Seri Sejarah Mataram Islam
(Ditulis 7 Februari 2024, direvisi 10 Maret 2025, direvisi ulang 03 Mei 2026)
Kita kenal Ratu Kalinyamat dari satu adegan. Perempuan yang berduka. Perempuan yang bersumpah. Perempuan yang memilih untuk bertapa, dan menolak kembali ke dunia, sampai darah pembunuh suaminya membasahi rambutnya.
Adegan itu memang dahsyat. Memang menggetarkan. Dan karena begitu dahsyatnya, ia menelan seluruh cerita lainnya. Sedang yang tidak kita kenal dari Ratu Kalinyamat adalah inisiatif :
Perempuan yang ‘hanya bertapa menunggu dendam’ itu juga yang mengirim armada perang melintasi laut dua kali, untuk menyerang benteng Portugis di Malaka.
Sejarah kita suka perempuan yang menunggu. Yang setia. Yang luka tetapi diam. Ratu Kalinyamat memang semua itu, tapi ia juga sesuatu yang jauh lebih besar, yang jauh lebih mengancam bagi mereka yang ingin perempuan hanya menjadi kisah cinta. Dan justru bagian yang lebih besar itulah yang pelan-pelan dicuri dari ceritanya.
I. Satu Malam yang Mengubah Segalanya

Kita harus mulai dari sini. Dari luka. Karena tanpa memahami dalamnya luka itu, kita tidak akan mengerti mengapa yang terjadi sesudahnya begitu luar biasa.
Sultan Hadirin, suami Ratu Kalinyamat, penguasa Kalinyamat, dibunuh oleh Arya Penangsang, adipati Jipang yang berambisi menguasai takhta Demak. Ia bukan mati dalam pertempuran terbuka. Ia dibunuh. Penangsang menyergap, membunuh, lalu dalam versi yang diceritakan babad, menghina jasadnya.
Bayangkan posisi Ratu Kalinyamat saat itu. Ia adalah putri Sultan Trenggana, Raja Demak yang besar. Ia bukan perempuan biasa, ia perempuan dengan darah kerajaan, dengan kekuasaan, dengan seluruh dunia di tangannya. Dan dalam satu malam, semua itu dirobek.
Yang lebih menyayat: saudara kandungnya, Sultan Prawata yang saat itu menjadi Raja Demak juga dibunuh oleh Penangsang. Tidak ada yang bisa dilarinya. Tidak ada yang bisa didudukinya. Seluruh dunia yang ia kenal dihancurkan oleh satu tangan.
“Ora pisan-pisan ingsun jengkar saka tapa ingsun yen durung bisa kramas getihe lan kesed jambule Aryo Penangsang.”
Sumpah Ratu Kalinyamat, Babad Tanah Jawi
Terjemahannya kira-kira: ‘Tidak akan sekali pun aku bangkit dari tapaku sebelum aku bisa keramas dengan darahnya dan mengepel lantai dengan rambutnya Arya Penangsang.’
Bukan sumpah perempuan yang lemah. Bukan ratapan. Ini adalah deklarasi perang, diucapkan bukan dengan pedang, tetapi dengan seluruh jiwa dan raga yang ditaruhkan sebagai taruhan.
II. Yang Tidak Diceritakan Kepadamu
Di sinilah sejarah kita mulai berlaku curang. Kisah tapa Ratu Kalinyamat berakhir dengan satu adegan: Arya Penangsang mati di tangan Sutawijaya di tepi Bengawan Sore. Ususnya terburai oleh kerisnya sendiri. Sumpah terpenuhi. Ratu Kalinyamat bangkit. Tamat. Begitulah versi yang kita terima. Dan versi itu, tanpa disadari, menempatkan Ratu Kalinyamat sebagai tokoh yang menunggu orang lain menyelesaikan masalahnya.
Padahal kenyataannya jauh berbeda.
FAKTA YANG TERKUBUR

Tahun 1551, tiga tahun setelah Penangsang dibunuh, Ratu Kalinyamat yang kini berkuasa penuh di Jepara mengirim armada perang ke Malaka. Bukan armada kecil. Catatan Portugis menyebut 40 kapal jung dan lebih dari 4.000 prajurit. Tujuannya: menyerang dan merebut kembali Malaka dari tangan Portugis yang telah merebutnya sejak 1511. Ekspedisi ini dicatat oleh Diogo do Couto dalam Da Asia, bukan dalam babad Jawa, bukan dalam cerita rakyat, tetapi dalam arsip kolonial Portugis sendiri.
Ekspedisi 1551 gagal merebut Malaka. Benteng Portugis terlalu kuat. Tapi Ratu Kalinyamat tidak berhenti.
