam status ambiguitas: terlalu penting untuk dibuang, terlalu berbahaya untuk dihormati penuh.

Berapa wisatawan yang tahu cerita ini? Berapa yang sekadar berfoto di depan gapura lalu pulang?

Watu Gilang, batu singgasana Panembahan Senopati masih berdiri di selatan kompleks makam. Cekungan di permukaannya, menurut tradisi lisan, adalah bekas benturan kepala Ki Ageng Mangir yang dihempaskan oleh Senopati saat menghaturkan sembah. Apakah ini sejarah literal atau mitologi? Itulah pertanyaan yang seharusnya kita bahas. Bukan: “foto di sini bagus nggak?”

“Setiap batu di Kotagede menyimpan drama. Masalahnya, kita lebih suka selfie daripada membacanya.”

II. Situs Hidup yang Diperlakukan Seperti Set Film

Eksploitasi warna dan bentuk: Bangunan ikonik yang menjadi incaran utama wisatawan Gen Z untuk konten digital, mengaburkan fungsi sosial aslinya. (Sumber Foto: Facebook Mohammad Basyir)

Riset dari Sekolah Vokasi UGM (2024) menunjukkan bahwa wisatawan Gen Z yang mengunjungi Kotagede didorong terutama oleh spot instagramable: Gang Rukun (Between Two Gates), pintu gerbang kompleks makam, dan Omah Pesik. Bukan makna historisnya. Bukan arsitektur nisan-nisannya. Bukan gapura paduraksa yang sudah berdiri empat abad.

Tembok Ijo sempat viral di media sosial dan kini menjadi tujuan foto rutin. Sebuah tembok berlumut di kawasan bersejarah yang entah kapan berubah menjadi properti estetis untuk konten digital.

Tembok-tembok yang “berbicara”: Di balik lumut yang dianggap instagramable, tersimpan struktur pertahanan berusia ratusan tahun. (Sumber Foto: Facebook Mohammad Basyir)

Ini bukan tuduhan kepada wisatawan. Ini adalah cermin dari bagaimana pariwisata budaya di Indonesia bekerja: ia menjual kulit dari sejarah, bukan isinya. Dan Kotagede dengan lorong-lorongnya yang sempit dan fotogenik, dengan perabotan peraknya yang berkilau, dengan gapura-gapuranya yang dramatis adalah mangsa sempurna.

KAJIAN ILMIAH

Heritage sebagai ‘produk’ vs. heritage sebagai ‘proses hidup’

Dalam tradisi konservasi warisan budaya, ada dua kubu besar. Kubu pertama melihat situs bersejarah sebagai ‘produk’ yang harus dipreservasi secara fisik, dipugar, dijaga, ditampilkan. Kubu kedua yang lebih dekat dengan Nara Document on Authenticity (1994) menekankan bahwa warisan budaya adalah proses hidup yang melibatkan komunitas, ritual, memori, dan praktik sosial yang terus berlangsung.

Kotagede, dengan abdi dalem yang masih bertugas, dengan Masjid Gedhe yang masih aktif shalat Jumat, dengan prosesi ziarah yang berjalan tiap Minggu-Senin-Kamis-Jumat adalah contoh sempurna kubu kedua. Ia bukan museum. Ia adalah kota yang masih hidup.

Paradoksnya: industrialisasi pariwisata cenderung membekukan situs hidup menjadi ‘produk’, menggeser warga lokal, mengubah praktik sosial menjadi pertunjukan, dan menggantikan makna dengan estetika.

Gempa 2006 dan Luka yang Belum Sepenuhnya Sembuh

Gempa bumi 27 Mei 2006 berkekuatan M 6,3 adalah bencana yang paling jujur dalam sejarah modern Kotagede. Ia tidak peduli mana yang terkenal dan mana yang tidak. Ia meratakan rumah-rumah tradisional, meretakkan gapura, merobohkan bagian tembok kompleks makam.

Data Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Yogyakarta mencatat kerusakan pada rumah abdi dalem, gapura, tembok, dan bangunan di kawasan Kotagede. Pemugaran berjalan namun tidak semua. Dan di balik setiap bangunan yang dipugar, ada pertanyaan yang selalu mengintai: dipugar untuk siapa? Untuk warganya, atau untuk wisatawan yang datang kemudian?

