Manusia merenda rencana, menyusunnya aksara demi aksara di atas kertas harap, seolah dengan begitu ia telah menorehkan takdirnya sendiri. Padahal, hidup adalah gulungan skenario yang telah usai ditulis, dan kita hanyalah aktor yang kerap lupa bahwa garis-garis dialog kita bukanlah karangan sendiri. Aku mempelajarinya lagi, dalam dua hari persinggahanku di Jogja—kota yang jiwanya separuh langit, separuh tanah, dan sepenuhnya kenangan.
Pagi tadi semestinya aku ke Magelang. Bukan semata perjalanan, melainkan sebuah patuh pada bisikan batin yang datang berhari-hari sebelumnya, lirih namun teguh: berziarah ke makam Bapa Guru Damarjati Supadjar. Suara itu seperti gema dari sumur batin yang paling dalam, memanggilku untuk menapak tilas keheningan, mengadu hati di depan pusara seorang guru sejati. Kubayangkan Magelang pagi itu: kabut tipis yang turun dari langit-langit gunung, bau tanah basah, dan doa yang meluncur dari mulut peziarah sebagai asap yang memulangkan rindu ke langit.
Namun, kemarin, naskah itu mulai menunjukkan catatan kakinya sendiri. Tiba-tiba ada arahan merapat agak siangan dari para senior pergerakan di Jogja—sebuah panggilan yang tak bisa kuelakkan, sebab di dalamnya ada nostalgia, ada pertalian, ada penghormatan yang lebih tua dari sekadar janji. Sorenya, undangan menonton final pertandingan bolavoli ProLiga pun datang, seperti sisipan adegan yang diselipkan semesta untuk menunda langkahku. Maka Magelang kutunda. Bukankah manusia kerap merasa bisa menulis ulang nasibnya dengan alasan-alasan yang manis di mulut?
Pagi tadi, dengan sisa tekad yang masih berdenyut, aku kembali menyusun agenda: tetap ke Magelang. Namun, bangun tidur membawa kenyataan lain. Pinggang—atau boyok, sebagaimana orang Jawa menyebutnya dengan nada yang lebih hikmat—terasa ngilu dan pegal yang bukan main. Beberapa hari sudah kutahan, kutipu dengan pijatan ringan dan peregangan ala kadarnya. Tapi pagi tadi ia menagih dengan bunga rasa sakit yang tinggi. Setiap gerak adalah negosiasi ulang antara tubuh dan kemauan. Seolah tubuhku, yang adalah bagian dari alam raya ini, sedang membisikkan sesuatu yang tak ingin kudengar.
Lalu, Mas Tongky, aktivis UGM dekade 90-an, dengan caranya yang hangat dan tak banyak bicara, mengirimkan seorang temannya: reparator sendi dan otot yang telaten. Tangannya adalah penerjemah diam dari penderitaan serat-serat daging. Di bawah pijatannya, aku merenung: bahwa rasa sakit adalah bahasa tubuh yang paling jujur, dan penyembuhan adalah percakapan sunyi antara dua jiwa yang saling percaya. Pinggangku berangsur lunak, memberi jeda damai pada tubuh yang telah lama kugadaikan untuk bergerak. Tapi waktu terus berdetak, dan Magelang kian menjauh dalam kemungkinan.
Kemudian, datang telepon dari istriku. Sebuah kabar yang selalu membuat jantung para ayah berdegup lebih cepat: anak kami sakit. Badannya ruam-ruam, demam menyergap hangat tubuh kecilnya. Padahal besok ia harus menempuh Tes Kemampuan Akademik—sebuah ujian di ambang kelulusan kelas enam, yang di matanya dan mata kami adalah gerbang pertama menuju dunia yang lebih luas. Di titik ini, filsafat tak lagi berkelindan di kepala. Yang ada hanyalah panggilan primodial dari seorang bapak: pulang. Magelang kubatalkan. Bukan dengan kecewa, melainkan dengan penyerahan yang nyaris sempurna. Di antara ziarah ke makam guru, dan merawat darah daging yang sedang demam, semesta telah menuliskan pilihannya dengan tinta yang tak terbantahkan.
Seketika, suasana berubah menjadi improvisasi penuh siasat. Habis pijat, kusambar telepon, memanggil ojek. Sembari menunggu, jariku menari di layar, memesan tiket perjalanan bukan ke utara, melainkan ke barat: Jogja – Purwokerto, KA Ranggajati, seratus lima ribu rupiah. Sebuah goresan dadakan di atas kanvas rencana yang sudah compang-camping.
