Kyai Abdul Arif Baderan

Ulama, Tanah Perdikan, dan Kabut Silsilah di Pajang

Ada nama yang nyaris tenggelam di balik cahaya anaknya. Ketika orang menyebut Kyai Modjo, panglima perang Diponegoro yang diasingkan ke Tondano, mereka jarang bertanya: siapa ayahnya? Dari mana tanah yang ia pijak? Nama itu adalah Kyai Abdul Arif, yang dalam catatan-catatan tua lebih dikenal sebagai Kyai Baderan. Seorang ulama dari Pajang, pemilik tanah perdikan, dan tokoh yang silsilahnya hingga hari ini masih diselimuti kabut.

Tulisan ini adalah upaya menelusuri kabut itu. Bukan untuk mengklaim, tetapi untuk jujur: mana yang terbukti dari dokumen, mana yang tercatat dalam babad, dan mana yang hidup sebagai tradisi lisan turun-temurun.

I. Yang Terbukti: Ulama Tanah Perdikan

Dari seluruh lapisan kisah tentang Kyai Abdul Arif, ada satu fakta yang berpijak pada sumber akademis yang bisa dipertanggungjawabkan: ia adalah seorang ulama yang bermukim di dusun Baderan dan Modjo, keduanya terletak di kawasan Pajang, dekat Delanggu, wilayah yang pada masa itu berada di bawah pengaruh Kasunanan Surakarta.

[ FAKTA TERVERIFIKASI ]

Tanah Baderan dan Modjo adalah tanah perdikan (swatantra/perdikan) yang diberikan oleh Raja Surakarta Pakubuwono IV (1788–1820) kepada Kyai Abdul Arif. Ini dikonfirmasi oleh beberapa sumber yang saling menguatkan.

Status perdikan bukan hal kecil. Tanah perdikan adalah tanah bebas pajak yang diberikan oleh raja sebagai penghargaan atas jasa-jasa keagamaan, biasanya kepada ulama atau keturunan wali yang dianggap memiliki otoritas spiritual. Pemberian ini sekaligus menegaskan posisi Kyai Abdul Arif: ia bukan sekadar kiai kampung biasa. Ia diakui oleh Keraton Surakarta sebagai tokoh berilmu yang berwibawa.

Nama ‘Baderan’ pada gelarnya sendiri merujuk pada desa itu. Ia disebut Kyai Baderan (Kyai Baderan I) untuk membedakannya dari putra-putranya yang kemudian meneruskan peran yang sama di tempat yang sama.

Wafat dan Makam

Kyai Abdul Arif diperkirakan wafat sekitar tahun 1820, bertepatan dengan akhir masa pemerintahan Pakubuwono IV yang memberinya tanah perdikan itu. Makamnya berada di Desa Modjo, Tegalrejo, Boyolali, Jawa Tengah, sebuah lokasi yang hingga kini masih dikenal dan dikunjungi.

II. Istrinya dan Jembatan Dua Keraton

Inilah lapisan kedua: pertalian Kyai Abdul Arif dengan darah keraton Yogyakarta, bukan melalui dirinya sendiri, melainkan melalui istrinya.

Sang ibu adalah adik perempuan Sultan Hamengkubuwono III bukan Hamengkubuwono II seperti yang beredar dalam sebagian tradisi lisan.

Istri Kyai Abdul Arif yang paling tercatat dalam sumber-sumber akademis bernama R.A. Mursilah (dalam beberapa transliterasi ditulis Mursilah atau Mursilah). Ia adalah perempuan berdarah ningrat Yogyakarta. Menurut sumber Babcock (1989) yang dikutip dalam berbagai kajian genealogi, R.A. Mursilah adalah saudara perempuan Sultan Hamengkubuwono III.

[ TITIK BALIK — KOREKSI SILSILAH ]

Permintaan Bu Sri Wiji menyebut bahwa istri Kyai Abdul Arif adalah putri Hamengkubuwono II dari selir. Namun sumber Babcock (1989) yang lebih terpercaya secara akademis menyebutnya sebagai adik (saudara perempuan) HB III, bukan putri HB II. Ini adalah perbedaan satu generasi yang penting. Kemungkinan besar, terjadi pergeseran dalam tradisi lisan antargenerasi.

Meski demikian, kedua versi ini tidak sepenuhnya bertentangan secara genealogis, karena adik HB III berarti anak HB II juga, jika mereka satu ayah. Yang berbeda adalah apakah ia ‘putri dari selir’ atau ‘saudara perempuan penuh’ HB III. Inilah jenis kabut yang hanya bisa diselesaikan dengan arsip keraton Yogyakarta secara langsung.