Rumah Keluarga Parto Darsono yang hancur dibeli dan dibangun ulang oleh UGM sebagai upaya pelestarian, sebuah preseden yang seharusnya menjadi model, bukan pengecualian. Namun seberapa sering langkah seperti ini terjadi? Lebih sering kita lihat renovasi yang mengorbankan keaslian demi tampilan yang lebih ‘bersih’ dan ‘Instagramable’.

TITIK BALIK

Hingga 2024, DIY memiliki 11 kawasan berstatus Kawasan Cagar Budaya, termasuk Kotagede. UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya mengamanatkan pemugaran yang ‘memungkinkan dilakukannya penyesuaian pada masa mendatang dengan tetap mempertimbangkan keamanan masyarakat dan keselamatan cagar budaya’ (Pasal 77).

Yang jarang dibahas: kawasan cagar budaya di DIY mulai terdesak oleh pembangunan modern yang abai nilai historis. Kotagede yang padat, sempit, dan tidak masuk dalam Sumbu Kosmologi Yogyakarta yang resmi diakui UNESCO 2023, secara struktural lebih rentan.

III. Nisan-Nisan yang Berbicara dalam Bahasa yang Tidak Kita Mengerti

Ruang dalam yang sepi: Struktur kayu dan soko guru yang menopang memori kolektif Mataram, jauh dari keriuhan kamera ponsel di luar. (Sumber Foto: Facebook Mohammad Basyir)

Hasan Muarif Ambary arkeolog Islam terbesar yang pernah dimiliki Indonesia, menghabiskan sebagian besar kariernya memetakan tipologi nisan kubur di Nusantara. Ia membagi nisan ke dalam tipe-tipe berdasarkan bentuk, ornamen, dan konteks budaya: tipe lokal Jawa, tipe pengaruh Gujarat, tipe campuran Aceh-Melayu, dan seterusnya.

Nisan-nisan di Kotagede adalah salah satu koleksi paling penting dalam kajian arkeologi Islam Indonesia. Makam Panembahan Senopati sendiri memiliki struktur dan ikonografi yang menjadi bahan kajian akademis, struktur makamnya mencerminkan hierarki sosial (Prabayaksa untuk yang tertinggi, Witana dan Tajug untuk tingkatan di bawahnya), sekaligus memuat ornamen yang menampilkan pergumulan antara estetika pra-Islam dan norma Islam.

Di sinilah letak ironi terbesar: pengunjung dilarang memotret di dalam cungkup makam. Aturan ini dimaksudkan untuk menjaga kesakralan. Namun konsekuensinya adalah bahwa warisan arkeologis yang paling kaya di Kotagede justru paling tidak diketahui publik.

Yang beredar di media sosial adalah foto-foto di luar gerbang, tembok, lorong sempit. Yang tersembunyi di dalam: artefak paling berharga dari peradaban Islam Jawa abad ke-16 sampai ke-17.

“Kita mengizinkan jutaan orang masuk ke pintu depan warisan, lalu mengunci pintu belakang yang berisi isinya.”

Orang Kalang dan Rumah-Rumah yang Menolak Tunduk

Di Tegalgendu, masih berdiri 12 Rumah Kalang, bangunan mewah bergaya Art Deco yang dipadukan dengan tata ruang Jawa. Ini bukan sekadar arsitektur indah. Ini adalah rekaman sosial tentang kelompok Orang Kalang, masyarakat dengan status sosial yang dianggap lebih rendah oleh aristokrasi Jawa, namun secara ekonomi jauh lebih kuat.

Paradoks Kotagede berlapis-lapis: kota kerajaan yang melanggengkan hierarki sosial, namun di dalamnya tumbuh kelompok pedagang dan pengrajin yang justru melampaui bangsawannya secara ekonomi. Kampung-kampung dengan nama Kemasan (pengrajin emas), Sayangan (pengrajin tembaga), Samakan (penyamak kulit), Mranggen (pembuat warangka keris), Pandeyan (pandai besi), semua ini adalah peta sosial-ekonomi yang terukir dalam toponimi.

Berapa wisatawan yang tahu bahwa nama kampung di Kotagede adalah lapisan sejarah yang jauh lebih informatif daripada papan penunjuk wisata manapun?

