Hamengkubuwono III: Antara Takhta, Pengkhianatan, dan Warisan yang Membakar Jawa
PROLOG: PAGI BUTA YANG MENGUBAH SEGALANYA
Bayangkan ini.
Dini hari, 20 Juni 1812. Yogyakarta masih tidur.
Lalu dentuman meriam memecah langit. Ribuan serdadu Sepoy, tentara sewaan Inggris dari India mengepung Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dengan bayonet terhunus dan meriam yang sudah siap bergetar. Di dalam tembok keraton, Sultan Hamengkubuwono II, sang ayah, memimpin perlawanan. Di luar, di sisi yang berbeda, putra mahkotanya sendiri Raden Mas Surojo berdiri.
Di mana tepatnya ia berdiri, apa yang ia rasakan, dan apa yang sesungguhnya ia inginkan, itulah pertanyaan yang dua abad kemudian masih belum tuntas dijawab sejarah. Bukan karena buktinya tidak ada. Tapi karena setiap bukti ditulis oleh tangan yang berkepentingan.
“Sejarah yang paling gelap bukan yang tidak meninggalkan jejak melainkan yang meninggalkan terlalu banyak jejak yang saling bertentangan.”
Inilah kisah Hamengkubuwono III, raja yang hidup di antara dua narasi yang tidak pernah sepakat tentang dirinya. Yang satu memuliakannya. Yang lain mengutuknya. Dan kita, dua ratus tahun kemudian, masih berdiri di antara keduanya, mencoba memahami manusia di balik takhta.
I. ANAK YANG TIDAK DIPILIH
Lahir di Bayangan Tahta
Raden Mas Surojo lahir pada 20 Februari 1769, Malam Rabu Kliwon18 Syawal Dal 1694, sebuah malam yang menurut primbon Jawa sarat dengan energi kekuatan dan perubahan. Ia adalah putra Hamengkubuwono II dari permaisuri Gusti Kanjeng Ratu Kedhaton. Secara genealogis, ia adalah pewaris takhta yang sah.
Namun di keraton Jawa, menjadi pewaris yang sah tidak pernah cukup.
Yogyakarta pada akhir abad ke-18 adalah sarang intrik. Hamengkubuwono II ayahnya adalah seorang sultan yang keras, ekspansif, dan penuh curiga terhadap pengaruh asing. Ia membenci Belanda. Ia membenci setiap interferensi. Dan secara tidak langsung, ia juga membenci siapa pun yang bisa dipakai oleh kekuatan asing sebagai alat.Termasuk, pada waktunya, putranya sendiri.
TITIK BALIK
Desember 1810: Herman Daendels, Gubernur Jenderal Belanda yang keras seperti baja, memaksa penggantian takhta. Hamengkubuwono II diturunkan secara paksa menyusul pecahnya pemberontakan Raden Ronggo di Madiun, yang dianggap disponsori oleh HB II.
Raden Mas Surojo dinobatkan sebagai Hamengkubuwono III, namun hanya berpangkat regent, bukan sultan penuh.
Sumber: M.C. Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern (1991); Peter Carey, The Power of Prophecy (2007).
Naik Lalu Turun Lalu Naik Lagi
Riwayat pemerintahan HB III adalah kisah yo-yo yang menyakitkan. Pertama kali ia dinobatkan pada Desember 1810 oleh Daendels. Dari sudut pandang Belanda, ia adalah pilihan yang paling masuk akal, pewaris sah yang bisa melegitimasi pergantian kekuasaan tanpa pertumpahan darah besar. Apakah HB III sendiri menginginkan mahkota itu, atau sekadar tidak punya ruang untuk menolaknya, Babad Panular maupun Babad Sepehi tidak memberikan jawaban yang memuaskan.
Satu tahun kemudian, semua itu runtuh.