Yang pasti: melalui pernikahan ini, Kyai Abdul Arif menjalin hubungan darah dengan dua pusat kekuatan Jawa sekaligus. Ia tinggal dan diakui di wilayah Surakarta (tanah perdikannya dari Pakubuwono IV), tetapi istrinya membawa darah Yogyakarta. Dari sinilah lahir Kyai Modjoputra yang mewarisi dua dunia sekaligus, dan yang kelak akan berdiri di tengah Perang Jawa.

III. Kabut Silsilah ke Atas: Benarkah Keturunan Sultan Hadiwijaya?

Sampailah kita pada lapisan yang paling kabur sekaligus paling menarik: klaim bahwa Kyai Abdul Arif adalah keturunan Sultan Hadiwijaya, raja Kerajaan Pajang, yang dalam tradisi Jawa dikenal dengan nama Jaka Tingkir atau Mas Karebet.

Apa yang Dikatakan Sumber Akademis

Satu-satunya rujukan akademis yang relevan adalah Babcock (1989), yang dikutip dalam berbagai kajian. Menurut sumber ini, Kyai Abdul Arif (Iman Abdul Ngarip) memiliki alur keturunan dari Kerajaan Pajang. Kalimatnya singkat dan tidak spesifik: ‘alur keturunan dari kerajaan Pajang’, tidak menyebut jalur langsung ke Sultan Hadiwijaya, tidak menyebut berapa generasi.

[ BATAS KLAIM ]

Babcock (1989): ‘Iman Abdul Ngarip memiliki alur keturunan dari Kerajaan Pajang.’ Ini hanya konfirmasi bahwa ada hubungan dengan kerajaan Pajang, tanpa spesifikasi jalur silsilah yang lebih rinci.

Apa yang Dikatakan Tradisi Lisan Keluarga
Tradisi lisan dari keluarga besar Pesantren Modjo, yang dihimpun dalam berbagai blog genealogi keturunan, menyajikan silsilah yang lebih lengkap. Versi ini menyebut bahwa leluhur keluarga ini adalah:

Putra Adipati Pajang → bin Pangeran Benowo I → bin Sultan Hadiwijaya (Jaka Tingkir) Pajang

Dalam versi ini, ada seorang tokoh yang disebut sebagai ‘Pangeran Menggolo’ atau ‘Kyai Jumal Sepuh’ atau ‘Kyai Mojo Sepisan’, yang merupakan anak dari Adipati Pajang, cucu Pangeran Benowo, dan cicit Sultan Hadiwijaya. Tokoh inilah yang konon membabad alas di Wonotoro Kesambi Boyolali, mendirikan padepokan, dan kelak menjadi moyang dari garis ulama Baderan-Modjo.

[ TRADISI LISAN ]

Menurut penuturan keturunan Pesantren Modjo yang didokumentasikan dalam sumber genealogi keluarga: leluhur garis ini adalah ‘Kyai Jumal Sepuh / Pangeran Menggolo,’ yang merupakan keturunan langsung Sultan Hadiwijaya Pajang melalui jalur Pangeran Benowo. Ia yang pertama membuka tanah di Boyolali dan mendirikan padepokan yang kelak menjadi Pesantren Modjo.

Apakah tradisi lisan ini bisa dipercaya? Secara metodologis, tradisi lisan adalah sumber yang sah, tetapi perlu dikonfrontasikan dengan sumber tertulis sebelum bisa diterima sebagai fakta sejarah. Dalam konteks ini, klaim silsilah ke Sultan Hadiwijaya belum didukung oleh Babad Tanah Jawi atau arsip keraton yang secara eksplisit menyebut nama-nama yang sama dalam satu rantai silsilah.

Yang bisa dikatakan dengan aman: ada kepercayaan kuat di dalam komunitas keturunan bahwa leluhur mereka terhubung ke trah Pajang. Kepercayaan ini cukup tua, cukup konsisten, dan cukup tersebar untuk tidak diabaikan begitu saja. Tetapi ia belum terverifikasi.

Konteks Historis yang Mendukung Plausibilitas

Ada alasan mengapa klaim ini masuk akal secara historis, meski belum terbukti.
Pertama: kawasan Pajang memang bekas wilayah kekuasaan Kerajaan Pajang, yang didirikan Sultan Hadiwijaya pada abad ke-16. Banyak keturunan keluarga bangsawan Pajang yang tersebar di kawasan itu setelah Pajang runtuh dan digantikan Mataram.
Kedua: pemberian tanah perdikan oleh Pakubuwono IV kepada Kyai Abdul Arif tidak dilakukan sembarangan, biasanya ada hubungan atau pengakuan yang mendahuluinya.
Ketiga: nama-nama dalam silsilah tradisi lisan ini memiliki aroma aristokratis yang konsisten dengan era Pajang-Mataram awal.

