Bait Indah dari Tanah Terbelah

Di tanah yang pernah dibelah oleh linggis para penambang liar tanpa nama, di antara Desa Darmo, Seleman, dan Tanjung Karangan yang dulu berdebu oleh putus asa, ada sebuah siklus baru yang kini berputar. Ini bukan lagi siklus mengeruk dan melubangi, melainkan siklus menanam dan memulihkan. Bara Agro Sirkuler-lah ”biangnya”. Program inovasi sosial PT. Bukit Asam itu hadir bak puisi panjang yang ditulis bukan di atas kertas, melainkan di atas lahan tidur yang mulai merekah.

Dengarlah kisah Agustian Kholik, seorang pemuda dari Desa Darmo yang memilih jalan sunyi di tengah riuhnya rayuan PETI (Pertambangan Ilegal). Sebelum bara haram itu dipadamkan, sebelum tim Sustainability PT Bukit Asam menyusuri lorong-lorong desanya, Agustian hanyalah satu dari sekian banyak pemuda yang bermimpi mandiri namun tertahan di ruang sempit. Ia pernah merintis sendiri usaha puyuh pada tahun 2020, namun ikhtiar kecil itu nyaris padam lantaran keterbatasan. Untunglah, langit Sumatra seakan enggan membiarkan semangat mulianya mati.

Titik balik yang mengubah segalanya datang pada tahun 2024. Bukan sebagai gemuruh, melainkan sebagai dialog hangat di balai desa. Di sanalah, di tengah sosialisasi program pemberdayaan, Agustian menemukan takdirnya. Ia terpilih menjadi penerima manfaat program. Bukan itu saja, ia muncul sebagai sosok inspiratif yang selama ini dirindukan. PT Bukit Asam tak hanya memberinya bantuan, tapi juga memberinya panggung untuk memimpin Kelompok Peternakan Burung Puyuh Simpang Karso Desa Darmo (PPSKD). Dari seribu ekor, populasi puyuh itu tumbuh menjadi tiga ribu, dan kini, di angka lima belas ribu ekor. Kicauan mereka telah menjadi simfoni ekonomi baru yang menenggelamkan kenangan pahit akan tambang ilegal. Telur-telur mungil itu sukses dipasarkan, menempuh perjalanan jauh, menembus batas Muara Enim, hingga ke Lahat, Baturaja, dan segera mengetuk pintu-pintu Palembang.

Transformasi itu tidak hanya terlihat dari angka-angka. Faktanya, kegiatan itu betul-betul menjadi penopang hidup insan-insan yang ikut berkarya. Pendapatan kelompok berlari dari nol menuju dua, tiga, hingga sepuluh juta rupiah per bulan sehingga menjadi lompatan yang mendekati dan mungkin melampaui Upah Minimum Daerah. Bara Agro Sirkuler berhasil melibas keputusasaan sekaligus merubah cara pandang: jiwa-jiwa yang dulu bergantung pada magma ilegal perut bumi, kini menjadi jiwa-jiwa yang percaya bahwa udara, tanah, dan air adalah sekutu abadi.

Walhasil, 187 jiwa kini bernapas dalam rantai pasok kehidupan yang legal. 45 mantan pekerja PETI telah menanggalkan topeng risiko dan menggantinya dengan mahkota terhormat sebagai pelaku usaha agrikultur yang produktif. Reposisi itu sangat signifikan karena tidak hanya terkait urusan sumber penghidupan, tetapi juga tentang kembalinya harga diri yang dulu tertimbun di lubang-lubang gelap.

Lihatlah lebih dekat. Gabungan dari berbagai kegiatan dalam program itu, secara total mengelola omzet Rp. 2,06 miliar per tahun. Pencapaian yang tidak abstrak ini adalah representasi seluruh keringat yang menetes di berbagai kegiatan: nursery, kolam ikan, kandang puyuh, dan hamparan kebun yang menghijau. Sirkularitas 9R—Refuse, Rethink, Reduce, Reuse, Repair, Refurbish, Remanufacture, Repurpose, Recycle—bukan lagi sebatas mantra intelektual. Ia adalah daging dan darah dari inisiatif berdampak ini. Kotoran ternak yang dulu dianggap kutukan—menguarkan bau tak sedap dan berpotensi konflik—kini diolah oleh tangan-tangan tekun menjadi pupuk organik yang menyuburkan kebun-kebun sayur. Limbah menjadi berkah, residu menjadi rezeki. Inilah alkimia sejati.

Di balik semua angka dan narasi besar itu, ada bisikan reflektif yang paling dalam: bahwa tanah ini tidak pernah benar-benar mati. Ia hanya tidur, menunggu disentuh oleh tangan-tangan yang merawat, bukan yang merusak. PT Bukit Asam Tbk, melalui Bara Agro Sirkuler, telah membuktikan bahwa korporasi bukanlah mesin ekstraksi yang dingin. Program inovasi sosial korporat bisa menjadi tangan yang merajut kembali urat-urat kehidupan yang nyaris putus. Intervensi tersebut sukses menguatkan kedudukan ”Bank Agro” sebagai wahana penyimpan benih-benih hijau penuh harapan, yang pada waktunya dititipkan ke masyarakat untuk kelak dibeli kembali sebagai strategi pemberdayaan ekonomi sekaligus pelestarian lingkungan.

Maka, ketika mentari sore menyepuh atap-atap kandang puyuh di Darmo, dan angin berbisik di antara dedaunan pembibitan di Tanjung Karangan, Agustian dan kawan-kawan menyenandungkan bait-bait indah sebagai ekspresi rasa syukur. Bait-bait itu berkisah tentang siklus yang paling hakiki: bahwa memberi berarti menerima, bahwa menanam berarti memulihkan, dan bahwa dari bara yang pernah membakar, telah tumbuh tunas-tunas kehidupan yang tak lagi bergantung pada apinya.*****

Akuat Supriyanto
Akuat Supriyanto
Pengajar FEB UNPAD, Trainer perhitungan dampak inovasi sosial, esais dan anggota Socio FC Porto.

Related Articles

Artikel baru