Tahun 1811, Inggris merebut Jawa dari tangan Belanda. Kekuasaan VOC berakhir. Hamengkubuwono II, melihat angin berubah, memanfaatkan kekacauan pergantian kekuatan kolonial untuk mengambil kembali takhtanya. Pada 28 Desember 1811, ia mencopot anaknya sendiri dan kembali menduduki singgasana.
HB III dikembalikan ke posisinya sebagai putra mahkota. Dipermalukan, tapi masih hidup. Lalu datanglah Thomas Stamford Raffles.
II. GEGER SEPEHI: KETIKA KERATON TERBAKAR
Dua Saksi, Dua Kubu, Satu Tragedi
Tidak ada peristiwa dalam sejarah Yogyakarta yang lebih brutal dari apa yang terjadi pada 20 Juni 1812. Raffles sudah cukup sabar menghadapi HB II yang dianggapnya arogan, yang menolak perjanjian, yang diam-diam menimbun senjata, dan yang terang-terangan menantang otoritas Inggris.
Pada fajar 20 Juni, kesabaran Inggris habis. Pasukan Sepoy, serdadu India yang direkrut Inggris dari Madras dan Bengal,nmenyerbu Yogyakarta. Meriam ditempatkan di depan Benteng Vredeburg. Infanteri dikepung dari segala arah. Dalam hitungan jam, benteng keraton jebol. Dalam hitungan hari, HB II menyerah dan dibuang ke Pulau Penang.
DEBAT ILMIAH
Dua kronik primer menyaksikan Geger Sepehi dari sudut pandang berbeda:
▸ BABAD PANULAR, karya Pangeran Haryo Panular (putra HB I, mertua HB III). Pro-HB III.
▸ BABAD SEPEHI, karya Pangeran Mangkudiningrat (putra HB II). Pro-HB II.
Babad Panular dimulai tepat pagi buta 20 Juni 1812 dan berakhir 19 Agustus 1816. Bukan hanya soal perang, tapi juga pemerintahan HB III, Diponegoro muda, dan Raffles.
Kedua penulisnya adalah pelaku langsung. Keduanya berada di pihak yang berseberangan. Sumber: Gerai Kompas.id, Inggris di Jawa 1811–1816: Babad Panular.
Dari mata Pangeran Panular, mertua HB III, peristiwa ini adalah kemenangan yang diperlukan. Sebuah pembersihan dari kepemimpinan yang membawa Yogyakarta ke jurang kehancuran.
Dari mata Pangeran Mangkudiningrat putra HB II, ini adalah penghinaan terbesar dalam sejarah Mataram. Seorang sultan yang sah diusir dari istananya sendiri oleh kaki tangan asing dan dikhianati oleh darah dagingnya sendiri.
Siapa yang benar? Mungkin keduanya. Dan itulah yang membuat sejarah ini begitu menyakitkan.
“Ketika ayah dan anak terpaksa harus berseteru, tidak ada yang menang, hanya ada yang kalah lebih banyak.”
Penobatan di Tengah Abu
Di tengah-tengah penjarahan Keraton Yogyakarta yang masih berasap, sebuah upacara disiapkan. Kapten William Colebrooke RA, yang menyaksikan langsung, menulis kepada ayahnya di Kent, Inggris, menyebut upacara ini sebagai “upacara yang sangat mengesankan”.
Lima belas barisan infanteri, pasukan berkuda, dan artileri medan dari Madras memenuhi lapangan selebar hampir seratus meter antara Benteng Vredeburg dan kediaman residen. Sembilan belas tembakan salvo meriam dari arah benteng. Band militer dari pasukan berkuda penjaga sultan yang beranggotakan orang Indo dan Ambon.
Hamengkubuwono III dinobatkan kembali sebagai raja Yogyakarta.
Apa yang bergolak dalam dadanya saat itu, kita tidak tahu. Babad Panular yang ditulis oleh mertuanya sendiri, memilih tidak mencatat perasaan pribadi sang sultan. Yang tercatat hanyalah fakta: takhta kembali berdiri. Keraton baru saja dijarah. Dan Raffles berdiri di sampingnya.