IV. Warisan: Pesantren, Perang, dan Diaspora

Terlepas dari kabut silsilah ke atas, apa yang Kyai Abdul Arif wariskan sangat nyata dan terdokumentasi dengan baik.

Pesantren Baderan-Modjo

Ia membangun atau mengembangkan, pesantren yang kelak menjadi salah satu pusat keilmuan paling berpengaruh di kawasan Pajang-Surakarta-Yogyakarta. Pesantren ini menarik santri dari lingkungan keraton maupun dari desa-desa sekitarnya. Menurut sumber-sumber yang ada, banyak putra-putri bangsawan dari Keraton Solo maupun Yogyakarta yang pernah menimba ilmu di sana.

Kyai Abdul Arif menurunkan beberapa putra yang masing-masing meneruskan jalur keilmuan dan perjuangan: Wirapatih (yang dikenal sebagai Kyai Baderan II atau Kyai Sepoh), Kyai Hasan Mochammad, Kyai Hasan Besari, dan yang paling terkenal Muslim Mochammad Khalifah, yang dikenal dunia sebagai Kyai Modjo.

Kyai Modjo: Pewaris Paling Terkenal

Nama Kyai Modjo menjadi catatan sejarah bukan hanya di Jawa, tetapi hingga ke Tondano, Minahasa. Ia adalah penasihat spiritual sekaligus panglima Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa (1825–1830), perang yang menurut dokumen-dokumen Belanda menewaskan sekitar dua ratus ribu jiwa dari pihak pribumi.

Menurut catatan sejarawan Belanda F.V.A. De Stuers (1847), Kyai Modjo berasal dari Desa Mojo, nama yang sama dengan salah satu tanah perdikan ayahnya. Ia digambarkan sebagai ulama yang menguasai Al-Qur’an, sejarah, dan manuskrip-manuskrip Arab. Sejarawan Inggris Peter Carey juga banyak menulis tentang peran Kyai Modjo berdasarkan catatan-catatan dari ajudan Diponegoro, Raden Mas Djojodiningrat.

[ SUMBER BELANDA ]

F.V.A. De Stuers, “Mémoire sur la guerre de l’île de Java” (1847): mencatat asal-usul Kyai Mojo dari Desa Mojo, kawasan Pajang, dan menggambarkannya sebagai ulama yang kompeten dalam ilmu-ilmu keislaman.

Pada 12 November 1828, Kyai Modjo ditangkap Belanda di Klaten dan dibawa ke Salatiga. Ia kemudian diasingkan ke Tondano, Minahasa, Sulawesi Utara, di mana ia terus berdakwah hingga wafat pada 20 Desember 1849. Di tanah pengasingan itulah, sebagian keturunannya berbaur dengan masyarakat Minahasa dan melahirkan komunitas yang dikenal sebagai Jawa Tondano (Jaton), diaspora yang hingga hari ini masih menyimpan ingatan tentang Baderan dan Modjo.

Wirapatih: Saudara yang Terlupakan

Sementara Kyai Modjo menjadi nama yang tercatat dalam buku-buku sejarah nasional, kakaknya Wirapatih, Kyai Baderan II justru hampir terlupakan. Padahal menurut tradisi lisan keturunan, Belanda justru lebih membenci Wirapatih daripada adiknya sendiri. Ia menolak semua bujukan untuk menyerah, dan terus melawan Belanda hingga akhir hayatnya. Ia dimakamkan bersama adiknya di Jawa Tondano.

V. Mengapa Ia Terlupakan?

Kyai Abdul Arif Baderan bukan tokoh yang terlupakan karena tidak penting. Ia terlupakan karena sejarah kolonial Belanda dan sejarawan-sejarawan yang mengikuti jejaknya, lebih tertarik pada peristiwa (Perang Jawa) dan tokoh-tokoh yang terlibat langsung dalam perang itu (Diponegoro, Kyai Modjo, Sentot).

Orang-orang yang membangun fondasi keilmuan, yang mendirikan pesantren dan mengajarkan santri selama puluhan tahun sebelum perang meletus, merekalah yang sering tersisih dari narasi besar.

Tanpa Kyai Abdul Arif, tidak ada tanah perdikan Baderan. Tanpa tanah perdikan Baderan, tidak ada pesantren. Tanpa pesantren, tidak ada Kyai Modjo. Dan tanpa Kyai Modjo perang itu akan berjalan sangat berbeda.