IV. Yang Hilang Ketika Situs Hidup Diubah Jadi Latar Foto

Labirin memori: Gang-gang sempit Kotagede adalah peta sosial-ekonomi yang kini terancam oleh gentrifikasi pariwisata yang halus. (Sumber Foto: Facebook Mohammad Basyir)

Ada satu fakta yang perlu saya tegaskan, dan ini bukan keluhan nostalgia: pariwisata massal pada dasarnya tidak kompatibel dengan situs warisan hidup, kecuali dikelola dengan sangat hati-hati.

Ketika sebuah gang sempit di Kotagede menjadi viral karena foto, yang terjadi berikutnya adalah: toko-toko berubah menjadi kafe, rumah-rumah menjadi penginapan, dan warga yang tidak mampu bersaing dengan harga sewa yang naik perlahan pergi. Ini bukan teori. Ini adalah pola yang sudah terjadi di Venesia, di Kyoto, di Ubud Bali, dan sudah mulai terasa di beberapa titik Yogyakarta.

Luka sejarah: Reruntuhan yang mengingatkan kita pada gempa 2006 dan pengabaian yang terjadi ketika sebuah situs tidak dianggap ‘layak jual’. (Sumber Foto: Facebook Mohammad Basyir)

Untuk Kotagede, proses ini lebih lambat, karena kota ini tidak memiliki pantai, tidak ada sunrise yang dramatis, tidak ada objek tunggal yang ikonik seperti Borobudur. Yang ada hanyalah kedalaman, dan kedalaman tidak menjual di era media sosial.

Namun justru itu yang membuatnya rentan dengan cara yang berbeda: ia dikunjungi, difoto, dieksploitasi secara visual, tanpa ada yang merasa perlu menjaganya, karena tidak ada yang merasa ia dalam bahaya.

BATAS KLAIM

Apa yang BISA dan TIDAK BISA diklaim dalam artikel ini:

✓ BISA diklaim: Kotagede adalah Kawasan Cagar Budaya (KCB) resmi. Kompleks makam dibangun 1589–1606. Terdapat 12 Rumah Kalang yang tersisa. Wisatawan Gen Z ke Kotagede mayoritas tertarik pada spot foto (riset UGM 2024). Gempa 2006 merusak bangunan di kawasan ini, meskipun kini sudah banyak direnovasi. Masjid Gedhe Mataram masih aktif berfungsi.

PERLU KAJIAN LEBIH LANJUT:

Seberapa cepat pergeseran demografis Kotagede akibat pariwisata? Berapa persen bangunan tradisional yang tersisa sekarang ini? Data kuantitatif gentrifikasi Kotagede belum tersedia secara publik.

Sumbu Kosmologi Yogyakarta dan Kotagede yang Tidak Masuk Daftar

Pada September 2023, Sumbu Kosmologis Yogyakarta, membentang dari Panggung Krapyak di selatan hingga Tugu di utara sepanjang 6 km, resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Dunia UNESCO ke-6 Indonesia dalam kategori budaya. Ini sebuah pencapaian luar biasa.

Namun perhatikan apa yang tidak masuk dalam daftar itu: Kotagede. Bekas ibukota Mataram Islam yang lebih tua, lebih kompleks secara historis, dan menurut saya lebih rentan dibandingkan kawasan Sumbu Filosofi yang sudah terlindungi oleh perhatian internasional.

Yogyakarta kini memiliki keistimewaan ganda: kota bersejarah dengan lapisan peradaban Islam, Jawa, kolonial, dan modern. Namun perhatian dunia dan perhatian pemerintah, cenderung terpusat pada satu sumbu linier yang ikonik, sementara kota-kota satelit bersejarah seperti Kotagede terus berfungsi sebagai latar belakang yang cantik tanpa perlindungan setara.

“Situs yang tidak masuk daftar UNESCO bukan berarti tidak penting. Kadang justru itu artinya ia lebih rentan.”

V. Apa yang Seharusnya Kita Lakukan

Kotagede bukan museum mati; ia adalah kota yang terus bernapas di antara pintu-pintu rumah warga yang tetap setia menjaga tradisi. (Sumber Foto: Facebook Mohammad Basyir)

Saya tidak sedang menyerukan pelarangan wisata ke Kotagede. Itu kontraproduktif. Yang saya serukan adalah perubahan cara pandang dan itu dimulai dari kita, bukan dari pemerintah.