Apakah itu kemenangan? Apakah itu kekalahan dalam rupa kemenangan? Atau apakah HB III justru melihatnya sebagai peluang, kesempatan untuk memulai ulang apa yang selama ini dirusak oleh konflik keluarga dan tekanan kolonial? Sejarah diam. Dan keheningan itu sendiri adalah jawabannya.
III. HARGA TAKHTA: YOGYAKARTA YANG DIKERAT
Konsekuensi yang Merobek
Tidak ada makan siang gratis dalam politik kolonial. Setelah Geger Sepehi, HB III harus membayar mahal atas dukungan Inggris yang telah memulihkan takhtanya. Daftar konsekuensinya adalah daftar penghinaan yang disusun rapi:
FAKTA SEJARAH
Wilayah yang diserahkan kepada Inggris: Kedu, separuh Pacitan, Japan, Jipang, dan Grobogan. Kompensasi yang diterima: 100.000 real per tahun, angka yang terdengar besar tapi tidak setara dengan kehilangan wilayah subur Kedu.
Angkatan perang Yogyakarta dikecilkan drastis. Hanya beberapa penjaga keraton tersisa.
Sebagian tanah kerajaan diserahkan kepada Pangeran Notokusumo, yang berjasa mendukung Raffles, dan ia dinobatkan sebagai Paku Alam I, memecah tanah Yogyakarta untuk selamanya. Sumber: M.C. Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern (Gadjah Mada University Press, 1991).
Dalam satu dekade, Yogyakarta telah kehilangan wilayah, tentara, dan kedaulatan simbolisnya. Yang tersisa adalah nama, tradisi, dan benih-benih kemarahan yang ditanam di dada generasi berikutnya. Benih itulah yang kelak akan meledak bernama Pangeran Diponegoro.
Danurejo IV : Patih yang Berkuasa di Balik Layar
Selain kehilangan wilayah, pemerintahan HB III ditandai oleh dominasi figur lain: Danurejo IV, yang diangkat sebagai Patih Agung pada 2 Desember 1813. Pangeran Panular mertua Sultan, mencatat momen pengukuhan Danurejo IV dalam Babad Panular.
Ada dua cara membaca pengangkatan ini: bahwa HB III terpaksa menerima patih pilihan Inggris demi menjaga stabilitas, atau bahwa ia justru sengaja menempatkan Danurejo IV sebagai penyangga, sosok yang bisa bernegosiasi dengan Inggris sementara sang sultan menjaga jarak dari tekanan langsung.
Dalam politik keraton Jawa, keheningan raja tidak selalu berarti kelemahan. Kadang ia adalah strategi.Tapi apakah itu yang sesungguhnya terjadi, atau apakah HB III memang tidak punya pilihan lain, adalah pertanyaan yang tidak bisa dijawab hanya dari satu sisi babad.
IV. DIPONEGORO: API YANG DIPANGGUL SEORANG SELIR
Putra dari Perempuan yang Terpinggirkan
Di antara belasan selir HB III, ada seorang perempuan bernama Bendara Raden Ayu Mangkarawati. Ia bukan permaisuri. Ia bukan yang pertama. Dalam hierarki keraton yang kejam, ia hanyalah salah satu dari sekian perempuan yang mengisi bilik-bilik istana.
Tapi dari rahimnya lahir seorang anak laki-laki bernama Raden Mas Mustahar, yang kemudian dikenal dunia sebagai Bendara Pangeran Harya Diponegoro.
Diponegoro tumbuh di pinggiran keraton. Bukan di pusat kekuasaan. Ia diasuh oleh neneknya, dibesarkan dengan kesadaran spiritual yang dalam, dan menyaksikan bagaimana ayahnya, sang sultan berkuasa tanpa benar-benar berdaulat, memimpin tanpa benar-benar bebas.
