Klithih Dan Jogja Istimewa

Anatomi Kekerasan di Jalanan, Dekonstruksi Sumbu Filosofis, dan Amuk Eksistensial Generasi yang Terbuang

Bayangan Gir dan Darah di Bawah Rembulan Malioboro

Ada sebilah celurit yang berkilat memotong kesunyian malam di bawah aspal Yogyakarta. Di sudut-sudut jalanan sekunder yang luput dari pendar romantis lampu jalanan kota, sekelompok remaja berboncengan sepeda motor, membelah angin dengan kecepatan eksistensial yang mengerikan. Di tangan mereka, bukan pena atau risalah filsafat yang tergenggam, melainkan potongan gir sepeda motor yang diikat sabuk bela diri, atau sebilah besi tajam yang siap menggores daging siapa saja yang lewat tanpa alasan. Fenomena ini memiliki nama yang getir dan berdarah: Klithih.

Sementara itu, di baliho-baliho megah pinggir kota, sebuah jargon politik-kebudayaan terus didengungkan dengan nada yang sakral dan penuh wibawa: Jogja Istimewa. Keistimewaan yang diklaim sebagai sintesis agung antara spiritualitas Mataram, harmoni kosmologis, dan kearifan feodal yang adem ayem.

Namun, di hadapan hermeneutika darah, kilatan sajam di tengah malam adalah sebuah interupsi radikal yang merobek seluruh narasi kosmetik tersebut. Klithih bukan sekadar kriminalitas remaja biasa; ia adalah sebuah amuk eksistensial, sebuah pemberontakan ontologis dari generasi yang mengalami keterasingan akut di dalam rahim kota yang mengklaim diri suci. Ketika sumbu filosofis dari Merapi hingga Laut Selatan disterilisasi untuk pariwisata, jalanan makadam di pinggiran justru berubah menjadi altar jagal tempat anak-anak muda mengorbankan masa depan mereka demi sebuah pengakuan identitas yang cacat.

Sastrawan radikal penerima Nobel Kesusastraan asal Prancis, Jean-Paul Sartre, dalam diktumnya yang termaktub dalam “L’Être et le Néant” (Ada dan Ketiadaan), menuliskan tentang horor kekosongan batin manusia:

“Manusia dikutuk untuk bebas. Namun, ketika kebebasan itu dilemparkan ke dalam sebuah ruang yang hampa akan makna, di mana ia tidak melihat dirinya di dalam masa depan yang ditawarkan oleh masyarakatnya, maka kekosongan itu akan menuntut tumbal. Ia akan menegaskan kehadirannya melalui tindakan destruktif yang ekstrem, karena baginya, lebih baik dibenci dan ditakuti daripada dianggap tidak ada.”

Anak-anak klithih adalah perwujudan distopis dari diktum Sartre di atas aspal Jogja. Mereka adalah anomali yang lahir dari rahim kebudayaan yang sibuk bersolek dengan masa lalunya namun gagap menghadapi penderitaan masa kininya.

Patologi Struktural: Ilusi Harmoni di Balik Jargon “Jogja Istimewa”

Untuk memahami radikalisme jalanan ini, kita harus melakukan dekonstruksi terhadap struktur sosial Yogyakarta menggunakan kacamata sosiologi kritis dan filsafat ruang. Jogja sering kali memasarkan dirinya sebagai ruang yang penuh kedamaian (harmony), di mana konsep Manungaling Kawula Gusti ditafsirkan secara pasif agar rakyat tetap patuh dan menerima ketimpangan ekonomi sebagai takdir kosmis.

Namun, sosiolog spasial dan sosiolog marxis asal Prancis, Henri Lefebvre, mengingatkan kita bahwa ruang kota tidak pernah netral:

“Ruang adalah representasi dari relasi kekuasaan yang asimetris. Ketika sebuah kota memprioritaskan estetika elitis untuk turis dan investasi, sambil meminggirkan ruang-ruang aktualisasi bagi pemuda lokal ke pinggiran geografis dan ekonomi, kota itu sedang memproduksi kekerasan strukturalnya sendiri.”

Yogyakarta hari ini, di bawah panji “Keistimewaan,” mengalami kontradiksi internal yang akut. Di satu sisi, pusat kota dipercantik, alun-alun dipagari, pedestrian Malioboro disterilisasi demi akumulasi kapital pariwisata global. Di sisi lain, ruang-ruang publik komunal di perkampungan urban (suburban) menyusut digantikan oleh hotel dan kondominium. Anak-anak muda dari kelas pekerja urban kehilangan ruang hidup, lapangan olahraga gratis, dan pusat kebudayaan organis.

Pakar hukum dan kriminologi kritis Indonesia, J. E. Sahetapy, dalam analisisnya mengenai akar kejahatan struktural, pernah menegaskan:

“Hukum tidak pernah berdiri di ruang hampa. Kejahatan remaja yang brutal sering kali merupakan cermin yang memantulkan kebobrokan hukum struktural di mana keadilan ekonomi dihancurkan, dan penguasa lebih sibuk merawat gengsi politik daripada mengurus perut dan kewarasan jiwa rakyatnya.”