Di jalan, lampu merah Simpang Concat-Ge jayan terasa bagai meditasi panjang yang dipaksakan. Sang pengemudi ojek online, seorang lelaki dengan etika lalu lintas yang lurus, memilih taat bersimpuh di depan lampu merah, menanti hijaunya menua. Kutepuk-tepuk punggungnya dengan gelisah, memintanya untuk lebih lekas. Ia menoleh, menunjuk dengan dagunya ke kamera monitor di tiang lampu, seolah berkata, “Lihatlah, mata kaca itu adalah mata negara, dan aku adalah warga yang patuh.” Sebuah etika yang anehnya membuatku geli dan miris bersamaan. Nasihat nakalku meluncur, membawa contoh Bandung dan Jakarta, di mana pengemudi ojol lebih cair, menyelip, menyeruduk aman demi efisiensi waktu. Tapi ia hanya tersenyum tipis, senyum yang mengingatkanku bahwa Jogja punya ritme dan tata tertibnya sendiri, dan aku hanyalah tamu yang harus belajar menghormatinya. Akhirnya, ia mencari siasat di jalur lain setelah persimpangan—sebuah kompromi antara kepatuhan dan kemanusiaan untuk mendahulukan mereka yang dikejar waktu.
Setiba di stasiun, aku melompat. Bukan sekadar turun dari motor, melainkan melompat dari satu dimensi tenang ke dalam pusaran akselerasi. Mencari info peron, mata dan kaki bekerja lebih cepat dari biasanya. Lalu, ingatan pada anak dan istri menggedor: bakpia Kurnia Sari, pesanan mereka, jangan sampai terlupa. Maka aku bergegas ke toko oleh-oleh. Antrean pembeli mengular, dan dengan menyesal, dengan permohonan maaf yang kutetaskan ke kanan dan ke kiri seperti air pelepas dahaga mereka yang terlewat, aku menyela. “Keretaku sudah di depan mata,” bisikku pada seorang ibu yang menatapku dengan pengertian yang dalam, seolah ia tahu, setiap penyelakan yang sopan selalu menyimpan urgensi yang tak terucap.
Masuk ke gerbong, sebuah kelegaan sederhana menyergap: plong. Duduk di kursi yang mungkin saja bukan kursiku, karena tiket ini adalah tiket go-show—sebuah karcis yang mewakili seluruh filsafat improvisasi ini: tak terencana, namun hadir. Di dalam perjalanan yang bergetar, jariku kembali memburu tiket lain: Purwokerto – Cirebon, empat puluh lima ribu rupiah. Kemudian, naik lagi ke atas, mencari tiket travel dari Cirebon ke Pasteur, Bandung: seratus dua puluh ribu. Aku merangkai kendaraan bagai merangkai takdir darurat; dari kereta ke kereta, dari roda besi ke roda karet.
Di Cirebon, nanti, akan ada jeda tiga puluh menit. Cukup untuk makan di warteg atau lesehan nasi jamblang—lima belas menit untuk mengisi kembali tenaga yang telah banyak terhambur. Lalu naik ojek ke pool travel, lima belas menit berikutnya, melewati kekusaman kota yang mungkin hanya kulihat dari balik helm. Sebuah transit singkat yang akan menjadi bagian dari mozaik perjalanan ini.
Kuperkirakan, aku akan tiba di rumah sebelum tengah malam. Membuka pintu dengan hati-hati, agar tak membangunkan mereka yang sudah tertidur, meski mungkin istriku masih setia menunggu. Semoga saja anakku berangsur sehat, hangat tubuhnya terusik oleh kehadiran bapaknya yang pulang membawa bakpia, oleh-oleh yang jadi representasi sederhana dari cinta: manis, legit, dan hadir setelah perjalanan panjang. Dan besok paginya, ujian itu akan dihadapinya dengan tubuh segar dan hati yang tenang, karena tahu bahwa di ruang tunggu sekolah, di rumah, di dunia ini, bapaknya selalu ada—meski harus memintal jalan pulang dari sisa-sisa rencana yang runtuh.
Dan aku, di atas rel yang membawa ke barat, merenungkan kembali dua hari yang penuh improvisasi. Bahwa manusia boleh menulis rencana dalam angan-angan, dengan tinta harapan dan pena kendali, tapi peristiwa telah dituliskan sebagai guratan skenario yang tak terelakkan. Kita hanyalah aktor yang belajar untuk lentur, membaca naskah yang terkuak detik demi detik, dan memerankannya dengan kesetiaan pada apa yang paling luhur: pada panggilan batin, pada bisikan tubuh, pada cinta yang meminta kita putar haluan, pada anak yang demamnya lebih penting dari segala ziarah.
Dalam ketidakpastian yang kuterima dengan hati yang perlahan-lahan ikhlas, aku menemukan bahwa hidup bukanlah tentang sempurnanya rencana, melainkan tentang seberapa tulus kita menari di atas puing-puingnya. Aku mungkin tak sampai ke makam guru pagi ini, tapi aku telah belajar lagi tentang kebijaksanaan yang paling tua: tujuan sejati dari sebuah perjalanan adalah menemukan makna justru ketika kita tersesat dari peta yang kita gambar sendiri.(*)