CERMIN DUNIA
Peter Carey dalam The Power of Prophecy (KITLV Press, 2007) menjelaskan bahwa Diponegoro sejak muda sudah memiliki kesadaran mesianik, ia melihat dirinya sebagai Ratu Adil yang akan membebaskan Jawa.
Kesadaran ini sebagian dibentuk oleh apa yang ia saksikan sejak kecil: wilayah yang dikerat, tentara yang dilucuti, dan tekanan kolonial yang terus merangsek masuk ke dalam tembok keraton.
Pemberontakan 1825–1830 yang ia pimpin adalah ledakan dari bara api yang sudah menyala sejak zaman HB III.
Ironi Terbesar dalam Sejarah Yogyakarta
Ketika Diponegoro melancarkan Perang Jawa pada 1825, ia berhadapan dengan warisan dari dua orang sekaligus: Pertama: ayahnya sendiri HB III, seorang raja yang memerintah di bawah tekanan kolonial yang luar biasa, yang kehilangan wilayah dan tentara dalam kondisi yang tidak ia pilih sendiri.
Kedua: Pangeran Panular, kakek spiritualnya, yang telah memihak penobatan HB III dalam Geger Sepehi dan yang akhirnya tewas dibunuh oleh pasukan Diponegoro sendiri.
“Ironi seorang saksi sejarah yang mendukung kubu ‘pemenang’ Geger Sepehi, tapi akhirnya tewas di tangan keturunan sendiri dalam Perang Jawa.”
Netralnews, Pangeran Panular: Intelektual Tumbal Perang Jawa
Sejarah Jawa memang tidak mengenal garis lurus. Ia berputar seperti gasing, dan setiap putaran membawa korban baru dari keluarga yang sama.
V. KEMATIAN YANG TERLALU CEPAT
3 November 1814: Yogyakarta Berduka
HB III meninggal pada 3 November 1814, dalam usia 45 tahun. Tidak ada catatan wabah besar. Tidak ada perang yang sedang berlangsung. Ia pergi dengan tenang atau setidaknya, begitu yang dicatat dalam kronik resmi.
Yang ia tinggalkan adalah sebuah kesultanan yang sudah separuh terkikis: wilayahnya lebih kecil, tentaranya lebih lemah, dan kesultanan saudara, yaitu Pakualaman baru saja lahir dari daging Yogyakarta sendiri. Penggantinya, Hamengkubuwono IV, baru berusia 10 tahun. Anak kecil itu dinobatkan sebagai raja, tapi kekuasaan nyata diserahkan kepada Paku Alam I sebagai wali raja.
Yogyakarta terus berputar. Tapi rodanya sudah copot satu per satu.
Warisan Makam di Pajimatan Imogiri
Jasad HB III dimakamkan di Astana Pajimatan Himagiri, kompleks pemakaman keramat para sultan Yogyakarta di lereng Bukit Merak, Imogiri. Di tempat yang sama bersemayam para leluhurnya: sultan-sultan Yogyakarta dan Surakarta dari wangsa Mataram.
Di sana, dalam sunyi batu nisan dan kemenyan yang dibakar peziarah, ia beristirahat. Di luar sana, di medan-medan Jawa yang luas, anaknya Diponegoro sedang mempersiapkan perang.
EPILOG: APA YANG TERSISA DARI SEORANG RAJA?
Hamengkubuwono III bukan pahlawan dalam pengertian konvensional. Ia tidak memimpin perang pembebasan. Ia tidak menulis kitab kebijaksanaan. Ia tidak membangun monumen yang kita bisa kunjungi hari ini.
Yang ia lakukan adalah bertahan dan memerintah, di tengah konflik keluarga yang merobek, tekanan kolonial yang menghimpit, dan warisan yang terlalu besar untuk seorang raja yang hidup hanya 45 tahun. Apakah ia melakukannya dengan cerdik atau dengan terpaksa atau keduanya sekaligus, adalah pertanyaan yang tidak akan pernah selesai.