Dua puluh tiga tahun kemudian, 1574 ia mengirim ekspedisi kedua. Kali ini lebih besar: sekitar 300 kapal dan lebih dari 15.000 prajurit, menurut catatan Portugis. Sekali lagi Malaka tidak jatuh. Tapi bukan karena Ratu Kalinyamat kurang berani atau kurang kuat, melainkan karena Portugis mendapat bantuan dari Johor di saat yang menentukan.
Perempuan yang kita kenal hanya dari kisah tapanya itu, dalam kenyataannya, adalah penguasa yang memimpin dua ekspedisi militer lintas laut, sesuatu yang tidak dilakukan oleh sebagian besar raja laki-laki sejamannya.
Mengapa fakta ini tidak masuk dalam kisah yang kita terima?
Karena kisah tentang perempuan yang menunggu lebih mudah diterima daripada kisah tentang perempuan yang bergerak. Karena kesetiaan romantis lebih indah diceritakan daripada ambisi geopolitik. Karena sejarah yang ditulis oleh lelaki, untuk legitimasi kekuasaan lelaki, lebih nyaman menempatkan perempuan dalam bingkai cinta daripada bingkai kekuatan.
III. Jepara di Tangannya: Sebuah Kerajaan yang Bekerja
Untuk mengirim armada sebesar itu dua kali, dibutuhkan lebih dari sekadar keberanian. Dibutuhkan kekuasaan yang nyata, ekonomi yang berjalan, jaringan diplomatik yang luas, dan kapasitas logistik yang tidak bisa dibangun dalam semalam.
Ratu Kalinyamat memiliki semua itu.
Di bawah kekuasaannya, Jepara tumbuh menjadi salah satu pelabuhan terpenting di pantai utara Jawa. Kapal-kapal dari seluruh Nusantara dan Asia singgah di sana. Perdagangan berkembang. Industri pembuatan kapal, yang kelak menjadi ciri khas Jepara hingga hari ini, tumbuh pesat. Bukan karena kebetulan, melainkan karena ada tangan yang mengelolanya.
Ia juga membangun jaringan politik yang melampaui batas Jepara. Catatan-catatan dari masa itu menunjukkan bahwa ia berkorespondensi dengan kekuatan-kekuatan regional, memainkan peran diplomatik yang aktif, dan memposisikan Jepara bukan sekadar sebagai kota pelabuhan biasa, melainkan sebagai kekuatan maritim yang diperhitungkan.
CATATAN HISTORIOGRAFIS
H.J. de Graaf dalam studinya tentang kerajaan-kerajaan Islam awal di Jawa mencatat peran Jepara sebagai kekuatan maritim yang signifikan pada abad ke-16. Sementara Tome Pires dalam Suma Oriental (ditulis sekitar 1512-1515, sebelum masa Kalinyamat) sudah mencatat pentingnya pelabuhan Jepara dalam jaringan perdagangan Jawa, fondasi yang kemudian diwarisi dan dikembangkan Ratu Kalinyamat.
Ini bukan gambaran perempuan yang sedang menunggu. Ini gambaran pemimpin yang bekerja, yang membangun, yang mengelola, yang memproyeksikan kekuasaannya jauh melampaui batas wilayahnya.
IV. Dua Kali Menyerang Malaka: Ketika Sejarah Tidak Bisa Berbohong

Ada satu alasan mengapa kita tidak bisa meragukan ekspedisi-ekspedisi Ratu Kalinyamat ke Malaka: musuhnya sendiri yang mencatatnya.
Portugis yang menjadi target serangan itu menulis tentangnya. Diogo do Couto dalam Da Asia, salah satu kronik besar kolonial Portugis, mencatat dengan detail armada dari Jepara yang datang menyerang. Ini bukan propaganda Jawa. Ini bukan babad yang bisa dituduh melebih-lebihkan. Ini adalah catatan musuh, dan musuh tidak punya alasan untuk membesar-besarkan kekuatan lawan kecuali kekuatan itu memang nyata.
Ketika musuhmu sendiri yang mencatatmu sebagai ancaman besar, saat itulah kita tahu bahwa kamu memang besar.
Bayangkan skala dari apa yang ia lakukan. Tahun 1574, ia mengirim 300 kapal dan lebih dari 15.000 prajurit melintasi laut untuk menyerang salah satu benteng kolonial paling kokoh di Asia Tenggara. Ini bukan operasi militer kecil. Ini adalah operasi yang membutuhkan perencanaan bertahun-tahun, logistik yang luar biasa, dan keyakinan yang tidak goyah bahwa apa yang dilakukannya benar.
