Muhammad SAW dan Semar

Ada sesuatu yang diam-diam bergetar di antara dua dunia yang sering dianggap berjauhan: dunia Islam dan dunia Jawa. Yang satu hadir dengan wahyu, yang lain dengan simbol. Yang satu berbicara melalui kitab, yang lain melalui bayang-bayang wayang. Namun ketika keduanya disimak dengan hati yang tenang, tampak satu pola yang sama–bukan garis lurus, melainkan lingkaran makna yang berdenyut.

Dalam kosmologi Jawa, kita mengenal susunan yang tampak hierarkis: wong cilik, ksatria, raja, brahmana, hingga dewa. Sebuah struktur yang jika dilihat sepintas, seperti tangga vertikal menuju ketinggian. Tetapi struktur itu runtuh–atau justru menemukan rahasianya–ketika kita bertemu dengan Semar.

Semar adalah paradoks yang hidup. Ia bukan ksatria, bukan raja, bukan brahmana. Ia adalah ponokawan-secara harfiah: kawan yang setia, sahabat sejati. Ia berada di sisi wong cilik, berbicara dengan bahasa mereka, tertawa bersama mereka, menangis bersama mereka. Tubuhnya pendek, perutnya buncit, wajahnya sederhana–seolah-olah ia adalah representasi dari “yang biasa”.

Namun justru di sanalah rahasianya: Semar bukan sekadar rakyat. Ia adalah Semar Badranaya atau penambahan Ismaya–manifestasi dewa yang memilih untuk menyembunyikan keilahian di balik kesederhanaan. Ia adalah yang tertinggi yang menjelma menjadi yang terendah. Ia tidak duduk di singgasana, tetapi justru mengawal mereka yang duduk di sana.

Di Titik Ini, Jawa Berbicara dengan Bahasa Simbolik

Di titik ini, Jawa berbicara dengan bahasa simbolik tentang satu kebenaran metafisik: bahwa yang paling tinggi tidak selalu berada di atas.

Dan ketika kita menoleh ke dalam Islam, kita menemukan nuansa yang sama–dengan cara yang lebih terang, lebih eksplisit, namun tetap menyimpan misteri. Al-Qur’an menyebut Muhammad SAW sebagai basyar—manusia biasa. Ia makan, berjalan di pasar, hidup di tengah masyarakat. Tidak ada aura aristokrasi yang memisahkannya dari umat. Bahkan dalam satu ayat, ditegaskan bahwa ia adalah seperti “laki-laki dari kalian”.

Namun pada saat yang sama, ia adalah penerima wahyu. Ia adalah Sayyidul Anbiya wal Mursalin–pemimpin para nabi dan rasul. Ia berada di puncak hirarki spiritual yang tak tertandingi.

Di sinilah Islam menyingkap sebuah struktur yang tidak linear, tetapi melingkar. Nabi bukan sekadar “di atas”, tetapi juga “di tengah”. Ia bukan hanya pusat otoritas, tetapi juga pusat empati. Ia adalah yang paling dekat dengan Tuhan, sekaligus yang paling dekat dengan manusia.

Jika Semar adalah dewa yang turun menjadi wong cilik, maka Muhammad SAW adalah manusia yang diangkat menjadi pembawa cahaya Ilahi–tanpa pernah meninggalkan kemanusiaannya.

Dua Jalan yang Berbeda Menuju Satu Titik Temu

Dua jalan yang berbeda, tetapi menuju satu titik temu: ketinggian yang sejati tidak memisahkan diri dari kerendahan. Dalam filsafat Islam, terutama dalam pemikiran Mulla Sadra, realitas tidak dipahami sebagai sesuatu yang statis dan bertingkat secara kaku. Ia adalah gradasi wujud–tasykik al-wujud–di mana yang tinggi and rendah bukanlah oposisi mutlak, melainkan spektrum yang saling menembus. Yang tinggi hadir dalam yang rendah, dan yang rendah berpotensi menuju yang tinggi.

Konsep ini menemukan resonansinya dalam Asmaul Husna: Al-Awwal wal Akhir, Azh-Zhahir wal Batin. Dia yang Awal sekaligus Akhir. Yang Tampak sekaligus Tersembunyi. Yang di atas sekaligus meliputi yang di bawah.

Dengan kacamata ini, kita mulai memahami bahwa hirarki dalam Islam bukanlah piramida kekuasaan, tetapi orbit subtansi. Nabi, imam, ulama, dan umat bukan berdiri dalam jarak yang memisahkan, tetapi dalam lingkaran yang saling menghidupi.

Semar dan Muhammad SAW, Seakan Saling Menyapa

Dan di sinilah, Semar dan Muhammad SAW, seakan saling menyapa. Semar mengajarkan bahwa kekuasaan tanpa kerendahan adalah kosong. Muhammad SAW menunjukkan bahwa wahyu tanpa kedekatan dengan manusia adalah mustahil.

Semar tidak memerintah, tetapi membimbing. Muhammad SAW tidak berjarak, tetapi merangkul.

Keduanya–dalam bahasa yang berbeda–mengatakan hal yang sama: yang paling tinggi adalah yang paling hadir di tengah yang paling rendah.

Kembali Kepada yang Sederhana

Dalam dunia modern dan masyarakat yang dangkal dan stagnan yang terobsesi dengan struktur vertikal–jabatan, gelar, kekuasaan–kita sering lupa bahwa puncak sejati bukanlah tempat untuk menjauh, tetapi tempat untuk kembali. Kembali kepada manusia. Kembali kepada rakyat. Kembali kepada yang sederhana.

Semar telah lama berdiri di sana, tersenyum dalam kesederhanaannya. Muhammad SAW telah lebih dahulu mencontohkannya, berjalan di pasar, duduk bersama kaum miskin, mengikat batu di perutnya saat lapar.

Mungkin, kita tidak kekurangan pemimpin. Kita hanya kekurangan Semar. Dan kita terlalu sering lupa bagaimana menjadi umat dari pemimpin seperti Muhammad SAW dan Semar.

Sebab pada akhirnya, langit tidak selalu berada di atas kepala kita. Kadang ia bersembunyi–diam-diam–di tengah rakyat yang kita abaikan.

Related Articles

Artikel baru