Dari rahimnya lahir Diponegoro. Dari takhtanya lahir Pakualaman. Dari pemerintahannya lahir peta Yogyakarta yang kita kenal sekarang, lebih kecil dari yang seharusnya, tapi masih ada.
Dan dari dua babad yang ditulis oleh mereka yang menyaksikannya, Babad Panular dan Babad Sepehi, kita bisa membaca apa yang sebenarnya terjadi: bukan kisah hitam-putih tentang pahlawan dan pengkhianat, tapi kisah abu-abu tentang manusia yang terjebak dalam mesin sejarah yang lebih besar dari dirinya.
“Sejarah tidak ditulis oleh yang menang. Sejarah ditulis oleh yang bertahan cukup lama untuk menceritakannya.”
HB III hidup 45 tahun. Memerintah kurang dari empat tahun secara efektif. Dan meninggalkan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban.
Mungkin itulah warisan terbesar seorang raja yang terjebak di antara zaman: bukan apa yang ia bangun, bukan pula apa yang ia hancurkan, tapi ketidakpastian yang ia wariskan kepada kita, yang memaksa kita untuk terus bertanya, terus menggali, dan terus jujur bahwa kita belum benar-benar mengenalnya.
BIBLIOGRAFI & CATATAN SUMBER
Sumber Primer (Babad)
- Babad Panular, karya Pangeran Haryo Panular (putra HB I; mertua HB III). Catatan harian bersajak, dimulai 20 Juni 1812. Memuat kisah Geger Sepehi, pemerintahan HB III, dan figur Raffles serta Diponegoro muda. Diterbitkan dalam: Inggris di Jawa 1811–1816: Babad Panular, Kisah Serangan Inggris di Yogyakarta (Kompas, tersedia di Gerai Kompas.id).
- Babad Sepehi, karya Pangeran Mangkudiningrat (putra HB II). Narasi dari kubu pro-HB II tentang Geger Sepehi dan pembuangan HB II. Bersama Babad Panular, merupakan sumber primer pelaku langsung peristiwa 1812.
Sumber Sekunder Ilmiah
- Carey, Peter. The Power of Prophecy: Prince Dipanagara and the End of an Old Order in Java, 1785–1855. Leiden: KITLV Press, 2007. [Sumber utama tentang Diponegoro, HB III, dan konteks Perang Jawa.]
- Carey, Peter. Babad Dipanagara: An Account of the Outbreak of the Java War (1825–1830). Kuala Lumpur: Malaysian Branch of the Royal Asiatic Society, 1981.
- Ricklefs, M.C. Sejarah Indonesia Modern. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1991. [Terjemahan dari A History of Modern Indonesia.]
- Ricklefs, M.C. Jogjakarta Under Sultan Mangkubumi 1749–1792: A History of the Division of Java. London: Oxford University Press, 1974.
- Moertono, Soemarsaid. State and Statecraft in Old Java: A Study of the Later Mataram Period, 16th to 19th Century. Ithaca: Cornell University, 1968.
- Kumar, Ann. ‘Javanese Court Society and Politics in the Late Eighteenth Century: The Record of a Lady Soldier.’ Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 136 (1980): 1–91.
Sumber Digital / Populer (Terverifikasi)
- ‘Pangeran Panular: Seorang Intelektual Tumbal Perang Jawa.’ Netralnews.com. [Tentang kematian Pangeran Panular di tangan pasukan Diponegoro.]
- ‘Danurejo IV (III).’ p2k.stekom.ac.id/ensiklopedia. [Catatan pengukuhan Danurejo IV dalam Babad Panular, 2 Desember 1813.]
Yogyakarta, 29042026
Sumber Artikel: Facebook Mohammad Basyir