Anak-anak klithih adalah korban sekaligus pelaku dari patologi struktural ini. Mereka dikucilkan dari gemerlap “Jogja Istimewa” yang mahal. Mereka melihat kota mereka tumbuh subur, tetapi tidak untuk mereka. Ketidakmampuan sistem pendidikan dan keluarga untuk memberikan kanal eksistensial yang bermakna melahirkan ruang hampa udara. Ke dalam ruang hampa itulah kegilaan klithih masuk, menawarkan solidaritas semu di dalam geng sekolah (brotherhood of blood) dan heroisme palsu di atas jok motor.

Epistemologi Celurit: Ketika Kekerasan Menjadi Bahasa Bahasa Baru

Mengapa harus kekerasan? Mengapa harus darah yang ditumpahkan di atas aspal dingin? Di sinilah kita harus membedah epistemologi tindakan klithih melalui pemikiran psikolog radikal dan filsuf pascakolonial, Frantz Fanon. Dalam bukunya yang legendaris, Les Damnés de la Terre (Mati Konyol di Sumbu Kekuasaan), Fanon menuliskan tesisnya yang menggetarkan tentang fungsi pembersihan dari kekerasan bagi kaum yang terasing:

“Bagi orang-orang yang tertindas dan terasing oleh sistem, kekerasan adalah sebuah kekuatan pembebas. Ia membersihkan mereka dari rasa rendah diri, dari perasaan tidak berdaya yang ditanamkan oleh struktur kekuasaan setiap hari. Melalui kekerasan, mereka melahirkan kembali diri mereka sebagai subjek yang ditakuti; mereka merebut kembali kendali atas hidup mereka, meskipun hanya untuk satu detik di ujung pisau.”

Bagi pelaku klithih, jalanan ring road di tengah malam adalah daerah tak bertuan (no man’s land) yang membebaskan mereka dari aturan-aturan sosial yang mencekik. Di siang hari, mereka mungkin adalah murid-murid yang dicap “gagal” di sekolah, anak-anak dari keluarga yang retak (broken home), atau buruh-buruh kasar berupah minimum yang tak punya suara di hadapan birokrasi. Namun, ketika malam tiba dan mereka menggenggam senjata tajam, hierarki itu runtuh.

Celurit dan gir sepeda motor berubah menjadi instrumen epistemis—alat untuk memproduksi pengetahuan baru bahwa mereka memegang kuasa atas hidup dan mati orang lain.

Filsuf pascastrukturalis, Michel Foucault, dalam teori Power/Knowledge, menyatakan bahwa kekuasaan memproduksi kebenaran. Di jalanan malam Jogja, anak-anak klithih memproduksi “kebenaran jalanan” mereka sendiri melalui teror. Mereka tidak mencari harta benda—itulah mengapa klithih berbeda secara ontologis dengan begal atau perampokan. Mereka mencari kedaulatan simbolik. Luka robek pada tubuh korban adalah tanda tangan eksistensial mereka, sebuah bukti puitis yang mengerikan bahwa mereka pernah ada, pernah berkuasa, dan berhasil meneror kenyamanan tidur warga kota yang apatis.

Krisis Pedagogi Pembungkaman: Matinya Intuisi di Ruang Kelas yang Mekanis

Di manakah posisi lembaga pendidikan di tengah lingkaran setan darah ini? Sering kali, sekolah mengambil jalan pintas birokratis yang represif: mengeluarkan (drop out) siswa yang terlibat geng, menyerahkan mereka ke polisi, dan mencuci tangan dari tanggung jawab moral. Ini adalah kegagalan mutlak dari sistem pendidikan yang mekanis, sebuah sistem yang dikritik habis-habisan oleh pakar pendidikan dunia asal Brasil, Paulo Freire.

Dalam magnum opusnya, Pedagogy of the Oppressed (Pendidikan Kaum Tertindas), Paulo Freire melontarkan konsep Banking Concept of Education (Pendidikan Gaya Bank):

“Pendidikan hari ini telah berubah menjadi proses penimbunan data, di mana guru adalah penabung dan siswa adalah celengan kosong yang pasif. Sistem ini membunuh intuisi kreatif, memberangus daya kritis, dan menolak realitas hidup siswa. Ketika sekolah gagal menjadi ruang dialog yang memanusiakan manusia, ia menjelma menjadi pabrik kepatuhan yang melahirkan dua pilihan: menjadi robot yang patuh pada sistem, atau menjadi pemberontak yang destruktif di luar sistem.”

Sekolah-sekolah di Jogja hari ini terjebak dalam perlombaan nilai akademis, standardisasi nilai, dan kepatuhan formal demi menjaga citra sebagai “Kota Pendidikan.” Ruang kelas berubah menjadi penjara kognitif yang dingin. Bakat-bakat liar anak muda yang meluap-luap tidak dikanalisasi ke dalam penjelajahan seni yang radikal, eksperimen sains yang menantang, atau dialektika pemikiran yang merdeka. Kelebihan energi libidinal dan eksistensial ini akhirnya membusuk di dalam ruang kelas dan meledak di jalanan sebagai klithih.

Related Articles

Artikel baru