Pertama: berhentilah memperlakukan Kotagede sebagai latar foto. Ketika Anda berdiri di depan gapura Paduraksa kompleks makam, Anda berdiri di hadapan 400 tahun sejarah Islam-Jawa. Luangkan waktu untuk membaca, bukan hanya untuk berpose.

Kedua: dukung narasi yang lebih dalam. Penulis, jurnalis, kreator konten, jika Anda ke Kotagede, tulislah lebih dari sekadar ’10 spot foto instagramable’. Ceritakan Ki Ageng Mangir. Ceritakan Orang Kalang. Ceritakan konflik antara Mataram dan Pajang yang berakhir di kota ini.

Ketiga: desak kebijakan yang melindungi komunitas, bukan hanya bangunan. Kawasan cagar budaya yang komunitasnya terusir akibat gentrifikasi pariwisata sama saja dengan situs yang kosong, indah secara fisik, mati secara budaya.

Keempat: jadikan nisan-nisan Kotagede sebagai kurikulum. Kajian Ambary tentang nisan kubur Islam di Nusantara sudah meletakkan fondasi ilmiah yang kuat. Sudah saatnya pemahaman ini keluar dari jurnal akademis dan masuk ke pemahaman publik.

Kotagede bukan museum. Ia bukan set film. Ia bukan background foto.

Ia adalah kota yang masih hidup, dengan azan yang masih berkumandang dari masjid tertua Yogyakarta, dengan abdi dalem yang masih menjaga makam raja dengan pakaian beskap dan blangkon, dengan peziarah yang masih datang membawa doa.

Dan selama kita terus hanya melihatnya sebagai objek estetis, kita adalah bagian dari masalah, bukan bagian dari solusi.

“Sejarah yang tidak dipahami akan selalu menjadi dekorasi bagi mereka yang tidak peduli.”

Bibliografi dan Sumber Data

Sumber Arkeologi dan Sejarah Utama:

Ambary, Hasan Muarif. Menemukan Peradaban: Arkeologi dan Islam di Indonesia. Jakarta: Logos, 1998.

De Graaf, H.J. Awal Kebangkitan Mataram. Jakarta: Pustaka Grafiti Pers, 1987. [Terjemahan dari: De Regering van Panembahan Sénapati Ingalaga, ‘s-Gravenhage: Martinus Nijhoff, 1954.]

De Graaf, H.J. dan Pigeaud, Th.G.Th. Kerajaan-Kerajaan Islam di Jawa: Peralihan dari Majapahit ke Mataram. Jakarta: Grafiti Pers & KITLV, 1985.

Ricklefs, M.C. A History of Modern Indonesia since c. 1200, 4th edition. Stanford: Stanford University Press, 2008.

Tjandrasasmita, Uka. Penelitian Arkeologi Islam di Indonesia dari Masa ke Masa. Kudus: Menara Kudus, 2000.

Sumber Institusional dan Akademis:

Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Yogyakarta. Data kerusakan bangunan warisan budaya DIY pasca-gempa 2006. Dokumentasi resmi.

Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta. Kawasan Cagar Budaya Kotagede. Diakses dari portal resmi kebudayaan.jogjakota.go.id.

Pramusita, Arina dan Handayani, Frida Anis. ‘Analisa Minat Kunjungan Wisatawan Gen Z ke Kotagede dalam Konteks Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).’
Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 2024.

Rohiman. ‘Kajian Ikonografi pada Makam Raja-raja Mataram Islam di Kotagede Yogyakarta.’ Jurnal Corak, Vol. 6, No. 2, 2017. DOI: 10.24821/corak.v6i2.2401.

Makam Raja Mataram Kotagede (situs resmi Pemerintah Kabupaten Bantul). makamkotagede.bantulkab.go.id. Diakses Mei 2026.

Sumber Kebijakan:

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Khususnya Pasal 77 tentang pemugaran.

UNESCO World Heritage Committee. Penetapan The Cosmological Axis of Yogyakarta and Its Historic Landmarks. Sidang ke-45, September 2023.

M. Basyir Zubair (Embas), Yogyakarta, 18052026

Sumber Artikel: Facebook Mohammad Basyir

Mohammad Basyir Zubair
Mohammad Basyir Zubair
Pengamat Arkeologi & Penulis Populer-Akademik | Kotagede, Yogyakarta

Related Articles

Artikel baru