Ini adalah pola yang berulang dalam sejarah Jawa: generasi penabur dilupakan, generasi pemanen dikenang. Kyai Abdul Arif adalah penabur.

Penutup: Kabut yang Menunggu Peneliti

Kisah Kyai Abdul Arif Baderan adalah kisah yang setengah terang, setengah gelap. Yang terang: ia nyata, tanahnya nyata, pesantrennya nyata, putra-putranya nyata, dan pengaruhnya nyata hingga ke Sulawesi Utara. Yang masih gelap: jalur silsilahnya ke atas, apakah benar terhubung ke trah Pajang, dan bagaimana persisnya hubungan istrinya dengan keraton Yogyakarta.

Kabut ini bukan berarti klaim itu salah. Ia hanya menunggu peneliti yang bersedia membuka arsip keraton Yogyakarta, menelusuri Babad Tanah Jawi dengan teliti, dan mencocokkan nama-nama dalam tradisi lisan dengan catatan-catatan yang tersimpan di ANRI Jakarta atau koleksi Leiden di Belanda.

Untuk sementara, yang bisa kita lakukan adalah apa yang dilakukan para peziarah di makam Modjo, Boyolali: berdiri di hadapan nama yang hampir terlupakan, dan mengucap doa penghormatan dengan penuh hormat, dan dengan jujur tentang apa yang kita tahu dan apa yang belum kita tahu.

DAFTAR PUSTAKA DAN SUMBER

Sumber Akademis Terverifikasi
Babcock, T.M. (1989). Dalam berbagai rujukan silsilah Kyai Baderan-Modjo. [Judul lengkap tidak terlacak dalam penelusuran ini; dikutip secara tidak langsung dalam sumber-sumber berikut].
De Stuers, F.V.A. (1847). Mémoire sur la guerre de l’île de Java. Belanda. [Menyebut asal-usul Kyai Mojo dari Desa Mojo, Pajang].
Headley, Stephen C. (2004). Durga’s Mosque: Cosmology, Conversion and Community in Central Javanese Islam. ISEAS, Singapura. [Menyebut hubungan kekerabatan Kyai Baderan II dengan Kyai Abdul Djalal II].
Ricklefs, M.C. (2007). Sejarah Indonesia Modern. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Carey, Peter. (1974, 1991). Berbagai kajian tentang Pangeran Diponegoro dan jaringan keislaman Jawa. Oxford dan Amsterdam.
Djamhari, Saleh As’ad. (2004). Strategi Menjinakkan Diponegoro. Komunitas Bambu, Jakarta.

  • Tradisi Lisan dan Sumber Genealogi Keluarga
  • Keluarga Pesantren Modjo Pembela Diponegoro. (2017). Ringkasan Singkat Keluarga Pesantren Modjo. [Dokumentasi tradisi lisan, pejuangnusantara12.blogspot.com].
  • Geni.com. Profil silsilah Iman Abdul Arif / Kyai Baderan I dan Kyai Modjo. [Sumber genealogi digital, perlu verifikasi dengan arsip primer].
  • Trah Panembahan Wongsopati Ing Klero. (2010). Kanjeng Kyai Modjo. [Blog keturunan, trahpanembahanwongsopati.blogspot.com].
  • Arsip yang Direkomendasikan untuk Penelitian Lanjutan
  • ANRI (Arsip Nasional Republik Indonesia), Jakarta, koleksi Binnenlandsch Bestuur dan Residentie Soerakarta.
  • Universiteitsbibliotheek Leiden, Belanda, koleksi Van der Chijs dan arsip VOC/NHM terkait tanah perdikan di Jawa Tengah abad ke-18 hingga 19.
  • Keraton Kasunanan Surakarta, daftar tanah perdikan masa Pakubuwono IV (1788–1820).
  • Keraton Kasultanan Yogyakarta, silsilah keturunan Hamengkubuwono II dan III, khususnya dari jalur selir.

Catatan Metodologis
Artikel ini secara ketat membedakan antara: (1) fakta yang terdokumentasi dalam sumber akademis, (2) keterangan dari sumber Belanda, (3) tradisi lisan keluarga yang belum terverifikasi secara akademis. Klaim silsilah ke Sultan Hadiwijaya dan detail hubungan istri Kyai Abdul Arif dengan keraton Yogyakarta masih memerlukan penelitian arsip lebih lanjut sebelum dapat diterima sebagai fakta sejarah.

Yogyakarta 03 Mei 2026

Sumber Artikel: Facebook Mohammad Basyir

Mohammad Basyir Zubair
Mohammad Basyir Zubair
Pengamat Arkeologi & Penulis Populer-Akademik | Kotagede, Yogyakarta

Related Articles

Artikel baru