Apakah ekspedisi itu berhasil merebut Malaka? Tidak. Tapi mengajukan pertanyaan itu seperti mengatakan bahwa Sultan Agung gagal karena tidak berhasil merebut Batavia. Ukuran kebesaran seseorang bukan hanya pada hasil akhirnya, melainkan pada keberanian untuk bergerak ketika orang lain memilih diam.
Dan Ratu Kalinyamat bergerak. Dua kali. Dalam rentang dua dekade. Dengan semua yang ia miliki.
V. Yang Kita Lakukan pada Ceritanya

Ada pertanyaan yang perlu kita tanyakan kepada diri sendiri: mengapa kita lebih hafal kisah tapanya daripada kisah armadanya?
Mengapa yang tersisa dalam ingatan kolektif kita adalah perempuan yang berduka, bukan perempuan yang memimpin? Mengapa petilasannya dipenuhi orang yang datang untuk minta kecantikan, bukan untuk belajar kepemimpinan?
Jawabannya mungkin tidak nyaman: karena kita, tanpa sadar lebih mudah menerima perempuan besar sebagai simbol kesetiaan daripada sebagai pelaku kekuasaan. Karena setiap kali ada perempuan yang terlalu besar, sejarah menemukan cara untuk mengecilkannya, dengan menempatkan kisahnya dalam bingkai yang familiar: cinta, kesetiaan, pengorbanan.
Bingkai itu tidak salah, Ratu Kalinyamat memang mencintai, memang setia, memang berkorban. Tapi bingkai itu tidak lengkap. Dan ketidaklengkapan yang disengaja adalah bentuk pengecilan yang paling halus.
BATAS KLAIM
Artikel ini tidak bermaksud mengurangi makna tapa dan sumpah Ratu Kalinyamat. Dimensi spiritual dan personal dari kisahnya adalah nyata dan penting. Yang dipermasalahkan adalah seleksi cerita yang tidak proporsional, di mana dimensi personal ditonjolkan habis-habisan sementara dimensi politiknya hampir tidak pernah masuk dalam narasi populer.
Perempuan seutuhnya tidak boleh dipilih-pilih bagiannya. Kesetiaan dan kekuasaan tidak saling meniadakan. Duka dan ambisi bisa hidup berdampingan dalam satu jiwa. Ratu Kalinyamat adalah semua itu, bukan salah satunya saja.
Sejarah yang hanya menyimpan separuh cerita, itu bukan sejarah.
Ia adalah di Jepara yang berduka, ya. Ia adalah perempuan yang bersumpah dan bertapa, ya. Kisah itu nyata dan tidak perlu dikurangi. Tapi ia juga adalah penguasa yang membangun pelabuhan terbesar di pantai utara Jawa. Yang mengirim armada perang melintasi laut bukan sekali, tapi dua kali. Yang namanya tercatat dalam arsip Portugis sebagai ancaman nyata, bukan dalam dongeng, bukan dalam babad yang bisa dipertanyakan, tapi dalam catatan musuhnya sendiri.
Selama kita hanya mengingat separuhnya, kita tidak menghormatinya. Kita justru melanjutkan pekerjaan yang selama berabad-abad sudah dilakukan oleh mereka yang tidak ingin perempuan terlalu besar:
Kita mengecilkannya.
Sudah waktunya kita berhenti.
DAFTAR PUSTAKA
- Babad Tanah Jawi. Edisi terjemahan W.L. Olthof. Leiden: KITLV, 1941.
- Couto, Diogo do. Da Asia. Década VII. Lisboa, 1616. [Mencatat ekspedisi Jepara ke Malaka 1551 dan 1574]
- De Graaf, H.J. (1949). Geschiedenis van Indonesie. ‘s-Gravenhage: W. van Hoeve.
- De Graaf, H.J., & Pigeaud, Th. G. Th. (1974). De eerste Moslimse vorstendommen op Java. ‘s-Gravenhage: Martinus Nijhoff.
- Pires, Tomé. Suma Oriental. Ditulis sekitar 1512–1515. Edisi Armando Cortesão. London: Hakluyt Society, 1944. [Konteks perdagangan Jepara pra-Kalinyamat]
- Ricklefs, M.C. (2001). A History of Modern Indonesia Since c. 1200 (3rd ed.). Stanford: Stanford University Press.
- Tjandrasasmita, Uka. (2009). Arkeologi Islam Nusantara. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.
- Serat Kandha. Koleksi manuskrip Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.
Mohammad Basyir (Embas)
Yogyakarta, 03052026
Sumber artikel: Facebook Mohammad Basyir

